Bab 13 Dipenuhi Roh Kudus

13.1 Pendahuluan

​Di dalam Kitab Efesus, Paulus menerangkan penggolongan antara dua agen yang dapat mengubah hidup seseorang. Ia mengajarkan: “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, kerana anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Ef. 5:18). Minuman keras terkenal kerana ia dapat membelenggu orang dengan keindahan dan rasanya. Namun anggur mempunyai sengat di ekornya, menyebabkan mabuk, penyesalan, mendorong orang bersikap tidak senonoh, mudah bertengkar dan ketagihan. Sebaliknya, dipenuhi oleh Roh Kudus memberikan sukacita, fikiran yang jernih, pengendalian diri, berkat rohani dan kemampuan untuk hidup kudus.

​Lukas fasal 1 memberitahukan bahawa Yohanes Pembaptis (Mat. 11:13) dan ayahnya, Zakharia (Luk. 1:8), keduanya dipenuhi oleh Roh Kudus (Luk. 1:15, 67). Namun pengalaman mereka tidak sama seperti orang-orang percaya di hari Pentakosta; apa yang dialami ayah dan anak ini dapat disamakan dengan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama, yang dipenuhi Roh Kudus selama beberapa waktu untuk tujuan-tujuan tertentu.

​Yohanes Pembaptis dipenuhi Roh Kudus sehingga ia mempunyai roh dan kuasa seperti Elia, untuk mendorong orang-orang Yahudi kembali kepada Allah (Luk. 1:16-17). Zakharia dipenuhi Roh Kudus untuk bernubaut dan memuji karunia keselamatan Allah, dan bersaksi bahawa seorang Juruselamat telah dilahirkan dari keturunan Daud (Luk. 1:67-69). Pada hari Pentakosta dan seterusnya, barulah orang-orang percaya mengalami kepenuhan Roh Kudus sebagai keadaan yang permanen dan terus menerus (Yoh. 14:16-18)

​Terdapat setidaknya dua kekeliruan mengenai kepenuhan Roh Kudus. Yang pertama mengira bahawa kepenuhan Roh Kudus ditandai dengan seberapa keras seseorang berdoa, atau apakah doanya disertai dengan gerakan tubuh yang kelihatan. Kekeliruan lain adalah kepenuhan Roh Kudus ditandai semata-mata dengan perwujudan perbuatan-perbuatan kudus, bukan berbahasa roh. Kekeliruan pertama seringkali dipegang oleh orang-orang Kristian yang telah menerima Roh Kudus, tetapi tidak mengerti sepenuhnya apakah maksudnya dipenuhi Roh Kudus dan masih perlu mendapatkan kesedaran rohani yang lebih tinggi. Kekeliruan kedua seringkali dipegang oleh orang-orang Kristian yang tidak mengerti kebenaran Alkitab, tentang apakah baptisan Roh Kudus.

​Alkitab dengan jelas menunjukkan bahawa buah Roh hanya dapat dihasilkan oleh mereka yang menerima Roh Kudus. Alkitab juga menjelaskan bahawa mereka yang mempunyai Roh Kudus, mempunyai bukti yang nyata: mereka berbahasa roh. Kerana itu seseorang biasa saja melakukan segala perbuatan baik , seperti Kornelius sebelum ia menerima baptisan Roh Kudus (Kis. 10:2), tetapi perbuatan-perbuatan ini tidak dapat dilihat sebagai buah Roh.

​Ini menghasilkan sejumlah pertanyaan: jadi, apakah ertinya kepenuhan Roh Kudus? Apakah pengaruhnya kepada orang percaya? Dan bagaimana kita dapat dipenuhi oleh Roh Kudus? Bab ini akan menyediakan beberapa jawaban dari Alkitab.

13.2 Definisi dipenuhi Roh Kudus
13.2.1 Referensi kepenuhan Roh dalam Alkitab

​Alkitab menjelaskan kepenuhan Roh Kudus dalam dua konteks: catatan-catatan mengenai Roh Kudus memenuhi orang percaya pada saat yang penting atau kritis; dan kepenuhan Roh Kudus sebagai proses yang berkelanjutan di dalam kehidupan yang sungguh-sungguh seturut dengan bimbingan Roh.

​Mengenai kepenuhan Roh Kudus pada saat yang penting atau kritis, kita melihat orang-orang percaya, yang dipenuhi Roh Kudus begitu mereka menerima baptisan Roh Kudus (contoh, Kis. 2:4); mendapatkan keberanian kerana kepenuhan Roh untuk bersaksi bagi Yesus (contoh, Kis. 4:8-13, 31); mendapatkan kuasa kepenuhan Roh pada kesempatan-kesempatan tertentu (contoh, Kis. 13:9-11)

​Alkitab mencatat dua kejadian ketika Roh Kudus memenuhi orang-orang percaya pada saat mereka menerima Roh Kudus. Pertama adalah pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis. 2:4). Kejadian lain berhubungan dengan Paulus, yang dipenuhi Roh Kudus ketika Ananias menumpangkan tangannya kepadanya (Kis. 9:17-18)

​Namun pola yang terlihat di dalam Alkitab adalah kepenuhan Roh Kudus biasanya terjadi setelah pertama-tama menerima baptisan Roh. Alkitab membicarakan kepenuhan Roh Kudus sebagai besar sebagai proses yang terus menerus, ketika Roh menolong orang-orang percaya untuk hidup yang mewujudkan ketaatan mereka kepada Dia. Alkitab mengajarkan kita bahawa Roh menolong orang percaya untuk:
• Mengalahkan keinginan-keinginan daging (Gal. 5:16-21; Ef. 4:30-32)
• Hidup kudus dan menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-25)
• Mendapatkan hikmat dan iman untuk melakukan pekerjaan Allah (Kis. 6:3; 6:5; 11:24)
• Mendapatkan sukacita dan damai sejahtera, bahkan di tengah penganiayaan (Kis. 7:55-56; 13:52)

13.2.2 Kepenuhan Roh Kudus sebagai proses yang berkelanjutan

​Alkitab mengajarkan bahawa kepenuhan Roh Kudus adalah sebuah proses yang terjadi seumur hidup. Ini terjadi ketika hidup kita sepenuhnya dituntun oleh Roh Kudus, sehingga kita terus “hidup [lah] oleh Roh” (Gal. 5:16) dan dipimpin oleh Roh (Rm. 8:1-14). Ia menjadi sumber kekuatn rohani kita, dan menanggalkan perbuatan-perbuatan daging:

Perbuatan daging telag nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, pemyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu- seperti yang telah kubuat dahulu- bahawa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah.
​​​​​​​​​Galatia. 5:19-21

​Menerima Roh Kudus telah menjamin bahawa kita akan dipenuhi oleh Roh Kudus. Kita melihat ini dari keadaan di Gereja Korintus. Paulus menyebut mereka sebagai “bait Allah” dan “bait Roh Kudus” (I Kor. 5:16; 6:19) kerana mereka telah menerima Roh Kudus dan menjadi anggota tubuh Kristus (I Kor. 12:13). Namun mereka tidak dipimpin oleh Roh. Sebaliknya, mereka memperlihatkan perbuatan-perbuatan daging, seperti iri hati dan perselisihan. Kerana itu Paulus menegur mereka:

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makahan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Kerana kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hari dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan; bahawa kamu manusia duniawi dan bahawa kamu hidup secara manusiawi?
​​​​​​​​​I Korintus. 3:1-3

​Seperti yang kita lihat dari contoh ini, baptisan Roh Kudus barulah langkah awal. Selanjutnya, kita semua perlu mengejar terus kepenuhan Roh Kudus. Dengan begitu, kita memberikan jalan bagi Roh untuk bekerja di dalam diri kita untuk memperbarui kita (Tit. 3:5), untuk menguduskan kita (II Tes. 2:13), dan menolong kita hidup kudus- kehidupan yang menghasilkan buah Roh Kudus:

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
​​​​​​​​​Galatia. 5:22-25

​Yesus memberikan sebuah gambaran yang indah untuk menjelaskan apa yang dapat terjadi apabila Roh Kudus memenuhi diri kita. “Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, Ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14). Yesus juga berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum! Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh. 7:37-38). Di sini, Yesus membicarakan sebuah kepenuhan yang jelas-jelas bukanlah pengalaman yang hanya sesekali, dan mempunyai kuasa untuk mengubah hidup kita- seperti curahan mata air dalam diri kita, dan aliran sungai air hidup yang tak pernah berhenti mengalir. Apabila kita dipenuhi dengan Roh Kudus, kita tidak akan haus lagi.

13.2.3 Mempersembahkan diri kita sebagai persembahan yang sempurna

​Menurut Taurat Perjanjian Lama, seseorang yang mempersembahkan korban bakaran kepada Allah harus mempersembahkan korban sepenuhnya: mengatur potongan –potongan daging, lemak, isi perut dan betis binatang korban, dan membakarnya di atas mezbah sebagai korban api-apian (Im. 1:6-9). Persembahan korban ini menyenangkan hati Allah kerana persembahan ini menghasilkan aroma yang mania. Korban bakaran di dalam Perjanjian Lama menggambarkan pengorbanan Yesus di kayu salib dalam Perjanjian Baru (Yoh. 1:29). Yesus adalah persembahan dan korban yang harum bagi Allah (Ef. 5:2; I Kor. 5:7) kerana Ia sepenuhnya menyerahkan diriNya kepada kehendak Allah saat Ia mengorbankan hidupNya demi kita (Mat. 26:39; Ibr. 10:5-7)

​Dengan pertolongan Roh Kudus, kita juga dapat mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup untuk Allah (Rm. 12:1). Paulus berkata, “Atau tidak tahukah kamu, bahawa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahawa kamu bukan milik kamu sendiri?” (I Kor. 6:19). Hidup Paulus merupakan contoh dari prinsip ini, dan ia dapat menyatakan:

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kehidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.
​​​​​​​​​Galatia. 2:20

Tetapi aku sekali-kali tidak mahu bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.
​​​​​​​​​Galatia. 6:14

​Ini adalah perkataan dari orang yang tidak lagi tinggal dalam perkara-perkara duniawi, dan hidupnya bukan lagi miliknya sendiri; tetapi tersembunyi dalam Kristus dan hidup dalam kesamaan denganNya (I Kor. 11:1)

13.2.4 Mendahulukan Allah

​Sebagai orang Kristian, kita perlu mendahulukan Allah dan melakukan apa yang menyenangkan hatiNya (II Kor. 12:14; 19:3). Tuhan Yesus berkata, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Apakah kerajaan Allah? Kerajaan Allah adalah tempat Allah memerintah, tempat perintahNya dilakukan, dan tempat kebenaranNya diwujudkan. Di satu sisi, kerajaan ini menunjukkan kerajaan syurga di masa yang akan datang. Di sisi lain, kerajaan Allah sudah ada di sini- di dalam hati orang percaya (Luk. 17:21). Kita mendirikan kerajaan Allah saat kita memusatkan perhatian pada Allah dan mendahulukan kehendakNya di atas kebutuhan-kebutuhan duniawi kita (Mat. 6:10-11; I Yoh. 5:14; Luk. 22:42), dan saat kita mempersilakanNya memimpin kita (Yak. 4:15; I Kor. 4:19; 16:7; ref Kis. 20:22-24; ref. 21:10-14) dan memerintah atas diri kita.

​Allah adalah Roh dan kita harus berusaha untuk dipenuhi dengan Roh KudusNya (Ef. 5:18). Dengan begitu, kita dapat hidup di dalam Roh dan dipimpin olehNya (Gal. 5:16, 25). Inilah maksudnya mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan fikiran kita (Mat. 22:37) dan bagaimana kita dapat mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup (Rm. 12:1-2; 6:13)

Kesalahfahaman

Dan sesedah berkata demikian, Ia memngembusi mereka dan berkata: ”Terimalah Roh Kudus”
​​​​​​​​​Yohanes. 20:22

​Penulis berkebangsaan Jepun bernama Kurosaki Koukichi memberikan komentar tentang ayat ini:

Setelah kenaikanNya ke Syurga, Tuhan Yesus menghujani murid-muridNya dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta, sehingga mereka dapat memenuhi tugas yang dipercayakan kepada mereka. Tetapi sebelum kenaikanNya, Ia sudah memberikan mereka sebagian dari Roh itu sehingga mereka dapat menerima tugas itu.
​​​​​​​​Kurosaki Koukichi

​ Dengan kata lain, Kurosaki yakin bahawa murid-murid telah dibaptis dengan Roh Kudus pada saat Yesus mengembusi mereka- Yesus memberikan mereka sebagian Roh, yang kemudian diikuti dengan kepenuhan yang lebih besar pada hari Pentakosta.

Apa kata Alkitab?

​Pertama, ketika Yesus mengembusi murid-murid dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22), Ia tidak sedang membagikan Roh Kudus pada saat itu, kerana waktunya belum genap. Yesus memberikan apa yang akan datang kepada mereka. Itulah sebabnya Ia menyurat mereka menunggu di Yerusalem untuk “tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang- demikian kataNya-” telah kamu dengar daripadaKu” (Kis. 1:4). Penting kita simak, Yesus berkata kepada mereka, bahawa “tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Jadi, Roh Kudus tidak datang, dan tidak akan datang, sebelum Yesus dimuliakan dan naik ke Syurga: ”Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yoh. 16:7)

​Kedua, Alkitab mengajarkan kita, bahawa hanya ada satu Roh Kudus (I Kor. 12:4; Ef. 4:4) yang adalah Allah benar yang Esa. Saat kita dibaptis dengan Roh Kudus, Ia datang ke dalam hati kita untuk menyertai kita selamanya (Yoh. 14:16-17, 23). Kita tidak dapat menggunakan nalar duniawi untuk menghasilkan penjelasan mengenai pencurahan sebagian. Sebaliknya, kepenuhan Roh Kudus menunjukkan keadaan hati kita yang dipimpin olehNya.

​Roh Kudus adalah Roh Allah- sumber kekuatan, yang disebutkan Tuhan Yesus sebagai “kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49; ref. Kis. 1:8). Nabi Yesaya berkata bahawa mereka yang menerima Roh Kudus “mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yeh. 40:31). Kerana itu kepenuhan Roh Kudus juga merupakan sebuah kehidupan yang menunjukkan kuasa Allah (Luk. 4:1, 14)

​Lebih lanjut, Tuhan Yesus berkata, “AKu datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Ini menunjukkan bahawa seseorang tidak selalu hidup dalam kehidupan yang berlimpah. Bagitu juga, walaupun seseorang mempunyai Roh Kudus, ia belum tentu dipimpin oleh Roh. Kehidupan rohani kita dimulai dengan baptisan Roh Kudus (Yeh. 37:14; Rm. 8:2; Gal. 5:25), kerana Ia adalah Roh Tuhan, dan sumber kehidupan (Kis. 16:7; Yoh. 1:4). Tetapi kita masih harus mengizinkanNya terus bekerja untuk menguatkan diri kita (Ef. 3:16) dan memberikan kita kemampuan untuk menjalani kehidupan rohani yang berkelimpahan.

13.3 Buah dari kepenuhan Roh Kudus
13.3.1 Mendapat kuasa untuk melayani Allah

. Tujuan mendapatkan kuasa

Seseorang pekerja Allah perlu dipenuhi dengan Roh Kudus, untuk mendapatkan kuasa untuk menjalani pelayanan gereja. Ini dikeranakan Iblis adalah musuh yang tangguh, yang mengganggu pekerjaan kudus di segala kesempatan.

Dalam Perjanjian Lama, Allah memilih para perajin untuk membuat tabut perjanjian dan memenuhi mereka dengan RohNya untuk memberikan mereka hikmat, kecakapan dan pengetahuan (Kel. 31:1-5; 35:30-35). Dalam Perjanjian Baru, pekerja-pekerja gereja dipanggil untuk membangun bait rohani (I Ptr. 2:4-5). Begitu juga, mereka perlu dipenuhi dengan Roh Kudus, untuk dikenal baik dan mempunyai hikmat dan iman (Kis. 6:2-5)

Tuhan Yesus menyuruh murid-muridNya menunggu di Yerusalem untuk dikenakan dengan kuasa dari tempat tinggi, sebelum pergi untuk bersaksi bagi Dia (Luk. 24:49; Kis. 1:4-5; 8). Demikian terjadi di hari Pentakosta, dan hasilnya, injil diberitakan dengan cepat di seluruh Yudea, Samaria, dan kota-kota lain (Kis. 1:8; 4:33; 8:1-5, 14; 26:20).

. Nampak pemberian kuasa

Kita dapat melihat pengaruh kepenuhan Roh Kudus pada pekerja-pekerja Allah dalam Kisah Para Rasul:

• Sebelum hari Pentakosta, Petrus mengatakan bahawa ia bersedia menderita dengan Yesus, tetapi kemudian menyangkalNya tiga kali (Luk. 22:33, 54-62). Setelah hari Pentakosta, ia mendapatkan kuasa dari Roh Kudus untuk bersaksi bagi Tuhan dan tidak lagi takut dengan penganiayaan (Kis. 2:1-4, 14, 40; 4:8-20)
• Menghadapi penganiayaan, murid-murid berdoa dalam satu hati dan dipenuhi Roh Kudus untuk menyampaikan firman Allah dengan berani (Kis. 4:23-33)
• Stefanus, salah satu dari antara diaken yang diutus untuk melayani meja (Kis. 6:5) dipenuhi Roh Kudus, iman dan kuasa untuk melakukan tanda ajaib dan mujizat (Kis. 6:8). Ia bersaksi bagi Tuhan dengan hikmat dan kuasa yang besar, sehingga tidak ada yang dapat menyangkalnya (Kis. 6:10). Saat dirajam oleh kerumunan yang marah, ia dipenuhi Roh Kudus dan melihat kemuliaan Allah dan Tuhan Yesus. Bahkan saat menjelang kematiannya, ia mampu meminta kepada Tuhan untuk mengampuni orang-orang yang membunuhnya (Kis. 7:54-60)
• Filipus dipenuhi Roh Kudus untuk melakukan tanda dan mujizat di Samaria (Kis. 8:5-8). Ia menjadi pekerja yang penting yang mengabarkan khabar baik (Kis. 8:5-13, 29-40) dan mendapatkan sebutan “Filipus, pemberita Injil” (Kis. 21:8)
• Rasul Babnabas penuh dengan Roh dan iman, dan membawa banyak orang kepada Yesus (Kis. 11:24)
• Di Pafos, Paulus bertemu dengan Elimas, seorang tukang sihir, yang menghalang-halangnya dan berusaha untuk membelokkan iman gubernur. Dipenuhi Roh Kudus, Paulus menegur Elimas, sehingga menjadi buta. Kejadian ini memperlihatkan kuasa Allah dan membuat gubernur menjadi percaya (Kis. 13:6-12)
• Walaupun Paulus dan Barnabas dianiaya oleh orangorang Yahudi di Antiokhia di Pisidia, Roh Kudus memenuhi mereka dengan sukacita (Kis. 13:14, 50-52)

. Kuasa untuk menjamah hati pendengar

Seorang pendeta yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan dapat menyampaikan khotbah yang indah. Tetapi tanpa kepenuhan Roh Kudus, khotbahnya tidak mempunyai hidup, atau pun kuasa untuk menyabarkan pendengar agar bertobat dari dosa-dosa mereka dan mengikuti Tuhan Yesus.

Kita melihat kebenaran ini digambarkan dalam pelayanan Rasul Petrus, yang disebutkan sebagai “orang biasa yang tidak terpelajar” (Kis. 4:13). Ia dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta, sehingga ia mampu menyampaikan khotbah yang mengharukan hati orang-orang Yahudi yang mendengarnya. Mereka segera bertanya mengenai jalan menuju keselamatan, dan kemudian menerima baptisan di dalam nama Yesus (Kis. 2:37-41). Khotbah Petrus mengakibatkan hal ini, bukan kerana disampaikan dengan kecakapan khusus, tetapi kerana kuasa Roh Kudus (Kis. 2:1-4)

Tuhan Yesus juga disebut sebagai orang yang “mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar” (Yoh. 7:15), tetapi Ia dapat mengherankan orang-orang dengan khotbah-khotbahNya, seperti yang disampaikan di atas bukit (Mat. 5:7-27). Orang-orang melihatNya mengajar dengan penuh kuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat (Mat. 7:28-29). Kuasa Yesus berasal dari DiriNya yang senantiasa dipenuhi Roh Kudus dan kuasa (Luk. 4:1, 14)

Paulus adalah orang terpelajar, yang telah menerima pendidikan tinggi dalam Hukum Taurat. Namun ia membuang semua pengetahuan duniawinya untuk memberikan ruang pada Roh Kudus untuk bekerja melalui dia. Paulus menyampaikan hal ini dalam pelayanannya: “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu… Baik perkataan mahupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang menyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan” (I Kor. 2:1, 4-6). Ia menambahkan, “Sebab kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa” (I Kor. 4:20)

. Kuasa untuk mengurus gereja

Orang yang tidak mempunyai Roh Kudus dapat mengurus permasalahan gereja menggunakan hikmat duniawi dan kemampuannya. Tetapi pekerjaannya kemungkinan besar dibentuk dari permikiran dan pendekatan duniawi. Keadaan paling menyedihkan adalah apabila gereja bergantung sepenuhnya pada cara kerja seperti ini, yaitu saat: pengetahuan duniawi mengambil alih karunia-karunia Roh Kudus; kuasa mansuia menutupi pimpinan Roh Kudus; dan manusia mengedepankan kepentingannya mendahului intisari gereja dan berakhir menjadi seperti organisasi sosial atau politik.

Gereja mula-mula dipimpin sepenuhnya oleh Roh Kudus. Setiap peran, termasuk pekerja-pekerja yang bertanggungjawab untuk mengawasi administrasi gereja, didasarkan pada kriteria rohani tertentu. Pekerja haruslah “yang tekenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat” (Kis. 6:3). Pada hari ini, gereja harus berhati-hati agar tidak menyimpangkan dari prinsip ini. Contohnya, kita tidak boleh: mempekerjakan pekerja kerana kelebihan sekulernya, bukan dari kelebihan rohani; menilai penyampaian khotbah berdasarkan kecakapannya, bukan kuasa Roh Kudus; memberikan kedudukan kepemimpinan kepada mereka yang kaya dan berkedudukan tinggi di masyarakat, bukan mereka yang dipenuhi Roh Kudus. Kita harus mengikuti contoh gereja para rasul sehingga kita dapat melihat kemuliaan dan kuasa Roh Kudus.

13.3.2 Kuasa untuk mengalahkan dosa

​Kepenuhan Roh Kudus menolong kita, secara individual, untuk mengalahkan dosa. Dosa adalah kuasa yang sangat kuat dan mengikat, sehingga hanya kuasa Allah yang dapat menolong kita mengalahkannya.

. Pengalaman Paulus

Di dalam kehidupan Paulus kita melihat, bahawa mengetahui bagaimana sepatutnya kita hidup saja tidak cukup. Paulus sendiri dahulu adalah seorang Farisi yang diajar oleh Gamaliel, Ahli Taurat yang terkenal. Ia adalah orang yang cakap dalam Hukum Taurat dan juga mempunyai semangat membara untuk melayani Allah (Fil. 3:5; Kis. 22:3). Namun orang-orang terpelajar ini meratap:

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Kerana bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Sebab aku tahu, bahawa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan berbuat apa yang baik. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
​​​​​​​​​Roma. 7:15, 18, 24

Dengan kata lain, Paulus mempunyai pengetahuan teori mengenai apa yang Allah kehendaki kepadanya, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menjalaninya. Ia melihat masalah ini sebagai salah satu belenggu dosa: “Sebab kita tahu, bahawa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku” (Rm. 7:14; 19-20)

Paulus menambahkan, “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki bebruat apa yang baikm yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm. 7:21-23)

Syukurlah ia akhirnya menemukan cara untuk menyelesaikan pergumulan itu- ia belajar untuk taat dan mengandalkan Roh Kudus. Ia berkata, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm. 8:1-2)

. Hidup dalam Roh untuk kehidupan rohani yang berkemenangan
Begitu kita disatukan dengan Kristus dalam baptisan air, kita dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Ini kerana baptisan adalah kelahiran kembali (Tit. 3:5); mengembankan dosa kita kepada Kristus, untuk mendapatkan kebenaranNya (II Kor. 5:21); membenarkan kita (Rm. 5:15; 5:9; 8:33-34). Kita dibebaskan untuk hidup dalam kehidupan yang baru dan berlimpah di dalam Roh, sehingga kita dapat mengalahkan dosa (Tit. 3:5; Yoh. 10:10; Luk. 4:14; I Yoh. 5:18). Kerana itu pengampunan melalui baptisan air menandai awal yang penting: tetapi kita harus terus hidup dalam kehidupan yang berkemenangan yang ditandai dengan kekudusan, “Sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibr. 12:14)

Paulus mengajarkan, bahawa begitu kita ada dalam Kristus Yesus, kita tidak boleh lagi berjalan menurut daging; tetapi menurut Roh Kudus. Ini bererti dipenuhi Roh Kudus dan mengizinkanNya mengarahkan hidup kita. Paulus berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesunggunnya yang baru sudah datang” (II Kor. 5:17). Apabila hidup kita dipenuhi Roh Kudus, kita kehilangan sifat kita yang lama, dan mulai menunjukkan sifat yang baru, yang ditunjukkan dalam kebenaran dan kekudusan benar (Ef. 4:24)

. Mengapa kadang-kadang kita tidak berhasil mengalahkan dosa?

Sayangnya, walaupun kita telah menerima baptisan air dan juga baptisan Roh Kudus, kita kadang-kadang masih jatuh ke dalam dosa. Salah satu alasannya, kita dapat mengalami ketersendatan iman, dan tidak dapat hidup dalam kemenangan yang dibicarakan Paulus dalam Roma. 8:1-2. Namun ia menyampaikan pemecahan masalah: “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (II Kor. 3:17). Dengan kata lain, kita perlu mengizinkan Roh Kudus untuk memenuhi diri kita sehingga kita dapat dibebaskan.

Alasan lain mengapa kita dapat gagal, kerana kita bergantung pada kekuatan sendiri untuk menanggung kuk kita. Saat ini terjadi, seringkali akibatnya adalah kesedihan, rasa putus asa, dan kegagalan kerana itu Tuhan Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, kerana AKu lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Mat. 11:29-30)

Petani-petani di daerah Palestina dahulu menggunakan kuk yang berbentuk salib untuk membajak tanah. Kuk-kuk ini dipasangkan kepada sepasang lembu atau keledai sehingga kedua binatang itu dapat menanggung beban itu bersama-sama (ref. Ul. 11:10; II Kor. 6:14). Hari ini, Yesus menawarkan kukNya kepada kita, yang Ia tanggung bersama-sama kita. Ia menjanjikan kuk yang ringan dan mudah, dan kita akan mendapatkan ketenangan. Apakah kuk ini? Yaitu perintah-perintahNya: “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahawa kita menuruti perintah-perintahNya. Perintah-perintahNya itu tidak berat” (I Yoh. 5:3). Jadi apabila kita berjalan dengan Dia untuk memegang perintah-perintahNya, Ia akan menguatkan kita saat kita lemah (Ibr. 4:15-16)

Tidak mengherankan apabila Paulus berseru, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayni hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa” (Rm. 7:24-25). Saat ia mengandalkan dirinya sendiri, ia tidak dapat mengalahkan dosa; tetapi saat ia percaya di dalam Tuhan Yesus, ia dibebaskan. Kerana itu, saat kita lemah, kita harus mencontoh Paulus, seperti Ia mencontoh Kristus (I Kor. 11:1), sehingga kita dapat memperoleh kemenangan.

. Bersandar pada Tuhan saat kita lemah

Paulus menceritakan tentang kelemahannya dengan cara ini:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justeru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Kerana itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh kerana Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
​​​​​​​​​II Korintus. 12:9-10

​Kebanyakan orang lebih suka memegahkan kekuatan mereka. Namun Paulus lebih suka memegahkan kelemahannya, yang menurutnya tidak perlu disembunyikan. Ia mengandalkan Allah yang memberikannya kuasa untuk mengalahkan kelemahan-kelemahannya. Melalui kelemahannya, ia dapat mengalami karunia Allah.

​Kita semua punya kelemahan; tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya. Pada orang yang rohani, kelemahannya akan menjadi alasan baginya untuk mendekat kepada Allah dan mengandalkanNya. Bagi orang yang tidak rohani, kelemahannya hanya sekadar menjadi alasan untuk terus melakukan dosa.

. Tidak mencintai dunia

Alkitab mengajarkan: “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, kerana Tuhan, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu” (Kel. 34:14). “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Kerana aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus” (II Kor. 11:2)

Allah adalah suami kita (Yes. 54:5; Yer. 3:14), dan kita adalah mempelai perempuanNya (Hos. 2:19-20). Kasih seorang suami kepada isterinya adalah kasih yang cemburu, dan tidak akan membiarkan adanya gangguan dari pihak ketiga. Namun kita dapat membangkitkan kecemburuan Allah apabila kita memalingkan hati kita kepada kejahatan, atau apabila kita bersahabat dengan dunia. Alkitab menjelaskan hal ini dalam kata-kata tertentu, sebagai perzinahan rohani (Yak. 4:4-5). Yesus mengatakan bahawa kita tidak dapat melayani dua tuan (Mat. 6:24), kerana pastilah kita mengasihi yang satu dan membenci yang lain. Kerana itu, apabila kita mengasihi dunia, kita tidak dapat mengasihi Allah juga (I Yoh. 2:15)

Ketika kita dipenuhi Roh Kudus, kita akan mengasihi Allah dengan segenap hati. Bukannya dicemarkan oleh dunia, kita akan menjadi semurni seorang perawan yang dipertunangkan dengan satu orang suami.

. Melawan Iblis

Orang-orang pilihan dalam Perjanjian Lama merupakan “segala pasukan Tuhan” (Kel. 12:41). D Kitab Yehezkiel, Allah memberikan Roh Nya kepada bangsa Isreal, untuk memberikan mereka hidup dan menjadi mereka “suatu tentera yang sangat besar” (Yeh. 37:10, 14). Di dalam Perjanjian Baru, orang-orang percaya ada tentera Kristus (II Tim. 2:3) yang telah dibaptis dengan Roh Kudus, dan mempunyai kehidupan rohani (Rm. 8:2; Gal. 5:25). Pasukan ini melawan musuh yang tidak kelihatan- “melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Dengan kata lain, kita melawan Iblis dan malaikat-malaikatnya, yang mencari kesempatan di sekeliling kita untuk menelan siapa saja yang dapat mereka serang (I Ptr. 5:8). Senjata pilihan mereka adalah godaan melalui hawa nafsu kedagingan (Gal. 5:17). Satu-satunya cara untuk mengalahkan rencana jahatnya adalah dengan dipenuhi Roh Kudus, sehingga kita dapat mengalahkan keinginan daging (Gal. 5:16; Rm. 8:13)

Yohanes berkata, “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Kita tahu, bahawa setiap otang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya” (I Yoh. 5:4, 18). Iman adalah perisai yang merupakan perlindungan dari panah-panah Iblis (Ef. 6:16). Tanpa iman, orang tidak dapat hidup dalam Roh, tetapi akan hidup menurut daging (Rm. 8:7). Akibatnya, Ia akan menjadi seorang jemaat di Gereja Sardis, yang dikatakan hidup, tetapi sebenarnya rohaninya mati (Why. 3:1-2)

Pekerjaan Iblis dapat disamakan dengan virus yang tak kelihatan, yang mempunyai kuasa yang mematikan. Tetapi tidak seperti virus yang menyerang tubuh manusia dan menghancurkan kehidupan jasmani, Iblis menyerang kesihatan rohani, dengan maksud untuk menjerumuskan orang ke dalam kutukan kekal. Kerana itu menyedari hal ini Paulus berkata, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (I Kor. 9:27). Ia juga menasihati kita untuk “tetaplah kerjakan keselamatan [mu] dengan takut dan gentar” (Flp. 2:12) dan tidak memberikan kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27)

Apabila kita dipenuhi Roh Kudus, kita menjadi waspada dan peka terhadap rencana-rencana Iblis. Tanpa kepenuhan Roh Kudus, kita tidak mempunyai kepekaan ini, dan akibatnya kita dapat jatuh dalam dosa dan tidak menyedari bahawa kita perlu bertobat; atau menyedarinya pada saat sudah terlambat. Maka Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk berdoa seperti ini: “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat” (Mat. 6:13). Kita tidak dapat menghindari cobaan- Tuhan Yesus saja dicobai oleh Iblis (Ibr. 4:15). Tetapi kita tidak perlu takut menghadapinya, kerana kita dapat bersandar kepada kuasa Roh Kudus untuk mengalahkannya, seperti yang dilakukan Yesus sendiri (Luk. 4:1, 14)

Kita melihat pengaruh dipenuhi Roh Kudus di dalam kehidupan Yesus. Contohnya, saat Ia dicobai oleh Iblis sebanyak tiga kali, Yesus menggunakan firman Tuhan dengan kuasa dan wewenang untuk bertahan dan menegur. Pada cobaan yang pertama, Ia menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Pada cobaan kedua, Ia menjawab, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yang ketiga, Ia menjawab, “Ada firman Yesus menunjukkan ketaatannya kepada Allah, dan hanya kepada Allah saja. Tidak mengherankan, Iblis tidak dapat melakukan apa-apa dan pergi dariNya untuk menantikan kesempatan lain (Luk. 4:3-13). Kejadian-kejadian ini memastikan kebenaran ajaran Alkitab: Kerana itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu!“” (Yak. 4:7)

Sebelum Ia ditangkap, Tuhan Yesus mendoakan murid-muridNya, “Aku tidak meminta, supaya engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya engkau melindungi mereka daripada yan jahat” (Yoh. 17:15). Dari kata-kata ini, kita melihat bahawa Tuhan tidak menghendaki kita meninggalkan dunia, tetapi agar kita mengetahui bagaimana berjaga-jaga terhadap pekerjaan Iblis. Kita tidak dapat menghindari cobaan, tetapi kita dapat meneladani Yesus untuk hidup dalam kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus. Alkitab berkata, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal. 5:25)

13.3.3 Menghasilkan buah Roh

​Mengalahkan dosa dapat dilihat sebagai tindakan untuk bertahan dalam perjalanan rohani kita. Namun kita tidak dapat menang melawan Iblis hanya dengan bertahan saja; kita juga harus bertindak proaktif, yaitu dengan menghasilkan buah roh. Yesus menyebut orang-orang percaya sebagai “terang dunia” (Mat. 5:14), maka patutlah kita menghasilkan buah roh untuk memuliakan Allah dan menolong orang-orang lain (Mat. 5:16; I Kor. 10:33). Buah Roh Kudus adalah sifat-sifat rohani kita (ref. Mat. 12:43-45)

. Dikenal melalui buah kita

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
​​​​​​​​​Matius. 7:16-18

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!
​​​​​​​​​Matius. 7:22-23

​“Khotbah di atas Bukit” mengajarkan kita banyak perkara penting yang berkaitan dengan menghasilkan buah Roh:
• Domba dan serigala mewakili karakter manusia yang berbeda. Serigala dapat mencoba menyamar dengan tingkah laku yang baik, melayani masyarakat, berbicara muluk tentang kasih Kristiani, dan menunjukkan kekudusan; tetapi waktu adalah penguji karakter yang baik- cepat atau lambat mereka akan menunjukkan sifat asli mereka (Mat. 7:15)
• Kita tidak dapat melihat apakah sebatang pohon itu baik atau buruk semata dari rupa luarnya. Begitu juga, kita tidak dapat membedakan antara jemaat benar dengan jemaat palsu dengan mudah. Cara terbaik untuk membedakannya adalah dengan melihat buah yang mereka hasilkan. Dengan begitu kita perlu waspada, kerana orang yang berkarunia rohani tidak selalu menghasilkan buah yang baik (I Kor. 1:4-7; 3:1-3; ref. I Kor. 13:1-3). Lebih lagi, penghakiman Tuhan Yesus tidak akan didasarkan pada karunia-karunia yang dimiliki seorang jemaat, tetapi dari buah yang dihasilkan.
• Roh Kudus membagikan karunia-karunia rohani kepada setiap orang seturut dengan kehendakNya (I Kor. 12:11), untuk membangun tubuh Kristus (I Kor. 12:18; Ef. 4:11-12, 16). Tetapi yang jauh lebih penting, adalah kemampuan untuk menghasilkan buah roh, kerana itulah yang dikehendaki Yesus kepada kita (Yoh. 15:16). Jadi walaupun orang berkhotbah di mimbar, menyembuhkan orang sakit, atau bahkan mengusir setan di dalam nama Tuhan Yesus, namanya belum tentu tercatat di Syurga (Luk. 10:17-20; Mat. 17:21-23). Dengan kata lain, mempunyai karunia-karunia rohani bukanlah jaminan atas keselamatan.
• Orang-orang yang menyebut Yesus, “Tuhan, Tuhan” (Mat. 7:21) tidak selalu mereka yang melakukan kehendak Allah. Ada perbedaan atara melakukannya sebatas di mulut saja, dengan sungguh-sungguh memiliki Dia di dalam hati (Ef. 3:17). Yesus berkata kepada golongan yang hanya memujiNya di mulut saja: “Mengapa kamu berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang AKu katakana?” (Luk. 6:46)
• Pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik, kerana ia tidak mampu menghasilkan buah yang sebaliknya (Rm. 7:18, 21). Begitu juga, pohon yang baik tidak dapat menghasilkan buah yang tidak baik. Yesus berkata, “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal ang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Mat. 12:35). Kerana itu, sifat seseorang menentukan jenis kehidupan yang akan ia jalani.
• Tuhan Yesus berkata kepada mereka yang tidak melakukan kehendakNya, “Aku tidak pernah mengenal kamu” (Mat. 7:23). Kita perlu memperhatikan Yesus tidak mengatakan “Aku tidak mengenal kamu sekarang”. Kerana itu kita dapat berfikir bahawa kata-kata ini ditujukan kepada orang yang telah bersalah melakukan kejahatan sepanjang hidup mereka dan tidak bertobat. Orang jahat tidak berubah menjadi keadaannya yang sekarang secara spontan- tetapi biasanya terjadi dalam jangka waktu tertentu. Yesus mengingatkan orang-orang yang demikian, “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Jadi, apabila masih ada waktu, mereka arus berbalik kepada kehendak Allah.
• Yesus adalah pokok anggur yang benar, Bapa Syurgawi adalah pengusahanya, dan kita adalah ranting-rantingNya. Yesus telah memilih kita agar menghasilkan buah-buah yang akan bertahan. Dengan menghasilkan banyak buah, kita dapat memuliakan Allah. Sebaliknya, bila kita tidak menghasilkan buah, kita akan dipotong dan dibuang (YOh. 15:1, 2, 5, 8, 16)

. Keselamatan oleh kasih karunia

Menghasilkan buah Roh meneguhkan keselamatan kita. Namun ini bukan bererti kita meremehkan karunia keselamatan melalui salib Kristus, atau mencoba menyangkal keyakinan dalam kebenaran melalui iman dan kembali ke masa Hukum Taurat. Kita perlu memahami bahawa iman benar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan (Yak. 2:26). Dan dari iman benar muncullah perbuatan-perbuatan kasih (Gal. 5:6)

Orang yang ada di bawah kasih karunia tidak akan melakukan dosa, kerana ia dapat mempersembahkan dirinya sebagai hamba kebenaran sampai ia dikuduskan (Rm. 6:15-19)

Pada suatu ketika, murid-murid Yesus bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Mat. 19:25-26). Ini bererti, walaupun tidak seorang pun dapat memperoleh keselamatan dengan usaha-usahanya sendiri, keselamatan menjadi mungkin kerana pertolongan Allah. Begitu juga, kita tidak dapat menghasilkan buah melalui usaha-usaha kita sendiri tetapi kita dapat melakukannya dengan kuasa Allah.

. Tinggal di dalam Yesus

Tuhan Yesus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam AKu dan Aku di dalam dia, Ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa ” (Yoh. 15:5). Dengan kata lain, sebagai orang Kristian kita harus menempatkan Allah di pusat kehidupan kita dan dipimpin oleh RohNya ini mewajibkan kita untuk “tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Rm. 8:4), dan dengan melakukan ini, kita akan menghasilkan banyak buah. Tuhan telah memberikan Roh Kudus kepada kita, yang merupakan “kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49), untuk memperbarui diri kita, sehingga kehidupan kita meninggalkanNya, kita tidak akan dapat mencapai apa pun. Kerana itu kita harus belajar dari Paulus yang dapat berkata dengan penuh keyakinan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13)

. Apakah buah Roh?

Paulus menjelaskan, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Gal. 5:22-23). Di sini Paulus menggunakan kata Yunani karpos untuk menyebut “buah”, yang bererti “dalam bentuk tunggal, menunjukkan kesatuan karakter Tuhan yang dihasilkan di dalam diri mereka”1. Disebutkan dalam bentuk tunggal, kerana hanya ada satu Roh Kudus (I Kor. 12:4; Ef. 4:4) dan buahNya adalah sesuatu yang tunggal dan sempurna. Seperti lingkaran kasih karunia yang disebutkan dalm II Ptr. 1:5-7, segalanya bergantung pada seluruh bagian karunia seseorang yang dipenuhi Roh Kudus harus menghasilkan sembiln buah yang berbeda, tetapi satu buah dengan Sembilan sifar. Sifat-sidat ini dikelompokkan ke dalam tiga kategori untuk dibahas:

. Kasih, sukacita dan damai sejahtera

Kelompok ini mewakili sifat paling mendasar dalam seorang Kristian. Mereka dapat disamakan seperti bagian-bagian rumah, dan kasih adalah dasarnya, sukacita adalah lantai atasnya, dan damai sejahtera adalah atapnya. Dari dasar hingga atap, bagian-bagian rumah disatukan dengan erat untuk memberikan perlindungan kepada mereka yang mendiaminya.
Kasih

​Istilah Yunani untuk “kasih” dalam Galatia. 5:22 adalah agape2 dan merupakan kata yang sama yang digunakan dalam I Korintus. 13. Kata ini menunjukkan kasih yang berasal dari Allah dan keluar dari iman mereka yang telah lahir di dalam Kristus. Dari kesembilan buah Roh, kasih adalah yang pertama. Ini menunjukkan bahawa sifat-sifat lain berkaitan erat dengan kasih.

​Mengasihi Allah dan manusia adalah rangkuman dan penggenapan Hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 22:37-40; I Tim. 1:5; Rm. 13:10). Apabila kita melihat Sepuluh Perintah Allah, kita melihat bahawa empat Hukum pertama berhubungan dengan kasih kita kepada Allah, sementara enam sisanya adalah kasih kita kepada manusia. Dua prinsip ini saling berkaitan: seseorang yang mengasihi Allah akan mengasihi sesamanya manusia; dan ia yang mengasihi sesamanya akan mengasihi Allah (I Yoh. 4:20). Kasih menggabungkan seluruh sifat buah Roh dan merupakan “pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol. 3:14). Kasih adalah symbol Kekristianan (Yoh. 13:35) dan bukti bahawa orang percaya itu telah melalui kematian dan telah dilahirkan kembali (I Yoh. 3:14). Alkitab mengatakan bahawa kasih menang terhadap penghakiman (Yak. 2:13; I Yoh. 4:17-18)

​Kasih yang paling mulia adalah kasih yang ditujukan kepada seorang musuh, dan memaklumi kesalahannya (Mat. 5:44; Luk. 23:34). Allah adalah kasih (I Yoh. 4:8) dan kasihNya adalah tingkah tertinggi yang dapat kita capai. Kasih ini mensyaratkan kita untuk mengasihi mereka yang benar, tetapi juga mereka yang tidak benar (Mat. 5:45) dan juga orang-orang berdosa (Kis. 10:35; Rm. 5:6-8). Paulus berkata, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:5). Kerana tu seseorang yang senantiasa dipenuhi Roh Kudus dapat mewujudkan kasih karunia Allah. Kita mempunyai contoh mulia yang dilakukan Stefanus, yang menjelang kematiannya mendoakan mereka yang membunuhnya agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka (Kis. 7:55, 60)

. Sukacita

​Kata yang digunakan untuk “sukacita” dalam Akitab adalah sinchah dalam bahawa Ibrani3 dan chara dalam bahasa Yunani4​.

​Di puncak kejayaannya, Raja Salomo mempunyai apa pun yang diinginkan matanya, memuaskan hatinya dengan segala macam kanikmatan (Pkh. 2:10). Kehidupan mewahnya tidak terukur. Namun saat ia mencapai usia lanjut, ia meratapi, “Siapa mencintai wang tidak akan puas dengan wang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia” (Pkh. 5:10). Salomo akhirnya menyedari bahawa sukacita yang didapat dari hal-hal materi sifatnya kosong dan sementara. Orang yang minum dari sumur Yakub akan haus kembali (Yoh. 4:13). Sebaliknya, sukacita yang datang dari Roh Kudus bersifat murni dan tidak sementara (Rm. 14:17; Yoh. 15:11). Roh Allah adalah seperti mata air hidup yang tidak pernah kering (Yoh. 4:14; 7:37-39)
​Alkitab mengajarkan bahawa sukacita dari Allah adalah kekuatan kita (Neh. 8:10). Kita dapat memperoleh sukacita ini dengan cara diurapi dengan “minyak sebagai tanda kesukaan”, yaitu Roh Kudus (Ibr. 1:9). Minyak ini tidak terpengaruh dengan keadaan-keadaan yang sulitm dan juga tidak redup kerana penderitaan (Rm. 5:3; I Tes. 1:6). Mereka yang mengalami sukacita rohani ini antara lain: para rasul, yang seringkali dianiayai kerana injil, tetapi bersukacita kerana mereka dianggap layak untuk menderita demi nama Tuhan (Kis. 5:40-41; 13:50-52); Pualus yang dipenjara dan dianiayai, tetapi dapat bersukacita dan memuji Allah (Kis. 16:25; Flp. 1:17-18)

​Musa, orang pilihan Allah, berdoa kepada Allah: “Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka” (Mzm. 90:15). Seperti Musa, kita harus memahami bahawa ketika Allah memberikan sukacitaNya kepada kita, kita akan terlindung dari ujian kehidupan.

. Damai sejahtera

​Kata “damai” dalam bahasa Ibrani adalah shalom dan melambangkan “kesempurnaan”, “kesehatan”5. Orang Yahudi menggunakan kata ini untuk memberkati orang lain.

​Kata Yunani eirene mengacu pada “hubungan yang harmonis antara manusia”, “hubungan yang harmonis antara Allah dan manusia, dicapai melalui injil”, dan hasil dari “ketenangan dan kesenangan”6.

​Alkitab menyebut Yesus Kristus sebagai “Raja Damai” (Yes. 9:6); dan injil yang Ia beritakan disebut sebagai “damai sejahtera” (Kis. 10:36; Ef. 2:17). Tugas Yesus adalah untuk mendamaikan: antara Allah dengan manusia dan antara sesama manusia (Ef. 2:13-19). Roh Kudus adalah Roh Kristus (Rm. 8:9) yang memberikan kesatuan antara sesama saudara di dalam ikatan damai sejahtera (Ef. 4:3; Yeh. 11:19). Ia menolong kita menjadi satu dalam tubuh Kristus, sehingga tidak ada lagi batasan dalam hal suku, golongan atau jenis kelamin (I Kor. 12:12-13; Gal. 3:27-28). Kerana itu, orang yang dipenuhi Roh Kudus dapat hidup dengan orang lain dan dengan Allah secara harmonis; ia tidak mengeluh atau menyimpan dendam. Apabila Roh Kudus diizinkan untuk memerintah di dalam hati seseorang, tidak ada lagi perpecahan atau perselisihan.

​Damai sejahtera yang ditawarkan Tuhan Yesus itu unik dan mulia; tidak berasal dari dunia dan melampaui pengertian manusia (Yoh. 14:26-27; Flp. 4:7). Yang Ia tawarkan adalah damai yang dapat memelihara orang-orang percaya di masa sulit dan penderitaan (Yoh. 16:33). Kita melihat pengaruh dari damai sejahtera ini pada pekerja-pekerja Allah di gereja para rasul: di dalam diri Srefanus, yang meminta Allah untuk mengampuni pembunuh-pembunuhnya (Kis. 7:55, 59-60); dalam diri Petrus, yang tidur dengan nyenyak walaupun dirantai dan dipenjara (Kis. 12:1-6); dan dalam diri Paulus, yang walaupun menghadapi bahaya di tengah laut, dapat menenangkan kawan-kawan seperjalanannya (Kis. 27:18-25)

. Kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan dan kelemahlembutan
Kategori kedua ini menunjukkan kasih kepada orang lain. Sifat-sifat ini menunjukkan bahawa seseorang yang mempunyai kasih, dapat bertahan dalam kepedihan, murah hati, dan melakukan kebaikan kepada mereka yang ingin mencelakainya. Orang yang mempunyai kasih dapat memperlakukan orang lain dengan tulus dan menghormati kewajibannya. Ia juga dapat berbicara dan bertingkah laku dengan kelemahlembutan dan tidak mudah dihasut.

. Kesabaran dan kemurahan

​Kesabaran dan kemurahan adalah sifat-sifat Allah (Kel. 34:6; Rm.2:4). Kita melihatNya dengan sabar menanggung dosa-dosa umat manusia- sampai-sampai ia mengutus AnakNya sendiri (Mzm. 103:8-13; Yoh. 3:16; Ef. 2:7)

​Kata Ibrani “kesabaran” berasal dari dua kata: arek, yang bererti “panjang”7, dan aph, yang bererti “penderitaan”, atau secara hurufiah bererti “hidung” atau “lubang hidung”8. Kiasan kidung ini sangat cerdas, kerana ini memperlihatkan sebuah gambaran mengambil nafas panjang yang berlawanan dengan nafas yang cepat dan terburu-buru saat seseorang mengalami kemarahan besar. Dalam Perjanjian Lama, kata ini digunakan untuk menjelaskan sifat Allah yang panjang sabar (Kel. 34:6; Neh. 9:17; Mzm. 86:15; Yoh. 2:13; Yun. 4:2; Nah. 1:3)

​Kata Yunani untuk kesabaran adalah makrothumia yang menandakan “sifat sabar”
dan “sabar”, dan berasal dari dua kata: markros, yang bererti “panjang”, dan thumos yang bererti “tabiat”9. Di Perjanjian Baru, kata ini digunakan untuk menjelaskan ketahanan Allah terhadap orang-orang berdosa (Rm. 2:4; 9:22; I Ptr. 3:20; II Ptr. 3:9, 15). Serupa dengan ini, adalah kata hupomene, yang bererti “sabar” dan “ketabahan” (II Kor. 6:4; 12:12; Kol. 1:11)10.

​Sebagai orang-orang Kristian, kita harus bersabar menghadapi tentangan. Kita dapat memperoleh keberanian dari contoh yang diteladankan Tuhan Yesus kepada kita (I Ptr. 2:19-24), yang mengajarkan kita untuk mengampuni tanpa syarat, seperti Allah mengampuni kita (Mat. 18:21-33). Kita mengalami banyak kejadian ketika orang lain salah faham kepada kita, memfitnah, bahkan menganiayai kita, tetapi apabila kita dipenuhi Roh Kudus, kita akan dapat menanggung semuanya ini. Alkitab mengingatkan, apabila kita panjang sabar, kita dapat menghindari perselisihan (Ams. 15:18)

​Kata “kemurahan” dalam bahasa Yunani disebut cherestotes, yang bererti “kebaikan hati” dan “kemurahan”11. Di berbagai bagian Alkitab, kata ini diterjemahkan sebagai “baik” (Rm. 3:12), “kemurahan” (Rm. 2:4; 12:2; Gal. 5:22) atau “murah hati” (I Kor. 13:4; II Kor. 6:6; Ef. 2:7; 4:32; Kol. 3:12; Tit. 3:$). Kata ini mengandung erti kasih sayang, belas kasihan, dan maksud yang baik. Kemurahan adalah sifat yang memperlakukan tetangga kita dengan tenggang rasa dan menawarkan pertolongan saat dibutuhkan. “Tetangga” ini biasa berupa seseorang yang sedang kesepian, sedang lemah, atau menderita (Luk. 10:27-37). Alkitab mendorong kita untuk “bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rm. 12:15) dan juga “mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm. 15:2)

​Kesabaran dan kemurahan adalah cara terbaik melawan musuh-musuh kita. Paulus mengingatkan kita, agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Rm. 12:17-21). Kerana itu, kita harus berjuang untuk menjadi sabar di tengah tentangan-tentangan dan menggunakan kemurahan untuk menghadapi musuh kita. Seperti Bapa kita di Syurga yang murah hati, bahkan kepada mereka yang jahat (Luk. 6:35), kita siajarkan untuk menerima musuh kita dengan makanan dan minuman, dan dengan demikian menaruh bara api ke atas kepala mereka (Rm. 12:20). Dengan kata lain, kemurahan mempunyai kuasa untuk memutarbalikkan musuh.

. Kebaikan

​Kata Ibrani untuk “kebaikan” adalah towb12. Di dalam Perjanjian Lama, kata ini bererti “balas kasihan” atau “anugerah” (Kel. 18:9; Mzm. 13:6; Yer. 31:14; Hos. 3:5). Kata Yunaninya, agathosune, bererti “baik” atau “sifat baik” (Rm. 15:14; Ef. 5:9; II Tes. 1:11)13. Walaupun kebaikan (chrestotes) dapat dilihat sebagai sifat baik kepada orang lain, kebaikan (agathosune) merujuk pada tindakan kebaikan yang sesungguhnya.

​Seringkali kita mempunyai pandangan keliru bahawa injil hanya dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Kebutuhan orang seringkali menjadi terabaikan, atau setidaknya, kita tangani hampir-hampir sebagai selingan. Namun kita perlu memahami bahawa injil juga mengajarkan kita tentang kebaikan (Rm. 12:9-10, 13; I Tes. 5:15; I Tim. 6:18; Tit. 2:14) yang bererti memperhatikan kebutuhan orang-orang miskin di antara kita (I Yoh, 3:17). Contoh yang dapat kita telandani adalah Dorkas, yang hidupnya penuh dengan perbuatan baik dan amal (Kis. 9:36-38). Paulus juga mengingatkan kita, bahawa bila kita tidak jemu-jemu berbuat baik, kita akan memperoleh berkat (Gal. 6:9-10)

​Sebelum Paulus dilahirkan dalam Kristus, ia berkata bahawa tidak ada yang baik di dalam dirinya. Ia seringkali ingin berbuat baik, tetapi tidak mampu melakukannya (Rm. 7:18). Tetapi setelah menjadi milik Kristus, ia berubah, kerana ia menetapkan hati untuk berjalan sesuai dengan kehendak Roh (Rm. 8:1-4). Kebaikan adalah sifat ilahi; tidak seorang pun yang baik, selain Allah (Mrk. 10:17-18). Tetapi dengan hidup baru melalui Dia, kita juga dapat mewujudkan kebaikanNya.

. Kesetiaan

​Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan kata Ibrani untuk menyebutkan “kesetiaan”, yaitu emunah (Ul. 32:4; Mzm. 33:4; Hab. 2:4) yang bererti “kebenaran”14. Kata Yunaninya adalah pritis yang bererti “keyakinan ”(Kis. 17:31),“iman” (Rm. 14:22; Ibr. 11:1) dan “setia” (Mat. 23:23; Tit. 2:10)15.
​Yesaya menubuatkan kesetiaan Yesus kepada umat manusia: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yes. 42:3). Ayat ini menjelaskan keyakinan Yesus dalam kemampuan umatNya untuk bertobat dan berbaik kepadaNya. Ini didasarkan pada kasih sayang yang dijelaskan oleh Paulus, yang menanggung segala sesuatu dan percaya segala sesuatu (I Kor. 13:7). Allah disebutkan sebagai Dia yang memegang janjiNya dan menyirami kita dengan kasihNya yang senantiasa; walaupun kita tidak setia, tetapi Ia tetap setia (II Tim. 2:13; Rm. 3:3-4; II Kor. 1:18-22). Kita dapat belajar banyak dari sifat Allah: dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan bertanggungjawab pada kewajiban kita kepada Allah dan sesama manusia.

. Kelemahlembutan

​Kata Ibrani untuk “kelemahlembutan” adalah ani, yang ertinya “miskin” (Ayb. 24:4; Mzm. 9:12, 18; Amo. 8:4) atau “rendah hati” (Mzm. 22:26; Ams. 3:34; Yes. 11:4; Zef. 2:3)16. Ani dalam Yesaya. 61:1 mencakup kedua erti ini. Kata Yunani untuk “kelemahlembutan” adalah praotes (I Kor.4:21; Gal. 5:23; Ef. 4:2; Kol. 3:12; Tit. 3:2)17

​Kelemahlembutan seringkali dikelirukan dengan tanda kelemahan atau tindakan pasif. Sebenarnya dibutuhkan kekuatan karakter dan pengendalian diri yang besar untuk melakukan kelemahlembutan (Ams. 16:32). Tuhan Yesus dan Musa merupakan contohnya walaupun mereka lemah lembut dan rendah hati (Bil. 12:3; Mat. 11:29), mereka juga mempunyai keteguhan untuk bertahan saat diperlakukan tidak adil (I Ptr. 2:23; Ibr. 11:26) dan mempunyai kekuatan hati untuk menegakkan kebenaran (Yoh. 2:13-16; Kel. 32:19-21)

​Alkitab menyebutkan berkat-berkat yang menantikan mereka yang lemah lembut. Disebutkan mereka akan: memiliki bumi (Mat. 5:5); mendapatkan ketenangan (Mat. 11:29); menerima injil (Yes. 61:1); mendapatkan firman yang tertanam di dalam hati (Yak. 1:21); mendapatkan kasih Allah (Ams. 3:34); mendapatkan tuntunanNya (Mzm. 25:9) (Mzm. 147:6); ditinggikan (Mzm. 147:6); dan diselamatkan di saat-saat penindasan (Mzm. 76:9)

​Sifat lemah lembut berasal dari kasih (I Kor. 13:5, 7) dan memungkinkan kita mengegur orang lain dengan rendah hati saat mereka melawan kebenaran, dan mendesak mereka untuk bertobat dan menghindari jerat Iblis (II Tim. 2:25-26). Kelemahlembutan juga merupakan sifat yang kita perlukan untuk membawa kembali saudara-saudari yang telah melakukan pelanggaran, menggenapi hukum Kristus (Gal. 6:1-2). Kelemahlembutan adalah tanda seorang Kristian yang saleh (Gal. 5:23; Ef. 4:2; Kol. 3:12; I Tim. 6:11; Tit. 3:2-3) dan sifat yang berharga di mata Allah (I Ptr. 3:4)

. Penguasaan diri

Ini adalah buah Roh Kudus yang terakhir. Kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan dan kelemahlembutan adalah cara-cara mengarahkan kasih kepada orang lain, penguasaan diri adalah tindakan kasih yang diarahkan kepada diri sendiri. Mengasihi orang lain itu penting, tetapi begitu juga mengasihi diri sendiri; dan keduanya menunjukkan kasih kepada Allah. Kita dapat mengasihi diri kita dengan menyedari bahawa tubuh kita adalah bait Roh Kudus- tubuh ini bukan lagi milik kita kerana kita telah dibeli dengan harga yang amat mahal (I Kor. 6:19-20). Jadi kita harus menghargai tubuh kita dengan melakukan penguasaan diri dalam segala hal.

Kata bahasa Yunani untuk “penguasaan diri” adalah egkrateia, yang berasal dari asal kata kratos, yang bererti kekuatan18. Erti kedua ini menunjukkan keberadaan kekuatan, bukannya penggunaan. Egkrateia juga bererti “berkepala dingin” (Kis. 24:25; Gal. 5:23; II Ptr. 1:6). Lawan katanya adalah akrates (II Tim. 3:3) yang bererti “tanpa kekuatan” dan “tidak mampu memerintah nafsu sendiri”19.

Penguasaan diri berasal dari keputusan pribadi yang diilhamkan Roh Kudus. Hanya dengan kuasa Rohlah seseorang dapat mengalahkan, contohnya, kebiasaan buruk. Kerana itu seseorang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dapat melakukan penguasaan diri. Menguasai diri adalah mengekang hawa nafsu pribadi. Kata “kalau mereka tidak dapat menguasai diri” dalam I Korintus. 7:9 dapat disebutkan sebagai, “kalau mereka tidak dapat mengekang diri”.

Mempunyai penguasaan diri juga bererti menguasai perasaan. Kita dapat melihat contoh kata “menahan hatinya” dalam Kejadian. 43:31 saat Yusuf mendalikan perasaannya kepada saudara-saudaranya (ayat. 30). Kita juga membaca tentang Haman yang dipenuhi kebencian terhadap Mordekhai, tetapi “menahan hatinya” dari rasa marah dan pulang ke rumah (Est. 5:9-10)

Cara kita hidup itu penting, termasuk pilihan-pilihan yang kita lakukan. Kita dapat memilik untuk jatuh ke dalam kelemahan-kelemahan kita, atau kita dapat mengalahkannya. Menghadapi tentangan meminum cawan yang pahit, atau menyerah kepada rasa takutNya, Tuhan Yesus memilih untuk menyerahkan diri kepada kehendak Allah Bapa (Mat. 16:23; 26:39). Paulus juga mempunyai pengumulan pribadi, tetapi ia menetapkan hati untuk melatih tubuhnya dan menaklukkannya sehingga ia dapat mempersembahkannya sebagai hamba kebenaran (I Kor. 9:27; ref Rm. 6:17-20)

. Ikhtisar

Kesimpulannya, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri, adalah Sembilan sifat buah Roh Kudus. Apabila dipenuhi Roh Kudus, kita dapat hidup di dalam Roh dan menghasilkan buah rohani untuk memuliakan Tuhan (Yoh. 15:5; I Kor. 12:12-13; Gal. 5:25)

13.4 Bagaimana kita dapat dipenuhi Roh Kudus?

​Kita telah melihat definisi kepenuhan Roh Kudus, dan juga pengaruh-pengaruhnya. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana kita memperoleh kepenuhan Roh Kudus.

13.4.1 Haus akan Roh Kudus

​Allah berjanji kepada bangsa Isreal melalui Nabi Yesaya,”Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh Ku ke atas keturunanmu, dan berkatKu ke atas anak cucumu” (Yes. 44:3). Saat melayani di bumi, Yesus menyatakan, “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum! Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh. 7:37-38)

​Orang yang tiak mempunyai Roh Kudus tentu mengenal perasaan haus rohani. Hati yang terjadi kerana ketiadaan damai dan sukacita sejati. Seseorang dapat memperoleh berbagai kelimpahan misteri dan kenikmatan, tetapi seperti minum dari sumur Yakub, semua ini tidak dapat memuaskan dirinua, dan ia akan merasa haus lagi (Yoh. 4:13). Begitu juga, orang yang telah menerima baptisan Roh Kudus, tetapi tidak hidup seturut dengan Roh, akan haus kembali; dan ia akn merasakan bahawa ada sesuatu yang kurang. Bila kita ingin dipenuhi Roh Kudus, kita harus waspada dengan tanda-tanda rasa haus rohani dan melakukan sesuatu untuk mencegahnya.

​Tuhan Yesus mendorong kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat. 7:7). Di sini, Yesus menyebutkan tiga tindakan: berdoa, mencari, dan mengetuk. Dalam perumpamaan sahabat yang meminta roti di tengah malam, kita belajar bahawa orang itu menerima roti yang ia butuhkan kerana ia memohon dengan tidak jemu-jemu (Luk. 11:5-8). Pengajarannya, kita harus berdoa dengan sikap yang mencerminkan keinginan yang amat sangat. Allah tidak akan memberikan RohNya kepada mereka yang tidak mempunyai hati untuk menerima Dia (ref. Mat. 7:6)

​Kita perlu mengetahui bahawa baptisan Roh Kudus adalah sebuah janji: “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Syurga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Luk. 11:13). Bila kita belum menerima Roh Kudus, kita harus terus berdoa dengan iman, percaya dengan tanpa keraguaan bahawa Allah akan mengabulkan permohonan kita pada waktunya. Kita perlu mengingat bahawa Allah datang ke dunia agar kita semua mempunyai kesempatan untuk hidup berkelimpahan (Yoh. 10:10)- sebuah kehidupan yang dimungkinkan melalui baptisan dan kepenuhan Roh Kudus (Yoh. 4:14; 7:38)

​Sejak hari Pentakosta, ketika gereja mula-mula mulai berkembang dengan pesat, Iblis melakukan dengan segala upaya untuk merusak pelayanan ini dengan menggunakan pemimpin-pemimpin Yahudi untuk menolak kebenaran. Para rasul menjawabnya dengan giat berdoa, dan dalam satu hati: “Dan sekarang, ya, Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hambaMu keberanian untuk memberitakan firmanMu. Ulurkanlah tanganMu untuk menyembuhkan orang dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, HambaMu yang kudus” (Kis. 4:29-30). Hasilnya, Allah memenuhi mereka dengan Roh Kudus sehingga mereka dapat memberitakan firmanNya dengan berani (Kis. 4:31). Di sini terdapat pelajaran bagi gereja benar pada hari ini: kita harus menginginkan dengan tulus kepenuhan Roh Kudus, seperti pekerja-pekerja di masa para rasul. Kita harus berdoa memohon kuasa Allah, agar kita dapat mengalahkan rencana Iblis, dan dapat menyatakan injil dengan berani.

​Saat Yesus mengucapkan ucapan-ucapan kebahagiaan, Yesus menunjukkan hal tertentu saat mengajar: “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, kerana mereka akan dipuaskan” (Mat. 5:6) FirmanNya menantang kita untuk menghindari rasa puas diri dalam kehidupan rohani kita, dan juga mendorong kita untuk merindukan kebenaran Allah. Ajaran ini mengingatkan kita agar tidak mencontoh jemaat Gereja Laodikia, yang menganggap diri mereka kaya dan tidak kekurangan, tidak menyedari bahawa mereka sebenarnya melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang di mata Allah. Mereka dijelaskan sebagai orang-orang yang suam-suam kuku- tidak dingin dan tidak panas- sehingga mereka akan dimuntahkan (Why. 3:14-17)

​Kerinduan kita kepada Allah haruslah seperti yang digambarkan oleh Pemazmur- seperti seekor rusa yang merindukan sungai (Mzm. 42:1). Apabila kita merindukan Allah dengan hati seperti ini, kita akan menyentuhNya, dan Ia akan melegakan rasa haus kita dengan kepenuhan Roh Kudus.

13.4.2 Meninggalkan kejahatan

​Sebelum umat pilihan Perjanjian Lama memasuki Tanah Kanaan, Allah berbicara kepada mereka melalui Musa, di dekat Sungai Yordan di daratan Moab:

Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke Tanah Kanaan, maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan mereka; juga haruslah kamu membinasakan segala patung tuangan mereka dan memusnahkan segala bukti pengorbanan mereka… Tetapi jika kamu tidak menghalau penduduk negeri itu dari depanmu, maka orang-orang yang kamu tinggalkan hidup dari mereka akan menjadi seperti selumber di matamu dan seperti duri yang menusuk lambungmu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.
​​​​​​​​Bilangan. 33:51-52, 55

​Allah berkata kepada mereka untuk mengusir bangsa-bangsa yang berdiam di Tanah Kanaan: orang-orang Het, Girgasi, Amori, Kanaan, Feris, Hewi dan Yebus- tujuh bangsa yang lebih besar dan lebih kuat daripada bangsa Isreal (Ul. 7:1-3). Setelah Musa wafat, Yosua meneruskan tugas ini. Ia memimpin bangsa Isreal menyeberangi sungai Yordan dank e perbatasan Kanaan (Yos. 1:1-9; 3:14-17). Allah menunjukkan bahawa Ia menyertai mereka, dan akibatnya semangat bangsa itu menjadi sangat tinggi. Belakangan mereka bahkan tidak perlu turun tangan dalam pertempuran untuk mengalahkan Yerikho- yang perlu mereka lakukan hanyalah berseru-seru dengan nyaring (Yoh. 6:1-21). Dengan Allah di sisi mereka, tidak ada yang dapat menentang mereka. Kalau saja mereka terus mengikuti perintah Allah, mereka tentu telah membasmi seluruh tujuh bangsa Kanaan yang kuat. Sayangnya, sejarah memperlihatkan kepada kita bahawa mereka tidak menuruti perintah Allah, dan tidak membasmi musuh-musuh mereka sepenuhnya (Ul. 7:2; 20:16; Yos. 13:13; 15:63; 16:10)

​Ketika Yosua sudah lanjut usia, ia mengingatkan bangsa Isreal:

Dan Tuhan, Allahmu, Dialah yang akan mengusir dan menghalau mereka dari depanmu, sehingga kamu menduduki negeri mereka, seperti yang dijanjikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu. Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa, supaya kamu jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, dan supaya kamu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antaramu itu, serta mengakui nama Allah mereka da bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka. Tetapi kamu harus berpaut pada Tuhan, Allahmu, seperti yang kamu lakukan sampai sekarang. Bukankah Tuhan telah menghalau bangsa-bangsa yang besar dan kuat dari depanmu, dan akan kamu ini, seorangpun tidak ada yang tahan menghadapi kamu sampai sekarang. Satu orang saja daripada kamu dapat mengejar seribu orang, sebab Tuhan Allahmu, Dialah yang berperang bagi kamu, seperti yang dijanjiNya kepadamu. Maka demi nyawamu bertekunlah mengasihi Tuhan, Allahmu. Sebab jika kamu berbaik dari berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini yang masih tinggal di antara kamu, kahwin-mengahwin dengan mereka serta bergaul dengan mereka dan mereka dengan kamu, maka ketahuilah dengan sesungguhnya, bahawa Tuhan, Allahmu tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsaitu dari depanmu. Tetapi mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lembungmu dan duri di matamu, sampai kamu binasa dari tanah yang baik ini, yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu
​​​​​​​​​Yosua. 23:5-13

​Namun ketamakan dan hasrat bangsa Isreal akan kenikmatan terlalu besar untuk mereka hadapi. Mereka terus membiarkan hidup bangsa-bangsa Kanaan dan bahkan saling kahwin-mengahwin dengan mereka (Hak. 1:19, 21, 28-31; 31:1-6). Maka peringatan itu menjadi kenyataan: sisa-sisa bangsa Kanaan menjadi duri-duri dan onak yang memedihkan bagi bangsa Isreal untuk selama-lamanya (Hak. 1:34; 2:1-5; ref. Yeh. 28:24)

​Bangsa Isreal di Perjanjian Lama menggambarkan umat pilihan di dalam Perjanjian Baru (Ul. 14:2; Yoh. 15:19). Tanah Kanaan dapat disamakan seperti hati kita, dan bangsa-bangsa Kanaan adalah hawa nafsu kita. Perjanjian iman kita seringkali seperti sebuah pertempuran panjang yang senantiasa terjadi (Ef. 6:12; Ibr. 12:4) dan musuh terbesar kita adalah hawa nafsu kita sendiri (Gal, 5:17). Apabila kita berkomproni dan tidak menyalibkan semuanya ini di kayu salib, mereka akan menjadi duri dan onak bagi kita, menjadi momok bagi kita, sampai akhirnya mereka menghancurkan kita (Rm. 8:6a, 13a). Alkitab mengingatkan kita bahawa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan, jadi kita tidak boleh membiarkan sedikit pun dosa tetap tinggal I dalam hati kita (Pkh. 10:1; I Kor. 5:6): kita harus membuang mereka dengan bersandar pada Roh Kudus. Dengan demikian, barulah kita menang sepenuhnya (I Kor. 9:27; Rm. 8:13b; Gal. 5:16)

13.4.3 Pertobatan

​Tidak ada orang yang dapat mengaku sempurna (Mat. 19:17). Penatua Yakobus berkata, bahawa kita semua melakukan kesalahan, terutama dalam perkataan (Yak. 3:2). Walaupun kita berusaha bersandar Roh Kudus, kadang-kadang kita lemah dan rentan terhadao dosa. Tetapi yang menentukan adalah apakah kita melakukan dosa dengan sengaja, dan apakah kita mahu bertobat. Kita mengetahui bahawa Allah adalah Allah yang cemburu (Kel. 34:14). Jadi apabila kita meminta kepenuhan Roh Kudus, tetapi tetap hidup di dalam dosa, Ia tidak akan mendengar doa-doa kita (Mzm. 66:18). Namun apabila pada waktu kita menyedari kita telah berbuat dosa, kemudian kita mengaku dan bertekad untuk berubah dan kembali kepada Allah, Ia akan berbelas kasihan kepada kita (Ayb. 22:23; Ams. 28:13). Alkitab berkata, “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mzm. 34:18)

​Penulis Kitab Amsal berbicara tentang panggilan hikmat kepada semua orang yang bersedia mendengarnya: “Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu ”(Ams. 1:23). Di sini, “Hikmat” adalah sebuah kiasan Yesus Kristus (Ams. 8:22-30), yang berjanji untuk mencurahkan Roh KudusNya kepada mereka yang berbalik mendengar teguranNya. Dan saat kita berbalik, kita dapat belajar dari doa Daud:

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sedar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Janganlah membuang aku dari hadapanMu, dan janganlah mengambil rohMu yang kudus daripadaku!
​​​​​​​​​Mazmur. 51:1-3, 11

​Paulus berkata, “Janganlah padamkan Roh” (I Tes. 5:19). Di sini kata “padamkan” berkaitan dengan memadamkan api; kata yang sama digunakan dalam Matius. 12:20. Api adalah lambang Roh Kudus. Kerana itu Ia disebut “Roh yang membakar” (Yes. 4:3-4). Roh Kudus mempunyai kuasa untuk membuang kenajisan gereja dan menguduskannya. Ia membakar di dalam diri jemaat, mendesak mereka untuk bertobat dan meninggalkan dosa. Kerana itu, kita harus berjaga-jaga dengan bahaya dosa, sesepele apa pun dosa itu. Kita tidak boleh membiarkan diri kita mencapai titik saat kita tidak lagi dapat bertobat; bila itu terjadi, maka kita akan memadamkan Roh Kudus, dan dosa akan berakar kembali di dalam diri kita.

​Setelah kejatuhan umat manusia ke dalam dosa, manusia kehilangan sifat Allah, bersama dengan harkat moralNya. Manusia akhirnya melakuakn dosa yang lebih berat. Bahkan anak-anak Allah pun mengikuti arus dunia (Kej. 4:8; 19-24; 6:1-4). Sampai pada akhirnya Allah tidak tahan lagi dan berkata, “RohKu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, kerana manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja” (Kej. 6:3). Kata-kataNya ini menunjukkan bahawa sebelum kejatuhan moral manusia, api Roh Kudus telah membakar di dalam hati anak-anak Allah. Tetapi krana mereka lebih memilih mengikuti jejak orang-orang dunia, mereka memadamkan Roh Kudus. Maka Allah meninggalkan mereka untuk tenggelam dalam hawa nafsu mereka.

​Pelajaran bagi orang-orang percaya hari ini adalah, agar kita mengerti bahawa Allah itu kudus, dan Ia menghendaki agar kita kudus (I Ptr. 1:14-16). Kerana itu kita tidak boleh mengikuti orang-orang dunia yang tidak mengenal Allah dan mengikuti keinginan daging dengan bebas (II Kor. 6:14-18; I Tes. 4:3-7). Lebih lagi, kita harus menyedari bahawa apabila kita mulai meninggalkan Allah, api Roh Kudus akan membakar di dalam diri kita untuk mengusir segala kenajisan (ref. 1:25). Tetapi apabila kita dengan keras kepala tidak mahu bertobat, kita akan memadamkan api ini, dan Roh Allah akan meninggalkan kita.

13.4.4 Ketaatan

​Paulus menyebutkan Gereja Korintus sebagai “bait Roh Kudus” (I Kor. 6:19) kerana jemaatnya telah menerima baptisan air melalui Roh dan telah minum dari Roh (I Kor. 12:13). Namun Paulus menegur mereka tentang hal ini: mereka tidak dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga mereka tidak mampu hidup dalam kepenuhan Roh. Mereka masih menjadi milik daging dan kanak-kanak di dalam Kristus, kerana adanya iri hati dan perselisihan di antara mereka. Rohani mereka belum bertumbuh dan tidak mewujudkan gambar dan rupa Kristus. Paulus menunjukkan bahawa mereka tidak lebih baik dengan orang-orang yang tidak percaya (I Kor. 3:1-3)

​Keadaan Gereja Korintus memastikan kenyataan bahawa menerima baptisan Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus adalah dua hal yang berbeda. Hari ini, ada orang-orang Kristian yang rohani tidak dewasa (Ef. 4:13). Bukannya menuruti kehendak Roh Kudus, mereka mengikuti keinginan daging dan fikiran mereka (Ef. 2:3). Allah menyesali orang-orang demikian, “tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala batu” (Yes. 48:4). Ketaatan kepada Allah adalah sebuah syarat menerima Roh Kudus (Kis. 5:32) dan juga untuk mendapatkan kepenuhanNya.

​Walaupun Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (I Tim. 3:16). Ia masih harus belajar untuk taat. Di malam Ia ditangkap, Ia berdoa di Taman Getsemani untuk diluputkan dari penderitaan di kayu salib: “Ya BapaKu, jikalau Engkau mahu, ambillah cawan ini daripadaKu; tetapi bukanlah kehendaKu, melainkan kehendakMu yang terjadi” (Luk. 22:42). Yesus memahami sifat cawan ini: Ia akan menjadi Anak Domba Paskah yang akan dikorbankan (Kel. 12:1-9; I Kor. 5:7). Ia menyedari penderitaan yang harus ia jalani, kerana Kitab Suci telah lama menubuatkan:

Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
​​​​​​​​​Mazmur. 22:14-15

​Walaupun mengetahui kemalangan yang menantikanNya, Yesus tetap turut pada kehendak Allah. Ia berdoa, “bukanlah kehendakKu, melainkan kehendaMulah yang terjadi” . Ini adalah sebuah titik balik – Ia bertekad untuk tunduk pada kehendak Allah, walaupun itu bererti ia harus mati di kayu salib (Flp. 2:8). Allah menjawabnya dengan mengutus seorang malaikat untuk menguatkanNya (Luk. 22:43) Dari catatan Alkitab, kita mengetahui apabila kita mengambil keputusan untuk menuruti kehendak Allah, Ia memberikan cukup kekuatan untuk menjalaninya.

​Sebelum Paulus datang kepada Kristus, ia adalah manusia yang dibelenggu oleh dosa. Tetapi setelah ia dilahirkan kembali, ia dibebaskan dari kuasa dosa dan maut, dan menjadi manusia baru. Paulus juga menerima kekuatan dengan dipenuhi Roh Kudus untuk seterusnya dapat hidup dalam kemenangan (Kis. 9:17; Rm. 8:1-2; Flp. 4:13). Kerana itu, ia mengajarkan kita agar “hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Gal. 5:16). Ia juga mendorong kita untuk meneladaninya, seperti ia meneladani Kristus (I Kor. 11:1) dalam melakua segala sesuatu untuk kemuliaan Allah.

​Umat manusia mempunyai dua pilihan yang dapat diikuti: Adam atau Kristus (I Kor. 15:22). Mereka yang mengikuti Adam, adalah milik dunia, memberontak melawan Allah, menuruti si jahat, dan tidak mempunyai kehidupan rohani (Kej. 2:17; 3:22-24; I Yoh. 5:19). Sebaliknya mereka yang mengikuti Kristus, bebas dari dosa dan belenggu si jahat, dan telah melalui kematian ke dalam kehidupan (Rm. 8:1-2; Yoh. 5:24; II Kor. 3:17)

13.4.5 Ketekunan

​Tuhan Yesus berkata, “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Syurga diserong dan orang yang menyerongnya mencuba menguasainya” (Mat. 11:12). Kata-kata ini mengingatkan kita bahawa kita harus melalui banyak kesusahan agar dapat masuk kerajaan Allah (Kis. 14:22). Kerana itu kita harus berjuang untuk terus menerus dipenuhi Roh Kudus. Ia juga berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah” (Luk. 9:62). Jadi, apabila kita ingin masuk ke dalam kerajaan Syurga, kita harus meninggalkan segala hal duniawi (I Yoh. 2:15-17)

​Apabila kita menyedari bahawa tidak ada hal yang lebih penting daripada kerajaan Syurga, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk mengejarnya. Paulus mempunyai pemahaman ini dan yakin bahawa suatu hari ia akan dapat masuk ke dalam kerajaan Syurga (II Tim. 4:18). Ia berkata bahawa ia melupakan apa yang ada di belakangnya dan terus mendorong ke depan untuk mencapai tujuan, seperti seorang atlet yang berlari untuk mendapatkan piala (Flp. 3:13-14; I Kor. 9:24). Seluruh hidupnya dipenuhi Roh: ia meniru Kristus, berjuang dengan baik, menyelesaikan pertandingan, dan memelihara iman (Rm. 8:1-2; Gal. 5:16; I Kor. 11:1; II Tim. 4:7-8). Paulus juga membicarakan tentang pentingnya mengenakan perlengkapan senjata Allah, yang di antaranya termasuk baju zirah (Ef. 6:11-17). Sebagai tentera Kristus yang ada di barisan penyerang, kita harus berbaris ke depan untuk mencapai kemenangan, dan tidak mundur, agar tidak dikalahkan oleh Iblis.

​Dalam Alkitab, kita melihat contoh orang-orang yang melangkah maju ke depan dan mereka yang melangkap mundur-masing-masing memperoleh hasil yang sangat berbeda:
• Abraham dan keluarganya meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari tempat yang lebih baik. Walaupun secara fisik Abraham tifak pernah menerima apa yang dijanjikan kepadanya, ia melihatnya dari kejauhan dan memelihara keyakinannya hingga hari kematiaannya (Ibr. 11:13-16)
• Lut tinggal dalam kehidupan yang mewah di Kota Sodom. Saat malaikat mendesaknya untuk menyelamatkan diri, ia merasa ragu, sehingga malaikat itu harus menyeretnya dan keluarganya. Namun bahkan saat meninggalkan kota, isteri Lut melihat belakang dan menjadi tiang garam (Kej. 19:15-17, 26)
• Bangsa Isreal meninggalkan Mesir untuk pergi ke Tanah Kanaan, daerah yang dialiri susu dan madu. Tapi di padang belantara, mereka memberontak melawan Musa dan mengingini kenikmatan-kenikmatan Mesir yang dahulu mereka tinggalkan (Kis. 7:39; Kel. 16:2-3; Bil. 11:4-6). Akibatnya, Allah mencegah generasi itu masuk ke dalam tanah perjanjian (Bil. 14:22-23). Selain Yosua, Kaleb dan Suku Lewi (Bil. 14:30)

Contoh-contoh ini mengingatkan kita akan perlunya mengikuti Tuhan sepenuh hati, apabila kita hendak pergi ke Syurga. Kita harus siap menanggung kesusahan, meninggalkan segala hal, dan maju ke depan (Luk. 9:57-62). Kita dapat melakukan ini semua hanya bila kita senantiasa dipenuhi Roh Kudus. TanpaNya, kita tidak dapat mencapai tujuan syurgawi kita (Mat. 7:21-23)

Penatua Yohanes berkata, “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari Syurga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” (Why. 21:2). Yerusalem ini bukanlah kota di dunia, kerana dunia akan segera dihancurkan. Namun ini adalah Yerusalem Syurgawi yang turun dari Syurga. Malaikat menunjukkan bahawa kota suci ini adalah memperlai perempuan, isteri Anak Domba (Why. 21:9-10). Penglihatan ini mengingatkan kita akan perkataan Paulus, yang mengatakan bahawa gereja adalah Yerusalem dari atas, mempelai perempuan Kristus (Gal. 4:25-26; Ef. 5:31-32). Ini adalah gereja benar, yang suatu hari nanti akan dinikahkan dengan Kristus dan bersama-sama dengan Dia selama-lamanya. Sekarang gereja benar harus mempersiapkan dirinya untuk diperlengkapi seutuhnya- kudus dan tanpa cela- dan mengenakan pakaian lenan yang halus, yaitu perbuatan-perbuatan kebenaran (Ef. 5:26-27; Why. 19:7-8)

Penatua Yohanes melihat penglihatan gereja benar ini- sebuah gereja yang senantiasa dipenuhi Roh Kudus, sempurna dan tanpa cacat cela (I Tes. 3:12-13). Saat kita merenungkan gambaran ini, tak pelak lagi kita akan membandingkannya dengan kenyataan gereja sekarang sehingga kita menyedari betapa jauhnya perjalanan yang masih harus kita tempuh. Kerana itu, kita semua harus bersikeras untuk dipenuhi Roh Kudus, agar kita senantiasa diperbarui dan mengenakan sifat yang baru, yaitu kebenaran benar dan kekudusan (Ef. 4:23-24). Hanya bila demikianlah, kita dapat menantikan kedatangan Tuhan kita yang kedua kalinya dengan percaya diri dan pengharapan yang penuh dengan sukacita.

Pertanyaan ulasan

1. Jelaskan tentang kepenuhan Roh Kudus
2. Tuliskan rangkuman akibat dari kepenuhan Roh Kudus.
3. Tuliskan rangkuman syarat-syarat kepenuhan Roh Kudus.

_________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

1. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr., William, Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words (Nashville, Atlanta, London and Vancouver. Thomas Nelson Publishers, 1985). G2590
2. Ibid. G26
3. The Complete Word Study Dictionary: Old Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1994)H8057
4. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr., William, Vine’s Complete Expository VDictionary of Old and New Testament Words (Nashville, Atlanta, London and Vancouver: Thomas Nelson Publishers, 1985). G5479
5. The Complete Word study Dictionary: Old Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1994). H7965
6. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr. William, Vine’s Complete Expository Vancouver of old and New Testament Words (Nashiville, Atlanta, London and Vancouver: Thomas Nelson Publishers, 1985) G1515
7. The Complete Word Study Dictionary: Old Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1994)H 750
8. Ibid H639
9. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr., William, Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words (Nashville, Atlanta, London and Vancouver. Thomas Nelson Publishers, 1985). G 3115
10. Ibid G5281
11. Ibid G5544
12. The Complete Word study Dictionary: Old Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1994). H2896
13. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr., William, Vine’s Complete Expository VDictionary of Old and New Testament Words (Nashville, Atlanta, London and Vancouver: Thomas Nelson Publishers, 1985). G19
14. The Complete Word study Dictionary: Old Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1994). H530
15. The Complete Word study Dictionary: Old Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1994). G4102
16. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr., William, Vine’s Complete Expository VDictionary of Old and New Testament Words (Nashville, Atlanta, London and Vancouver: Thomas Nelson Publishers, 1985). G4240
17. Ibid G4240
18. The Complete Word study Dictionary: Old Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1994). G1466
19. Ibid. G193
20.

(Dibaca : 696 kali)


Gereja Yesus Benar Sabah

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Comment

 

— required *

— required *