Views: 101
Kebahagiaan yang sia-sia
1 Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Mazmur.
2 Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian,
pasanglah telinga, hai semua penduduk dunia,
3 baik yang hina maupun yang mulia,
baik yang kaya maupun yang miskin bersama-sama!
4 Mulutku akan mengucapkan hikmat,
dan yang direnungkan hatiku ialah pengertian.
5 Aku akan menyendengkan telingaku kepada amsal,
akan mengutarakan peribahasaku dengan bermain kecapi.
6 Mengapa aku takut pada hari-hari celaka
pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku,
7 mereka yang percaya akan harta bendanya,
dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka?
8 Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya,
atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya,
9 karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya,
dan tidak memadai untuk selama-lamanya–
10 supaya ia tetap hidup untuk seterusnya,
dan tidak melihat lobang kubur.
11 Sungguh, akan dilihatnya: orang-orang yang mempunyai hikmat mati,
orang-orang bodoh dan dungupun binasa bersama-sama
dan meninggalkan harta benda mereka untuk orang lain.
12 Kubur mereka ialah rumah mereka untuk selama-lamanya,
tempat kediaman mereka turun-temurun;
mereka menganggap ladang-ladang milik mereka.
13 Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan,
ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.
14 Inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri,
ajal orang-orang yang gemar akan perkataannya sendiri.
15 Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati,
digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur,
perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.
16 Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati,
sebab Ia akan menarik aku.
17 Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya,
apabila kemuliaan keluarganya bertambah,
18 sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta,
kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia.
19 Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia pada masa hidupnya,
sekalipun orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri,
20 namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya,
yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya.
21 Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian,
boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.
Tajuk:
Jangan Berharap Kepada Kekayaan
Tema:
Menasihat manusia janganlah merindu-inginkan kekayaan dan kemewahan orang-orang fasik
Latar belakang:
Fasal ini adalah nyanyian teori prinsip hikmat, pandangan-pandangan yang dibentangkan oleh pengarang tidak tertuju kepada mana-mana waktu tertentu.
Kategori:
Nyanyian bersifat amsal
Hubungan dengan gulungan kitab lain:
Fasal ini menghuraikan tentang tatkala orang-orang fasik menjadi kaya, janganlah hati kita merasa tidak senang maupun merasa marah. Catatan Ayb 21:7-10; Yer 12:1; Mzm 73:3 dan 37:1 adalah serba bersamaan dengan isi yang dicatatkan di dalam fasal ini.
Garis kasar:
(I) Menasihat segala bangsa agar melihat sejelas-jelasnya keadaan sebenar (2-6)
1. Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian (2-3)
(a) Baik yang hina maupun yang mulia
(b) Baik yang kaya maupun yang miskin
(2) Cara memberi nasihat (4-5)
1. Jangan percaya kepada kata-kata yang sembarangan
a. Mulut mengucapkan hikmat
b. Hati merenungkan hikmat
2. Berbicara atas wahyu Tuhan
~ Aku menyendengkan telingaku kepada amsal
3. Mengutarakan peribahasa dengan bermain kecapi
(3) Fokus nasihat (6)
~ Jangan takut ketika dalam kesesakan dan penganiayaan
(II) Kekayaan bukanlah maha boleh (7-10)
1. Tidak dapat membebaskan saudara-saudara sendiri
~ Tidak dapat memberikan hidup kekal
2. Nilai nyawa adalah terlalu mahal harganya
~ Kekayaan menjadi tidak berguna
(III) Kebodohan orang-orang kaya (11-15)
1. Apakah harta benda boleh ditinggalkan untuk turun-temurun (11-13)
a. Orang bodoh, orang hikmat, semuanya ditetapkan mati sekali (11)
~ Kekayaan akan ditinggalkan untuk orang lain
2. Angkatan kemudian menutupi bekas jejak angkatan tua (14-15)
a. Keturunan turut menempuhi jalan kebodohan ini (14)
b. Maut di gembala orang-orang kaya (15)
1. Orang tulus bangkit, bukankah itu melebihi mereka
2. Perawakan orang kaya dihancurkan alam maut
(IV) Manusia haruslah sedar (16-21)
1. Hanyalah Allah yang selamatkan jiwa manusia (16-17)
a. Tidak akan turun ke dunia orang mati
b. Tidak takut apabila kemudian orang kaya bertambah
~ Kekayaan tidak dapat meluputkan seseorang dari maut
2. Jangan memegahkan diri kerana kekayaan (19-21)
1. Orang congkak menutupi bekas jejak nenek moyang
~ Tidak akan melihat terang untuk seterusnya
2. Tidak berjaga-jaga tatkala dalam kekayaan
~ Disamakan dengan haiwan yang dibinasakan
