Hits: 11

“Sebab apa yang aku perbuat,aku tidak tahu.Kerana bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat”- Roma.7:15

Kita semua pernah merasakan apa yang diceritakan Paulus: diseret oleh keinginan daging dan hawa nafsu kita sendiri, dan jatuh di dalamnya. Kita tahu dengan jelas bahawa yang seringkali terjadi, pada akhirnya kita terjatuh. Hanya masalah waktu saja sebelum akhirnya dosa di dalamdiri kita membuahkan maut.

Jadi janganlah kita memberikan maut kesempatan untuk bertumbuh, dengan cara mencegah dosa itu tumbuh. Hal ini dapat dilakukan apabila kita mencegah keinginan daging dan hawa nafsu di tahap-tahap paling awal.

Paulus menceritakan perjuangannya untuk melarikan diri dari keinginan jahat dan menyerahkan tubuhnya kepada Kristus: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu.  Kerana bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, aku tidak tahu. Kerana bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm.7:15) Sebagai manusia, Paulus menghadapi pergumulan yang sama seperti yang dihadapi orang-orang Kristian setiap hari. Di dalam hati, kita mempunyai keinginan untuk mengikuti hukum-hukum Allah dan tunduk pada kasih karuniaNya. Namun di saat yang sama, ada keinginan-keinginan jahat di dalam diri kita untuk menceburkan tubuh kita dalam kenikmatan-kenikmatan dunia.

Yusuf memberikan contoh kepada kita, bagaimana mencegah keinginan-keinginan ini. Umurnya 17 tahun, usia yang katanya hormone sedang tinggi-tingginya. Tetapi ketika isteri Potifar menggodanya,dengan segera ia berkata: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej.39:9) Tanpa berfikir lama-lama, ia kabur dan berlari keluar. Ini terjadi sebelum Allah menurunkan Sepuluh Hukum kepada umatNya. Namun Yusuf mampu menolak godaan ini kerana hatinya berpaut kepada Allah.

Tanpa Tuhan, kita kalah; kita akan jatuh ke dalam pencobaan. Kita tidak dapat mencegah hawa nafsu sekadar mengandalkan ketetapan hati sendiri. Tetapi kita harus memohon pertolongan kepada Yesus Kristus, untuk membimbing dan menguatkan kita dengan Roh KudusNya dan membuang seluruh akar-akar jahat dalam hati kita. “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging,melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu?” (Rm.8:9) Maka ketika kita digoda, kita akan dapat membuktikan kesetiaan kita kepada Allah, dan bukan pada kedagingan kita. Hanya melalui kuasa Roh Kuduslah kita mampu mengosongkan, menyangkal dan mendisiplinkan diri kita, sehingga Allah dapat dimuliakan melalui tubuh kita.

(Dibaca : 125 kali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *