Musa Mengangkat Hakim-Hakim

“Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku,aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau”-Keluaran. 18:19 a

Yitro menasihati menantunya, Musa, bagaimana menangani perkara-perkara yang dibawa ke hadapannya. Sebelum mengikuti nasihat mertuanya, Musa harus melakukan beberapa ha terlebih dahulu. Pertama, ia perlu memastikan apakah nasihat mertuanya ini baik di hadapan Allah. Lalu Musa perlu memilih mereka yang mampu dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan jujur. Yang terpilih diberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.

Kita tidak dapat melewatkan pekerjaan penting yang perlu dilakukan Musa sebelum ia menggulirkan rencana ini. Musa harus terlebih dahulu mengajarkan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum, menunjukkan kepada mereka bagaimana mereka harus bersikap dan bertindak. Sudah pasti, hal ini menghabiskan waktu, paling tidak, beberapa hari, waktu Musa untuk membuat rencana, memulainya, mengamati dan mengevaluasi segala keadaan yang baru. Di awal penerapan rencana ini tentulah ada hal-hal yang sulit, tetapi nampaknya segala sesuatu berjalan dengan cukup baik bagi bangsa Isreal.

Agar pekerja-pekerja yang baru direkrut dapat melakukan pekerjaan mereka dengan baik, mereka harus menyedari dan mengakui apabila mereka tidak lagi sanggup menengahi sebuah perkara. Bila mereka tidak dapat menyelesiakan sebuah perkara sampai beberapa waktu, mereka akan menyerahkannya ke tingkatan yang lebih tinggi. Dan sebuah perkara mungkin saja pada akhirnya sampai kepada Musa, untuk dihadapkan kepada Allah dan mendapatkan penyelesaian yang jelas.

Hal-hal ini dapat menjadi pengingat bagi kita yang berperan sebagai pemimpin di gereja. Apakah gereja tempat kiya beribadah mempunyai tujuan-tujuan tahunan atau dalam periode pelayanan yang sedang berjalan? Bila ya, apakah pekerja-pekerjanya menyesuaikan segala kebijakan dan sikap yang diambil dengan kehendak Allah dan dasar-dasar iman kepercayaan kita? Apakah ada perhatiandalam kesejahteraan rohani pada pekerja pelayanan? Apakah ada komitmen pelayanan yang berubah di antara para pekerja sehingga mempengaruhi pekerjaan pelayanan yang mereka geluti?

Apakah mereka dapat mengemban pekerjaan pelayanan yang baru atau ada yang perlu mengurangi beban pekerjaan mereka, atau pindah ke lapangan pelayanan lain? Seberapa kuat keyakinan para pekerja dan seberapa baik perlengkapan rohani dan materi dalam sebuah pelayanan untuk melakukan pekerjaannya? Bagaimanakah keadaan mereka? Pemimpin-pemimpin harus mencari jawapan yang jujur dan penjelasan yang baik untuk tiap-tiap pertanyaan.

Musa harus melihat hal-hal dari pandangan secara umum, dan juga pandangan dari sudut-sudut yang berbeda. Perekrutan adalah pekerjaan yang penting. Begitu juga saling berbagi pekerjaan dan bergotong-royong. Pelatihan dan pencarian orang-orang yang cocok untuk pekerjaan tertentu juga penting. Kegagalan dalam hal ini bukan hanya mengecewakan Tuhan, tetapi juga mereka yang telah mempersembahkan waktu dan bagian hidup mereka kepada Tuhan.

Misi

“Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh kerana Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan khabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang rmeuk hati, untuk memberitahukan pembebasan kepada orang-orang tawaran, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung”-Yesaya.61:1 – 2

Yesus mengutip ayat-ayat ini saat Ia memulai pelayanaNya di bumi (Ref.Luk.4:18-19)

Ayat-ayat di atas menjelaskan isi hati Juruselamat kita yang memberi diriNya menderita dan mati sebagai orang hukuman sebagai penebusan dosa ciptaan-ciptaanNya yang hilang.

Bila gereja milik Yesus mempunyai misi, maka tentu ayat-ayat inilah yang menjadi misi itu. Sebuah misi memberikan penjelasan mengenai siapakah kita, apakah tujuan kita dan membentuk segala tindakan kita.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita telah dipanggil untuk meneruskan misiNya. Kita telah dipanggil untuk merawat orang-orang yang remuk, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan. Roh yang diurapkan kepada Kristus sekarang telah diurapkan kepada kita. Kita telah menjadi bagian dalam tubuh Kristus, iaitu tangan dan kakiNya. Kita harus memahami dan turut tenggelam dalam hasratNya untuk menyelamatkan dunia, untuk menderita, dan untuk mengasihi.

Ini diawali dengan pengurapan Roh Kudus. Ini diawali ketika kita berdoa, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu.”

Seperti semua orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari, Kita harus mengambil pilihan mengenai bagaimana kita akan menjalani hari ini, apakah yang ingin kita capai di minggu ini, dan untuk apakah kita hidup.

Sebagai sebuah gereja kita dapat memikirkan banyak program yang berbeda-beda yang dapat kita lakukan. Kita dapat mengadakan Pemahaman Alkitab, atau workshop keterampilan. Kita dapat mengadakan kursus merangkai bunga. Beberapa kegiatan dibutuhkan sebagai kegiatan administrasi sehari-hari di gereja. Tetapi apakah hal-hal yang kita lakukan dapat mencapai misi, yaitu tujuan mengapa Roh Kudus dicurahkan kepada kita? Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah kegiatan-kegiatan yang kita lakukan dapat membebaskan yang tertawan? Apakah dapat menyembuhkan hati mereka yang remuk?

Renungan:

Sudahkah anda memikirkan misi Tuhan pagi ini, saat anda akan memulai dan merencanakan hari anda?

Mewawancarai Daud

“Kerana dengan Engkau aku berani menghadapi germbolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok. Adapun Allah, jalanNya sempurna; sabda Tuhan itu murni;Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung padaNya. Sebab siapakah Allah selain dari Tuhan, dan siapakah gunung batu selain dari Allah kita? Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanmu rata; Yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; Yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga” – II Samuel.22:30-35

Bayangkan kita sedang mewawancarai Raja Daud, raja krsatria Israel yang paling kuat. Ia tidak pernah mengikuti latihan militer, tetapi ia memimpin pasukannya mengalahkan semua Negara tetangga dan raja-raja di sekelilingnya. Ia melebarkan wilayah kerajaan Israel sebegitu luasnya, sehingga tidak ada penerusnya yang mampu melakukannya lagi. Daud tak terkalahkan.

Anda penasaran untuk mengetahui rahsia di balik kelihatan militernya. Anda menebak Daud akan membicarakan strategi militer terbaiknya, menceritakan beberapa pertempuran yang paling seru, atau mengenang bagaimana ia dan pasukannya dengan gagah berani melalui keadaan-keadaan yang sulit.

Nampaknya Daud tidak malu-malu menceritakan kemampuannya. Ia mengatakan kepada anda, bahawa ia berani “menghadapi gerombolan”, dan “melompati tembok” Kakinya dapat berlari sekencang rusa. Tangannya sangat kuat hingga ia dapat membengkokkan busur tembaga. Tetapi semua ini bukan hal utamanya. Malah,anda dapat mengutip dari perkataannya, bahawa Daud tidak merasa ini semua adalah tentang dia. Berkali-kali ia berkata, bagaimana Allah melakukan itu semua bagi dia.

Rahsia keberhasilan Daud adalah, ia selalu menaruh iman dan keyakinannya hanya kepada Allah. Baginya, siapa yang mendapatkan nama bukan masalah. Sejak dahulu ia sudah tahu siapakah yang membuatnya mencapai menempatkan diri di lampu sorot dari Pahlawan yang sebenarnya, tetapi berbicara terus terang dan dengan bangga mengenai Allah. Sikapnya yang bergantung kepada Allah seperti anak kepada orang tua lah yang membuat Daud disukai oleh Allah, dan terus memberkatinya.

Di dunia yang mengagungkan orang-orang hebat dan selebriti, orang-orang menyebutkan kesuksesan mereka kerana ide, kerja keras, teknologi, keteguhan atau kepintaran mereka. Allah telah dikesampingan ke dunia filosofi, dan menyebutkan jasa Allah telah menjadi hal yang asing.

Masyarakat mendidik kita untuk percaya kepada diri sendiri menuju keberhasilan. Maka dengan mudah kita lupa bagaimana kita mencapai status kita sekarang, atau siapakah yang sebenarnya membuat segala hal ini mungkin. Bahkan dalam melayani Allah pun, kita cenderung lebih banyak membicarakan diri kita daripada Allah.

Namun kepan saja kita menaruh perhatian dari Allah kepada kita sendiri, ini adalah permulaan kesalahan kita. Kapan pun kita mengira kekuatan kita ada dalam diri kita sendiri, saat itulah kita mulai goyah.

Bila kita ingin berhasil seperti Daud di mata Allah, jadikanlah Allah kekuatan kita. Percayalah kepadaNya sebagai perisai dan batu penjuru kita. Ingatlah Dia di hati dan setiap tindakan kita,dan Ia juga akan melakukan hal-hal yang hebat melalui diri kita.

Renungan:

Ingatlah kembali kemenangan-kemenangan yang diberikan Tuhan kepadamu, dan tanyakanlah diri sendiri; apakah orang-orang mengetahui dan dapat membedakan, apakah Tuhanlah yang berada di balik keberhasilanmu?

Mengobarkan Karunia Allah

“Kerana itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu”-II Timotius.1:6

Aku berjalan ke dalam aula dan melihatmu duduk di sana sendirian. Kamu menceritakan bahawa kamu merasa gusar kerana merasa tidak mampu melakukan pelayanan yang dipercayakan kepadamu dengan baik. Kamu sedar bahawa kita dapat melakukan apa saja melalui Kristus yang memberikan kita kekuatan(Fil.4:13), tetapi kamu masih merasa tertekan.“Rasanya tidak pernah ada cukup waktu untuk melakukan segala sesuatu dengan benar!” keluhmu.

Teman, apakah hal ini akan memberimu kenyamanan, untuk mengetahui bahawa apa yang kita butuhkan untuk melayani, sudah Tuhan sediakan dalam diri kita? Karunia-karunia itu sudah dalam diri kita? Karunia-karunia itu dudah ada pada diri kita ketika kita datang kepada Allah untuk berdoa, dan hamba-hamba Tuhan mendoakan kita dan menumpangkan tangan mereka. “Tetapi aku tidak dapat merasakannya. Aku masih tidak dapat melakukan pekerjaan dengan baik.” jawabanmu.

Allah tidak mendesak kita untuk mencapai hasil yang sempurna. Yang Ia minta adalah agar kita menggunakan karunia-karunia yang telah Ia berikan kepada kita.

Carilah dalam-dalam saat bersekutu dengan Allah, dan mintalah kepadaNya untuk menolong kita menemukan percikan api dalam diri kita. Lalu dalam iman,keberanian dan kesabaran, kita kobarkan percikan api itu menjadi lautan api. Semua api dimulai dengan api yang kecil, tetapi kerana angin yang terus menerus berhembus, api yang kecil akan menjadi kobaran api yang menghanguskan.

Hal yang sama berlaku pada karunia-karunia kita. Kita mungkin tidak melakukannya dengan sempurna pada saat ini, dan mungkin merasa bahawa kita gagal mencapai apa yang Tuhan harapkan dari kita, tetapi dengan upaya yang terus menerus dan pertolongan Roh Kudus, kita akan menyempurnakan karunia-karunia kita. Selama kita terus menaruh hati dan usaha dalam mengasihi dan melayani Allah, Allah akan menambahkan, Allah akan membantu kita mengobarkan karunia-karunia kita.

Jangan Cabut Pedang Itu

“…sebab pedang itu tidak dicabutnya…” – Hakim-hakim.3:22

Seorang hakim di Israel bernama Ehud membuat sendiri sebuah pedang bermata dua (Hak.3:16). Ia menggunakan pedang itu untuk membunuh Eglon, seorang raja Moab yang sangat gemuk .Hal yang menarik untuk dicatat, Ehud tidak mencabut pedangnya dari perut Eglon(Hak.3:22). Mungkin ia tidak punya waktu  -lagipula hamba-hamba Eglon ada di luar. Tetapi cuba kita bayangkan apa yang terjadi apabila Ehud mencabut pedangnya dan ia simpan kembali. Setelah bangsa Moab dikalahkan, Ehud dapat memperlihatkan pedangnya kepada bangsa Isreal sebagai bukti bahawa ia telah mengalahkan Eglon denan pedang yang ia buat sendiri. Orang-orang akan terkesima.

Seringkali kita mendengar bahawa hasil yang kita bawa adalah bukti keberhasilan. Setelah Daud mengalahkan Goliat, ia memenggal kepala Goliat dan menyimpan pedangnya. Dua hal ini adalah bukti keberhasilan Daud. Setelah ia membawa kembali kepala Goliat dan pedangnya ke Yerusalem(I Sam.17:54), orang-orang di sana, bahkan iman-iman, mengenang Daud sebagai orang yang telah mengalahkan Goliat(I Sam.21:9)

Tetapi bagaimana dengan Ehud? Dari ayat di atas, kita dapat mengetahui bahawa ia tidak mengambil kembali pedangnya, dan bahkan ia tidak menyebut-nyebut kemenangannya bahawa ia telah mengalahkan Eglon. Ia tidak memperlihatkan bukti apapun atas keberhasilannya. Sungguh sebuah sikap dan karakter yang patut dicontohi! Ketika kita mencapai suatu keberhasilan, menyebutkan keberhasilan itu kepada orang lain tampaknya sebuah hal yang alami, apalagi bila mereka dapat melihat hasil yang telah kita capai. Ketika orang-orang memuji pekerjaan kita, kita merasa bahawa usaha dan jerih payah kita telah membuahkan hasil. Namun cepat atau lambat, hal seperti ini mendorong kita untuk berfikir bahawa keberhasilan-keberhasilan itu merupakan buah dari usaha kita sendiri, dan bukan karunia kuasa Allah.

Ehud menyedari bahawa dengan tangan dan kuasa Allah, barulah bangsa Moab dapat dikalahkan. Kerana itu baginya mencabut pedangnya kembali untuk menjadi bukti keberhasilan mengalahkan Moab merupakan tindakan yang tidak perlu. Bila kita menyedari bahawa keberhasilan yang kita capai adalah buah karunia Allah, kita tidak akan membangga-banggakannya. Kita tidak akan mencabut “pedang”dan menggunakannya untuk diperlihatkan kepada orang-orang sebagai tanda keberhasilan kita.

Bahu Membahu

“Pekerjaan ini besar dan luas, dan kita terpencar pada tembok, yang satu jauh dari pada yang lain. Dan kalau kamu mendengar bunyi sangkakala di suatu tempat, berkumpullah ke sana mendapatkan kami.Allah kita akan berperang bagi kita!” – Nehemia.4:19-20

Para pekerja yang memperbaiki tembok di masa Nehemia, pergi ke tempat mereka dibutuhkan, menguatkan bagian-bagian yang keropos, dan memasang pasak, paku dan palang pada pintu-pintu tembok. Setiap pekerja senantiasa membawa pedang yang terhunus di sisi pinggannya, kerana musuh dapat menyerang kapan saja saat mereka sedang bekerja. Bayangkan melakukan pekerjaan bangunan sambil menentang-nenteng senjata, yang tentu saja menghalangi gerakan dan menambah berat benda-benda yang harus dibawa. Walaupun merepotkan, mereka mengambik sikap waspada ini kerana keselamatan diri mereka mempengaruhi keselamatan seluruh kota Yerusalem.

Kembali ke masa sekarang, kita juga menghadapi risiko yang sama seperti mereka, sebagai pekerja rumah Tuhan. Melayani tanpa memupuk rohani sendiri sama seperti bunuh diri rohani, dan semakin lama kita melayani, kita akan semakin mudah dijatuhkan oleh serangan si jahat. Ingatlah, kita memupuk rohani kita tidak hanya untuk keselamatan Syurgawi kita, tetapi juga keselamatan mereka yang bergantung pada pekerjaan pelayanan kita. Seperti di masa Nehemia, pelayanan pada hari ini terus bertumbuh semakin ekstensif. Akan selalu ada bagian-bagian yang harus kita perbaiki, dan pintu-pintu gerbang yang harus kita bangun. Seringkali kerana kurangnya jumlah pekerja pelayanan, kita mengambil berbagai pelayanan sekaligus. Ketika kita melayani dengan tekun, perhatian kita untuk memenuhi tugas bagi Allah kadang dapat menjadi seperti sebuah pandangan dalam terowongan. Kita menjadi buta dan tidak memperhatikan kebutuhan saudara-saudari kita, atau malah melihat mereka sebagai penghalang yang mencegah kita melakukan pelayanan dengan cara yang kita kira benar.

Mereka yang membangun tembok Yerusalem, masing-masing mempersiapkan diri menghadapi ancaman serangan, tetapi juga siap dengan segera meninggalkan pekerjaan mereka untuk menolong saudara mereka. Marilah kita juga memegang teguh prinsip bahawa pertumbuhan rohani kita dan saudara-saudari kita haruslah menjadi prioritas utama.

Walaupun prinsip ini dapat memberikan kita ketidaknyamanan atau tampaknya pekerjaan pelayanan berjalan lambat dengan cara ini, bila kita tahu apa yang terpenting dalam pelayanan kita, Allah sendiri akan berperang untuk kita.

Renungan:

Langkah nyata apakah yang dapat anda ambil hari ini untuk membentengi diri anda menghadapi serangan rohani? Saat melayani bersama dengan saudara-saudari seiman di gereja, apakah anda memusatkan perhatian lebih banyak pada kemajuan dan hasil, atau kesihatan rohani masing-masing saudara-saudari anda?