Bahagian 22:  Nasihat Akhir
| | | |

Bahagian 22: Nasihat Akhir

Bahagian 22:  Nasihat Akhir

Nas kitab: 13:1-14

 

[1]      Amaran (1-3)

i. Prinsip mengesah-tetapkan dosa seseorang (1-3).

“Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah” (1).

Δ Ajaran Tuhan: Mat 18:16; Ul 7:6; 19:15.

  1. Menghukum secara tegas mereka yang tidak mahu bertobat (2).
  2. Jangan bersabar terhadap mereka yang berniat jahat ingin mencabar kewibawaan para rasul (3).

“Kerana kamu ingin suatu bukti, bahawa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku” (3a).

“Dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu” (3b).

[2]      Peringatan

i. Kami akan sehidup dan semati dengan Kristus (4).

“Kerana sekalipun Ia telah disalibkan keranan kelemahan” (4a).

Δ ‘Ia tidak pergunakan kuasa senjata, tidak bertindak secara duniawi, melainkan menyerahkan diri untuk disalibkan’ (4a).

Δ Mat 26:53.

“Namun Ia hidup kerana kuasa Allah”.

Δ “Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia, untuk kamu kerana kuasa Allah” (4b).

ii. “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman” (5a).

“Apakah kamu tdiak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu?” (5b).

iii. Jadilah seorang yang dapat bertahan dalam pengujian.

[3]     Doa syafaat

i. Berdoa kepada Allah agar kamu jangan berbuat jahat (7).

“Bukan supaya kami ternyata tahan uji”.

“Melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampak tidak tahan uji”.

ii. Berdoa kepada Allah agar kamu menjadi sempurna (9).

“Kami bersukacita apabila kami lemah dan kamu kuat” (9a).

“Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi smpurna” (9b).

iii. Tujuan utama menunjukkan kuasa kerasulan (10).

“Bertindak secara keras terhadap mereka yang tidak melakukan firman Allah”.
“Untuk membangun”.
“Bukan untuk meruntuhkan”.

[4]     Nasihat

i. Harapan (11).

À    Semoga kamu bersukacita.
Á     Supaya kamu menjadi sempurna.
    Supaya kamu terhibur.
à    Supaya kamu sehati sefikir.
Ä     Supaya kamu hidup dalam damai sejahtera.
Å     Semoga Allah menyertai kamu.

Maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”.

ii. Ucapan salam (12).

À    Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus.

Á     Salam dari semua orang kudus kepada kamu.

iii. Pemberkatan (13).

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus”.
“Kasih Allah”.
“Persekutuan Roh Kudus”.
“Menyertai kamu sekalian”.

Bahagian 21: Pengalaman Rohani
| | | |

Bahagian 21: Pengalaman Rohani

Bahagian 21: Pengalaman Rohani

Nas kitab: 12:1-21

[1]      Wahyu Penglihatan (12:1-6)

i. Harus bermegah: “Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya”.

Δ Maksud ia harus bermegah ialah Paulus memang tidak pernah memegahkan diri, tetapi disebabkan jemaat pada waktu tersebut mulai berubah, dan demi membuktikan ia diutus dan diamanahkan Tuhan, maka ia terpaksa memperkatakannya.

ii. Melancung ke Sorga: “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau, ia tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga di sorga” (2).

Δ Supaya jangan ada orang yang memandang tinggi akannya, maka Paulus menggunakan ganti nama pihak ketiga: ‘aku tahu tentang seorang …’. Tambahannya selama empat belas tahun ini ia tidak  pernah ceritakan hal tersebut dan tidak akan mengungkitkannya lagi.

‘Tingkat yang ketiga dari sorga’ ~ langit yang mengatasi segala langit (II Taw 2:6); ‘langit yang mengatasi segala langit dan air yang di atas langit’ (Mzm 148:4). Terbukti ‘langit’, di mana Tuhan    berada adalah tingkat yang ketiga dari sorga.

iii. Perasaan di dalam penglihatan: “Entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya” (2b).

iv. Di Firdaus, mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia (4).

Δ Taman Firdaus ialah di alam rohaniah, di mana bahasa pertuturan alam rohaniah sememangnya tidak difahami manusia dari dunia.

Δ Selama ini Paulus tidak pernah bermegah, selain dari pada memegahkan kelemahan diri sendiri, yang lain-lain sama sekali tidak pernah diungkitkannya; “Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, kerana aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku” (6).

[2]      Duri Dan Kasih Karunia

i. Makna utama duri ditambahkan pada diri seseorang.

“Supaya aku jangan meninggikan diri kerana penyataan-penyataan yang luar biasa itu”.

“Maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk mengocohkan aku, supaya aku jangan meninggikan diri”.

Δ ‘Suatu duri’ penderitaan yang Allah benarkan Iblis timpakan pada seseorang.

Δ Mengikut sesetengah cendekiawan Alkitab, duri pada Paulus adalah sejenis penyakit mata (ruj: Gal 4:14-15; 6:11).

ii. Cukuplah kasih karunia Tuhan bagimu (7-9).

À Duri sememangnya sangat menyiksa dan meyakitkan.

“Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan” (8a).

Á Janji kasih Tuhan ~ “Jawab Tuhan kepadaku”.

“Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna”   (9).

 Kuasa Kristus menaungi aku.

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (9).

Δ Tujuan duri pada diri seseorang ialah Allah menginginkan hamba-hambaNya mengenali kelemahan-kelemahan sendiri sepanjang pengalaman itu. Dan dari kelemahan-kelemahan tersebut boleh mengenali kuasaNya. Justeru itu, akan belajar menjadi tidak kuatir akan duri berkenaan, melainkan bersandar kepada naungan kuasa Kristus ~ itulah tujuan Allah menempatkan duri pada hamba-hambaNya.

iii. Dari lemah menjadi kuat (10).

À Bermegah atas kelemahan sendiri.

“Kerana itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh kerana Kristus” (10a).

Δ Sebab merasa senang:  “Sebab Dia berjanji padaku: ‘Justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (9b).

Á Dari lemah menjadi kuat.

“Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (10b).

 [3]     Pengalaman Manis-Pahit Menggembala Jemaat (13:11- 21)

i. Menghadapi seiman yang naif  kerohanian (11a).

“Sungguh aku telah menjadi bodoh, tetapi kamu yang memaksa aku”.

“Sebenarnya aku harus kamu puji. Kerana meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu” (11b).

Δ “…menjadi bodoh…kamu yang memaksa aku”.

Selama ini Paulus tidak pernah memegahkan diri, tetapi disebabkan seiman-seiman yang naif, maka terpaksa ia bentangkan tanda bukti kerasulannya, katanya: “Meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu”.

 ii. Menunjukkan dua tanda bukti kerasulannya (12).

À ‘Telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran’ (12a).

Δ Sabar menderita, melakukan pekerjaan Injil dan menunaikan tugas pelayanan (II Tim 4:5).

Á Oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa membuktikan ia seorang rasul (12b).

Δ Memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh (Rm 15:18-19).

iii. Menunjukkan kasih keibubapaan.

À Tidak pernah menyusahkan jemaat Korintus, tidak menerima sebarang pembekalan mereka, melainkan masih berprihatin akan mereka dalam segala hal (13).

Á “Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri” (14a).

Δ Paulus merancang untuk mengunjungi jemaat Korintus buat kali ketiga, namun dia takut jemaat di situ akan salah faham bahwa, apakah kunjungannya kali ini ialah untuk meminta pembekalan dari mereka. Lalu ia menjelaskan bahwa ia pergi bukan untuk membebani mereka…. ‘Kerana bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Kerana bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya’ (14).

 Jemaat Korintus seperti anak-anak kecil yang naif, yang tidak tahu menghormati Paulus. Sebaliknya Paulus sendiri ‘suka mengorbankan milikku; bahkan mengorbankan diri untuk kamu’ demi menggembalakan mereka sama seperti ibubapa mengasihi anak-anak kecil yang naif (15a).

Δ Keluhannya: “Jadi jika aku sangat mengasihi kami, masakan aku  semakin kurang dikasihi?” (15b).

iv.  Disalah-fahamkan dan pembelaan.

À Baiklah … kamu katakan: ‘dalam kelicikanku, aku telah menjerat kamu dengan tipu daya’ (16).

Á Penjelasan: menyoal balas mereka.

a) “Jadi pernahkah aku mengambil untung dari pada kamu oleh semua orang dari antara mereka , yang kuutus kepada kamu?” (17).

b) “Adakah Titus dan saudara-saudara yang bersamanya mengambil untung dari pada kamu?” (18a).

Δ “Kami hidup menurut roh yang sama dan berlaku menurut cara yang sama” (18b).

v. Segala-gala adalah untuk membangunkan jemaat.

À Analisa: “Di hadapan Allah dan demi Kristus kami berkata”.

“Semua ini, saudara-saudaraku yang kekasih, terjadi untuk membangun iman kamu” (19).

Á Kuatir akan pemercaya ~ 3 kekuatiran.

a) Kuatir semua orang akan merasa hampa dan kecewa apabila bertemu muka: ‘Aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan’ dan ‘kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan’.

Δ Takut dan kuatir jemaat Korintus tidak benar-benar bertobat seperti yang diharap-harapkan oleh  Paulus.

b) Kuatir hal-hal dosa terus berlanjutan dalam jemaat Korintus. Misalnya, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri, fitnah, …kerusuhan (20).

c) Kuatir Allah akan merendahkannya di depan jemaat Korintus (21a).

Δ “Dan bahwa aku akan berdukacita terhadap banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan ketidak-sopanan yang mereka lakukan” (21b).

Bahagian 20: Kecemburuan Dan Penderitaan
| | | |

Bahagian 20: Kecemburuan Dan Penderitaan

Bahagian 20: Kecemburuan Dan Penderitaan

Nas kitab: 11:1-33

[1]      Disebabkan Jemaat Korintus Bersabar Terhadap Rasul-Rasul Palsu

i. “Sebab aku cemburu keapda kamu dengan cemburu ilahi”.

Δ Cemburu ilahi (Yak 4:5) ~ “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diinginiNya dengan cemburu”. Mereka pernah diasuh-didikkan oleh Paulus, menerimakan anugerah kelimpahan Allah, sehinggakan karunia-karunia mereka tak terbandingi jemaat lain, namun tidak pula tahu membedakan pekerja benar atau palsu.

Δ Kasih Allah sekali-kali tidak sabar melihat orang-orang yang dikasihiNya berbuat dosa; begitu juga Paulus tidak dapat bersabar melihat jemaat Korintus yang dikasihinya itu disesatkan.

ii. Kerana aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus (11:2).

Δ Injil telah diberitakan kepada mereka dan menerima perjanjian yang diikat dengan darah, juga dilahirkan kembali, menjadikan mereka umpama perawan suci dipertunangkan kepada Kristus. Justeru itu, jemaat tidak sepatutnya mempunyai kekasih lain, selain dari Kristus.

iii. Amaran (11:3).

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus”.

À “Sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” (3).

Á  Jika ada seorang datang (4a).

a) Memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan.

b) Memberitakan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima.

c) Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.

d) Kamu sabar saja (4a).

Δ Kalimat ini adalah sindiran Paulus, bukan menunjukkan ia setuju akan itu.

[2]      Jemaat Korintus Menghina Bahwa Paulus Tidak Layak Menjadi Rasul Dan Membahaskannya

i. “Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasuk dan tak ada taranya itu” (5).

“Jikalau aku kurang dalam hal-hal berkata-kata, tidaklah demikian dalam hal pengtahuan, sebab kami telah menyatakan kepada kamu pada segala waktu dan di dalam segala hal” (6).

ii. “Apakah aku berbuat salah,………kerana aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?” (7).

iii. Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! (8).

iv. “…Aku tidak menyusahkan seorangpun, ………dalam segala hal aku menjaga diriku …..dan aku akan tetap berbuat demikian” (9).

Δ Paulus sesungguhnya amat mengawasi diri dengan selalu berkata secara rendah hati: “Kerana aku adalah yang paling hina dari semua rasul…..” (I Kor 15:9). Namun disebabkan ia ingin membalikkan semula para pemercaya yang sesat maka terpaksa ia menerangkan identitinya: sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu” ~ ini membuktikan jawatan kerasulan yang Tuhan berikan kepadanya.

[3]     Kesungguhan Kasih Paulus Terhadap Jemaat

i. Hidup memancari hidup kebenaran Kristus: Kebenaran Kristus di dalam diriku (10).

ii. Menegaskan sentimen yang tidak palsu: “Mengapa tidak? Apakah kerana aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya” (11).

iii. Bertekad teguh berpegang kepada prinsip terus mengasihi mereka: “Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan”.

À Berketetapan tidak mahu menerima pembekalan jemaat, ‘dalam segala hal aku menjaga diriku…dan aku akan tetap berbuat demikian’ … walaupun tidak menerima pembekalan jemaat Korintus, dia tetap mengasihi mereka.

Á ‘Untuk mncegah mereka yang mencari kesempatan’: tujuannya untuk menutupkan mulut rasul-rasul palsu, ia berketetapan tidak mahu menyusahkan pemercaya, yaitu tidak menerima pembekalan mereka demi membongkarkan kemunafikan dan muslihat mereka.

a) “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul dan pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus” (13).

b) “Hal ini tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat terang ….. kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka” (14,15).

[4]     Menyatakan Identiti Sendiri Dalam Keadaan Terpaksa

i. Meminta jemaat Korintus menerima kebodohannya.

À “Jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya akupun boleh bermegah sedikit”.

Δ “Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahawa ia boleh bermegah” (17).

Versi terjemahan baru: ‘Bukan apa yang Tuhan ingin kukatakan cuma aku berkata sebarangan secara bodoh’.

Á “Kerana banyak orang yang bermegah secara duniawi, aku mau bermegah juga” (18)  ~ ditujukan kepada rasul-rasul palsu yang bermegah akan puji-pujian duniawi yang sia-sia. Untuk kebaikan seiman-seiman lemah, Paulus sendiri terpaksa juga bermegah-megah sedikit agar yang benar dan  palsu dapat dibezakan.

 “Sebab kamu suka sabar terhadap orang bodoh, kerana kamu begitu bijaksana” (19-20) ~ kamu sendiri menganggap diri sendiri bijak, juga berdaya membedakan segala hal, bersabar jugalah terhadap aku.

à “Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah” (21).

Δ Aku berkata sedemikian dalam keadaan terpaksa, sehingga menurunkan taraf identiti aku.

ii. Menceritakan identiti uniknya dengan berani (21b-23).

À ‘Aku berkata dalam kebodohan’: bukan untuk kemuliaan diri sebab Paulus sememangnya tidak pernah membangkit-bangkit tentang identitinya bahkan tidak ingin memperkatakannya.

Á  Identitinya:

‘Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani!’ (22a).

‘Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel!’ (22b).

‘Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!’ (22c).

‘Apakah mereka pelayan Kristus? Aku lebih lagi!’ (23a).

‘Aku lebih banyak berjerih lelah…’(23b).

[5]     Pengalaman Menderita Demi Kebenaran

i. Penderitaan dan bahaya jasmani.

À  Aspek kesiksaan (23-24).

a) Sering di dalam penjara (Kis 16:23).

b) Lima kali disesah, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan (Ul 25:3).

c) Kerap kali dalam bahaya maut (Kis 16:25; 28:4).

d) Tiga kali didera (Kis 16:22-23).

e) Satu kali dilempari batu (Kis 14:19).

Á Aspek menderita (27).

a)  Banyak berjerih lelah dan bekerja berat (Kis 18:2-4; I Kor 4:12).

b) Kerap kali tidak tidur: tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi berjerih payah siang malam (II Tes 3:8).

c) Lapar dan dahaga (I Kor 4:11).

d) Kedinginan dan tanpa pakaian (I Kor 4:11).

  Bahaya kesusahan (25-27).

a) Tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam terkatung-katung di tengah laut.

b) Dalam perjalanan sering diancam bahaya banjir.

c) Bahaya penyamun.

d) Bahaya dari kaum sebangsa: orang Yahudi merencana untuk membunuhnya (Kis 9:23).

e) Bahaya dari pihak orang-orang bukan Yahudi.

f) Bahaya di kota: ada yang merencana untuk membunuhnya (Kis 21:31).

g) Bahaya di padang gurun.

h) Bahaya di tengah laut.

i) Bahaya dari pihak saudara-saudara palsu: yang menyusup masuk, mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan…(Gal 2:4).

ii. Pelbagai macam bebanan jiwa (28-29).

À Kuatir akan kesemua jemaat…… ‘urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat’.

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah?”.

Δ “Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah” (I Kor 9:22).

“Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?”.

Δ “Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus (I Kor 8:12).

[6]     Bersyukur Atas Anugerah Penyelamatan Tuhan (30-33)

i. Bersyukur kepada Bapa Sorga: “Allah tahu, bahwa aku tidak berdusta” (31b).

À Memperingati kasih karunia pemilihan Tuhan: “Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku” (30).

‘Kelemahanku’ ditujukan kepada waktu lampau apabila ia masih seorang penentang Kristus (Kis 9:1-2).

Á Melepaskan aku dari raja Damsyik: ‘Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh  mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkap aku’ (32).

Δ  Paulus tetap bertahan dalam keazamannya sampai pada akhirnya, setia menderita demi  Tuhan.

Bahagian 19: Batas-Batas Daerah Kerja Yang Dipatok Allah
| | | |

Bahagian 19: Batas-Batas Daerah Kerja Yang Dipatok Allah

Bahagian 19: Batas-Batas Daerah Kerja Yang Dipatok Allah

Nas kitab: 10:12-18

[1]      Tidak Memuji Diri Di Atas Jerih Payah Orang Lain (12)

Δ Setelah Paulus mennggalkan Korintus, datang ‘penginjil palsu’ untuk mendapatkan sokongan dan penghormatan pemercaya, lalu mereka memuji dan menghebohkan diri sendiri sehingga menghasut dengan berkata bahwa Paulus bukan seorang rasul . Mereka meninggikan diri sendiri dan para pemercaya tidak tahu membedakannya lalu disesatkan.

Δ Paulus menerangkan: “Memang kami tidak berani menggolongkan diri dengan orang-orang tertentu  yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka” (10:12).

Δ Para pendeta palsu yang tidak ada surat pujian dari jemaat, mereka sendiri memuji diri sendiri (3:1), menilai sendiri dengan ukuran sendiri, dengan menganggap tidak ada standard lain yang lebih tinggi daripada mereka sendiri dan menjadikan diri sendiri sebagai standard. Alangkah bodohnya mereka ini!

[2]      Tidak Mau Bermegah Melampaui Batas (13-16)

i. “Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampau batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga” (13).

 “Sebab dalam memberitakan Injil Kristus kami telah sampai kepada kamu” (14a).

Δ Kedua-dua ayat tersebut menunjuk dengan sejelas-jelasnya apabila Paulus ada di Korintus, para pendeta yang bercita-cita tinggi pergunakan kesempatan, ingin menjadikan kejayaan antara jemaat Korintus sebagai hasil kerja mereka sendiri. Justru itu, dengan tegasnya Paulus mengesahkan: “Sebab dalam memberitakan Injil Kristus, kami telah sampai kepada kamu… seolah-olah kami belum pernah sampai kepada kamu” (Kis 18:1-11).

ii. Tidak merebut kejayaan dan tidak menggolongkan hasil kerja orang lain sebagai bahagian sendiri.

“Kami tak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami” (15a).

“Tetapi kami berharap, bahawa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami” (15b).

“Ya, kami hidup, supaya kaim dapat memberitakan Injil di dareah-daerah yang lebih jauh daripada daerah kamu” (16a).

“Dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka” (16b).

[3]     Hendaklah Bermegah Di Dalam Tuhan (17-18)

i. Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji (18a).

ii. Melainkan orang yang dipuji Tuhan (18b).

Bahagian 18: Kewibawaan Rasul
| | | |

Bahagian 18: Kewibawaan Rasul

Bahagian 18: Kewibawaan Rasul

Nas kitab: 10:1-11

[1]      Tidak Hidup Secara Duniawi (10:1)

Δ Paulus disalah-fahamkan jemaat Korintus, di mana mereka berkata: “Dia hanyalah berani tegas dalam suratnya, tidak sedemikian sewaktu berdepan muka dengannya”.

  1. “Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapin berani terhadap kamu bila berjahuan” (1a).
  2. “Aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah” (1b).

Δ Sebenarnya, sewaktu Paulus sedang menggembala jemaat di Korintus, para pemercaya masih sangat suci murni, maka tidak perlu bertindak keras maupun tegas. Hanya setelah Paulus meninggalkan tempat itu barulah masalah timbul. Lantas, memanglah ia perlu menegor secara tegas dalam suratnya. Itulah yang menyebabkan jemaat salahfaham akannya.

[2]      Tidak Berjuang Secara Duniawi (10:2,3)

i. “Ada orang-orang tertentu yang menyangka bahawa kami hidup secara duniawi”.

      “Sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap…” (2).

ii.  “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi” (3).

[3]     Berjuang Dengan Bersandarkan Kuasa Allah (10:4-5)

i. “Senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi” (4a).

“Melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng” (4b).

ii. “Mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala fikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (5).

[4]     Kekuasaan Melaksanakan Amanat (6-11)

i. Kekuasaan rohani dilaksanakan dalam persekutuan rohani.

“Bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna” (6b).

Δ Hanyalah setelah para pemercaya tertentu dapat bersatu hati dengan Paulus dan menyokongnya, baru kemudian ia menghadapi mereka dengan kuasa kerasulannya ….“Untuk menghukum setiap kedurhakaan”.

ii. Membedakan ahli pekerja dan pemercaya yang benar dengan yang palsu.

 “Tengoklah yang nyata di depan mata kamu!” (7a).

Δ Versi terjemahan baru: kamu melihatkan sesuatu secara lahiriah.

“Kalau ada seorang yang benar-benar yakin bahawa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berfikir di dalam hatinya bahawa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia” (7b).

Δ Paulus mengajukan soalan berikut kepada jemaat Korintus: para penginjil palsu berkata dengan yakin bahwa mereka adalah milik Kristus, bahkan ada kuasa dari Kristus. Mereka ini harus berfikir di dalam hati, apakah tanda-tanda bukti Kristus? Berdasarkan apa, dikatakan bahwa mereka mempunyai kuasa sebagai rasul Kristus?  Lantas ia menyuruh jemaat Korintus menguji-selidiki dan pertimbangkan dengan teliti, jangan disesatkan lagi.

iii. Dilaksanakan demi membangunkan pemercaya.

“Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu” (8a).

“Maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu” (8b).

Δ Paulus percaya dengan yakin bahwa kuasa kerasulan yang ada padanya tidak disalahgunakan, melainkan digunakan secara berpatutan, sehingga hati nuraninya tidak rasa bersalah maupun malu.

iv. Penggunaan kuasa, bukan omongan atau ancaman kosong.

À Sesetengah orang salah menyangka bahawa Paulus pergunakan kuasa untuk mengancam dan menakutkan para pemercaya.

“Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak bererti” (10).

Á Sesetengah mereka yang tidak taat pada Paulus, pula berkata: “Hanyalah dia menulis secara begitu tegas, tidak semestinya ia akan bertindak seperti itu”.

Δ Paulus menerangkan: “Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami bila tidak berhadapan  muka” (11).

Δ Paulus sememangnya bukan menakut-nakuti ataupun mengancam para pemercaya, melainkan ia sekali-kali tidak berkompromi dalam bertindak secara tegas menghadapi dosa kejahatan. Sewaktu perlu digunakan kuasa kerasulannya, ia pasti gunakan.

Bahagian 17: Pemberian Sukarela Dan Upah
| | | |

Bahagian 17: Pemberian Sukarela Dan Upah

Bahagian 17: Pemberian Sukarela Dan Upah

Nas kitab: 9:6

[1]      Ketetapan Upah (6)

‘Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit’.

‘Orang yang menabur banyak, akan menuai banyak’.

‘Camkanlah itu’.

[2]      Persembahkan Menurut Kerelaan Hati (7)

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya”.

Δ Berbuat menurut tahap kerelaan sendiri.

“Jangan dengan sedih hati”.

Δ Tidak merasa sedih hati setelah memberi pesembahan, melainkan pertahankan kemurahan hati itu.

“Atau kerana paksaan”.

Δ Jangan kerana inginkan kemuliaan dan kehormatan, atau takut sendiri ketinggalan di belakang, juga bukan kerana didesak maupun dipaksa.

“Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”.

[3]     Diperkenan Dan Penerimaan Upah (8-9)

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu”.

  1. “Supaya kamu senantiasa berkecukupan” (8b).

“Di dalam segala sesuatu” (8c).

“Malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (8d).

Δ “Menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (I Tim 6:18,19).

Δ Banyak benih, buah akan bertambah-tambah (10).

“Ia yang menyediakan benih bagi penabur dan roti untuk dimakan” (10a).

Δ Maksudnya: yang rela menabur (memberi sedekah) demi Tuhan, Tuhan akan bekalkan benih untuknya.

“Dan melipatgandakannya”.

Δ Yaitu siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi lagi sehingga ia berkelimpahan (Mat 13:12).

“Dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu”.

Δ Kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian (Flp 1:9) serta penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah (Flp 1:11; Kol 1:10,11).

  1. “Kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati (11a).
  2. “Yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh kerana kami” (11b).

Δ Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya; ada yang menghemat secara luarbiasa, namun selalu kekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan; siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum (Ams 11:24-25).

[4]     Pengalaman: “Syukur Kepada Allah Kerana KaruniaNya Yang Tak Terkatakan itu!” (15)

  1. Orang-orang kudus dibantu: “Pelayanan kasih ini mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus” (12).
  2. Allah dimuliakan: “Melimpahkan ucapan syukur kepada Allah” (12b).

“Dan sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah kerana ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan kerana kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang” (13).

  1. Kebajikan diperingati pemercaya: “Sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu  oleh kerana kasih karunia Allah yang melimpah ke atas kamu” (14).

Kata penutup:

“Syukur kepada Allah kerana karuniaNya yang tak terkatakan itu” (15).

Allah menjadikan para penyumbang wang sendirinya mengecapi karunia Allah yang tak terkatakan itu, juga menjadikan mereka yang dibantu, turut mengecapi karunia Allah yang tak terkatakan. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28).