Views: 102
Selamat dan Sukses
Pentahbisan Gereja Baru
Gereja Yesus Sejati, Kuching
29 Mei 2004
“ Berkembang Terus,
Sesuai Kepenuhan Roh Kudus”
( Efesus 4 : 13 )
Salam Dari :
DRS. HENDRY JURNAWAN, SH , MM
& Keluarga
Views: 102
Selamat dan Sukses
Pentahbisan Gereja Baru
Gereja Yesus Sejati, Kuching
29 Mei 2004
“ Berkembang Terus,
Sesuai Kepenuhan Roh Kudus”
( Efesus 4 : 13 )
Salam Dari :
DRS. HENDRY JURNAWAN, SH , MM
& Keluarga
Marais terletak di 27.4KM (Batu 17), Jalan Sapong, Tenom. Pada pertenganhan tahun 1963, benih Gereja Yesus Benar mulai bertumbuh di Kampung Marais. Orang pertama yang menerima Injil Benar ialah Sdra Luba bin Ansaang yang telah berjumpa dengan Dn Philip Tyan di tempat saudara-maranya di Ponontomon. Beliau menerima Injil Benar yang disampaikan oleh Dn Philip Tyan. Pada masa itu, beliau telah jatuh sakit selama tiga bulan, tetapi hairan sekali beliau telah pulih setelah menerima baptisan.
Pada tahun 1964, setelah keluarganya menerima baptisan, Sdra Luba memberitakan Injil di rumah panjang Kampung Marais. Dalam bulan Januari tahun itu juga Dn Eparas dan Sdra Sahoh Ahar telah memberitakan Injil, tetapi malangnya tiada yang datang kepada Tuhan.
Namun demikian, syukur kepada anugerah Tuhan kerana dalam bulan Februari 1964 dengan datangnya Dn Eparas, Sdra Sahoh dan Dn Philip Tyan, 40 orang telah menerima baptisan. Kesemua anggota yang baharu ini adalah anggota-anggota Gereja Sidang Injil Borneo. Oleh kerana tanda-tanda mujizat yang menghairankan bilangan anggota semakin bertambah. Mereka yang sakit setelah percaya Gereja Benar telah sembuh dari penyakit.
Pada tahun 1965, tempat kebaktian telah dipindahkan ke rumah panjang kepunyaan Ketua Kampung Simpun Railit. Pada awal 1966, sebuah bangunan gereja baharu yang berukuran 9.1m x 6.7m (30 kaki x 20 kaki) telah didirikan. GFereja ini digunakan sehingga tahun 1984, apabila sebuah gereja yang baru telah dibangunkan, dengan bantuan kewangan dari Ibu Gereja Sabah. Gereja ini berukuran 11m x 6.7m (36 kaki x 22 kaki).
Mengikut buku pendaftaran, ada seramai 220 pemercaya ,1 kelas Pendidikan Agama dan 22 murid. Penguasanya ialah Sdra Salim Ahul. Jawatankuasa kini terdiri daripada:
Hal Ehwal Agama: Malur bin Luba, Salim Ahul (Naib)
Setiausaha : Pani Simpul
Bendahari: Garsing Railit
Hal Ehwal Am : Awot Garsing
GEREJA SIBUGA
Gereja Sandakan sekarang terletak di tanah mendiang Sdra Lee Siak Lin disebabkan tapak yang sesuai bagi sebuah gereja barutiada diperolehi sejak beberapa tahun yang lalu. Syukur kepada Tuhan dalam bulan Ogos 1978, adalah diketahui bahawa terdapat sekeping tanah seluas 0.7 hektar [ 1.75 ekar ] dijual dengan harga yang telah dikurang ke $ 9,000 seekar di Sibuga.
Jawatankuasa Eksekutif dalam beberapa tahun lalu telah memutuskan untuk meneruskan rancangan 3 tahun untuk membina sebuah bangunan gereja baru. Dengan tubuhnya Jawatankuasa Bangunan, Sdra Yong Yung sebagai Pengerusi dan Dn Andrew Pang sebagai Naib Pengerusi, sejumlah $413,000 telah diderma. Pembinaan Gereja telah bermula pada Disember 1986 dan ianya dijangka akan siap pada pertengahan bulan Oktober 1987. Pentahbisan bangunan gereja baru akan dijadualkan pada 13-15 November 1987 sempena Ulangtahun ke-60 Gereja Kita di Sabah.
Gereja ini berukuran 29m dengan 16.8m [ 95 kaki X 55 kaki ] dan dianggar berharga $380,000. Gereja juga merancang untuk membina asrama dan bilik=bilik kelas untuk pendidikan Agama. Kemudahan ini bertujuan untuk perkembangan Pendidikan Agamanya dan fungsi-fungsi besar agama di hari kemudian. Bangunan ini akan berukuran 37m X 24m [ 120 kaki X 78 kaki ] dan dijangka berharga $150,000.
Syukur kepada Tuhan tujuan kita bagi bangunan gereja baru telah menjadi satu kenyataan dan adalah berharap agar anggota-anggota gereja lain akan berdoa bagi bimbingan Tuhan supaya kita maju dalam kerja suci dan lebih ramai orang yang akan percaya daloam Tuhan.
Gereja Pengarawan terletak di sempadan antara Sabah dan Sarawak di bahagian pedalaman.
Sebilangan besar anggota gereja ini berasal dari Sungai Apih. Sejak awal tahun 1963, Sdra Ambilit Ahar dan keluarganya telah berpindah dari Sungai Apih ke Kampung Kepongot Solob, Sebuah desa dekat Kampung Pengarawan.
Pada tahun 1977 seisi keluarga Dn Yohanes Tapikon juga berpindah ke Pengarawan. Masa telah berlalu dan bilangan anggota di sekeliling Pengarawan telah kian bertambah sehari demi sehari. Kebaktian Sabat yang pertama kali telah dijalankan di rumah Sdra Ambilit pada 11 Februari 1978.
Dari tahun 1978 hingga 1980 Kebaktian Sabat dijalankan di rumah Sdra Ambilit bin Ahar dan juga di rumah Sdra Angkarang Tinggkis dan Sdra Kurian Uru. Kemudian pada 1981 kebaktian Hari Sabat ditempatkan di Kg Pengarawan.
Pada 15 April 1983 pembinaan gereja berukuran 9.1m x 6.1m (30 kaki x 20 kaki) di Kg Pengarawan bermula dan telah siap pada bulan Ogos 1983. Oleh kerana kelengkapan perabot tidak mencukupi maka upacara pentahbisan ditangguh hingga 19 Ogos 1984.
Gereja Pengarawan kini mempunyai 160 orang anggota. Ia mempunyai sebuah kelas Pendidikan Agama dengan 20 orang kanak-kanak, yang diselenggarakan oleh Sdra Kolong Sokon, seorang guru agama sepenuh masa Ibu Gereja.
Hal Ehwal Agama: Angkarang Tingkih, Karabom Tingkih (Naib)
Hal Ehwal Am : Ambilit bin Ahar, Lakui Kulipu (Pembantu)
Setiausaha: Kasim Dn Yohanes, Angkupi bin Ambor (Pembantu)
Bendahari : Yohanes Tapikon
KATA SAMBUTAN KETUA MAJELIS GEREJA SABAH PADA
PENTAHBISAN GEREJA YASUS SEJATI KUCHING
Salam sejahtera bagi saudara-saudari kekasih dalam Tuhan Yesus.
Pertama tama saya mau mengucapkan syukur atas berkat Tuhan, telah memberikan kekuatan sehingga mampu menuaikan perintahNya membangun Gereja Yesus Sejati di Kuching. Oleh karena itu melalui kesempatan yang berbahagia ini dengan sejumlah ayat Alkitab marilah kita saling menasehati.
“Karena itu saudara saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu,supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna ( Roma 12 : 1-2 ).
Paulus menasehatkan jemaat dan berkata ( Persembahkan tubuhmu menjadi persembahan hidup……apa yang telah dilakukan anda adalah sepatutnya ). Persembahan seperti ini ada persembahan sempurna,tentu sangat berbeda dengan persembahan yang disertai pamrih. Persembahan berbentuk sedua itu ada maksud memperolen keuntungan, ibarat suatu usaha perdagangan memakai persyaratan pertukaran selalu berprinsip dengan pengorbanan yang sekecil kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebesar besarnya. Akan tetapi persembahan justru sebaliknya, persembahan harus iklas tanpa pamrih. Persembahan adalah pengorbanan murni tidak harap imbalan. Ingat bagaimana cara Tuhan telah menyelamatkan anda? Penyelamatan umat manusia adalah penganugrahan kepada siapa saja dan tidak dapat dibeli dengan uang.
Dalam kitab para rasul pasal 8 terdapat seorang bernama Simon, selalu dengan uang bersahabat dengan teman, berkeinginan dengan uang membeli berkat Tuhan, Rasul Petrus berkata : “uang anda akan binasa bersama anda ! Karena anda anggap anugerah Tuhan dapat dibeli dengan uang” ( Rasul 8 : 20 ). Tuhan memberikan berkat secara gratis,sama halnya jemaat harus berbhakti dengan tulus, sama sekali bukan saling beri atau tukar tambah. Jadi persembahan dengan tulus hati, Seikhlas atas dasar kasih suci adalah Tuhan yang berkenan.
Marilah kita merenung kembali apa yang tersirat dalam Roma pasal 12 ayat 1 dan 2 ! Dalam suatu “ persembahan hidup” adalah betapa indah dan sempurna ? Menginjil bukan karena demi kehidupan, persembahan uang bukan karena status ekonomi. Sewaktu Paulus menginjil di Korintus, juga tidak mau menerima sumbangan mereka. Lain halnya jemaat di philipi pada hal Paulus sudah tidak menjadi gembala sidang diantara mereka, merekapun masih tetap menyumbangkan keperluan rasul Paulus. ( Philipi 4 : 15-19 ). Jadi satu pihak kita harus bekerja untuk Tuhan, satu pihak kita harus dengan sukacita memberikan persembahan.
Paulus karena cinta jiwanya maka menginjil di Philipi karena rindu pekerja rohani maka memikirkan kebutuhan mereka. Diantara mereka tidak memperhitungkan penghasilan mereka dengan persembahan untuk Tuhan. Begitu indah dan tulus persembahannya, tapi mungkin ada pihak tertentu, karena dikaitkan dengan usaha perdagangan mereka, ingin menfaatkan persembahan mendatangkan keuntungan materi, cara dan pikiran demikian sudah menodai persembahan yang murni itu.
Hari ini pentahbisan gedung Gereja merupakan satu persembahan khusus. Mengapa tidak dijadikan suatu kesempatan bagi kita semakan rajin dan mengejar lebih dekat dengan Tuhan ? Apakah bisa membuktikan bahwa kita mempu mengajak dan menarik jiwa, sekaligus sebagai bukti kita ini sungguh bekerja untuk Tuhan? Bukanlah demikian, tapi karena kita memahami panggilan dan keinginan Tuhan. Yakin betul keinginan Tuhan mengandung makna agung, mulia sempurna. Oleh karena itu senantiasa merasa setiap orang hendaknya menerima firman Tuhan, kita semuapun sangat menyukai menerima dan mengerjakan pekerjaan Tuhan. Setiap kali melihat orang bertobat dan menerima Yesus, hati kitapun sangat sukacita. Bila ini memang demikian, keinginan Tuhan dengan mudah berkembang di antara kita, hanya kita semua ini mau sehati. Marilah kita berkarya untuk kesukaan dan keinginan Tuhan.
Diaken Natan Khoo
Ketua Majelis Gereja Sabah
Tamparuli adalah sebuah pekan kecil kira-kira 37km dari Ibu Negeri, Kota Kinabalu. Sebilangan besar penduduk terdiri daripada kaum Cina dan Kadazan. Kaum Cina adalah penaiga dan pemilik gerai manakala Kadazan adalah petani dan pekebun. Sebilagan besar jemaat kita bekerja dengan Jabatan-jabatan Kerajaan, swasta atau sebagai buruh di Kota Kinabalu.
Sebelum Perang Dunia Kedua, anggota-anggota di Gereja Tamparli berbakti di Gereja Tuaran. Semasa pendudukan Jepun, anggota-anggota tidak dapat memegang Hari Sabat di Gereja Tuaran. Oleh itu, mereka terpaksa mengadakan Kebaktian Sabat di rumah Sdra Conh Tshun Yit di Kg Mangkaladoi sejak 28 Disember 1940. Di masa itu, kera suci diuruskan oleh Dn Peter Kwong dan Dn Titus Yap dari Labuan.
Pada satu petang hari Jumaat, ketika 18 pemercaya sedang mengadakan Kebaktian Kelaurga, semasa berdoa, tiba-tiba tentera Jepun datang dan menangkap 18 orang pemercaya bersama penduduk kampung yang lain dihantar ke penjara di Tuaran. Mereka diikat, dipukul dan menunggu penghakiman pada hari keesokan kerana telah lewat malam. Ke-17 pemercaya berdoa bersama-sama sehati sejiwa dala penjara, dan Sdra Chong juga mendoakan bagi mereka atas sebuah gunung, letaknya di hadapan bangunan gereja sekarang. Hari keesokan setelah penghakiman, syukur kepada Tuhan, semua 17 pemercaya telah dibebaskan dengan selamat. Kemudian, mereka lebih tekun dalam iman mereka.
Pada 28 Disember 1940, rumah doa pertama ditubuhkan di rumah Sdra Conhg Tshun Yit di Menggatal. Kemudian, pada 1942 rumah doa telah ditukar ke rumah Dn Peter Kwong yang letaknya lebih kurang 0.4km (1/2 batu) dari pekan. Di masa itu hal ehwal gereja adalah di bawah jagaan Dn Peter Kwong, dibantu oleh Sdra Yong Liam (Yong Tze Liam), Sdra Chong Tet Kong, Sdra Chong Tshun Yit dan Sdra Tham Sen Yu.
Pada tahun 1946, gereja bersimen / papan dibina di tapak seluas 0.2 hektar (1/2 ekar) tanah yang didermakan oleh Dn Jwong. Pada pertenganhan 1946, Dn Kwong meninggal dunia. Pada tahun 1950, Sdra Yong Tze Liam dilantik sebagai Dn Titus Yong dan menjadi Penguasa Gereja. Pada 3.5 Julai 1948, Kebaktian Kebangunan Rohani yang pertama telah diadakan.
Pada wal tahun 1960an, disebabkan bilangan pemercaya yang meningkat gereja terpaksa diubahsuai sebanyak lima kali bagi menampung bilangan anggota menghadiri kebaktian Sabat. Akibatnya, terdapat satu rancangan untuk membina dewan gereja. Berikutan dengan itu, pada awal 1962, dewan gereja tetap yang boleh menampung 200 roang telah siap dibina. Gereja ini telah ditahbiskan kepada Tuhan pada 13 April 1962.
Pada 1965, Ibu Gereja Taiwan telah menghantar Dn John Yang dan Dn Lin Fong Shen ke Sabah untuk membantu kerja suci. Mereka menggalak dan memberi panduan kepada jemaat serta membantu mereka menubuhkan kelas Pendidikan Agama. Bilik-bilik kelas juga didirikan pada tahun yang sama. Pada wal 1966, kelas belia dan kanak-kanak dimulakan .
Pada awal 1978, Kerajaan mula membina lebuhraya dari Tamparuli ke Ranau. Lebuhraya baru ini adalah lebih kurang 30.5m (100 kaki) dari gereja. Oleh itu, gereja boleh dihubung imelalui lebuhraya. Terdahulu dari ini, para pemercaya terpaksa berjalan sejauh 61m (200 kaki) memlaui sawah padi yang dimiliki orang lain dan gereja terpaksa membayar bayaran bulanan untuk melalui sawah tersebut.
Pada 1980 disebabkan bilangan kanak- kanak yang meningkat dala mkelas pendidikan agama, adalah diputuskan bahawa bilik darjah yang sedang digunakan dirobohkan dan membina bilik darjah dua tingkat di tapak yang sama. Kini, terdapat 5 kelas Cina dan 2 kelas Bumiputera Pendidikan Agama dengan 94 orang murid dan 24 orang guru. Penguasa ialah Sdra Wong Yin En dibantu oelhj Sdra Chin Soo Pin.
Mengikut buku daftar terdapat 300 orang ahli tetapi sebilangan besar telah berpindah ke tempat lain. Akibatnya, jumlah pemercaya yang menghadiri Kebaktian Sabat hanyalah 100 orang. Terdapat 4 orang diaken. Jawatankuasa Gereja adalah seperti berikut :
Penguasa: Titus Yong, Pain Ampai (Timbalan)
Pembantu: Chin Soo PIn, Thien Chee Kong
Bendahari: Liew Kiang Ming
Setiausaha: Chong Kiang Chung, Yong Tze Lan (Pembantu)
Selai ndaripada Kebaktian Sabat, Kebaktian malam dan latihan koir juga diadakan, pada hari Ahad, Isnin, Selasa, Rabu dan Jumaat.
Gereja Wangkod telah ditubuhkan pada tahun 1936. Pada tahun 1935, adalah diketahui bahawa seorang wanita bernama Lumbihan bte Gimpit telah memasuki Gereja Benar di Kampung Wangkod. Sdri Lumbihan terdahulunya adalah seorang kafir yang menyembah berhala dan dipercayai mempunyai kuasa ghaib. Kemudian, dia menjadi ahli Gereja Roman Katholik. Apabila Dn John Chin dari Tanjung Tuaran menyaksikan kepadanya Injil Benar. Dia percaya lalu dibaptiskan. Kemudian, Sdri Lumbihan telah menyebarkan Injil dari Kg Wangkod ke Linungkuan, Tinuhan, Puhus, Tamparuli, Rombituon, Madang, Rungus, Topokon, Menguou, Kosusu, Rongalis dan lain-lain.
Dalam pertengahan tahun 1938, Sdra Kadayang Angkal memasuki Gereja Benar dan ramai yang telah mengikutinya, antara lain ialah Bacheh Lasak (kini Dn Simon), setelah dia sembuh dari penyakitnya. Sebelum Bacheh dibaptiskan, dia sangat menentang Gereja Benar sehingga pada suatu ketika dia cuba menendang emaknya (Sdri Lumbihan) semasa dia berdoa. Syukur kepada Tuhan, kerana tendangannya tidak kena pada sasaran bahkan Bacheh sendiri terjatuh lalu pengsan.
setelah Sdra Bacheh percaya, rumahnya dijadikan rumah doa. Pada 20 Mei 1939, Borubui Agan (Kini Dn Yakub) juga telah menjadi anggota Gereja Benar. Dari itu, kedua-dua mereka menyebarkan Injil ke Kg Timbou, Tinuhan dan Puhus.
Pada tahun 1942-45, Perang Dunia kedua berlaku dan oleh itu kemajuan gereja telah tersekat buat sementara. pada 1949, selepas peperangan, terdapat satu cadangan untuk membina gereja. Pada 1947, sebuah gereja berukuran 6.1m x 5.5m (20 kaki x 18 kaki) telah dibina. Inilah gereja pertama yang dibina. Inilah gereja pertama yang dibina di Wangkod. Pada tahun yang sama , 3 diaken dialntik iaitu Dn Lumbihan, Diaken Simon dan Dn Yakub.
Dari 1951-1954 bilangan pemercaya bertambah lebih banyak sehingga sebuah gereja lebih besar perlu dibina. Bangunan gereja yang kedua berukuran 12.2m x 9.1m (40 kaki x 30 kaki) dibina. Bangunan gereja yang kedua berukuran 12.2m x 9.1m (40 kaki x 30 kaki) dibina. Ia mempunyai bangunan gereja sendiri. Sejak penubuhannya, Gereja Wangkod berkembang dengan maju. Ia mempunyai carta organisasi yang baik dan telah menyebarkan Injil dengan berkesan melalui usahasama dengan 5 gereja berdekatan. Lebih pentingnya ialah bilangan anggota telah bertambah dari tahun ke setahun. Kini, hampir semua penduduk kampung adalah anggota Gereja Yesus Benar. Syukur kepada Tuhan. Cawangan-cawangan gereja dalah timbou dan Somodon yang telah ditubuhkan baru-baru ini.
Pada 1986, ada seramai 153 pemercaya dan 2 orang diaken. Selain itu, Kebaktian Hari Sabat, Kebaktian malam juga diadakan pada setiap malam kecuali Hari Isnin. Kelas Pendidikan Agama berjumlah 4 dengan 50 orang kanak-kanak dan 15 orang guru. Penguasanya ialah Sdra Grangon Longkod dibantu oleh Jausin Kindingan. Ahli-ahli Jawatankuasa adalah seperti berikut:
Hal Ehwal Agama: Benjamin Sinduman, Yakub Agan (Timbalan)
Hal Ehwal Am : Kindingan Limbun
Bendahari: Ridayah Sambulan, Sigim Pantai (Pembantu)
Setiausaha: Jausin Kindingan, Dalus Logidu (Pembantu)