Menyelidiki Diri
| |

Menyelidiki Diri

“Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” – Filipi.2:3b

Allah menyediakan banyak pekerja di tiap masa sejarah manusia untuk melakukan pekerjaanNya. Allah juga telah memilih kita di akhir zaman ini untuk melayani Dia. Tidak ada yang dipandang lebih layak daripada yang lain dalam hal melayani. Ini adalah anugerah Allah. Sebagian pekerja dengan setia memenuhi apa yang diminta Allah kepada mereka. Yang lain jatuh di tengah jalan saat menjadi pekerja Allah, kerana mereka tidak melakukan pelayanan mereka. Seturut dengan kehendak ilahi. Namun dalam segala hal, pekerjaan Allah terus berlanjut.

Hambatan terbesar dalam melakukan pelayanan, adalah pekerja-pekerja itu sendiri. Kadang-kadang, mereka memusatkan perhatian terlalu banyak pada pekerjaan pelayanannya, sehingga mereka kehilangan pandangan pada tujuan ilahi di balik pelayanan itu. Pelayanan kita haruslah keluar secara alami dari pengertian akan kehendak Allah, yang merupakan dasar pekerjaan pelayanan kita (Yoh.4:34) Idealisme milik Allah ini dapat dicapai apabila kita terus menerus memperbarui rohani kita, dengan cara secara jujur meneliti dan memperbaiki diri kita.

Sebuah pertanyaan penting dalam meneliti diri sendiri adalah: -“Apakah kita sungguh-sungguh tahu apabila pekerjaan yang kita lakukan benar-benar kepunyaan Allah?” Kita tidak mempunyai hak khusus atas satu pekerjaan Allah pun. Allah meminta kita melakukan pelayanan “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia” (Flp.2:3a) Pelayanan dimaksudkan untuk dibagikan menurut talenta dan karunia tiap-tiap pekerja(I Kor.12;Rm.12;Ef.4). Apabila semua orang mengerti prinsip bekerja bersama ini, barulah kita dapat mengusir kesombongan dan iri hati. Kita harus dapat menerima koreksi diri. Bila tidak, kita akan menghambat kemajuan pekerjaan Allah.

Untuk bekerja, kita memerlukan hikmat Allah. Salah sati aspek dalam hikmat ini adalah dengan menghormati satu sama lain(I Ptr.5:5) “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” (Flp.2:3b) Ketika sebuah pekerjaan harus dilakukan, akan lebih baik apabila rencana pekerjaan terlebih dahulu didiskrusikan dan disetujui oleh rakan-rakan sekerja. Telinga yang mendengar dan menghargai usul-usul orang lain adalah sebagian cara untuk menghormati satu sama lain.

Ketika sebuah perselisihan terjadi, tiap-tiap pihak yang terlihat haruslah menghadapinya dengan doa. Mungkin ada sesuatu dalam diri kita yang harus kita ubah. Dan kita juga harus kita ubah. Dan kita juga harus saling mengampuni dengan tulus, agar Allah menerima pekerjaan pelayanan yang kita lakukan.

Ingatlah senantiasa, Allah meneliti hati kita. Motivasi kita akan menentukan hati kita. Motivasi kita akan menentukan apakah Allah menerima pelayanan kita atau tidak Allah mempunyai hak final untuk menentukan apakah pekerjaan yang kita lakukan berkenan atau tidak. Mari kita berdoa agar kita semua tahu apa yang sedang kita lakukan untuk Tuhan.

Renungan:

Selidikilah sikap anda sendiri di dalam pelayanan anda kepada Tuhan. Apakah anda memusatkan perhatian pada pekerjaan sebagai tujuannya, atau apakah anda senantiasa mengingatkan diri sendiri bahawa pekerjaan ini adalah milik Allah, dan merupakan berkat dari Allah sehingga anda dipandang layak menjadi bagian di dalam pekerjaanNya?

Selama Masih Siang
| |

Selama Masih Siang

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,selama masih siang;akan datang malam,di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja”-Yohanes.9:4

Tuhan Yesus mempunyai pandangan yang luas dalam tugasNya dan bagaimana Ia harus menggunakan sepenuh waktuNya di bumi untuk menyelesaikan tugas penyelamatanNya.

Saat mengunjungi negeri Tiongkok, saya mengagumi bagaimana Allah telah menuntun gerejaNya melalui masa-masa yang sangat sulit. Saya mengunjungi daerah-daerah yang terdapat gereja kita dengan berates-ratus gereja kita dengan berates-beratus ribu anggota, hanya di satu propinsi.

Kerana penasaran bagaimana gereja dapat bertahan hidup melalui Revolusi Republik Rakyat China, saya bertanya kepada seorang pekerja kudus senior yang pernah menyaksikan dan mengalami masa-masa sulit itu. Ia mengatakan kepada saya, bahawa ktika gereja mengunsi menjadi gerakan bawah tanah, Alkitab-alkitab dibakar oleh pemerintah, dan pekerja-pekerja kudus ditahan.

Namun ketika nampaknya gereja sudah dihancurkan (baik tempat, mahupun gereja dalam erti jemaat), banyak para saudari mempertaruhkan nyawa mereka dengan mengunjungi jemaat dari rumah ke rumah untuk mengembalakan mereka. Mereka berdiri dengan teguh di tengah masa-masa yang susah, dan pekerjaan Allah tetap teguh dan berkemenangan di hadapan tekanan penindasan.

Kerana kebebasan untuk beribadah sangat terbatas, jemaat menjadi lapar dan haus akan makanan rohani. Ketika pada akhirnya penganiayaan berlalu dari gereja-gereja di China, dan kehidupan mulai membaik, pekerja kudus ini menyedari bahawa ujian-ujian yang dilalui gereja sebenarnya sebuah hal yang baik untuk iman jemaatnya. Ia bersedih kerana setelah orang-orang di China mulai menikmati kebebasan beribadah, rasa lapar mereka akan firman Tuhan dan semangat untuk melayaniNya malah mulai menurun.

Sambil mendengar cerita pekerja kudus ini, saya tidak dapat menahan diri untuk merenungkan betapa kita telah memandang remeh kebebasan kita untuk beribadah dan melayani Allah. Orang-orang merindukan pelayanan dalam Tuhan dan rindu mendekat kepadaNya juseru ketika mereka tidak mempunyai kebebasan untuk melakukannya. Ironis! Apa yang dialami oleh gereja-gereja di China memberikan sebuah pengajaran mengenai nilai kebebasan dalam hubungan kita dengan Allah dan gerejaNya, seringkali kita pandang kecil.

Saat ini hari masih siang. Kita harus memegang setiap kesempatan dan melakukan pelayanan bagiNya sebelum malam tiba, dan kesempatan itu tidak lagi mengunjungi kita.

Renungan:

Apakah perbedaan-perbedaan yang dapat terjadi dalam pelayanan dan iman anda apabila anda merenungkan bahawa anda tidak berkuasa atau waktu?

Naik Sampai Ke Bawah
| |

Naik Sampai Ke Bawah

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambmu; sama seperti hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.”-Matius.20:26-28

Apakah anda mempunyai cita-cita rahsia dalam hidup? Sebagian orang membidik cita-cita mereja, tetapi nampaknya mereka bukan penembak ulung. Ambilah murid-murid Yesus sebagai contoh. Ibunda dari dua muridNya mempunyai cita-cita yang tinggi. Ia ingin agar anak-anaknya mendapatkan kedudukan yang paling tinggi di antara pengikut-pengikut Yesus. Yesus memperingatkan bahawa untuk mendapatkannya bukanlah jalan-jalan di pantai. Untuk mendapatkannya, mungkin membutuhkan pengorbanan nyawa. Lalu Yesus memberitahukan mereka rahsia keberhasilan yang sesungguhnya,di dalam “perusahaan Kristian”. Bidiklah lebih rendah.

Eksekutif-eksekutif korporat modern mungkin akan menolak cara Tuhan Yesus untuk mencapai karir yang tinggi. Tetapi seorang Kristian ada dalam bisnis melayani orang lain. Yesus mampu memulainya dari tingkat yang paling rendah dan tetap di sana; Ia adalah hamba yang sempurna, taat pada Allah dan melayani orang lain. Yesus adalah satu-satunya yang dapat mencapai tingkat yang cukup rendah untuk menyelamatkan kita, dan pekerjaanNya berhasil digenapi saat Ia dibangkitkan. Sekarang, sebagai pemimpin yang baik, Yesus menginspirasikan kita untuk melakukan yang sama.

Seiring dengan usaha dan pertumbuhan kita dalam “perusahaan Kristian”, kita berusaha sebaik-baiknya untuk meneladani mereka yang telah mendirikan “perusahaan” ini. Rasul-rasul bukanlah sekadar sekumpulan eksekutif yang mengambil keputusan untuk dijalani orang lain. Mereka turut turun ke lading dan menumbuhkan orang-orang Kristian yang baru. Mereka kadang-kadang pulang dengan tangan kotor dan tubuh yang berdarah-darah. Bahkan beberapa “eksekutif penting” terbunuh dalam pekerjaan mereka.

Ribuan orang Kristian telah “pensiun” dan saat ini kita ada untuk menggantikan mereka. Pelayanan apakah yang dapat kita lakukan? Apakah ini mengantarkan Pak “Anu” ke gereja tiap minggu? Apakah itu membacakan cerita tentang Yusuf ke anak-anak Indria di Sekolah Minggu-untuk yang ke-743 kali? Apakah itu membersihkan aula gereja? Apakah itu menghadapi makian dan cemooh saat kita mencoba membalas kejahatan dengan kebaikan? Satu hal yang pasti,u ntuk mencapai “jenjang karir”tertinggi, anda harus berjuang mencapai yang paling bawah.

Musa Mengangkat Hakim-Hakim
| |

Musa Mengangkat Hakim-Hakim

“Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku,aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau”-Keluaran. 18:19 a

Yitro menasihati menantunya, Musa, bagaimana menangani perkara-perkara yang dibawa ke hadapannya. Sebelum mengikuti nasihat mertuanya, Musa harus melakukan beberapa ha terlebih dahulu. Pertama, ia perlu memastikan apakah nasihat mertuanya ini baik di hadapan Allah. Lalu Musa perlu memilih mereka yang mampu dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan jujur. Yang terpilih diberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.

Kita tidak dapat melewatkan pekerjaan penting yang perlu dilakukan Musa sebelum ia menggulirkan rencana ini. Musa harus terlebih dahulu mengajarkan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum, menunjukkan kepada mereka bagaimana mereka harus bersikap dan bertindak. Sudah pasti, hal ini menghabiskan waktu, paling tidak, beberapa hari, waktu Musa untuk membuat rencana, memulainya, mengamati dan mengevaluasi segala keadaan yang baru. Di awal penerapan rencana ini tentulah ada hal-hal yang sulit, tetapi nampaknya segala sesuatu berjalan dengan cukup baik bagi bangsa Isreal.

Agar pekerja-pekerja yang baru direkrut dapat melakukan pekerjaan mereka dengan baik, mereka harus menyedari dan mengakui apabila mereka tidak lagi sanggup menengahi sebuah perkara. Bila mereka tidak dapat menyelesiakan sebuah perkara sampai beberapa waktu, mereka akan menyerahkannya ke tingkatan yang lebih tinggi. Dan sebuah perkara mungkin saja pada akhirnya sampai kepada Musa, untuk dihadapkan kepada Allah dan mendapatkan penyelesaian yang jelas.

Hal-hal ini dapat menjadi pengingat bagi kita yang berperan sebagai pemimpin di gereja. Apakah gereja tempat kiya beribadah mempunyai tujuan-tujuan tahunan atau dalam periode pelayanan yang sedang berjalan? Bila ya, apakah pekerja-pekerjanya menyesuaikan segala kebijakan dan sikap yang diambil dengan kehendak Allah dan dasar-dasar iman kepercayaan kita? Apakah ada perhatiandalam kesejahteraan rohani pada pekerja pelayanan? Apakah ada komitmen pelayanan yang berubah di antara para pekerja sehingga mempengaruhi pekerjaan pelayanan yang mereka geluti?

Apakah mereka dapat mengemban pekerjaan pelayanan yang baru atau ada yang perlu mengurangi beban pekerjaan mereka, atau pindah ke lapangan pelayanan lain? Seberapa kuat keyakinan para pekerja dan seberapa baik perlengkapan rohani dan materi dalam sebuah pelayanan untuk melakukan pekerjaannya? Bagaimanakah keadaan mereka? Pemimpin-pemimpin harus mencari jawapan yang jujur dan penjelasan yang baik untuk tiap-tiap pertanyaan.

Musa harus melihat hal-hal dari pandangan secara umum, dan juga pandangan dari sudut-sudut yang berbeda. Perekrutan adalah pekerjaan yang penting. Begitu juga saling berbagi pekerjaan dan bergotong-royong. Pelatihan dan pencarian orang-orang yang cocok untuk pekerjaan tertentu juga penting. Kegagalan dalam hal ini bukan hanya mengecewakan Tuhan, tetapi juga mereka yang telah mempersembahkan waktu dan bagian hidup mereka kepada Tuhan.

Misi
| |

Misi

“Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh kerana Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan khabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang rmeuk hati, untuk memberitahukan pembebasan kepada orang-orang tawaran, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung”-Yesaya.61:1 – 2

Yesus mengutip ayat-ayat ini saat Ia memulai pelayanaNya di bumi (Ref.Luk.4:18-19)

Ayat-ayat di atas menjelaskan isi hati Juruselamat kita yang memberi diriNya menderita dan mati sebagai orang hukuman sebagai penebusan dosa ciptaan-ciptaanNya yang hilang.

Bila gereja milik Yesus mempunyai misi, maka tentu ayat-ayat inilah yang menjadi misi itu. Sebuah misi memberikan penjelasan mengenai siapakah kita, apakah tujuan kita dan membentuk segala tindakan kita.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita telah dipanggil untuk meneruskan misiNya. Kita telah dipanggil untuk merawat orang-orang yang remuk, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan. Roh yang diurapkan kepada Kristus sekarang telah diurapkan kepada kita. Kita telah menjadi bagian dalam tubuh Kristus, iaitu tangan dan kakiNya. Kita harus memahami dan turut tenggelam dalam hasratNya untuk menyelamatkan dunia, untuk menderita, dan untuk mengasihi.

Ini diawali dengan pengurapan Roh Kudus. Ini diawali ketika kita berdoa, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu.”

Seperti semua orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari, Kita harus mengambil pilihan mengenai bagaimana kita akan menjalani hari ini, apakah yang ingin kita capai di minggu ini, dan untuk apakah kita hidup.

Sebagai sebuah gereja kita dapat memikirkan banyak program yang berbeda-beda yang dapat kita lakukan. Kita dapat mengadakan Pemahaman Alkitab, atau workshop keterampilan. Kita dapat mengadakan kursus merangkai bunga. Beberapa kegiatan dibutuhkan sebagai kegiatan administrasi sehari-hari di gereja. Tetapi apakah hal-hal yang kita lakukan dapat mencapai misi, yaitu tujuan mengapa Roh Kudus dicurahkan kepada kita? Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah kegiatan-kegiatan yang kita lakukan dapat membebaskan yang tertawan? Apakah dapat menyembuhkan hati mereka yang remuk?

Renungan:

Sudahkah anda memikirkan misi Tuhan pagi ini, saat anda akan memulai dan merencanakan hari anda?

Mewawancarai Daud
| |

Mewawancarai Daud

“Kerana dengan Engkau aku berani menghadapi germbolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok. Adapun Allah, jalanNya sempurna; sabda Tuhan itu murni;Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung padaNya. Sebab siapakah Allah selain dari Tuhan, dan siapakah gunung batu selain dari Allah kita? Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanmu rata; Yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; Yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga” – II Samuel.22:30-35

Bayangkan kita sedang mewawancarai Raja Daud, raja krsatria Israel yang paling kuat. Ia tidak pernah mengikuti latihan militer, tetapi ia memimpin pasukannya mengalahkan semua Negara tetangga dan raja-raja di sekelilingnya. Ia melebarkan wilayah kerajaan Israel sebegitu luasnya, sehingga tidak ada penerusnya yang mampu melakukannya lagi. Daud tak terkalahkan.

Anda penasaran untuk mengetahui rahsia di balik kelihatan militernya. Anda menebak Daud akan membicarakan strategi militer terbaiknya, menceritakan beberapa pertempuran yang paling seru, atau mengenang bagaimana ia dan pasukannya dengan gagah berani melalui keadaan-keadaan yang sulit.

Nampaknya Daud tidak malu-malu menceritakan kemampuannya. Ia mengatakan kepada anda, bahawa ia berani “menghadapi gerombolan”, dan “melompati tembok” Kakinya dapat berlari sekencang rusa. Tangannya sangat kuat hingga ia dapat membengkokkan busur tembaga. Tetapi semua ini bukan hal utamanya. Malah,anda dapat mengutip dari perkataannya, bahawa Daud tidak merasa ini semua adalah tentang dia. Berkali-kali ia berkata, bagaimana Allah melakukan itu semua bagi dia.

Rahsia keberhasilan Daud adalah, ia selalu menaruh iman dan keyakinannya hanya kepada Allah. Baginya, siapa yang mendapatkan nama bukan masalah. Sejak dahulu ia sudah tahu siapakah yang membuatnya mencapai menempatkan diri di lampu sorot dari Pahlawan yang sebenarnya, tetapi berbicara terus terang dan dengan bangga mengenai Allah. Sikapnya yang bergantung kepada Allah seperti anak kepada orang tua lah yang membuat Daud disukai oleh Allah, dan terus memberkatinya.

Di dunia yang mengagungkan orang-orang hebat dan selebriti, orang-orang menyebutkan kesuksesan mereka kerana ide, kerja keras, teknologi, keteguhan atau kepintaran mereka. Allah telah dikesampingan ke dunia filosofi, dan menyebutkan jasa Allah telah menjadi hal yang asing.

Masyarakat mendidik kita untuk percaya kepada diri sendiri menuju keberhasilan. Maka dengan mudah kita lupa bagaimana kita mencapai status kita sekarang, atau siapakah yang sebenarnya membuat segala hal ini mungkin. Bahkan dalam melayani Allah pun, kita cenderung lebih banyak membicarakan diri kita daripada Allah.

Namun kepan saja kita menaruh perhatian dari Allah kepada kita sendiri, ini adalah permulaan kesalahan kita. Kapan pun kita mengira kekuatan kita ada dalam diri kita sendiri, saat itulah kita mulai goyah.

Bila kita ingin berhasil seperti Daud di mata Allah, jadikanlah Allah kekuatan kita. Percayalah kepadaNya sebagai perisai dan batu penjuru kita. Ingatlah Dia di hati dan setiap tindakan kita,dan Ia juga akan melakukan hal-hal yang hebat melalui diri kita.

Renungan:

Ingatlah kembali kemenangan-kemenangan yang diberikan Tuhan kepadamu, dan tanyakanlah diri sendiri; apakah orang-orang mengetahui dan dapat membedakan, apakah Tuhanlah yang berada di balik keberhasilanmu?