Views: 102

Bahagian 4:  Prinsip Pengampunan Kesalahan

Nas Kitab: 2:1-13

Prakata

Nas Kitab ini telah menampakkan kasih Paulus, tidak henti-henti ia meluahkan kasih seorang bapa. Atas kasihnya kepada jemaat Korintus, ia berdukacita atas kelemahan mereka, membimbangi kerohanian mereka lalu mendorong para pemercaya berdasarkan manusia, menasihatkan mereka supaya berbalik dari pada kesalahan mereka ~ ini merupakan harapan terbesar seorang gembala, begitulah maksudnya “berduka dalam dukacita” dan “bersuka dalam sukacita” di dalam pelayanan kepada Tuhan.

[1]       Kesukaan Dan Kedukaan Kasih

i. Membuat keputusan tidak mendukakan semua orang ~ “Allah telah membuat keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita” (2:1).

ii. Bergembira atas mereka yang bertobat dari kesalahan (2).

– Para gembala harus dengan beraninya menegor mereka yang berbuat salah ~ “Jika aku mendukakan hatimu” (2a).

– Seandainya menyesali dan menginsafi diri, gembala akan bersukacita ~ “Siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira selain dia yang berdukacita kerana aku” (2b).

iii. Seandainya berdegil tidak insaf-insaf, gembala akan berdukacita ~ “Supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita oleh mereka, yang harus membuat aku menjadi gembira” (3).

iv. Sesama seiman harus miliki “persaudaraan rohani” ~ “Sebab aku yakin tentang kamu semua, bahwa sukacita adalah juga sukacitamu” (2:3b).

v. Penjelasan akan kasih Paulus.

– “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya bersedih hati” (4a).

– “Tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (4b).

Δ Paulus melayani para pemercaya seperti ayah yang tegas, ibu yang penyayang (I Tes 2:7; I Kor 4:14).

[2]      Menasihati Para Pemercaya Agar Menerimakan Orang Yang Telah Berbuat Salah Dengan Kasih

i. Bersedih atas pembuat salah

“Jika ada orang yang menyebabkan kesedihan” (5a) ~ ditujukan kepada pemercaya yang berbuat salah lalu menyedihkan seluruh jemaat.

“Bukan hatiku yang disedihkannya” ~ ditujukan kepada pemercaya yang berbuat salah lalu menyedihkan para gembala.

“Melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya” ~ ditujukan bahawa pemercaya berbuat salah, juga menyedihkan para seiman.

“Supaya jangan aku melebih-lebihkan” ~ kira-kira ditujukan kepada tegorannya yang keras di surat pertama.

ii. Harus maafkan mereka dengan simpati.

“Bagi orang yang demikian” (6a) ~ menunjuk orang-orang yang berbuat salah.

“Sudahlah cukup tegoran dari sebahagian besar dari kamu” (6a) ~ ia yang menerima tegoran keras dari jemaat dan merelakan diri menerima nasihat.

“Sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia” (7) ~ Pimpinlah orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, ……bertolong-tolonglah menanggung bebanmu. (Gal 6:1,2).

“Supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat” (7b) ~ supaya jangan ia mengesali diri, membinasa dan menjatuhkan diri sendiri (Flp 2:1-4).

“Kamu sungguh-sungguh mengasihi dia” (8) ~ segala tegoran, kritikan, biarlah atas kasih, umpama ibu penyayang memukuli anak-anak namun sakit di hati sendiri; sekali-kali jangan mengkritik dan menyerang dengan niat jahat, janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara” (II Tes 3:15).

iii. Teladan baik Paulus

“Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu” (9). Demi melihat apakah jemaat Korintus sanggup atau tidak sanggup bersatu hati menentangi dosa bahkan taat kepada ajaran Paulus.

“Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahnnya, aku mengampuni juga” (10a) ~ laksanakan perlembagaan gereja sesuai dengan kewibawaan Alkitab, sekali-kali jangan menyalahgunakan kuasa peribadi.

“Sebab jika aku mengampuni, ~ seandainya ada yang harus kuampuni – maka hal itu kubuat oleh kerana kamu di hadapa Kristus” (10b). Pengampunannya adalah sebenar-benarnya di mana penyempurnaan haruslah berdasarkan firman yang benar dan diampuni Kristus, justeru demikian, Paulus dan jemaat harus juga mengampuninya.

“Supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita” ~ seandainya melampau tegoran kita sehingga menjadi tawar hati dan jemu maka kita akan tertipu oleh muslihat Iblis dan akan menimbulkan perasaan tidak puas hati, perpecahan dan kerosakan. “Sebab kita tahu apa maksudnya” (2:11b).

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *