Views: 173

2.3.1   Tuhan memegang hari Sabat dengan murid-murid-Nya

“Menurut kebiasaannya”, Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya memegang Hari Sabat sebagai hari yang kudus:

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab (Luk 4:16).

Tuhan menggelar diri-Nya sebagai Tuhan atas hari Sabat dan memimpin hari Sabat:

Kerana Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mat 12:8).

Juga menegaskan bahawa hari Sabat diadakan untuk manusia:

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27).

Adalah supaya manusia dapat berehat dan segala sesuatu yang dilakukan pada hari Sabat adalah demi kesihatan dan kebaikan.

Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan dia. 3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: ”Mari, berdirilah di tengah!” 4 kemudian kata-Nya kepada mereka: “manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” tetapi mereka itu diam saja (Mrk 3:2-4).

Bukannya untuk menjalankan larangan-larangan Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sehingga hari Sabat menjadi hari yang menanggung penderitaan dan yang tidak ada kemerdekaan. (Untuk maklumat lebih lanjut, sila rujuk bab 5).

Selepas Tuhan terangkat ke syurga, para rasul tetap meneladani Tuhan Yesus dengan memegang hari Sabat:

Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ  (Kis 13:14).

Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ (Kis 16:13).

Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci (Kis 17:2).

Mereka bukan sahaja memegang hari Sabat di tempat sembahyang orang Yahudi, malahan melepaskan diri daripada adat-istiadat Yahudi, kerana mereka memegang hari Sabat bukan sahaja di dalam rumah ibadat sendiri, tetapi juga di tempat-tempat yang lain (Kis 16:13); Hanya tetap tidak menuruti larangan-larangan orang-orang Farisi. (Untuk maklumat lanjut, sila rujuk bab ke-6).

Oleh itu, sejak dahulu lagi, banyak sejarahwan gereja menafikan bahawa hari Tuhan diasaskan oleh para rasul.

Seperti yang dikatakan oleh Heylyn:

Take which you will, either the Fathers or the moderns, and we shall find no Lord’s day Instituted by any apostolic mandate; on Sabbath set on foot by them upon the first day of the week.[1]

Domvile mengatakan:

Not any ecclesiastical writer of the first three centuries attributed the origin of Sunday observance either to Christ or to his apostles.[2]

 

[1]  Andrew, p195.

[2]  Ibid.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *