Orang Macam Apa?
| |

Orang Macam Apa?

“Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup” – II Petrus. 3:11

Sebagai orang Kristian, walaupun kita telah diterangi dengan injil kebenaran, kita masih mengalami kesulitan besar dalam usaha kita untuk hidup sepenuhnya bersih dari jalan-jalan dunia. Salah satu kekuatan besar yang menghalangi kita adalah pengaruh dari sebagian besar orang-orang di sekeliling kita yang belum percaya. Teman-teman dan sanak saudara yang belum percaya mengelilingi kita dengan gaya hidup yang tidak sihat bagi kehidupan rohani kita. Tetapi seringkali kita menyerah pada kelemahan dan membiarkan fikiran-fikiran yang menginginkan apa yang mereka miliki atau lakukan terus mengalir pada diri kita. Kita mengikuti arus, dengan buta, dan segenap fikiran hal-hal yang fana, seakan mereka akan terus bertahan selamanya. Kita lupa bahawa satu saat bumi dan segala isinya akan dihancurkan.

Allah memilih kita, seperti Ia memilih bangsa Israel,agar kita dapat menjadi orang-orang yang berbeda dan terpisah dari dunia ini. Allah menghendaki kita untuk menjalani hidup yang kudus, yang akan membawa kemuliaan bagi namaNya. Namun, tak dapat disangkal, orang yang ingin hidup kudus dan benar dalam Kristus akan dianiayai (II Tim.3:12) Menghadapi begitu banyak godaan dan rintangan, pintu yang kita pilih untuk menuju Syurga memang sangat sempit. Namun ada hal sederhana yang akan terus mendorong kita: iman.

Iman dalam firman Allah dan keyakinan atas janji-janjiNya akan memungkinkan kita untuk melihat masa depan. Iman melampaui kemulian-kemulian saat ini, yang dengan cepat didapat, tetapi akan berlalu.

Menuai Yang Kita Tabur
| |

Menuai Yang Kita Tabur

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Kerana apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, kerana apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” – Galatia.6:7-9

Dalam hal bercocok tanam atau memelihara kebun, apa yang kita tuai bergantung pada apa yang kita taburkan. Bila kita menanam tanaman strawberry maka kita akan menuai buah strawberry ketika mereka telah tumbuh. Pohon mentimumn tidak mungkin menghasilkan strawberry.

Begitu juga dalam kehidupan, apa yang kita tabor dalam hidup ini mempunyai akibat langsung dengan apa yang akan kita terima dalam hidup. Dengan kata lain, segala perbuatan kita mempunyai akibatnya, dan suatu saat kita harus mempertanggungjawabkannya. Perbuatan-perbuatan yang baik menghasilkan akibat yang baik, dan perbuatan yang buruk menghasilkan akibat yang buruk.

Tidak ada orang yang dapat menghindari kenyataan ini. Contohnya seperti Rasul Paulus, yang boleh dikata menuai apa yang ia taburkan. Ketika ia masih menjadi orang Farisi, ia mengira sedang melayani Allah dengan memburu orang-orang Kristian, menganiayai mereka, dan bahkan menyetujui pembunuhan mereka-semata kerana mereka Kristian.

Belakang n, setelah Paulus sendiri menjadi orang Kristian, kini dia menjadi yang diburu, dianiayai, dan akhirnya dibunuh-semata kerana Paulus orang Kristian. Bedanya kini ia telah menabur benih yang benar dan ia mempunyai mahkota kebenaran menantinya di Syurga.

Sungguh, kita menuai apa yang kita tabor. Kadang-kadang akibatnya dengan segera kelihatan setelah perbuatan kita, seperti nilai-nilai yang baik bila kita belajar dengan tekun, atau jatuh dan melukai kaki kita bila tidak berhati-hati berjalan.

Di waktu yang lain, mungkin kita tidak langsung melihat akibat dari perbuatan-perbuatan kita, contohnya seperti sulitnya kita mendapatkan pekerjaan yang berpenghasilan tinggi kerana kita tidak sungguh-sungguh belajar di masa kuliah, atau kita hidup dengan sihat dan bugar kerana kita makan dengan bijak dan berolahraga.

Namun kita tidak boleh terkecoh dengan mengira bahawa tindakan-tindakan kita tidak mengakibatkan apa-apa. Jangan berfikir kita dapat melakukan sesuatu dan tidak perlu mempertanggungjawabkannya, seakan kita tidak akan tertangkap saat itu juga. Ingatlah, Tuhan tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Ia melihat segalanya. Anda menuai apa yang anda taburkan.

Renungan:

Adakah hal-hal yang telah anda lakukan yang masih dapat anda perbaiki agar dapat menuai akibat yang baik?

Pedang Roh Kudus
| |

Pedang Roh Kudus

“Terimalah…pedang Roh, yaitu firman Allah” – Efesus.6:17

Perisai digunakan untuk melindungi, sementara pedang berfungsi untuk menyerang musuh. Bila seorang prajurit mempunyai pedang, tetapi tidak punya perisai, ia hanya dapat menyerang. Bila seorang prajurit mempunyai perisai tetapi tidak punya pedang, prajurit itu akan selalu diserang. Bagaimana seorang prajurit Kristus dapat mengalahkan musuh rohani dengan cara ini? Hanya dengan mempunyai kedua-duanya, seorang Kristian dapat menyerang sekaligus bertahan di waktu yang sama-berperang dengan tenaga penuh dan menuju kemenangan.

Pedang Roh Kudus adalah firman Allah. Alkitab mencatat, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan fikiran hati kita” (Ibr.4:12) Kita harus mengalahkan Iblis melalui darah Domba dan kebenaran yang diberitakan oleh Tuhan Yesus. Iblis takut dengan kebenaran, bukan dengan hikmat manusia.

Orang yang sudah lama percaya-yang datang di setiap kebaktian dan mendengarkan firman kebenaran-seringkali dianggap sebagai umat percaya yang teladan. Namun seringkali mereka yang telah lama percaya, memang mengerti kebenaran, tetapi hanya menyimpannya di dalam hati-maksudnya, mereka jarang atau bahkan tidak pernah melakukan kebenaran ini dalam kehidupan mereka. Haruskah umat percaya hanya menjadi jemaat “klub pendengar” seumur hidupnya? Kita harus bertanya pada diri sendiri bagaimana caranya kita dapat tumbuh dan menjadi dewasa. Kita harus menemukan sekali lagi bagaimana kita dapat mengalahkan Iblis.

Mempelajari firman Allah menuntut kita untuk meyakini firman itu dan mempelajarinya dengan mendengar dan bertanya-seperti yang dilakukan Yesus di bait Allah. Selama ibadah di gereja, kita hanya dapat mendengar saja. Kerana itulah bila sebuah gereja tidak pernah mengadakan acara Pemahaman Alkitab atau sesi tanya jawab kebenaran, umat percaya akan terus menerus menjadi  “anak-anak” yang belum putus susu hingga akhir hidupnya.

Mari kita memohon kepada Allah untuk membuka mata hati kita untuk menyedari ketidakdewasaan kita sebagai pengikut Kristus. Kita harus mengenali dan mempunyai pandangan menuju pelayanan di gereja kita masing-masing. Kita berharap Roh Kudus mengilhami kita untuk meneliti Alkitab dengan penuh semangat dan mengerti kebenaran-kebenaran Allah. Kita harus pergi melampaui pengetahuan kebenaran dasar dan tumbuh dewasa. Sebagai orang Kristian, kita harus berdiri teguh dengan perisai iman dan pedang Roh Kudus, kerana hanya dengan demikianlah kita dapat mengalahkan Iblis dan menumbuhkan injil ke orang-orang di sekeliling kita.

Selidiki, Periksa, Berpaling
| |

Selidiki, Periksa, Berpaling

“Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita,dan berpaling kepada Tuhan”-Ratapan.3:40

Menyelidiki

Ini adalah kata yang penuh dengan tindakan. Bila kita menyelidiki sesuatu, kita tidak akan hanya diam saja dan menunggu hal itu datang dengan sendirinya. Untuk menyelidiki hidup kita, kita harus berfikir, mencari dan menemukan aktiviti dan fikiran-fikiran apa saja yang mendominasi hidup kita. Apakah yang kurang dalam kehidupan rohani kita? Apakah yang kita utamakan lebih daripada keluarga, gereja dan Tuhan? Seperti mencuba menghapus virus dari sebuah computer, kita harus terlebih dahulu menemukan virus apakah itu. Untuk mengubah jalan hidup kita yang buruk, kita harus menemukan kekeliruan-kekeliruan apakah yang ada dalam hidup kita, apakah itu kebiasaan buruk, hobi, atau pengaulan kita.

Memeriksa

Memeriksa tidak hanya sekadar melihat-lihat di permukaan. Setelah menyelidik apakah yang salah dalam perjalanan kita bersama Tuhan, kita harus lebih lanjut mencari apakah yang membuat hidup kita tidak penuh, atau mengapa doa-doa kita terasa kosong. Apakah hobi kita telah menjauhkan kita dari Tuhan dan gerejaNya? Untuk memecahkan masalah ini, kita perlu mengetahui apakah masalahnya dan mengerti dari mana asalnya. Untuk menghapus virus computer, kita harus mengetahui bagaimana cara kerja virus itu. Memang tampaknya tidak mudah, tetapi dengan meneliti diri kita sepenuhnya di dalam hati, menyedari kesalahan-kesalahan kita yang tersembunyi, kebiasaan-kebiasaan buruk, atau prioritas-prioritas yang salah adalah langkah-langkah berpaling kembali kepada Tuhan.

Berpaling kepada Tuhan

Jangan hanya sekadar menengok kembali kepada Tuhan, tetapi kembali kepada Tuhan. Lakukan itu-dengan berbalik 180 derajat. Berkeluyuran di tepi garis start tidak akan membawa anda sampai ke garis finish. Berpalinglah dan rencanakan langkah-langkah kita untuk kembali kepada Tuhan. Bila kita sudah menemukan virus computer itu dan mengetahui bagaimana cara kita menghancurkannya, jangan hanya diam saha. Kurang virus itu, hapus dokumen-dokumen yang terkena virus, atau bahkan format ulang hard-disk itu. Memusatkan ulang hidup anda kepada Tuhan membutuhkan tindakan aktif. Selangkah-selangkah, lakukanlah apa yang perlu dilakukan untuk membuat sebuah perubahan, agar anda dapat kembali kepada Allah. Hilangkan kebiasaan buruk, carilah teman serohani, perbaikilah hubungan anda dengan Tuhan, atau hilangkan hal yang menghalangi anda dari hidup yang dipenuhi Tuhan.

Renungan:

Kenapakah terakhir kalinya anda meneliti dan memeriksa hidup anda?

Menegur Dan Ditegur
| |

Menegur Dan Ditegur

“Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah”-Galatia.2:11

Suatu ketika Petrus mendapatkan sebuah penglihatan, Allah memperlihatkkan kepadanya bahawa injil Kerajaan Syurga harus disampaikan kepada orang-orang dari segala bangsa. Kemudian, setelah masalah persunatan menjadi sebuah perdebatan besar di dalam gereja masa awal, Petrus berpendapat bahawa keselamatan adalah karunia Allah dan bukan kerana hukum Taurat. Ia menyebutkan contoh keluarga Kornelius yang menerima Roh Kudus kerana karunia Allah,  dan mendukung usulan Paulus.

Petrus pergi ke Antiokhia setelah majelis memutuskan bahawa bangsa-bangsa bukan Yahudi tidak perlu menjalani persunatan. Namun banyak jemaat bangsa Yahudi belum sependapat mengenai perlu tidaknya hukum persunatan. Maka ketika Petrus melihat sebuah kelompok dari Yakobus yang mendorong adanya hukum sunat, ia merasa takut menghadapi kritikan mereka, dan memisahkan dirinya dari jemaat-jemaat bukan Yahudi. Dengan tindakan ini, Petrus secara diam-diam setuju dengan pernyataan yang salah dengan kebenaran yang didapat melalui hukum Taurat.

Paulus melihat kemunafikan Petrus sebagai penyimpangan dari kebenaran injil dan merugikan iman umat percaya. Paulus tidak tinggal diam dan berkompromi melawan prinsipnya; sebaliknya, ia memberikan teguran yang menyengat kepada Petrus di hadapan semua orang. Walaupun ada saatnya hal ini perlu dilakukan, kita harus selalu menimbang-nimbang keadaan. Dan berdoa adalah jalan yang baik. Namun apabila ada sebuah masalah besar di dalam gereja, Paulus mengambil sikap: lebih baik menyenangkan Allah dan dimusuhi jemaat. Perlu ditegaskan bahawa Paulus menegur Petrus terang-terangan kerana ia adalah hamba Allah yang setia, bukan kerana mendengki Petrus.

Dalam banyak hal, tindakan Paulus adalah hal yang benar, kerana ia memperlihatkan pendapatnya mengenai kebenaran. Ia membuka jalan agar injil dapat disampaikan kepada bangsa-bangsa lain. Yang lebih indah lagi, Petrus menerima teguran keras Paulus dengan rendah hati. Dahulu ia adalah murid yang keras kepala, namun ia dapat menerima teguran dan mengakui kesalahannya dengan tulus. Ini adalah pelajaran yang indah dan berharga, dan kita dapat melihat mengapa gereja masa awal dapat bertumbuh besar.

Keberanian Paulus untuk menyatakan kebenaran, tegurannya kerana kasih kepada rakan sepelayanan, dan penerimaan Pertus atau teguran Paulus, semua ini merupakan tingkat kerohanian yang lebih tinggi. Semoga Allah membangkitkan lebih banyak pengikut Yesus seperti Paulus dan Petrus di gereja masa akhir ini.

Bukan Makanan Sisa
| |

Bukan Makanan Sisa

“Kecaplah dan lihatlahm,betapa baiknya Tuhan itu!”- Mazmur.34:9a

Aku membuka pintu kulkas. Makana itu ada di bagian paling pinggir di belakang. Aku mencari-cari pilihan lain. Walaupun mungkin itu bukanlah pilihan yang sihat, di dalam fikiranku, aku tahu aku harus menghabiskannya. Dengan menggerutu aku meraih piring yang berisi makanan sisa itu.

Tidak ada yang suka dengan makanan sisa. Namun sudahkah kita, sengaja atau tidak, menempatkan Allah sebagai “makanan sisa” dalam kehidupan kita? Kita menyediakan waktu untuk sekolah, bekerja, keluarga, teman-teman, bahkan untuk hiburan. Tidak ada waktu yang kita buang untuk “waktuku”. Namun sesampainya pada “waktu Allah” dalam doa dan membaca Alkitab, kita melihatnya seperti “makanan sisa” dan kelihatannya kita harus memaksakan diri untuk melakukannya. Berdoa dan membaca Alkitab hanyalah sekadar salah satu daftar menjemukan dalam “to do list” kita.

Bagaimana biasa Tuhan atas langit dan bumi, Pemberi kehidupan,ditempatkan di urutan paling bawah sebagai “makanan sisa” ? Mungkin kerana sedikit kesibukan, sedikit kemalasan, atau sedikit dari keduanya.

Mungkin sudah waktunya untuk mencapai bagian pinggir belakang di kulkas kehidupan kita. Mungkin sudah waktunya kita membersihkan piring yang berisi doa-doa setengah hati dan membaca Alkitab dengan tergesa-gesa. Mungkin sudah waktunya kita menyediakan piring yang berisi makanan favorite kita: waktu yang indah bersama Allah.

Ketimbang mengesampingkna “waktu Allah” dengan berlapis-lapis alasan, mari kita mengedepankan usaha untuk menyelipkan waktu doa dalam jadual kita. Daripada kita mencari-cari makanan cepat saji yang disediakan berlimpah oleh media dan dunia, mari kita mencari makanan organic, padat yang ditemukan dalam firman Allah. Janganlah kita mendorongNya ke bagian pinggir belakang “kulkas” kita, tetapi iarlah kita meraih Alkitab kita sebelum kita meraih mouse, remote control, atau telefon genggam.

Renungan:

“Makanan-makanan cepat saji” seperti apa yang seringkali kita konsumsi?

Sebutkanlah masa tertentu saat anda menyedari dan mampu menyediakan waktu anda khusus untuk Allah.