I. Kehidupan Kekeluargaan Umat Kristen
Orang kudus zaman dahulu kala berkata: “Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku” (Mzm 101:2). Kata Tuhan Yesus: “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu” (Mat 5:15). Kewajipan rohani seorang umat kristen ialah pertama-tama harus menyelamatkan semua anggota keluarga. Namun, untuk mentobatkan anggota keluarga yang belum percaya, di samping mempergiatkan iman anggota yang telah percaya, haruslah setiap umat kristen mempraktikkan firman Tuhan di rumah dan bersinar terang. Berikut adalah huraian berdasarkan Alkitab, Kebenaran tentang keluarga dan kewajipan yang harus ditunaikan oleh setiap ahli keluarga.
1. Sistem Perkahwinan
(1) Perkahwinan adalah dijodohkan oleh Allah
Δ Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18-23; rujuk: Mrk 10:9; I Kor 11:11; Kej 24:12-14)
(2) Perkahwinan (Ibr 13:4)
Δ Jangan memilih menurut kehendak hati (Kej 6:2), jangan mencemarkan perkahwinan sebelum bernikah (Ibr 13:4)
Δ Yakub bertunang dengan Rahel selama 7 tahun, namun tetap menjaga kesucian (Kej 29:20, 21; rujuk: Mat 1:18, 19; II Kor 11:2)
(3) Jangan bernikah dengan orang kafir
a) Abraham, bapa iman, menyuruh hamba tertuanya yang menguasai seluruh kepunyaannya supaya mengangkat sumpah jangan mengambil untuk anaknya seorang isteri dari antara perempuan Kanaan (Kej 24:2-4)
b) Raja Salomo tergoda dan berbuat dosa kerana berkawin dengan perempuan kafir (Nh 13:23-27)
c) Pada zaman Perjanjian Baru ada juga perintah yang sama (I Kor 7:39; II Kor 6:14-18)
(4) Sistem satu suami satu isteri
a) Pada mulanya Allah hanya menciptakan satu laki-laki dan satu perempuan (Kej 2:25; rujuk: Mal 2:15)
b) Keduanya menjadi satu daging (Ef 5:31; Kej 2:24)
c) Suami dari dua isteri tidak boleh memegang jabatan kudus (I Tim 3:2, 12; Tit 1:6)
(5) Bolehkah bercerai
Δ Kata Paulus: “Kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia brcerai” (I Kor 7:15). Tetapi selanjutnya dia berkata: “Bagaimanakah engkau mengetahui apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu [atau isteri]?” (I Kor 7:16; rujuk: I Ptr 3:1). Maka dapat diketahui walaupun seseorang pemercaya ditinggalkan oleh pasangannya, Paulus berharap ianya akan bersabar: “Jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami” (I Kor 7:11; Mrk 10:11, 12). Sebab perceraian adalah hal yang dibenci oleh Allah (Mal 2:16)
Δ Hanya ada satu alasan yang memperbolehkan seseorang bercerai, iaitu sepihak berzinah (Mat 5:31, 32; 19:8,9; rujuk: Ul 22:20, 21)
(6) Boleh menikah lagi setelah suami telah meninggal (Rm 7:2, 3; I Kor 7:8, 9, 39)
(7) Perihal tidak berkahwin seumur hidup
Δ Tetap dalam keadaannya bagi pekerjaan pelayanan kepada Allah memang sangat baik, tetapi hanya mereka yang dikaruniai saja dapat berbuat demikian (I Kor 7:25-35; rujuk: Mat 19:10-12)
Δ Melarang orang berkahwin secara paksa adalah salah (I Tim 4:1-3)
(8) Orang tua harus perhatikan perkahwinan anak-anak sendiri
Δ Harus membimbing anak-anak kahwin menurut kehendak Allah (Kej 24:1-6; 28:1-3)
Δ Jangan merosakkan kesucian anak perempuan dengan menjadikan dia perempuan sundal (Im 19:29; Ul 23:17)
Δ Jangan membawa upah sundal atau wang semburit ke dalam rumah Tuhan (Ul 23:18)
2. Kebenaran Tentang Suami Isteri
(1) Suami terhadap isteri
Δ Harus mengasihi dia sebagaimana Yesus telah mengasihi jemaat (Ef 5:25, 28, 29)
Δ Hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah dan hormatilah dia (I Ptr 3:7)
Δ Jangan berlalu kasar (Kol 3:19; Mal 2:16)
Δ Jangan mengabaikan pendapat isteri (I Kor 7:3-5) Harus hidup bahagia dengannya (Phh 9:9; rujuk: Kej 24:67; Kid 4:7-15)
Δ Isteri yang berakal budi adalah pemberian Allah (Ams 18:22; 19:14)
(2) Isteri terhadap suami
Δ Sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu (Ef 5:22-24; I Ptr 3:1-5; Kol 3:18)
Δ Tidak berkuasa atas diri sendiri (I Kor 7:3-5)
Δ Harus membantu suami (Kej 2:18) – Hawa dijadikan untuk membantu Adam
Δ Perempuan yang cekap dalam kitab Amsal 31:10-31: “Suaminya tidak akan kekurangan keuntungan”. Sebab dia ‘rajin’ (13, 18, 19, 24), ‘pandai mengatur rumah’ (15, 16, 21, 24, 27), ‘murah hati’ (20), ‘berhikmat’ (26) dan ‘takut akan Tuhan’ (30). Sebagai seorang isteri harus contohinya.
Δ Perempuan janganlah mementingkan perhiasan lahiriah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa, yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram (I Ptr 3:3-5; I Tim 2:9-11)
Δ Isteri yang jahat mencelakakan suami (Ams 12:4; 21:9; Hak 16:15-21)
3. Kebenaran Antara Ayah Dan Anak
(1) Kewajiban orang tua terhadap anak-anak
Keluarga adalah pusat mendidik agama, kewajiban terutama sebagai ibubapa ialah memelihara dan memupuk kepercayaan anak-anak.
a) Harus mendidik anak-anak takut akan Allah (Kej 18:19; Mzm 78:3-8; 71:18)
i) Raja Daud meninggalkan pesan kepada Salomo supaya takut akan Allah dan memegang perintahNya (I Raj 2:1-4)
ii) Kornelius membimbing sekeluarganya takut akan Tuhan (Kis 10:1-2)
iii) Nuh dan Yosua sekeluarga takut akan Allah (Kej 7:1; II Ptr 2:5; Yos 24:15)
b) Didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef 6:4)
i) Anak adalah pemberian Allah (Mzm 127:3) yang menerima kasih karunia kehidupan bersamamu (rujuk: I Ptr 3:7). Oleh sebab itu harus menghormatinya, janganlah sakiti hatinya (Kol 3:21; rujuk: Mat 19:13, 14; Mi 2:9)
ii) Mendidiknya mengenal Alkitab dari kecil, supaya dia mempunyai dasar dalam kebenaran (II Tim 3:15; rujuk: II Tim 1:5; Ul 6:6, 7; Ams 22:6). Yusuf dan Daniel sudah mengerti Alkitab sejak masa muda, lantas mempunyai dasar kepercayaan yang kukuh (rujuk: Kej 37:2, 28; 39:9; Dan 1:4, 8).
c) Harus segera perbaiki kesalahan anak-anak (Ams 13:24; 19:18; 22:15; 23:13, 14)
i) Eli tidak mendidik anak-anaknya dengan tegas, sehingga mendatangkan malapetaka (I Sam 2:29-34, 12-25)
ii) Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka dan menguduskan mereka, mempersembahkan korban bakaran untuk mereka, sebab ia takut, kalau-kalau anak-anaknya berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati (Ayb 1:5)
iii) “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Am 29:17).
d) Harus berdoa untuk anak-anak (I Taw 29:19; Luk 23:28)
Δ Tujuan muktamad mendidik anak-anak ialah supaya mereka menjadi perabot yang kudus, hidup untuk Tuhan, memberikan kebaikan kepada orang banyak dan memuliakan Allah (rujuk: Rm 14:7, 8; 12:1; I Kor 6:20; I Sam 1:28; II Tim 2:2)
(2) Anak-anak terhadap orang tua
a) Harus berbakti pada orang tua (Kel 20:12)
Δ Seseorang anak yang berbakti pada orang tuanya, tidak berhutang terhadap mereka. Berbakti adalah membalas budi orang tua, yang telah melahirkan, memelihara, mendidik dan lain-lain (I Tim 5:4)
b) Firman perihal berbakti
Δ Taat pada orang tua di dalam Tuhan (Ef 6:1; Kol 3:20; Ams 6:20-22; rujuk: Luk 2:51); jikalau perkataan orang tua tidak sesuai dengan Firman Tuhan; misalnya menyuruh engkau berbuat jahat dan meninggalkan Allah, maka jangan ditaati.
Δ Harus menerima ajaran orang tua (Ibr 12:7-9; Ams 15:5; 13:1)
Δ Jangan menganiaya orang tua (Ams 19:26)
Δ Jangan menghina orang tua (Ams 23:22; 15:5); sesudah Salomo menjadi raja, dia tetap menghormati ibunya (I Raj 2:19)
Δ Jangan mengutuki orang tua (Im 20:9; Mat 15:4)
Δ Harus memelihara orang tua; Rut memungut bulir-bulir gandum untuk memelihara ibu mertuanya (Rut 2:2). Tuhan berkata bahawa jangan kerana memberikan persembahan kepada Allah maka boleh abaikan nafkah pemeliharaan orang tua (Mrk 7:10-12). Menjelang saat-saat kematianNya, Tuhan menyerahkan ibuNya kepada murid-muridNya (Yoh 19:26, 27)
Δ Harus membawa orang tua kembali kepada Tuhan, supaya sama-sama menikmati kebahagiaan kekal di Sorga (rujuk: Kis 16:31; Mrk 5:19; Rm 9:1-3)
c) Siapa yang tidak berbakti pasti akan dikutuk (Ul 27:16)
Δ Siapa yang mengutuki ayah dan ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap (Ams 20:20; rujuk: Ams 30:17).
Δ Absalom ingin merampas takhta kerajaan lalu mengumpulkan tenteranya untuk membunuh ayahnya; namun itu mendatangkan malapetaka yang menyebabkan dia mati terbunuh (II Sam 15:13, 14; 18:9-15).
d) Setiap yang berbakti pasti diberkati (Ef 6:2, 3; Kel 20:12).
i) Yusuf adalah anak yang berbakti; ketika menemui saudara-saudaranya dia serta-merta menanyakan keselamatan orang tuanya (Kej 43:27, 28). Walaupun sudah menjadi penguasa, namun tidak memandang rendah akan ayahnya yang hanya seorang gembala domba, melainkan segera menyambutnya datang ke sisinya dan memeliharanya (Kej 46:29,30).
ii) Rut berbakti (Rut 1:16, 17; 2:2-17, 18; 3:11), mendapat berkat dari Allah, memperoleh suami yang mulia (Rut 2:1; 4:13), melahirkan keturunan yang saleh, bahkan keturunannya yang ketiga iaitu Daud, menjadi raja Israel (Rut 4:17; rujuk: II Sam 15:1-5)
4. Kebenaran Antara Adik-Beradik
(1) Diam bersama-sama dengan rukun (Mzm 133:1)
Δ Hidup dengan rukun sesama adik-beradik, maka orang tua akan gembira (rujuk: Kej 27:41, 42; II Sam 13:37).
Δ Memelihara kerukunan harus:
a) Tidak iri hati (Kis 7:9; Kej 37:11)
b) Tidak membenci (Kej 37:4; Im 19:17)
c) Rela bertolak ansur (Kej 13:8, 9; I Kor 6:7, 8)
d) Rela mengampuni (Kej 50:15-21; Kol 3:13)
(2) Saling menjaga di waktu kesukaran (Ams 17:17)
Δ Yang kekurangan harus dibantu (Ul 15:7-11)
Δ Jangan mengambil wang bunga atas wang yang dipinjam kepadanya kerana dia miskin (Im 25:35-37; Ul 23:19-20).
Δ Pada waktu dia sakit harus jagakan (Ayb 42:11; rujuk: Ayb 19:13; Mat 25:36)
Δ Abraham menempuh bahaya untuk menolong kemenakannya (Kej 14:13-16)
Δ Siapa yang tidak memelihara sanak saudaranya, dia itu murtad (I Tim 5:8)
(3) Bangkit-teguhkan keturunan saudara (Ul 25:5-10; Mat 22:24)
Δ Pada zaman Perjanjian Lama seorang adik harus membangkitkan keturunan bagi saudaranya (umat kristen tidak ada aturan ini), supaya namanya tetap berada di antara bani Israel. Maka dapat diketahui bahwa Allah menginginkan sebagai sesama saudara harus sedar akan kewajiban yang harus ditunaikan terhadap saudara sendiri (Kej 38:7, 8)
Δ Perempuan sundal, Rahab memohon kepada pengintai untuk menyelamatkan juga nyawa saudara-saudara laki-laki dan saudara-saudara perempuannya (Yos 2:12, 13; 6:23)
Δ Paulus rela mengorbankan diri untuk saudara-saudaranya supaya nama mereka terdaftar di Sorga selama-lamanya (diselamatkan) – dalam Perjanjian Lama rela mengorbankan diri supaya nama saudara-saudara tetap berada di bumi (Rm 9:3; rujuk: Why 21:27; Luk 10:20)
5. Kasih keluarga harus diperluas sampai kepada orang banyak.
Tuhan berkata: “IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan Firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Paulus juga berkata: “Tegurlah orang yang tua sebagai bapa, dan tegurlah orang-orang muda sebagai saudaramu” (I Tim 5:1, 2). Haruslah kita perluaskan kasih sayang sebagai ibubapa, ketaatan sebagai anak-anak dan sentimen sesama adik-beradik sampai kepada keluarga besar saudara-saudari seiman (II Ptr 1:7).
(1) Ayub melayani anak yatim dan janda seperti anggota keluarga sendiri (Ayb 31:16-22)
(2) Paulus dan Timotius mempunyai pertalian seperti bapa dan anak (I Tim 1:2, 4; II Tim 1:2; I Kor 4:17)
(3) Harus pelihara anak yatim dan janda secara khususnya (Yak 1:27; I Tim 5:16; Ul 10:18; 27:19; Yer 49:11)
(4) Peliharalah kasih persaudaraan (Ibr 13:1; Mat 23:8; Rm 12:10; I Yoh 4:29, 21)
II. Kehidupan Sosial Umat Kristian
Tuhan Yesus pernah berkata kepada murid-muridNya: “Kamu adalah garam dunia”. KataNya lagi: “Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13, 14). Terbukti pada waktu itu, Tuhan tidak memerintahkan murid-murid menjauhkan diri dari masyarakat untuk menjalani kehidupan mengasingkan diri daripada dunia, melainkan menghendaki mereka mempratikkan Kebenaran dalam dunia yang penuh kejahatan, menjadi garam dunia dengan tujuan menghalangi masyarakat daripada terus binasa dan rosak; juga menjadi terang dunia untuk memimpin manusia ke arah jalan yang terang dan benar (Flp 2:14-16). Justeru demikian, bagaimanakah umat kristen hidup di dunia dengan tidak mempersia-siakan amanat Tuhan? Berikut dibentangkan beberapa butir:
1. Perihal Pendidikan
Prinsip kehidupan umat kristen ialah memuliakan Allah dan memanfaatkan orang ramai (I Kor 6:20; 10:24; Rm 15:2). Gereja tidak menghalang sesiapa pun yang menimba ilmu pendidikan yang tinggi; cuma sebagai ibubapa atau belia itu sendiri, haruslah memilih institusi dan bidang pengajian yang memuliakan Allah, juga memanfaatkan orang, bukanlah untuk keuntungan diri; dengan demikian pengajiannya bukan saja tidak mencelakakan dirinya, bahkan boleh digunakan dalam kehidupan kepercayaannya sehingga dapat bersinar untuk Tuhan. Berikut adalah tiga contoh yang baik:
1) Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir (Kis 7:22)
Δ Pada mulanya, Musa boleh menikmati kemewahan dan kesenangan dalam istana Mesir, tetapi disebabkan ia dikehendaki menyelamatkan kaum sebangsanya dari penindasan Firaun, maka dia rela melepaskan segala kekayaan, kenikmatan dan kekuasaannya (Ibr 11:23-27; Kis 7:24).
Δ Allah telah mengutusnya untuk memimpin umat Israel keluar dari Mesir, dan melaluinya juga telah menuliskan lima gulungan kitab di padang gurun – Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Ia dipercayakan kerja sebagai seorang pemimpin dan pengarang adalah serba berkaitan dengan segala pengetahuan yang ia pelajari di Mesir (rujuk: Kis 7:22; Yoh 1:17).
2) Daniel mempelajari segala hikmat Kasdim (Dan 1:3-5, 17)
Δ Semenjak masa mudanya, Daniel mempunyai iman yang sangat kuat (Dan 1:8). Kemudian ia dipilih oleh raja untuk menerima pendidikan tertinggi Babel. Pada waktu itu, Allah teristimewanya mengaruniakan kepada mereka (terdapat tiga lagi orang kudus yang lain) hikmat dan kepandaian di dalam berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sehingga didapati bahawa mereka sepuluh kali lebih cerdas daripada semua teman-teman bangsa asing mereka (Dan 1:17-21)
Δ Setelah tamat pengajian, mereka diutus bekerja dalam istana raja (rujuk: Dan 1:4), sampai pada pemerintahan raja Darius, orang Media, dia diangkat menjadi penguasa tertinggi kerana kesetiaannya (Dan 6:1-5). Kemudian kerena rakan sejawatnya iri hati maka mereka mencelakainya sehingga dilempar ke dalam gua singa. Namun Allah menolongnya sehingga raja Darius lebih mengenal Allah. Daniel yang begitu berilmu pengetahuan, berkedudukan tinggi dan bermoral baik, berjaya memuliakan Allah di antara bangsa-bangsa asing dan memberikan kebaikan kepada saudara-saudaranya yang ditawan di negeri asing (Dan 6:6-10, 16-18).
3) Paulus adalah murid Gamaliel (Kis 22:3)
Δ Gamaliel adalah seorang ahli Taurat yang sangat dihormati orang banyak (Kis 5:34-40). Paulus pernah dididik di bawah pimpinannya, dan menjadi orang pandai yang terkenal (rujuk: Kis 26:24). Tetapi sebelum percaya kepada Tuhan, ilmu pengetahuannya membuat dia menjadi congkak dan tinggi hati (rujuk: I Kor 8:1; Kis 9:1, 2)
Δ Setelah percaya Tuhan, dia mempersembahkan diri menjadi senjata kebenaran, memberitakan Injil untuk Tuhan. Tuhan juga memberi wahyu padanya tentang rahsia yang tersembunyi sejak dahulu kala. Paulus telah menuliskan banyak kitab-kitab surat dengan cara penulisan yang lancar dan jelas dan dimasukkan dalam Kitab Suci (Rm 16:25; Gal 1:11, 12; rujuk: Mat 13:5)
2. Perihal Kerjaya
(1) Lakukan pekerjaan yang baik (Ef 4:28)
Δ Alkitab mengatakan: “Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (I Kor 10:13). Setiap jenis pekerjaan adalah penting asal saja ianya membangunkan baik fizikal maupun rohani seseorang. Umpama anggota-anggota tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi dan kegunaannya tanpa perbezaan mana satu yang hina maupun mulia. Namun, kerja-kerja misalnya di dalam kelab-kelab perjudian, pelacuran, tari-menari dan lain-lain kerja yang tidak halal, jangan sekali-kali kita libatkan diri (rujuk: Tit 3:8, 14; Ul 23:17, 18).
Δ Tukang kayu adalah pekerjaan yang dihina orang waktu itu, tetapi Allah membiarkan AnakNya yang tunggal lahir di keluarga Yusuf, seorang tukang kayu (rujuk: Mat 13:55). Umat Kristen harus menghormati pekerja-pekerja yang dipandang hina oleh orang-orang dunia, seperti: penyapu jalan, pekerja kebersihan, drebar, pekerja buruh dan lain-lain. Ini disebabkan mereka merupakan ahli-ahli pekerja yang tidak boleh kekurangan dalam masyarakat kita (rujuk: I Kor 12:22, 23; Luk 16:15)
(2) Soal hamba
Δ Paulus berkata kepada orang yang menjadi hamba: “Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa” (I Kor 7:21). Dia juga menasihati mereka supaya taat pada tuan mereka dalam segala hal dan setia dalam kerja (Kol 3:22-24). Berkenaan pihak yang lain, dia menasihatkan yang menjadi tuan haruslah memperlakukan hambanya dengan adil (Ef 6:9; Kol 4:1)
Δ Tetapi Paulus mengharapkan yang menjadi hamba: “Jikalau mendapat kesempatan untuk dibebaskan pergunakanlah kesempatan itu” (I Kor 7:21). Ini bukan bererti meremehkan pekerjaan dan kedudukan hamba, kerana dia menganggap: “Tidak ada hamba atau orang merdeka, kerana semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28)
(3) Soal kerja
Δ Alkitab mengatakan: “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu” (Kel 20:9). Paulus memberi petunjuk kepada jemaat, katanya: “Jikalau seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (II Tes 3:10). Dan lagi pesannya kepada jemaat, harus memberi hukuman terhadap orang-orang yang tidak mau bekerja dan memakan makanan malas (I Tes 4:11; II Tes 3:8-14). Paulus sendiri membuat kemah sebagai mata pencarian kehidupan dan itu merupakan teladan baik kepada seluruh jemaat (Kis 18: 3, 20:34; I Tes 2:9). Para pemercaya sepatutnya menganggap memakan makanan malas sebagai seperkara yang memalukan bahkan suatu dosa. Mereka yang dari keluarga yang kaya-raya, jangan hanya pergi melancong maupun berpesta-pora dalam kenikmatan seperti orang kaya (Luk 16:19, 22, 25). Memandangkan kehidupan adalah lebih stabil, maka harus persembahkan tubuh dan jiwa untuk melayani Tuhan (Rm 6:13; 12:1).
3. Perihal Melayani Orang Lain
(1) Harus setia
Δ Terhadap orang harus setia, jangan munafik (Za 8:16; Ef 4:15; Ams 3:5)
Δ Berurus-niaga jangan curang (Ams 11:1; Ul 25:13-16; Ams 21:6).
Δ Yang menjadi hakim jangan menerima suap atau terjerumus dalam rasuah (Ul 16:19; Mi 7:3; rujuk: Dan 6:4, 22)
Δ Berpegang pada janji, walaupun rugi (Mzm 15:4; rujuk: Hak 11:30-40)
Δ Abraham dipilih kerana hatinya setia (Neh 9:7, 8)
Δ Allah pasti membantu orang yang setia kepadaNya (II Taw 16:9)
Δ Orang yang setia adalah umat Allah yang sejati (Yoh 1:47)
(2) Bermurah hati
Δ Umat kristen bukan saja tidak boleh membalas kebaikan dengan kejahatan seperti Nabal (I Sam 25:21), bahkan tidak boleh mata ganti mata, dan gigi ganti gigi (Mat 5:38). Harus mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Rm 12:21), jangan membenci sesiapa pun juga; haruslah menaruh kasih, seperti Juruselamat dan Yusuf (Luk 23:34; Kej 50:15-21; I Kor 13:4-9)
Δ Jangan menutup hati yang berbelas kasihan terhadap anak yatim, janda dan orang miskin yang menderita, serta orang-orang yang ditimpa kemalangan (I Yoh 3:17), harus bekalkan kepada mereka apa yang diperlukan (Yak 2:14-16). Jangan seperti kedua-dua imam dan orang Lewi itu, di mana mereka pura-pura tidak melihat orang yang minta pertolongan mereka (Luk 10:30-32; Ul 21:1-4)
Δ Melakukan kebajikan adalah perintah Allah (Ul 15:7, 8; Gal 2:10), orang-orang kudus duhulu menganggap bahwa menolong orang miskin adalah hal baik dan mereka giat melakukannya seperti: Dorkas (Kis 9:16), Kornelius (Kis 10:2, 3) dan Zakheus, yang bertobat (Luk 19:8).
(3) Melakukan kebenaran
Δ “Jangan memandang muka” (Yak 2:1); membela orang yang kecil dengan tidak sewajarnya memang tidak boleh (Im 19:15), namun terlebih lagi tidak boleh ialah memandang bulu (Ul 1:17). “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (I Sam 16:7; rujuk: Luk 16:15)
Δ Harus adil dalam pengadilan (Ams 24:23, 24); “Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya” (Ams 18:17). Kerana Daud melakukan keputusan hanya berdasarkan perkataan Ziba, mengakibatkan ianya hanya menyalahkan Mefiboset (II Sam 16:1, 4; 19:24-30). Jangan mudah percaya sekalipun ada saksi. Misalnya: Izebel yang mencelakai Nabot dengan dua orang saksi palsu (I Raj 21:8-14). Orang Yahudi juga menggunakan cara demikian untuk mencelakai Tuhan Yesus (Mat 26:59-62). Jangan juga memutuskan perkara berdasarkan bukti yang berbentuk material. Yusuf yang setia dimasukkan ke dalam penjara oleh tuannya kerana tuannya tidak menyelidiki asal usul pakaian Yusuf yang di tangan isterinya (Kej 39:11-20).
Δ Harus berani mengusulkan keadilan: Nabi-nabi dalam sejarah, kesemuanya tidak takut pada kekuasaan dan ancaman. Sebaliknya dengan beraninya mereka mencela kejahatan, menuntun orang berbuat adil demi memperluaskan kebenaran Allah. Misalnya: Daniel (Dan 4:27), Zakharia (II Taw 24:20,21), Yohanes Pembaptis (Mat 14:3-11) dan terlebih lagi Tuhan Yesus (Yoh 7:7; Mat 23:13-39; 21:12-14; Luk 19:45-57).
Δ Berlaku adil bukan saja boleh mengurangkan hal-hal yang merugikan orang, bahkan lebih mendorong orang untuk berusaha berbuat baik dan setia pada kerjanya. Andaikata pihak-pihak atasan berlaku adil, maka kedudukannya akan lebih kukuh (Ams 16:12); dan andaikata rakyat juga berlaku adil, maka negara pasti ditinggikan (Ams 14:34), dan menyelamatkannya pada Hari Penghakiman nanti (Ams 11:4)
4. Perihal Pergaulan
(1) Jangan semberono dalam pergaulan (I Kor 15:33)
a) Jangan bergaul dengan: yang tidak percaya, yang tidak benar (II Kor 6:14-18), yang duniawi (Yak 4:4), pemarah (Ams 22:24), pengumpat (Ams 20:19), selalu berubah-ubah tidak tetap (Ams 24:21), pelahap dan peminum (Ams 23:30)
b) Orang-orang yang harus didekati: saudara seiman dalam gereja (I Ptr 2:17; Rm 12:10), orang yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (II Tim 2:22), orang yang berhikmat (Ams 13:20), Tuhan Yesus (Yoh 15:14). Allah menyebut Abraham sebagai sahabat (Yak 2:23; II Taw 20:7; Yes 41:8).
c) Persahabatan Yonatan dan Daud: Yonatan memberikan barang-barang kesayangannya kepada Daud (I Sam 18:1-4), membela Daud (I Sam 19:1-7), rela membiarkan Daud menjadi raja (I Sam 23:15-18). Daud sangat bersedih atas kematian Yonatan, menangis dan berpuasa demi dia (II Sam 1:11, 12), menyebut kasih Yonatan melebihi kasih perempuan (II Sam 1:26). Memperingati persahabatannya setelah Yonatan meninggal, dan berbuat baik terhadap anaknya, Mefiboset (II Sam 9:1-8).
(2) Jangan minum arak
Δ Keburukan arak: arak yang keras membuat orang sakit (Hos 7:5), si peminum menjadi miskin (Ams 23:21), bahkan menjual anak untuk membeli arak (Yl 3:3). Arak membuat orang bertengkar (Ams 23:29), berzinah (Kej 19;30-38), telanjang (Kej 9:21), mati dan binasa kerajaannya (Dan 5:1-9, 25-31)
Δ Ajaran Alkitab: masuk Kemah Pertemuan (Kemah Pertemuan melambangkan gereja benar: Ibr 8:2), tidak boleh minum arak, agar jangan sampai mati (Im 10:9; Yeh 44:21). Orang nazir yang dikhususkan menjadi kepunyaan Tuhan (jemaat semuanya adalah kepunyaan Tuhan: Gal 3:27), tidak dibenarkan minum anggur ataupun minuman yang memabukkan (Bil 6:1-3: Hak 13:4, 7, 14). Nabi-nabi dan raja-raja (jemaat pun sama: I Kor 14:31; Why 5:9, 10) juga tidak boleh minum anggur atau minuman yang memabukkan (Luk 1:15; Ams 31:4). Pemabuk tidak dapat menerima Kerajaan Allah (I Kor 6:10; Gal 5:21). Bani Israel tidak minum anggur atau minuman yang memabukkan selama 40 tahun di padang gurun (Ul 29:5, 6). Alkitab mengatakan: “Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat, kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak” (Ams 23:31, 32).
(3) Hiburan
a) Menari man perjudian: menari amat memudahkan dua jantina melampiaskan hawa nafsu sehingga timbul niat buruk lalu berbuat dosa. Untuk menghindari perzinahan dan memelihara kekudusan hati, maka umat kristen tidak boleh menyetujui tari-menari (rujuk: Mat 5:27-30; I Kor 7:1; II Tim 2:22)
b) Perjudian: berjudi adalah suatu perbuatan tamak. Ia menjadikan orang yang kalah sangat sedih dan gelisah sehingga ia sanggup melakukan apa jua, sekalipun melanggar undang-undang, asal saja dapat melunaskan hutangnya. Juga membuat orang yang menang mabuk dalam pesta pora, sehingga keluarga yang tenteram menjadi kacau-bilau. Alkitab mengatakan: “Jangan menginginkan rumah sesamamu atau apa saja yang dipunyai sesamamu” (Kel 20:17). Dan lagi: “Akar segala kejahatan ialah cinta wang………” (I Tim 6:10). Maka umat Kristen jangan melakukan perjudian yang melanggar perintah Allah dan merosakkan diri sendiri.
c) Tayangan filem dan sandiwara: tayangan gambar, drama ataupun sandiwara, jika dipergunakan dengan baik, adalah berfaedah, khasnya sebagai pendidikan. Tetapi hati manusia sekarang condong pada kejahatan dan pengusaha berusaha mengikuti selera penonton, supaya mendapat keuntungan yang lebih banyak, maka isi cerita kebanyakan bertema percabulan, kejahatan dan penuh kelicikan. Dalam keadaan ini, kita harus menentukan tindakan kita seperti semangat Paulus, yaitu supaya diri sendiri atau orang lain tidak ternoda oleh kejahatan (I Kor 8:13).
Δ Alkitab mengatakan: “Mata Tuhan terlalu suci untuk melihat kejahatan dan tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13). Orang-orang kudus dulu berkata kepada Tuhan: “Lalukanlah mataku daripada melihat hal yang hampa, ……. menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan” (Mzm 119:37; Yes 33:15). Hawa dan Daud berbuat dosa kerana mata (Kej 3:6; II Sam 11:2-8). Keinginan mata bukan berasal dari Allah, kita harus menetapkan syarat dengan mata seperti Ayub, harus menjauhkan diri dari buku-buku dan gambar-gambar yang tidak benar, dan bertekad untuk tidak mendengarkan lagu-lagu yang tidak sesuai dengan ibadah (Yoh 2:15, 16; Ayb 30:1)
d) Perhiasaan: perempuan tidak boleh sengaja berdandan secara menjolok mata dengan tujuan ingin menarik perhatian orang. Alkitab mengatakan: “Hendaklah perempuan berdandan dengan pantas dan sopan; jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang indah-indah” (I Tim 2:9, 10; I Ptr 3:3). “Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan” (Ul 22:5). “Perhiasanmu adalah roh yang lemah lembut dan tenteram” (I Ptr 3:4, 5). Harus menjunjung kerapian dan kesederhanaan, dan memandang dandanan yang berlebihan dan pemborosan wang sebagai suatu ketidakbijaksanaan (rujuk: Luk 16:19, 25; Why 17:3-5)
5. Terhadap Negara
Negara dibentuk untuk keselamatan dan kepentingan rakyat. Prinsip undang-undangnya harus berdasarkan keadilan, kebenaran dan kasih. Sebagaimana seorang kristen menunaikan tanggungjawabnya kepada negara ada diterangkan sejelas-jelasnya di dalam Alkitab.
(1) Harus tunduk kepada semua lembaga manusia
“Tunduklah, kerana Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik” (I Ptr 2:13-14; Rm 13:1-5; Tit 3:1)
(2) Harus membayar cukai yang ditetapkan negara
“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang berhak menerima cukai” (Rm 13:6, 7). Tuhan Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar” (Mat 22:20, 21; rujuk: Mat 17:24-27).
(3) Harus menghormati kepala negara dan penguasa-penguasa dan berdoa bagi mereka (I Ptr 2:17; I Tim 2:1-3)
(4) Di kala undang-undang kerajaan bercanggahan dengan perintah Allah, haruslah tunduk kepada Allah.
Δ Jikalau penguasa condong diktator, melanggar kehendak Allah, meremehkan hak asasi menusia, dan melarang rakyat beragama dan menyebarkan agama, maka umat Kristen harus mencontohi orang-orang kudus zaman dahulu kala. Misalnya, Daniel dan ketiga orang sahabatnya, rasul Petrus, rasul Yohanes dan lain-lain, yang tidak tunduk kepada kelaliman, melainkan hanya tunduk kepada perintah Allah dan setia kepada Tuhan (Dan 6:4-10; 3:1-18; Kis 5:29; 4:18-20).
Δ Walaupun negara ada lembaga pengadilan, tetapi Alkitab melarang umat Kristen mengadu ke pengadilan bila terjadi perselisihan. Ini bukan bererti menghina pengadilan, melainkan menginginkan mereka mengingat kasih Tuhan dalam sengketa, baik yang berkaitan nama baik seseorang maupun harta kekayaan, dan rela rugi, tunduk pada pendamaian gereja, dengan senang hati memaafkan saudara, menjalankan dasar prinsip kehidupan Sorgawi – pancarkan kasih di dalam masyarakat yang gelap ini (I Kor 5:1-8; 13:4-8; Mat 18:21-35; Kol 3:13)