Bab 16 Kesaksian-kesaksian dari seluruh dunia

16.1 Pulang ke rumah

“Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” (Yoh. 10:16)

Saudari Margaret Han adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan manufaktur, dan guru Sekolah Minggu Gereja Anglikan di Katedral Santa Andreas, dan mengajar di Pusat Perluasan Bedok. Beberapa tahun yang lalu Roh Kudus menuntunnya masuk ke Gereja Yesus Benar. Berikut ini adalah kesaksian indah Saudari Margaret tentang bagaimana ia mengenal Gereja Benar.

Haleluya! Di dalam nama Yesus saya bersaksi.

Saya mengenal agama Kristian sejak saya masih sekolah. Pada masa itu, saya hanya mengikuti pertemuan persekutuan yang diadakan oleh pemuda untuk Kristus.

Setelah menyelesaikan sekolah, tante jauh saya mendorong saya untuk bergabung dengan gerejanya (Katedral Santa Andreas) dari denominasi Anglikan. 2 tahun kemudian saya dibaptis dan menjadi jemaat Gereja Anglikan.

Pada pertengahan bulan April 1983, saya berkenalan dengan Alvin Lee (Ia adalah jemaat Gereja Yesus Benar). Alvin menjelaskan berbagai doktrin Alkitab kepada saya, seperti Hari Sabat, basuh kaki, dan Allah Esa yang benar. Setelah beberapa kali berdiskusi dan berdebat, saya memutuskan untuk pergi ke Gereja Yesus Benar untuk melihatnya sendiri.

Tanggal 13 Mei 1983, Jumaat malam saya pergi ke Gereja Yesus Benar untuk pertama kalinya. Saya terkejut dengan cara mereka berdoa. Hari berikutna (hari Sabat), saya pergi lagi untuk melihat bagaimana jemaat memegang hari Sabat. Pada hari Minggu, seperti biasa saya mengikuti kebaktian di Gereja Anglikan. Saat saya menceritakan tentang Gereja Yesus Benar kepada beberapa jemaat, mereka menasihati saya agar berhati-hati kerana ada banyak ajaran sesak.

Kemudian pada hari Rabu sore, pada saat pulang ke rumah dari bekerja, saya merasakan sesuatu yang menyuruh saya untuk mengikuti kebaktian di Gereja Yesus Benar. Saya menurutinya. Pada saat sesi doa yang pertama, saya digerakkan oleh Roh Kudus. Ini adalah pengalaman pertama saya akan kasih karunia Allah yang telah menghujankan berkat-berkatNya kepada saya dengan berkelimpahan.

Hari jumaatnya, Gereja Yesus Benar mengadakan Pertemuan Tahunan Kerohanian Pemuda. Pada hari yang sama, Gereja Anglikan juga mengadakan Pertemuan Tahunan Olahraga Pemuda. Pada saat berjalan pulang, sekali lagi saya merasakan sesuatu yang mengingatkan saya untuk pergi ke Gereja Yesus Benar. Saya menurutinya lagi. Sore itu saya diajak untuk ikut berdoa memohon Roh Kudus. Dengan ragu-ragu saya masuk ke aula dan duduk di bangku paling belakang. Sebelum doa dimulai, pemimpin kebaktian mengajak jemaat untuk maju ke depan. Seorang saudari mendorong saya maju, tetapi saya tidak mahu dan bahkan saya berkata, tidak perlu maju ke depan kerana Allah maha ada. Ia meninggalkan saya sehingga saya dapat berdoa sendiri. Saat doa dimulai, saya hanya duduk dan mengamati. Kemudian saya mencuba berlutut untuk memohon Roh Kudus. Saya memulainya di dalam nama Yesus dan berdoa demikian: “Tuhan, bila Roh Kudus yang mereka beritakan itu benar, dan sungguh-sungguh dari Engkau, mohon beri saya Roh Kudus juga” Saya mengucapkan “Haleluya” berulang kali, dan lidah saya mulai mengucapkan kata-kata yang tidak saya mengerti. Gerakan Roh Kudus mengharukan saya. Tiba-tiba ada sebuah kilatan cahaya muncul, dan saya dapat melihat Seseorang yang berjubah sangat putih berdiri di depan saya, dan Ia menyambut saya. Saya tidak dapat melihat wajahNya kerana terlalu terang, tetapi saya dapat merasakan sukacita yang tidak dapat saya jelaskan dan belum pernah saya alami. Setelah doa selesai, saya tidak memberitahukan pemimpin kebaktian tentang apa yang saya alami. Malam itu saya menginap di gereja, dan esoknya mengikuti doa pagi. Pada saat itulah Pendeta Chong menumpangkan tangan dan menyatakan bahawa saya telah menerima Roh Kudus.

Sungguh Tuhan telah menampakkan diriNya kepada saya. Tetapi perjuangan untuk mengenalNya dengan sepenuhnya barulah permulaan. Musuh Allah, Iblis, memulai misinya untuk menghancurkan saya.

Pada suatu malam, saya diundang oleh Alvin Lee dan isterinya, Lynn, untuk datang ke rumah mereka untuk mengikuti Pemahaman Alkitab dan berdoa. Malam itu saya menginap di rumah mereka. Pada saat saya beristirehat di kamar, tiba-tiba muncul sebuah bola mata yang sangat besar di langit-langit di atas, dan mata itu memelototi saya dengan keras. Suasana menjadi sangat mencekam. Kemudian dua sosok muncul dan masuk ke dalam kamarm yang ternyata adalah Alvin dan Lynn. Namun kelegaan saya segera berubah menjadi kengerian kerana mereka mencuba mencekik saya! Pada saat itulah saya mendengar ketukan pintu dan saya terbangun dengan ketakutan. Saya membuka pintu dan menemukan Lynn yang asli mengetuk pintu untuk membangunkan saya agar saya pergi bekerja. Pagi itu saya merasakan sangat mengantuk sampai saya tertidur di kantor selama beberapa jam. Malamnya saya menginap lagi di rumah mereka. Kerana tidak ingin diganggu lagi, saya memohon Tuhan melindungi saya. Puji Tuhan, saya tidur dengan damai.

Serangan secara langsung dengan rasa takut dan tipuan gagal kerana ketenteraman yang diberikan Tuhan. Namun serangan yang lebih terselubung dirancangkan oleh si jahat. Pada suatu sore, saya sendirian di rumah dan merasa tertekan, dan saya memikirkan betapa banyak hal yang telah terjadi. Walaupun saya menyedari Gereja Anglikan tidak memegang kebenaran yang sempurna, saya masih merasa saya milik gereja itu. Merasa bingung, saya memohon pertolongan kepada Tuhan. Dalam doa, saya bersyukur Ia telah menuntun saya ke Gereja Benar dan memberikan Roh Kudus yang amat berharga bagi saya. Tetapi saya berkata kepadaNya bahawa saya tidak tahan meninggalkan gereja saya yang dahulu, dan saya merasa setidaknya saya harus pergi ke sana lagi dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Masih merasa tertekan setelah berdoa, saya lalu membaca Alkitab. Saat saya membuka Alkitab, mata saya jatuh pada ayat-ayat dalam Lukas. 9:59-62, “Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata:”Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah kerajaan Allah di mana-mana”. Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikuti Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahuludengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.””

Sejak hari itu, saya tidak pernah kembali lagi ke Gereja Anglikan. Pada tanggal 29 August 1983, saya dibaptis dan menjadi bagian dari Gereja Yesus Benar.

Kiranya segala kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus!

Margaret Han Woon Faun, Singapora

16.2 Aku menerima Roh Kudus

Saya sangat ingin membagikan kasih Allah kepada semua orang. Ini sulit dijelaskan. Saya merasakan kasih karunia Allah yang luar biasa berlimpah dan diberkati dengan pengertian benar akan firmanNya, kehendakNya, dan saya berharap dapat memberikan pengertian yang sama kepada anda. Saya merasa mempunyai banyak hal yang ingin saya bagikan. Tahukah anda, Allah itu sungguh, luar biasa. Dan Dia selalu ada di sana memperhatikan kita, dengan tanganNya terbuka lebarm menunggu untuk memeluk kita dengan tanganNya yang penuh kasih dan menjaga kita dari segala macam kecelakaan,selamanya. Yakobus. 4:8 berkata, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu” Ia sedang menantikan anda, dan Ia sungguh-sungguh mengasihi anda. Bagaimana kita dapat mengerti kasih yang Ia berikan kepada kita? Bagaimana kita dapat membalas kesabaranNya, penantianNya, kerinduanNya kepada kita? KasihNya sempurna, tak tertandingi, dan melampaui pemahaman manusia.

Saya mengetahui kasihNya kerana saya menerima Roh Kudus. Saat saya berdoa memohon Roh Kudus, saya meninggalkan segala-galanya. Seorang saudara di gereja pernah mengajarkan saya untuk berdoa dengan keras- ini adalah hal yang tidak mahu saya lakukan kerana saya merasa orang lain akan mendengar, dan mereka akan mengetahui apa yang saya katakana. Tetapi setelah itu saya melakukannya tanpa memikirkan hal ini. Saya hanya bertekad untuk melakukannya, dan saya mengaku dosa di hadapanNya dengan suara keras. Itu semua terasa benar. Hanya ada Tuhan dan saya, tidak ada orang lain di dalam percakapan itu- sebuah hubungan yang pribadi antara Dia dan saya. Yang aneh, tidak orang yang mendengar apa pun yang saya katakana, dan saya tidak merasa mereka menyedari bahawa saya sedang berdoa dengan suara keras. Sungguh merupakan doa yang didengar hanya oleh Tuhan.

Setelah mengaku dosa, saya dapat merasakan tangan saya bergerak naik turun. Saya berdoa, “Mohon beri saya Roh KudusMu!”, dan saya mulai berkata-kata dalam bahasa roh. Saya tidak dapat mengungkapkan dengan sepenuhnya betapa sukacita hati saya. Ini terjadi saat doa sebelum khotbah dimulai, dan berhenti berdoa terasa cukup sulit. Lalu saat khotbah sebentar lagi usai, saya merasa cukup kuatir apabila saya berusaha berdoa kembali, dan Roh Kudus ternyata sudah tidak ada. Saya merasa gugup. Tetapi saat sya berlutut untuk doa penutup kebaktian, belum saya selesai mengucapkan, “Haleluya, di dalam nama…,” saya kembali berkata-kata dalam bahasa roh. Saya merasa sangat gembira, penuh dengan sukacita, dan rasanya tidak ada yang dapat mendukakan saya, dan rasanya sangat damai. Ini merupakan perasaan yang sangat indah.

Ketika saya pulang, saya berdoa lagi sebelum makan malam. Nampaknya saya berdoa selama sejam. Dengan terheran-heran, saya selesai berdoa tepat setelah semua orang selesai makan. Satu jam? Saya berfikit, “Tidak mungkin! Rasanya saya berdoa hanya sebentar!”

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan dari lubuk hati yang paling dalam, kerana Ia telah menjawab doa saya begitu cepat. Saya sungguh mengetahui bahawa Ia ada di sana, senantiasa menunggu kita memohon Roh Kudus. Apabila kita percaya kepada FirmanNya, Ia akan memberikan kepada mereka yang meminta kepadaNya. Bila kita meminta dengan hati yang sungguh-sungguh bertobat dan rendah hati, Ia mendengar: Ia tidak menolak siapa pun. Ini adalah janjiNya.

Heather MacDonald- Elgin, Edinburgh, UK.

16.3 Kerana setiap orang yang meminta, menerima

Di tahun 1984, keluarga saya dibaptis di Gereja Yesus Benar. Saat itu saya masih remaja. Saya tidak mengerti pentingnya pendidikan agama. Saya tidak rajin pergi ke gereja. Akibatnya, saya tidak mengerti firman Tuhan. Jemaat seringkali menbesuk saya. Setelah dibesuk, saya akan berkebaktian sekali 2 kali, tetapi setelah itu tidak berkebaktian lagi.

Saat saya memasuki tahun pertama kuliah, saya mulai mencari Tuhan. Saya belajar bahawa saya harus menerima Roh Kudus sebagai jaminan keselamatan saya. Tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya berdoa memohon Roh Kudus, dan menjadi kuatir. Teman ngobrol saya mengajak saya pergi ke gereja Kharismatik. Saya pergi mengikutinya. Saya sangat senang ketika pembicaraan di gereja itu adalah bagaimana cara berdoa memohon Roh Kudus. Pembicara berkata, bahawa Roh Kudus akan memenuhi saya bila saya berdoa dengan tangan diangkat ke atas dan wajah menghadap ke atas, sambil berkata, “Haleluya”. Ketika Pendeta menumpangkan tangan ke atas kepala saya, saya jatuh ke belakang, tetapi saya tidak merasakan Roh Kudus memenuhi diri saya. Saya berdiri dan merasa sedikit malu. Saya memperhatikan orang-orang lain yang berdoa. Ada seorang anak laki-laki yang jatuh ke lantai. Ia berteriak-teriak dengan penuh kesakitan dan mulutnya berbusa. Saya pulang ke rumah dengan rasa bingung.

Saya menceritakan kejadian ini kepada seorang guru agama di Gereja Yesus Benar. Setelah saya mendengar penjelasannya, saya merasa malu di hadapan Tuhan dan segenap saudara-saudari seiman. Begitu besar rasa bersalah yang saya rasakan, saat itu juga saya menangis. Saya pulang ke rumah dan berdoa, memohon pengampunan Tuhan.

Pagi berikutnya, saya merasa rasa bersalah dan malu saya terangkat. Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah menjawab doa saya. Saya berjanji pada diri sendiri saya tidak akan lagi pergi berkerbaktian di gereja lain.

Di tahun 1988, saya mengikuti KKR siswa di Gereja Jakarta. Di satu malam, saya bermimpi. Di dalam mimpi, saya sedang berdoa di padang rumput. Tiba-tiba ada tiupan angin yang disertai suara keras. Saya sedikit bergoyang tertiup angin, tetapi tidak terjatuh. Kerana kekuatan angin itu, tubuh dan lidah saya bergetar. Saya mendapatkan mimpi yang sama kedua kalinya. Sungguh aneh. Pagi berikutnya, saya pergi ke gereja dengan keyakinan saya akan menerima Roh Kudus. Saya berdoa dengan iman dan semangat yang besar. Ketika saya mengucapkan “Haleluya”, tubuh dan lidah saya tiba-tiba bergetar-getar. Saya tidak dapat mengendalikan lidah saya ataupun mengerti kata-kata yang keluar dari mulut saya. Saya menangis dan hati saya penuh dengan sukacita kerana Tuhan telah menjawab dosa saya. Setelah berdoa, saya merasa sangat sukacita.

Saya yakin Tuhan Yesus sungguh mengasihi anak-anakNya. Kita harus percaya bahawa doa-doa kita akan didengar oleh Tuhan dan harus tetap tekun dalam doa. Tuhan kita sungguh Tuhan yang hidup!
Henry- Banjarmasin, Indonesia

16.4 Kasih Allah atas Anak Sulung Kami

Saya dibesarkan di keluarga Kristian. Orang tua saya adalah jemaat dari suatu gereja di Taiwan. Isteri saya, Helen, juga menerima baptisan 10 tahun lalu di gereja lain. Ketika kami masih berkebaktian di gereja kami masing-masing, kita tidak pernah mendengar kesaksian tentang penglihatan, mimpi, dan mujizat. Dan terlebih lagi, kami tidak mengetahui banyak tentang Roh Kudus, apalagi mengalaminya. Ini semua berubah setelah kami dituntun masuk ke dalam Gereja Yesus Benar. Oleh kerana kasih karunia Allah, kami mulai mengalami hal-hal yang indah. Pertama, kami menganggap ini semua sebagai hal yang pribadi, dan bukan sesuatu yang dapat dibicarakan. Namun kemudian seorang hamba Tuhan mengatakan bahawa kami harus membagikan pengalaman ini kepada orang-orang lain, untuk bersaksi bagi Tuhan, untuk mendorong orang-orang yang belum percaya dalam pencarian mereka akan Tuhan, dan menguatkan iman saudara-saudari seiman.

Ini adalah salah satu pengalaman kami.

Andrew adalah anak sulung kami. Ketika ia berumur 4 tahun, ia mulai mengalami pendarahan hidung yang kronis kerana alergi. Pendarahan ini dapat muncul kapan saja, bahkan ketika ia tidur, dan ini semakin bertambah parah setiap tahun. Di musim semi 1993, penyakit ini bertambah parah kerana tingginya tingkat kandungan serbuk sari di daerah Bay Area. Ini sangat menyakitkan anak kami. Di sekolah, hidungnya selalu dibebat, matanya merah, dan mukanya bengkak. Ia sulit tidur kerana ia merasa seperti sedang dicekik. Ia akan gelisah sepanjang hari dan sering menangis. Kami telah mencuba berbagai macam pengubatan, tetapi semuanya tidak dapat menyembuhkan alerginya.

Pada suatu malam, setelah Andrew akhirnya dapat tidur di pukul dua dini hari, saya dan isteri tidak dapat tidur. Kami sangat menguatirkan Andrew. Dalam kesedihan yang luar biasa, kami berlutut untuk berdoa kepada Tuhan Yesus, memohon agar Ia menjaga anak kami, dan menyembuhkannya. Saat kami pergi tidur, saya bermimpi. Di dalam mimpi, Tuhan kita sedang menggendong Andrew dalam pelukanNya dengan penuh kasih sayang. Saat saya menyampaikan mimpi ini kepada Helen keesokkan harinya, kami merasa sangat yakin Andrew akan segera sembuh dari alergi parahnya. Dan memang benar, setelah beberapa hari, hidungnya mulai bersih dan ia mulai dapat bernafas dengan normal. Allah sungguh telah mendengar doa kami, dan berbelas kasihan kepada kami dan anak kami.

Pada tanggal 25 Disember 1993, kami sekeluarga mengikuti KKR di Gereja San Jose. Pada salah satu doa siang, Andrew mendapatkan penglihatan saat ia berdoa. Ia melihat Tuhan Kita Yesus Kristus dengan jubah putih yang bersinar-sinar, wajahNya terang dan penuh kemuliaan. Yesus berjalan di antara jemaat dan menumpangkan tanganNya ke atas beberapa orang, termasuk Andrew. Ketika Andrew melihatNya berlalu meninggalkannya, dengan suara pelan ia berkata,”Aku di sini” Lalu seekor merpati terbang memasuki aula dan mendarat di bahu Andrew. Pada saat itu juga Andrew menerima Roh Kudus dan mulai berkata-kata dalam bahasa roh. Wajahnya bercucuran air mata tetapi merasa sangat damai dan tenang.

Pagi hari berikutnya, ketika Andrew berdoa bersama kami, ia melihat Tuhan Yesus kembali. Tuhan kita datang kepadanya dan memandanginya. Andrew menangis. Ketika Tuhan pergi, seekor merpati dengan bintang yang penuh kemuliaan di kepalanya terbang kepada Andrew. Merpati itu membawa sebuah kotak hadiah di kakinya, dan menjatuhkan kotak itu di bahu Andrew. Kemudian merpati itu pergi ketika doa usai. Sebelumnya, saat Andrew menceritakan penglihatannya itu malam sebelumnya, kami tidak mengerti apa maksud penglihatan itu. Tetapi ia menceritakan penglihatan yang kedua, kami menyedari Andrew telah menerima karunia Roh Kudus.

Tuhan kita berbelas kasihan dengan keluarga kami dan memberkati kami dengan berkelimpahan kerana kasih karuniaNya yang besar. Kami selalu menguatirkan Andrew, dan senantiasa mendoakannya. Kami memohon pimpinan Tuhan untuk membawa Andrew menjadi anakNya. Tuhan kami mendengar doa-doa kami dengan karunia yang paling besar- Ia memberikan Roh Kudus kepada Andrew.

Puji syukur bagi Tuhan kita Yesus Kristus, kerana kasih dan anugerahNya telah memberikan kami banyak pengalaman yang berpengajaran. Puji-pujian, kemuliaan dan hormat bagi Tuhan kita selama-lamanya,amin!

Geoff Lee- San Jose, USA

16.5 Panggilan Tuhan

Haleluya, saya syukur kepada Tuhan kerana kasihNya yang luas biasa memampukan saya untuk menyampaikan kesaksian pribadi bagaimana Yesus memanggil saya ke dalam kawanan dombaNya. Dengan kasihNya yang lemah lembut dan belas kasihan yang amat besar, Tuhan Yesus memintal benang merah keselamatan di sepanjang hidup saya. Kiranya segala kemuliaan diberikan kepada nama Yesus yang kudus, Tuhan kita semesta alam.

Di bulan Oktober 1987, saya diajak pergi ke Gereja Yesus Benar di Telok Kurau, Singapura. Segera setelah menginjakkan kaki melawati pagar gereja, saya merasakan kedamaian yang meluap-luap di udara. Saya merasakan suatu perasaan aneh seperti pulang ke rumah. Ini adalah pertama kalinya saya melihat seluruh jemaat berdoa dalam bahasa roh, dan suaranya seperti malaikat-malaikat bercakap-cakap dengan penuh sukacita. Ketika saya menyanyikan kidung nombor 296 untuk pertama kalinya, air mata membanjiri wajah saya, sembari melihat prosesi Perjamuan Kudus. Saya sangat tergerak oleh kasih dan kebaikan yang terwujud di antara saudara-saudari di gereja.

Kunjungan ke-3 saya ke gereja adalah pada saat Pertemuan Penginjilan di tanggal 18-20 Disember 1987. Saya merenungkan pesan-pesan injil yang terkandung dalam berbagai khotbah mengenai keselamatan. Di sore terakhir Pertemuan Penginjilan itu, diadakan doa khusus untuk memohon Roh Kudus. Mereka yang ingin menerima karunia syurgawi yang berharga ini dapat datang ke depan untuk menerima penumpangan tangan dari pada penatua dan diaken. Saya maju ke depan dan berlutut. Saya tidak tahu bagaimana caranya berdoa, dan terus mengucapkan berulang-ulang: “Haleluya, puji Tuhan!” Namun di dalam hati, saya berseru-seru kepada Tuhan, “Tuhan! Apakah Roh Kudus yang sedang saya mohonkan saat ini? Roh Kuduskah Engkau? Mohon Engkau anugerahkan karunia ini sehingga aku percaya kepada Engkau sepenuhnya”

Tiba-tiba sebuah kekuatan yang besar turun ke dalam diri saya, dan segera hati saya menyala oleh api sukacita yang tidak terucapkan! Rasanya seakan-akan sebuah aliran turun dari Syurga ke bumi, dan saya dapat merasakan Tuhan memeluk diri saya dengan penuh kelembutan dalam kasihNya yang besar. Minyak Roh Kudus menyulut roh dalam diri saya, dan api Allah mengobarkan jiwa saya dengan panas yang keluar dari lubuk hati saya. Tubuh saya mulai bergoncang-goncang dan lidah saya berputar dalam bahasa yang terdengar asing oleh saya. Dan tiba-tiba saya menyedari bahawa Allah telah menjawab doa saya yang sederhana ini. Puji Tuhan!

Setelah memahami dasar-dasar kepercayaan Gereja Yesus Benar, saudara-saudari di gereja mendorong saya untuk menerima baptisan air pada tanggal 27 Disember, seminggu setelah Pertemuan Penginjilan. Kerana keluarga saya akan pindah ke Kanada beberapa bulan kemudian, saya harus mengambil kesempatan berharga ini. Namun orang tua saya yang beragama Budha melarang saya menjadi Kristian. Ada banyak ketidaksefahaman di dalam keluarga kami. Saya hanya melalui doa sajalah saya dapat menemukan kedamaian.

Di pagi hari 27 Disember 1987, pergumulan dalam diri saya mencapai puncaknya. Akhirnya saya berkata kepada 2 adik perempuan saya mengenai keputusan saya untuk menunda baptisan air saya ke lain waktu. Namun hati saya penuh dengan kesedihan. Sebelum kami meninggalkan rumah untuk pergi ke gereja, saya memandangi pagar apartment kami, dan hati saya yang penuh dengan kepedihan berseru, “Tuhan! Tolong beritahuku apa yang harus kulakukan!” Tiba-tiba saya melihat salib yang bersinar-sinar penuh kemuliaan muncul dari pagar putih dengan cahaya yang ajaib, cemerlang dan murni! Penglihatan itu hilang dalam beberapa detik, dan saya terbengong-bengong. Bagaimana mungkin, orang berdosa yang hina seperti saya, berdiri di hadapan cahaya yang kudus? Saya belum pernah melihat cahaya yang begitu cemerlang, yang berasal dari Syurga dan bukan dari dunia yang fana ini. Itu adalah Cahaya Benar. Segala cahaya dari dunia ini sangat gelap dibandingkan dengan cahaya ini. Kedamaian menggantikan kesedihan dalam hati saya, dan saya memahami maksudNya.

Diam-diam kami pergi meninggalkan apartmen dan orang tua kami yang masih tidur di lantai 23. Kami memencet tombol lift dengan tergesa-gesa, takut tiba-tiba orang tua kami muncul di belakang. Namun tiga lift yang biasanya sangat cepat, entah bagaimana terus diam di lantai dasari Minggu pagi itu. Kami mulai panic, tetapi akhirnya salah satu lift akhirnya mulai naik. Setelah kami bergegas masuk ke dalam lift, sebuah kejadian aneh muncul. Lift yang kami tumpangi berhenti di setiap lantai; pintu lift terbuka dan tertutup perlahan-lahanm tetapi tidak ada orang yang menunggu lift! Rasa takut meliputi kami, dan kami merasa terperangkap di tengah-tengah ketinggian oleh suatu kekuatan kegelapan. “Kak, Iblis sedang berusaha menghentikan kita…” kata adik saya dengan suara bergetar. Ketika lift mencapai lantai 17 dan pintu perlahan-lajan terbuka, saya berteriak, “Ayo, cepat keluar!. Kami segera berlari kea rah tangga darurat menuju lantai dasar, seakan sedang melarikan diri dari kejaran setan-setan.”
Ketika kita akhirnya sampai di gereja, saya penuh dengan rasa aman dan damai yang meliputi kami bertiga. Merenungkan kembali penglihatan salib dan kejadian aneh di lift, saya memutuskan utuk menerima baptisan air untuk keselamatan jiwa saya.
Pagi itu, di antara kami yang akan menerima baptisan, terdapat seorang anak balita yang sedang sekarat. Ia menderita masalah jantung mematikan dan sudah tak tertolong lagi. Matanya terbelalak dan ia harus diberi makan dengan infus. Orang tuanya bergelantungan pada secercah pengharapan, agar Yesus menyelamatkan anak mereka. Segenap jemaat secara khusus mendoakan anak ini.
Baptisan air adalah titik balik yang penting dalam hidup saya. Saat saya melangkah berat melalui air laut, hati saya terbeban oleh segenap dosa di masa lalu saya. Di hadapan Tuhan saya mengaku diri sebagai orang berdosa, sungguh tidak layak mendapatkan kasih karuniaNya yang besar, dan dengan penuh penyesalan saya bertobat dari seluruh dosa saya. Saat saya mncul kembali dari dalam air, hati saya melonjak dan langkah-langkah saya terasa ringan sambari saya memulai langkah-langkah saya bersama Yesus. Tuhan kita telah membasuh dosa-dosa saya seluruhnya dengan darahNya yang berharga, dan memberikan saya kehidupan yang begitu baru dan murni, sehingga saya merasa sepenuhnya dilahirkan kembali!
Setelah baptisan air, jemaat yang baru menerima baptisan itu menerima Sakremen Pembasuhan Kaki dan Perjamuan Kudus. Ketika kebaktian usai, saya berkeliling gereja mencari anak balita yang baru saja dibaptis itu, dan saya tercengang-cengang melihat mujizat di depan saya! Anak yang sekarat itu menyapa saya dengan mata yang bersinar-sinar dan wajah merona, sementara ibunya terisak-isak penuh rasa syukur menyuapinya dengan bubur. Orang tuanya menamai dia Musa. Kuasa penyembuhan Yesus yang penuh kekuatan digenapi dengan anak itu di depan mata kepala saya sendiri, dan ini sungguh membangkitkan iman seluruh jemaat yang hadir. Saya sungguh yakin Allah telah menuntun saya ke Gereja Benar. Haleluya!!
Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang ku ingin: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati baitNya.
Mazmur. 27:4

Constance Lin- Los Angeles, USA

16.6 Aku menemukan iman yang sesungguhnya

Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi tentang bagaimana saya menemukan iman yang sesungguhnya. Pertama-tama, saya perkenalkan diri saya, nama saya Stephane (red: baca Stefan), saya berasal dari Gereja Yesus Benar Paris.
Waktu itu saya baru selesai kuliah dan sedang menjalankan wajib militer saya. Pada waktu kuliah, saya bertemu dengan Saudara Soung Tyan, yang kemudian menjadi teman terdekat saya. Di tahun terakhir masa kuliah di Perancis Selatan, kami tidak pernah membicarakan Agama secara serius. Tetapi setelah saya meninggalkan Perancis dan bekerja di Inggris selama 6 bulan, Saudara Soung selalu datang berkebaktian di Gereja Yesus Benar Perancis kerana ibunya adalah jemaat di gereja tersebut. Saudara Soung bercerita kepada saya bahawa gereja ini membawa damai sejahtera baginya dan saudara-saudarinya saling mengasihi. Saat saya kembali lagi ke Perancis, Saudara Soung memberitahukan bahawa dia telah memperoleh Roh Kudus, yang digambarkan seperti air terjun yang dicurahkan ke dalam tubuh dan juga ditambahkan, “Ini sesuai dengan Alkitab, kamu harus datang!” Saya mempercayai dia, tetapi setelah beberapa minggu, saya menjadi curiga. Saya ingin mengetahui apakah dia sedang dalam bahaya atau telah bergabung dengan sebuah sekte penganut ajaran sesat.

Pada bulan November 1995, saat pertama kali saya datang ke Gereja Yesus Benar, saya mulai mencari tanda-tanda dan ciri-ciri yang mencolok dari sebuah permujaan, tapi saya hanya menemukan dinding putih. Saya cuba perhatikan apakah gereja itu tamak akan wang, tapi saya tidak menemukan acara kolekte persembahan. Lalu saya mencari “Sang Guru” dan saya bertemu dengan Pendeta YM Yang, yang sedang menyibukkan dirinya dengan Alkitab. Saya perhatikan khotbahnya dengan baik, dan saya merasa bahawa khotbahnya sangat serius dan menarik. Tetapi pada saat berdoa, saya tidak dapat berkonsentrasi berdoa kerana suaranya berisik. Jadi saya memutuskan untuk menghadiri kebaktian 3 kali untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik. Saya berfikir, mungkin Yesus adalah Tuhan yang telah saya percayai selama ini. Saya tahu, hidup tanpa Tuhan adalah hampa dan tidak bererti. Saya mempunyai perasaan bahawa saya sedang diuji oleh Tuhan. Kadang saya berbicara sendiri, “Malaikat, saya tahu engkau sedang mengawasiku” Saya selalu merasa bahawa hidup adalah suatu proses belajar dan harus melewati banyak ujian. Tetapi kepercayaan yang fanatic, ibadah yang berlebihan dan kolekte yang memakai nama Tuhan telah mendiskreditkan agama Kristian di mata saya.

Ketika saya menghadiri kebaktian yang kedua kali, saya merasa sukacita ketika berdoa dan saya merasakan adanya suatu energy pada wajah saya. Saya melihat cahaya dan kepala saya seperti disoroti. Tadinya saya mengira mereka memasang generator magnet di dinding. Tapi kemudian, saat saya berdoa di markas tentera, saya merasakan adanya pengalaman yang sama.
Lalu saya berfikir, mungkin Alkitab benar-benar berisi Firman Allah. Saya ingin memastikan hal ini, jadi saya mengimani Matius. 7:7, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” Saya mulai berdoa dan membaca Alkitab.

Beberapa minggu kemudian, saya merasa masih lemah dalam iman, dan saya berdoa kepada Tuhan untuk menolong saya. Suatu hari saat saya sedang duduk di meja kerja dan menutupi mata dengan tangan saya, saya mendapat penglihatan. Saya melihat sebuah gambar geometris yang besar seperti jarring yang indah. Langit penuh ribuan bintang berwarna biru, sebuah bintang hijau, sebuah bintang putih dan sebuah salib bernyalakan api. Awalnya saya tidak tahu tapi kemudian saya mengerti bahawa api itu melambangkan Roh Kudus. Hari itu saya merasakan sesuatu yang hangat di atas kepala saya. Sesungguhnya perasaan itu selalu saya rasakan setiap kali saya memikirkan Yesus. Saya masih sering melihat bahaya itu ketika saya berdoa. Pada bulan Maret 1996, saya dibaptis bersama dengan Saudara Soung dan seorang saudari dari Jerman.

Saya mulai mengabarkan injil kepada banyak orang di sekitar lingkungan saya, tapi kelihatannya tidak efektif. Setelah merenungkannya, akhirnya saya sedar bahawa saya masih belum menerima Roh Kudus, saya merasa bahawa saya bukanlah saksi Yesus. Saya menghentikan usaha saya untuk mengabarkan injil, kemudian saya mendapat penglihatan lagi. Saya melihat sebuah kaki dari emas tapi saya tidak mengerti maksudnya. Satu minggu setelah saya menghenti mengabarkan injil, pada hari Sabat saya menerima baptisan Roh Kudus di rumah. Kemudian saya mengerti bahawa penglihatan kaki emas itu adalah melambangkan pesan Allah: “Betapi indahnya kaki-kaki yang mengabarkan khabar baik!” Oleh sebab itu seharusnya kita tidak perlu bimbang untuk mengabarkan injil selama kita mempunyai kebenaran. Saya mulai melakukan penginjilan pribadi lagi dan teman-teman di Angkatan Darat mulai tertarik. Saya merasa bahawa Tuhan memakai saya, Dia selalu membantu saya membuka hati orang-orang yang teman meminta saya berdoa bersamanya. Pada saat berdoa, saya dapar merasakan gerakan Roh Kudus. Kemudian ada 5 orang lagi dari markas Angkatan Darat yang bergabung dengan kami dalam kegiatan Pemahaman Alkitab dan dia. Dua di antara mereka sudah menerima Tuhan Yesus.

Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan atas semua yang telah Dia berikan kepada saya sejak saya lahir dan atas pint anugerah keselamatan yang dibukankanNya bagi saya.

Di Perancis, kami hanya memiliki satu gereja, yaitu di Paris, dengan jumlah anggota 55 orang. Gereja Yesus Benar harus menyelamatkan lebih banyak jiwa lagi. Janganlah anda lupa untuk mendoakan semua gereja yang ada supaya kita dapat menjadi penjala-penjala manusia. Semoga Tuhan mengutus lebih banyak pekerja. Bgai satu-satunya Tuhan yang bijak, segala kemuliaan melalui Yesus Kristus. Amin

Stephane Pelard- Guillaume, Paris, Perancis

16.7 Tuhan menjamahku

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya bersaksi. Saya dilahirkan di Kamboja, dan datang ke Amerika Syarikat pada tahun 1981 sat berumur 9 tahun. Dari tahun 1975 sampai 1979, terjadi pembantaian di Kamboja: dari 6 juta penduduknya, 3.5 juta orang mati selama tahun-tahun itu. Setiap hari, orang-orang mati kerana kelaparan atau hukuman mati- bahkan juga sanak saudara dan orang-orang yang saya sayangi. Saya selalu bertanya pada diri sendiri, Tuhan macam apa yang menciptakan manusia, dan kemudian membiarkan mereka mati seperti itu? Bagaimana Tuhan ini biasa menjadi Tuhan yang baik? Tak biasakah Dia melihat orang-orang ini sekarat?

Setelah datang ke Amerika Syarikat, saya mulai mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang selalu sama setiap malam. Lima roh jahat merenggut saya; dan roh jahat mengikat tangan saya, dua yang lain mengikat kaki saya, dan yang satunya mencekik saya. Saya menjadi takut tidur. Setelah dewasa, saya menerima dua atau tiga pekerjaan sekaligus kerana tidak ingin tidur. Sepanjang waktu itu, saya begitu ketakutan dan kesepian.

Tuhan-tuhan penuh gelombang

Saya sudah mencari kebenaran dan mencari Tuhan sepanjang hidup saya, namun hati saya masih merasa kesepian. Saya berkata pada diri sendiri, hidup harus lebih baik dari ini. Sewaktu kuliah, saya menghadiri pesta-pesta tempat saya melihat orang-orang berdansa, minum, dan menikmati begitu banyak kesenangan. Saya bilang, wow, ini yang namanya kebahagian, eh? Jadi selama tahun pertama dan kedua kuliah, saya berkeliaran dan minum dan berdansa. Kalau pergi ke pesta, saya pasti naik ke pentas dan menari seperti orang gila. Orang-orang akan meneriakkan nama saya, “Vuthy! Vuthy!” Tetapi saya tidak biasa menemukan kebahagiaan. Akhirnya, saya berkata pada diri sendiri, ini bukanlah jalannya.

Saya hampir dikeluarkan dari sekolah pada tahun kedua kuliah. Ketika menyedari apa yang terjadi pada diri saya, saya sedikit menenangkan diri, tetapi tetap merasa sangat kesepian. Saya mendapatkan pekerjaan dan punya penghasilan, dan itu akan membuat saya bahagia. Tetapi setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang bagus, hati saya tetap terasa hampa.

Mencari kebenaran

Sepangang waktu itu saya masih terus mencari kebenaran, tetapi tidak berhasil. Saya pernah pergi ke sebuah gereja Kristian, di sana saya dibaptis untuk pertama kalinya. Tetapi Tuhan tidak menggerakkan saya dan saya tidak melihat adanya Tuhan di gereja itu, jadi tidak lama kemudian saya tinggalkan. Setelah itu, ibu saya membawa saya ke Gereja berbahasa Yunani tempat saya dibaptis untuk kedua kalinya. Tetapi saya selalu jatuh tertidur setiap kali pergi ke sana, sebab mereka bicara dalam bahasa Yunani dan saya tidak biasa memahami apa yang mereka bicarakan.
Setelah meninggalkan gereja kedua ini, saya berkata pada diri sendiri, lupankan saja, Tuhan itu tidak ada. Saya pusatkan saja perhatian pada pekerjaan. Salah satu rakan sekerja adalah anggota Gereja Yesus Benar. Suatu hari dia melihat Alkitab di atas meja saya, lalu mengajak saya menghadiri Pemahaman Alkitab (PA). Saya fikir, kenapa tidak, toh tak ada ruginya, dan pergi ke PA tersebut. Di hujung acara, ketika mereka berlutut dan berdoa dalam bahasa roh, saya betul-betul ketakutan.
Salah satu saudari-saudari itu pasti sudah mendoakan saya, kerana minggu berikutnya saya tidak sabar ingin pergi ke PA. Setelah pertemuan itu, saya merasa Tuhan menggerakkan saya. Saya mulai menghadiri PA, dan kemudian mengikuti kebaktian gereja secara ritun. Saya merasa bahawa Tuhan ada di sana, meskipun kami Cuma berkumpul di sebuah kemah doa. Saya mulai berdoa dengan sungguh-sungguh setiap malam kerana saya merasakan gerakan Tuhan. Setiap ajaran Alkitab yang saya pelajari dan saya ikuti selalu benar adanya.

Tuhan menjamahku

Suatu malam ketika saya sedang tidur, kuasa Tuhan datang pada saya dan berkata, “Vuthy, bangun dan berdoalah” Jadi saya menjawab, “Baiklah” dan mulai berdoa.

Saya berkata, “Haleluya”, dan ada kuasa yang datang ke dalam diri saya, dan saya mulai berkata-kata dalam bahasa roh. Saya mulai menangis bahagia kerana merasakan begitu banyak kasih dan kemurahan dari Tuhan. Inilah pertama kalinya hati saya merasakan sukacita, dan saya tahu ini berasal dari Tuhan. Selama doa tersebut Tuhan membuatkan saya menyedari orang macam apa saya ini, dan semua hal-hal berdoa yang telah saya lakukan sewaktu SMU dan kuliah dulu.

Ketika saya sedang berkata, “Tuhan menggerakkan saya untuk berkata, “Buku 1 Petrus”. Saya bahkan tidak tahu di mana letak I Petrus dalam Alkitab. Jadi saya bangun, menyalakan lampu, dan membuka I Petrus, fasal 1. Sewaktu membaca, firman Tuhan menjadi hidup, nyaris seperti berbentuk tiga dimensi. Setiap firman datang pada saya seolah benda hidup, dan benar-benar menyentuh saya.”

Peperangan rohani

Beberapa hari kemudian, mimpi-mimpi buruk saya datang lagi. Sudah beberapa tahun saya tidak mendapatkan mimpi-mimpi buruk itu. Mereka masih lima roh jahat yang sama, dan kali ini mereka mencekik saya kuat-kuat. Saya tidak boleh bernafas, tidak boleh berteriak, tidak boleh menjerit. Tetapi saya berkata, “Dalam nama Tuhan Yesus Kristus” dan mereka pun pergi.
Saya bertanya pada saudara-saudari di gereja mengapa saya masih mendapatkan mimpi buruk walaupun telah menerima Roh Kudus. Mereka bertanya apakah di rumah saya ada berhala. Saya memang punya patung emas kecil berbentuk kepala, dan mereka menyuruh saya untuk membuangnya. Jadi dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya membuangnya ke toilet.
Malam berikutnya saya bermimpi buruk lagi, tetapi kali ini hanya ada satu roh. Roh hitam besar ini mencekik saya dan saya tidak dapat melihat wajahnya. Betul-betul menakutkan kerana ini merupakan sesuatu yang baru. Saya berkata, “dalam nama Tuhan Yesus Kristus,” dan balas mencekik roh itu. Saya membalikkan roh tersebut di atas ranjang, dan melihat bahawa wajahnya rusak berat dan penuh cacing. Lalu tiba-tiba ia menghilang.

Sekali lagi, saya bertanya pada saudari di gereja kenapa saya masih mengalami mimpi buruk. Saya tidak tahu apa yang menyebabkannya, saya merasa tidak punya apa-apa lagi di rumah. Dia bilang sebaiknya saya memeriksa ulang. Jadi saya mencari dan mencari, dan akhirnya menemukan patung kepala lain yang dulu diberikan oleh ibu saya. Saya sudah lupa bahawa patung itu ada di dalam kotak harta saya. Jadi sekali lagi di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya membuangnya ke toilet.

“Praktek” ayah saya

Setelah dibaptis di Gereja Yesus Benar, saya mulai bercerita pada ayah saya tentang Tuhan. Ayah saya berumur 73 ahun. Sejak masih muda di Kamboja, ia sudah memraktekkan ilmu sihir. Seisi kota tahu bahawa tidak ada seorang pun boleh membunuhnya dengan tembakan atau tusukan. Ketika masih kecil, saya merasa bangga akan hal ini, tetapi tidak begitu memercayainya.
Ketika keluarga saya datang ke Amerika pada tahun 1981, kami diperlakukan dengan luar biasa buruk. Rumah kami dibakar 2 kali. Pada kebakaran yang kedua, ayah saya keluar dan berkelahi dengan para pembakar rumah kami. Salah seorang di antaranya berusaha memukul ayah saya dengan tongkat baseball, tetapi ayah saya mengangkat tangan dan mematahkan tongkat itu menjadi dua. Setelah itu, saya mulai percaya bahawa ayah saya benar-benar menggunakan ilmu sihir.

Kali pertama ayah saya pergi ke gereja Kristian setelah datang ke Amerika, ia kadi sakit parah dan hampir mati. “Sesembahan” ilmu sihirnya memperingatkan bahawa ia akan membunuh ayah saya jika tetap pergi ke gereja. Jadi dari tahun 1981 sampai 1999, ayah saya tidak pernah pergi ke gereja lagi.

Pada bulan Jun 1999, saya pergi memancing bersama ayah saya. Pada waktu itu saya sudah mengikuti kebaktian di Gereja Yesus Benar secara rutin. Saya benar-benar percaya bahawa Tuhan itu ada dan saya merasakan kasihNya. Jadi saya berkata pada diri sendiri, ini kesempatan bagus untuk membicarakan Tuhan kepada ayah saya. Saya berkata, “Selama ini aku belum pernah meminta ayah melakukan apa pun. Tapi saya sudah menemukan Tuhan, dan saya ingin ayah datang ke gereka 5 kali saja. Kalalu setelah 5 kali ayah tidak merasakan apa pun, ayah tidak perlu datang lagi.” Dia sepakat, “Baiklah anak, saya akan datang demimu”
Malam itu, keponakan saya berada di kamar ayah. Tiba-tiba ia menjerit-jerit, “Kakak, Nenek, ada yang ingin membunuhku!” Ayah saya melihat ke sekeliling tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Lalu ia sedar bahawa itu adalah sesembahannya. Esoknya ia menceritakan hal ini kepada saya, tetapi saya memintanya untuk tidak khawatir kerana Tuhan itu Mahakuasa, dan hanya Dialah yang dapat mengambil nyawa manusia.

Menyingkirkan masa lalu

Jumat berikutnya pada saat PA, saya bertanya kepada saudara-saudari apa yang harus saya perbuat dengan semua peralatan berhala di kamar ayah saya. Mereka menyarankan supaya saya berdoa dan membuangnya, tapi siapa yang berani masuk ke kamarnya dan membuang semua itu? Ayah saya tidak akan melakukannya dan saya tidak cukup beriman untuk melakukannya sendiri. Jadi satu-satunya hal yang boleh kita lakukan adalah berdoa.

Puji Tuhan, Sabtu itu ayah saya datang ke gereja. Setelah berdoa, saya menanyakan bagaimana perasaannya. Ia berkata, “Aku kedinginan dan gemetaran” Saya berfikir, sepertinya ada yang tidak beres. Benar saja, saya mendapati bahawa ia mengenakan kalung berliontin kepala besar. Jadi saya memberitahukan, “Itu sumber masalahnya, Ayah harus membuangnya. Ayah harus membuang semua berhala di kamar ayah juga, kalau benar-benar ingin berdoa kepada Tuhan.”
Jadi dengan bantuan Tuhan, ayah saya membuang semua peralatan berhalanya (termasuk kalungnya) dan ia mulai berdoa setiap malam.

Hidup baru

Sabat berikutnya, ayah saya datang ke gereja dan sekali lagi berlutut berdoa. Saya tidak pernah menjelaskan kepadanya seperti apa Roh Kudus itu. Setelah berdoa, ia berkata bahawa ia merasakan getaran di sekujur tubuhnya, dan rasanya sangat nyaman. Saya benar-benar bersyukur pada Tuhan.

Di minggu itu juga, kaki kiri ayah terasa amat sakit sampai-sampai tidak boleh jalan. Ia tidak mengerti mengapa hal ini boleh terjadi pada dirinya. Dalam perjalanan ke gereja ia berkata kepada saya, “Kalau Tuhanmu itu Tuhan yang benar, biarlah Dia menyembuhkan kakiku” Jadi saya berfikir, “Tuhan, kita sudah mendapatkan dia” Ayah saya adalah orang yang memegang kata-katanya. Saya tahu bahawa yang harus kami lakukan hanyalah beriman dan berdoa, maka Tuhan akan menyembuhkannya.
Kakinya sakit selama seminggu, lalu pada suatu malam ia terbangun sambil berteriak kesakitan. Begitu terbangun, ia merasakan ada kuasa yang bergerak dari telapak kaki menuju lututnya, dan ia boleh berjalan. Ia memanggil saya dan menceritakan hal ini, membuat saya merasa sangat bahagia. Saudara-saudari di gereja sudah berdoa begitu giat untuknya.

Dalam perjalanan ke kebaktian Sabat berikutnya, ia berkata kepada saya, “Nak, aku akan mengikuti imanmu; aku sudah bilang pada ibumu bahawa aku akan mengikuti imanmu dan mengikuti Tuhanmu” Saya benar-benar bersyukur pada Tuhan. Ayah saya sudah menyemba berhala seumur hidupnya, sama seperti kakak-nenek dan buyut-buyutnya. Baginya, percaya Tuhan dan datang ke gereja adalah suatu mujizat.

Sekarang ayah , ibu, dan saudara laki-laki saya sudah mengikuti kebaktian Sabat secara rutin. Kasih dan kemurahan Tuhan jauh melampaui pemikiran saya. Kalau kita berdoa dengan kesungguhan hati dan iman, segala sesuatu menjadi mungkin melalui Tuhan. Segala kemuliaan dan pujian hanya bagi Tuhan Yesus.

Vuthy Nol- Mantia- Boston, Massachusettes, USA

16.8 Dipanggil keluar dari dunia

Saya dibesarkan di sebuah keluarga dengan tradisi kepercayaan yang usianya amat tua, yang dimulai sejak awal tahun 1600-an di Perancis, dan saya dididik dalam sekolah dengan basis kepercayaan tersebut. Meskipun demikian, selama setahun-tahun saya merasakan suatu kehampaan dalam hati saya. Saya merasa bahawa ada sesuatu yang hilang, bahawa ada suatu kekosongan dalam hidup saya, tetapi saya tidak dapat memastikan apakah itu.

Ketika saya bergabung dalam kemiliteran, saya melepaskan kepercayaan saya dan tidak lagi pergi ke gereja sesering yang biasa saya lakukan. Tetapi bersyukur kepada Tuhan kerana ketika saya menikah, isteri saya, seorang anggota Gereja Yesus Benar, dengan sabar menunggu dan mencucurkan banyak air mata dalam doa-doanya untuk saya. Setelah 15 tahun, Tuhan akhirnya mulai bekerja dalam hati saya. Dia mulai menunjukkan apa yang saya butuhkan untuk mengisi kekosongan dalam diri saya.
Keluarga saya mulai mengadakan pemahaman Alkitab di rumah kami setiap hari Sabat pagi. Anak-anak saya telah dibaptis di Gereja Yesus Benar, dan saya tidak berkeberatan dengan keinginan isteri saya untuk meningkatkan kehidupan kerohanian mereka. Isteri saya dan anak saya, Randy, telah menerima Roh Kudus dan berbicara dalam bahasa lidah, dan meskipun saya tidak keberatan mereka berdoa dengan cara ini, saya tidak dapat memaksa diri saya untuk memohon karunia ini. Saya merasa bahawa saya perlu berpegang pada kepercayaan lama saya dan berdoa dengan cara yang telah diajarkan kepada saya.

Setelah menyelesaikan pelajaran Alkitab pagi hari kami, saya akan berlutut, dan isteri saya akan meminta saya untuk berdoa dengan nyaring. Tetapi saya akan berkata, “Tidak, saya akan berdoa dengan cara saya” Jadi saya berdoa dengan pengertian, dalam hati. Saya mengucapkan bermacam-macam doa yang pernah diajarkan kepada saya dulu.

Penglihatan pertama

Saya berdoa seperti ini selama beberapa waktu sampai suatu Sabat pagi, ketika sesuatu terjadi. Kami telah merencanakan untuk pergi ke Gereja Yesus Benar di Pasifica, Califonia, untuk menghadiri kebaktian kebangunan rohani. Isteri saya ingin agar anak kami yang paling kecil, Sean, yang saat itu masih bayi, dibaptis. Saya berulang kali berkata, “Ok, kita tentu akan pergi” Tetapi dalam hati saya sama sekali tidak ingin pergi. Saya berusaha mencari alasan untuk menghindar, sehingga mereka dapat pergi sendiri dan saya boleh tinggal di rumah. Kerana saya masih berada dalam kemiliteran, saya fikir saya dapat berbohong dan mengatakan bahawa permohonan saya untuk liburan belum disetujui. Tetapi Tuhan tahu hati kita, dan Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Sekali Tuhan memilih anda, tidak aka nada jalan kembali.

Ketika kami berlutut untuk berdoa pagi itu, isteri saya berkata lagi kepada saya, “Ayolah, kenapa kau tidak berdoa dengan suara keras saja? Bilang saja”Haleluya, puji Tuhan!” Katakan dengan suara keras, terus berulang-ulang” Tetapi saya berkata, “Tidak, jangan ganggu aku, aku tidak akan berdoa dengan cara itu. Aku akan berdoa dengan caraku sendiri.”

Tapi begitu kami berlutut untuk berdoa, saya mengalami sesuatu yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Kalau anda memberitahukan bahawa saya akan mengalami pengalaman seperti itu, saya tidak akan percaya.

Ketika saya berlutut untuk berdoa, Tuhan memberi saya penglihatan. Saya melihat diri saya sedang berlutut dalam sebuah lingkaran cahayam dan di tepi lingkaran ada 6 sosok yang mengenakan jubah biarawan, dengan kerudung menutupi muka mereka. Di tangan mereka ada pedang yang menyala-yala. Dan mereka bergerak mendekati saya.

Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, jadi hal pertama yang saya lakukan adalah membuka mata. Tetapi ketika saya membuka mata, saya tidak melihat hal yang aneh. Kemudian saya menutup mata, dan penglihatan itu kembali lagi. Hal ini menakutkan saya. Saya teringat akan pelajaran Alkitab kami bahawa kita dapat mengusir setan dalam nama Yesus, jadi saya berkata, “Haleluya, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, setan pergilah!” Saya tidak menyedari bahawa saya mengatakannya dengan suara yang keras. Keluarga saya yang memberitahu saya kemudian.

Tiba-tiba keenam sosok gelap itu digantikan 6 sosok putih yang agung. Saya merasa sangat hangat dan tersentuh, sangat aman dan tenteram. Pada saat itu doa berakhir.

Saya tidak ingin menceritakan penglihatan ini kepada keluarfa saya, kerana hal ini sungguh-sungguh aneh dan baru bagi saya. Tetapi keluarga saya tahu bahawa sesuatu telah terjadi, kerana mereka mendengar saya berseru “Haleluya!” dengan nyaring. Jadi mereka bertanya, “Ayah, apa yang terjadi?” Saya berkata, “Oh, taka da apa-apa” Tetapi mereka berkata, “Tidak, pasti ada! Ayah meneriakkan “Haleluya” terus menerus, beberapa kali” Kemudian saya menceritakan apa yang saya lihat, dan isteri saya berkata, “Tuhan sedang berusaha memberitahumu sesuatu. Kita perlu berdoa lagi”.

Penglihatan kedua

Begitu saya berlutut untuk berdoa lagi, penglihatan yang lain datang. Dalam penglihatan ini, saya melihat diri saya berada dalam sebuah kapal kayu tua, seperti kapal-kapal di zaman Alkitab. Kapal itu dan lautan di sekitarnya sedang terbakar. Saya amat takut; saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
Saya memandang ke kejauhan dan melihat sebuah pulau hijau yang indah. Kemudian saya melihat bahawa keluarga saya sedang berdiri di pulau itu, dan isteri saya sedang menggendong putra bungsu kami. Mereka memberi isyarat agar saya bergabung dengan mereka . Tetapi saya berfikir, bagaimana saya dapat bergabung dengan mereka. Lautan sedang terbakar, kapalnya sedang terbakar, dan tidak ada jalan agar saya dapat mencapai mereka.

Kemudian tiba-tiba saya mendengar sebuah suara berkata, “Carilah maka kamu akan menemukan, mintalah maka kamu akan menerima, dan ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu” Saya memandang ke arah pulau itu, dari mana suara itu berasal, dan di belakang keluarga saya ada satu sosok putih yang indah. Saya tidak dapat melihat wajahNya, tetapi saya tahu bahawa itu adalah Tuhan Yesus. Dia berdiri di belakang mereka, merangkulkan tanganNya pada mereka. Rasa takut saya hilang, dan saya melihat diri saya pergi melalui laut yang terbakar itu. Begitu saya tiba, saya mulai menangis seperti seorang bayi. Doa berakhir pada saat itu.
Saya menangis selama 30 atau 40 minit setelah itu. Isteri saya beberapa kali menanyakan apa yang saya lihat, dan saya menceritakan penglihatan itu kepadanya. Dia bertanya, “Menurutmu apa yang ingin disampaikan Tuhan kepadamu?” Saya berkata, “Kita akan pergi ke San Francisco. Kita perlu pergi dan aku perlu dibaptis untuk pengampunan dosaku.”

Karunia Roh Kudus

Jadi kami pergi ke Califonia untuk menghadiri kebaktian kebangunan rohani. Saya sebelumnya tidak pernah mengalami begitu banyak orang yang berdoa dalam bahasa lidah dengan begitu banyak sukacita dan begitu banyak air mata tercurah, seperti yang saya alami dalam doa pagi petama kebaktian kebangunan rohani itu. Hal itu sangat menghibur saya. Saya benar-benar dapat merasakan Roh Kudus bekerja, bukan hanya di antara jemaat, tetapi juga dalam diri saya. Saya dapat merasakan diri saya digerakkan oleh Roh Kudus.

Putri saya, saat itu berusia 13 tahun, menerima Roh Kudus waktu doa pagi itu. Ketika Saya melihat wajahnya dan betapa berseri-serinya dia, dan ketika saya mendengar kesaksiannya tentang betapa bahagia dan sukacitanya dia, saya membuat sebuah tekad bahawa hal ini adalah sesuatu yang harus saya alami sendiri.

Jadi waktu doa berikutnya, di penghujung sore, saya datang ke baris terdepan untuk berdoa. Begitu berdia, saya berusaha untuk berkonsentrasi pada Tuhan Yesus di kayu salib dan pada semua penderitaan yang Ia tanggung untuk saya. Saya memikirkan semua dosa yang telah saya perbuat dalam hidup saya, dan merendahkan diri di hadapanNya untuk memohon pengampunan dariNya.
Pendeta datang untuk menumpangkan tangan pada saya waktu berdoa. Begitu tangannya hampir menyentuh kepala saya, hawa panas dari tangannya mulai meresap ke dalam hati saya. Saya mulai berkeringat, dan suatu cahaya putih yang mulia bersinar melalui sisi kanan kepala saya dan turun ke dalam hati saya. Ketika cahaya itu keluar lagi, segala masalah, kesedihan, dan keputuasaan saya ikut dibawa keluar.

Saya mulai menangis dan berkata-kata dalam bahasa lidah yang tidak dapat dimengerti. Lidah saya mulai berputar, dan saya tahu bahawa Roh Kudus memenuhi saya. Saya tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Saya memuji Tuhan dan sangat berterimakasih atas karunia Roh KudusNya yang begitu berharga.

Dari hamba menjadi teman

Selama hari-hari terakhir minggu itu sebelum saya dibaptism setan mulai bekerja dengan hebat untuk mencegah saya melakukan apa yang saya tahu adalah kehendak Tuhan. Saya mulai mengalami sakit kepala yang paling parah dan memuakkan setiap hari. Ada saat-saat saya tidak dapat tidur dan bahkan tidak dapat membuka mata. Bersyukur pada Tuhan, isteri saya menyedari apa yang sedang terjadi. Dengan lembut, tapi tegas, dia membujuk saya pergi ke aula untuk mengikuti pelajaran. Secara berangsur-angsur, setelah 3 hari, sakit kepala saya hilang dan dengan bantuan Allah peperangan melawan setan itu dapat dimenangkan.
Putra saya dan saya dibaptis pada tanggal 5 Jun 1985 di Lautan Pasifik, dan sejak saat itu hidup kami dipenuhi dengan berkat-berkat yang tidak henti. Kami juga mengalami pencobaan dan kesengsaraanm tapi kami tahu bahawa Tuhan Yesus ada bersama kami, dan Dia membimbing kami dalam setiap langkah kehidupan kami. Melalui Dia, semua dosa kami telah dihapuskan, kehidupan kekal kami ada dalam tanganNya, dan suatu hari nanti kami akan bersama dengan Dia di Syurga.

Sungguh merupakan berkat dan sukacita yang besar untuk mengetahui bahawa Tuhan telah memanggil saya dari dunia untuk menjadi temanNya. Dalam Yohanes. 15:15-16, Tuhan Yesus berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hambam sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, kerana Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang Kudengar dari BapaKu. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”.

Saya memuji dan amat bersyukur kepada Tuhan Yesus atas anugerah kasihNya yang begitu indah. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi namaNya yang kudus!

Richard Solgot- Tampa, Florida, USA

16.9 Diubah oleh Roh

Dalam pergumulan antara baik dan jahat, saya sedari bahawa dengan doa dan kasih karunia Tuhan, kita dapat menang melawan dunia. Saya sungguh-sungguh berterima kasih kepada Allah atas peryertaanNya di dalam kehidupan saya. Dia telah membuka mata saya pada jalanNya yang ajaib. Saya ingin membagikan kesaksian saya untuk membantu orang lain mengatasi pergumulan mereka antara baik dan jahat.

Melawan dosa tanpa kekuatan rohani

Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya berkata pada diri sendiri untuk berkebaktian, walaupun saya merasa tidak menyukainya. Saya membaca Alkitab dan terbitan-terbitan gereja lain. Saya seringkali merenungkan tentang Allah dan memohon agar Ia mengampuni dosa-dosa saya dan memberikan lebih banyak iman.
Melalui masa-masa ini, saya menyedari betapa lemah rohani saya dan saya selalu melakukan dosa ke manapun saya pergi bersama dengan sekelompok teman-teman saya yang tidak percaya. Walaupun saya menolak cobaan dan tidak pergi bersama mereka, saya tahu iman saya lemah.

Pada suatu malam, saya akhirnya terjatuh dan saya pergi bersama teman-teman itu, tetapi bersyukur kepada Tuhan, Ia menghindari saya dari dosa terhadapNya. Saat saya kembali ke rumah pada dini hari, saya merasakan kekosongan yang luar biasa. Saat saya keluar dari mobil dan hendak membuka pintu rumah, sebagian diri saya merasa enggan masuk. Entah kerana apa, saya merasa terdorong untuk pergi ke gereja.

Saat saya tiba di gereja, saya naik ke lantai dua, di atas aula. Saat saya duduk di sana, saya merenungkan semua dosa-dosa yang telah saya lakukan dalam kehidupan ini.

Dikuatkan oleh kasih seorang saudari

Beberapa jam kemudian, saat saya masih merenungkan dosa-dosa saya, saya mendengar suara orang berdoa di aula. Saya menengok untuk mengetahui siapa dia, dan saya melihat seorang saudari sedang berdoa. Dahulu, ia pernah mendorong saya untuk berdoa memohon Roh Kudus. Ia bahkan menawarkan diri untuk berdoa bersama saya, dan berkata bahawa ia datang ke gereja jam 8 pagi setiap hari untuk berdoa. Saya menjawab bahawa saya mungkin akan ikut berdoa, tetapi saya sebenarnya tidak pernah meniatkan hal itu.

Saat saya melihatnya berdoa, merasa malu kerana tidak bergabung dengannya dalam doa. Saya tahu bahawa ia mungkin melihat mobil saya di lapangan parkir gereja, dan berharap saya ikut berdoa. Jadi saya turun dan berdoa bersamanya. Saat saya berlutut, saya menangis. Saya meratapi segala dosa saya dan memohon agar Tuhan mengampuni saya. Saya menetapkan hati untuk tetap diam di gereja hari itu sampai saya menerima Roh Kudus. Tetapi ketika menyedari bahawa aka nada katekisasi pagi itu, saya pulang ke rumah pada jam 10.

Kira-kira tengah hari, sebelum saya pergi tidur, saya terdorong untuk menuliskan segala kelemahan yang ingin saya tinggalkan. Saya merasakan keinginan yang menyala-nyala untuk mengubah diri saya, sehingga saya menuliskan kelemahan-kelemahan saya: KEANGKUHAN, EGOISME, KETIDAKBAIKAN, KETIDAKSABARAN, KEMALASAN.

Saat berbaring di tempat tidur, saya memikirkan betapa saya harus mempunyai lebih banyak damai sejahtera dan kasih kepada sesama jemaat. Tiba-tiba saya merasakan desakan luar biasa untuk bangun dan berdoa. Kerana alasan-alasan yang tidak dapat saya jelaskan, tiba-tiba saya merasakan kebutuhan yang amat sangat akan Tuhan, sehingga saya bangun dan mulai berdoa. Begitu saya berlutut, saya menangis bercucuran air mata. Saya merasakan kepedihan yang mendalam saat saya memikitkan hidup saya yang penuh dengan dosa. Saya bukan orang yang mudah menangis, tetapi saat itu saya menangis seperti anak kecil.

Menerima Roh Kudus

Dalam doa itu, saya mengucapkan “Haleluya” semakin kencang dan saya mulai kuatir apabila saya mengganggu tetangga-tetangga saya. Pada saat itu juga, saya mulai memikirkan Raja Daud. Walaupun ia adalah seorang raja, Daud tidak malu-malu menyanyikan pujian kepada Allah di depan semua orang. Walaupun ia nampak bodoh di mata banyak orang, ia merendahkan dirinya di hadapan Allah dan tidak memikirkan apa yang akan dikatakan orang tentang dirinya.

Pada saat itu juga saya menyedari bahawa saya terlalu menguatirkan apa yang akan orang fikirkan tentang diri saya. Yang sesungguhnya lebih penting adalah apa yang Allah fikirkan tentang diri saya. Jadi saya memutuskan untuk mengabaikan pandangan orang, dan mencari Allah dengan sungguh-sungguh dalam doa. Begitu saya mengabaikan pandangan orang dan memusatkan diri pada Allah, tangan saya mulai bergetar dan lengan saya bergoncang. Tetapi saya merasa ragu apakah ini adalah Roh Kudus. Saya berfikir, mengapa Tuhan masih mengasihi dan mengampuni saya, orang berdosa ini?

Setiap kali saya merasa ragu, gerakan Roh Kudus mereda dan saya memohon kepada Allah untuk memberikan lebih banyak iman dan kekuatan agar tidak meragukan Dia. Saya merasa seperti ada di dalam peperangan rohani. Saat saya bergumul dalam iman, saya juga memohon agar Tuhan menolong dan mengampuni saya, orang berdoa ini?

Dalam doa itu, saya merasakan bahawa saya bukanlah apa-apa, dan heran mengapa dahulu saya menyombongkan diri. Saya seringkali menganggap kesombongan itu hal yang diperbolehkan selama tidak diperlihatkan. Sekarang saya mengerti bahawa Allah tidak menyukai segala bentuk kesombongan dalam hati kita.

Saya harus sujud dan menyembah Allah dengan muka menyentuh tanah kerana saya tidak dapat menghadapNya secara langsung. Saya dipenuhi sukacita yang begitu berlimpah kerana Allah masih mengasihi orang berdosa seperti saya. Saya memohon agar Allah tetap mengingatkan saya atas kesalahan-kesalahan saya, dan agar saya tetap ingat akan kasih karuniaNya yang luar biasa.
Saya tidak menjelaskannya, tetapi saya sungguh-sungguh memahami sepenuhnya tinggi, luas dan dalamnya kasih Allah. Betapa lebat dan ajaib Tuhan kita! Di masa lalu, saya seringkali mendengarkan firman di dalam Alkitab, tetapi saya tidak pernah merasa sepenuhnya memahaminya, sampai saya mengalamiNya sendiri. Ia membuka mata rohani saya, dan banyak hal dalam Alkitab tiba-tiba dapat saya fahami dan nampak hidup. Sekarang nampak jelas bagi saya, bahawa tidak ada hal apa pun di dunia ini yang lebih penting daripada Allah.

Kuasa doa

Saya sungguh merasakan bahawa setiap doa kepada Allah, setiap kita merenungkan Dia, dan setiap kata “Haleluya” bererti. Selama kita berjuang, Ia akan melihat hati kita dan menolong kita melalui hari-hari kegelapan kita. Mendekatlah kepada Allah dan Ia akan mendekat kepada kita.

Sebelum saya menerima Roh Kudus, saya telah mencoba berbulan-bulan untuk menjadi orang yang baik. Tetapi di titik terendah dalam hidup rohani saya, saya merasakan Tuhan mengangkat diri saya.

Saya seringkali memikirkan investasi saham saya, ingin mengendarai mobil mewah, dan menikah. Ketika saya menerima Roh Kudus, segala hal di dunia ini tidak lagi penting dibandingkan Roh Kudus.

Apa yang ingin saya lakukan sekarang adalah untuk bersandar kepada kehendak Allah. Saya tahu ini senantiasa akan menjadi sebuah pergumulan, kerana ada pertempuran rohani di dalam diri kita. Saya memohon agar Allah senantiasa melindungi saya untuk tidak kembali ke dalam kehidupan saya yang lama, dan mengingatkan saya akan belas kasihan dan karuniaNya yang ajaib.
Melalui pengalaman ini, saya berharap untuk dapat mendorong anda bahawa mengalami Tuhan di dalam doa akan mengangkat anda secara rohani dalam perjalanan iman anda. Ia akan mengangkat anda dan memperbarui iman anda kepadaNya. Kiranya segala puji dan hormat dipersembahkan kepada Allah yang penuh kasih dan penuh belas kasihan. Amin.

Benjamin Yang- Irvine, California, USA

16.10 Aku akan pergi satu kali lagi

Teman baru

Pada musim gugur 1999, saya meninggalkan Taiwan menuju San Francisco untuk melanjutkan pendidikan. Di salah satu laboratorium computer sekolah, saya berteman dengan seseorang yang bekerja si sana, dan ketika dia tahu bahawa saya baru saja tiba di Amerika Syarikat, dengan rumah dia menawarkan bantuan.

Saya mengira bahawa dia begitu bersemangat memperhatikan saya kerana dia menyukai saya. Tapi herannya, saya kemudian menyedari bahawa dia juga suka menolong orang lain. Perilakunya membingungkan saya.

Kerana dibesarkan di kota besar; saya diajar untuk curiga pada orang dan terbiasa untuk berbohong demi kebaikan. Juga, kerana bekerja sebagai wartawan untuk sebuah majalah, saya sudah bertemu dengan banyak orang sukses dan dari pengalaman-pengalaman mereka, saya cepat belajar tentang sisi buruk masyarakat.

Jadi saya tidak berharap akan bertmeu dengan orang selugu teman saya. Saya memutuskan bahawa dia pasti menjalani kehidupan yang sengsara. Tetapi setelah secukup lama memperhatikan dirinya, saya dapat melihat ternyata dia hidup dengan sangat bahagia. Dan setiap kali sesuatu yang baik terjadi, dia akan mengucap syukur kepada Tuhan.

Saya yakin bahawa orang harus bekerja keras dengan mengandalkan diri sendiri dan tidak bersandar kepada Tuhan. Lagipula, apakah Tuhan sungguh-sungguh ada? Saya sudah pergi ke berbagai lembaga keagamaan yang berbeda dan tidak pernah merasakan adalah Tuhan.

Perjumpaan pertama

Saya masih ingat saat itu hari jumaat malam ketika saya pergi ke gereja bersama teman ini.
Pengkhotbah menyebutkan banyak mujizat untuk membuktikan keberadaan Tuhan tetapi saya tidak terlalu memikirkan khotbah tersebut. Sebaliknya, saya ingin bertanya apakah dia dapat membuktikan bahawa mujizat-mujizat ini berasal dari kekuatan sepranatural.

Pengkhotbah melanjutkan, “setiap orang telah berdosa. Kita harus mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan, berdoa memohon Roh Kudus, dan kelak kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Syurga. Pada waktu seseorang menerima Roh Kudus, dia akan berbicara dalam bahawa yang tidak dikenal.”

Saat itu, saya menyedari bahawa saya mungkin sudah melangkah ke dalam semacam pemujaan.
Ketika khotbah berakhir, pengkhotbah mengundang setiap orang maju ke depan mimbar untuk berdoa. Dia berkata, “Yang sakit atau yang ingin memohon Roh Kudus dapat maju ke depan, dan para hamba Tuhan akan membantu menumpangkan tangan. Kalau anda berdoa kepadaNya dengan suara yang keras, Tuhan akan mengabulkan permohonan anda.” Melihat semua orang berdiri dan maju ke depan, saya menguatkan hati dan maju juga.

Kami berlutut dan waktu semua orang mulai berdoa, saya langsung mengerti apa maksudnya waktu pengkhotbah meminta jemaat berdoa dengan suara keras. Saya dikejutkan oleh suara doa dalam bahasa lidah, dan ketakutan saya bahawa saya sudah pergi ke gereja yang salah pun semakin terbukti.

Saya terus-menerus berfikir, “Kenapa doanya selesai?” Kerana seumur hidup belum pernah berlutut sealam ini, saya berkeingat dan merasa hampir pingsan. Maka saya berdoa kepada Tuhan, “Tolong hentikanlah doa ini segera. Aku tidak ingin pengsan dan menanggung malu.”

Syukur kepada Tuhan, saya rasa ini adalah mujizat pertama saya, yaitu saya berlutut selama 30 minit dan tidak pengsan. Tapi di dalam hati saya bersumpat bahawa saya tidak akan pernah pergi ke sana lagi.
“Kau harus mengalami iman”.

Setelah itu, teman saya berkata,”Kau harus mengalami iman”. Saya menjawab, “Bagaimana caramu mengalami iman?” Katanya, “Kalau kau menerima Roh Kudus, kau akan tahu bahawa Tuhan ada, dan banyak pertanyanmu akan terjawab.”
Lalu dengan yakin dia berkata, “Alkitab berjanji kepada kita: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu. Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Asal kau mahu berdoa, Tuhan pasti akan memberimu Roh Kudus.”
`saya masih sangat meragukan keberasaan Roh Kudus. Saya fikir biasanya orang mencari Tuhan di waktu ingin disembuhkan dari penyakit atau waktu mengalami kesulitan hidup.

Saya sangat puas dengan kehidupan saya dan tidak dapat menemukan satu hal yang perlu saya minta dari Tuhan. Saya tidak merasa telah melakukan dosa apa pun yang perlu dimintakan ampunan dari Tuhan. Sepanjang pengetahuan, saya tidak membutuhkan pengampunan Tuham, dan tidak punya satu pun alasan untuk percaya kepadaNya.

Mujizat saya sendiri

Meskipun saya terus mempertanyakan agamanya, teman saya tidak pernah putus asa mengajak saya ikut kebaktian. Jadi, saya memberitahunya, “Aku akan pergi satu kali lagi. Tapi kalau aku tidak merasakan adanya Tuhan, tolong jangan cuba-cuba lagi meyakinkanku bahawa Tuhan ada atau memintaku pergi ke gereja.”
Saya pergi ke gereja lagi pada hari Sabat. Waktu saya berlutut berdoa dan berkata, “Haleluya! Puji Tuhan”, tangan saya mulai bergetar sedikit.

Sekarang saya merasa ingin tahu.
Untuk memastikan bahawa saya tidak menggerakkan tangan saya sendiri, saya memutuskan untuk pergi ke gereja pada minggu berikutnya.

Pada hari Sabat pagi berikutnya, saya bangun dengan perasaan bahawa hari ini saya akan menerima Roh Kudus. Dan seorang saudara membawakan khotbah pagi yang amat menyentuh dan menggugah perasaan saya.

Yang lebih ajaib adalah saya dapat langsung membuka Alkitab untuk mencari ayat yang dia sebut. Bahkan saudari yang menolong saya membuka Alkitab bertanya, “Apakah anda orang Kristian? Itukah sebabnya anda begitu terbiasa dengan Alkitab?”
Saya belum pernah membaca Alkitab. Ketika khotbah berakhir, saya merasakan desakan untuk berdoa. Jadi teman saya menyarankan, “Sebelum makan siang ada sesi doa selama 30 minit di kapel” Saya memutuskan untuk ikut sesi doa.

Saya berlutut di pojok yang tidak ditempati satu orang pun dan berdoa, berkata, “Haleluya! Puji Tuhan!” Tangan saya mulai bergetar sedikit seperti waktu itu. Saya berfikir, “Kalau Tuhan ada, biarlah aku merasakan Dia dan memberiku Roh Kudus.”

Waktu berfikir begitu, saya merasakan seberkas cahaya menyinari saya dari belakang seperti arus hangat. Tangan saya bergetar lebih kencang, dan saya mulai berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal.

Pada saat itulah saya merasakan suatu yang indah memasuki hati saya: kesejahteraan saya dan berkat-berkat dalam kehidupan saya bukanlah berasal dari keberuntungan ataupun ketekunan saya sendiritetapi dari anugerah Tuhan yang Dia berikan kepada saya dengan cuma-cuma.

Dalam doa, saya memikirkan hubungan saya dengan orang lain. Saya menyedari bahawa saya sering mengalami pertentangan kepentingan dengan orang lain, dan saya harus berjuang untuk mengasihi dan membantu mereka. Tuhan telah membuka mata saya untuk melihat betapa seringnya kepentingan saya sendiri lebih diutamakan daripada kepentingan orang lain.

Semakin khusuk saya berdoa, semakin saya menyedari bahawa saya adalah orang yang berdosa sama seperti semua orang lain. Akhirnya jelaslah bagi saya bahawa Tuhan sungguh-sungguh ada di dunia ini. Dia mengetahui kebimbangan saya. Hanya Dialah yang dapat merendahkan hati saya dan dalam sekejap, menunjukkan betapa tidak berertinya diri saya dan betapa saya perlu mengetahui dosa-dosa saya sendiri.

Tuhan membuka hati saya untuk memahami bahawa dosa bukanlah ditetapkan oleh standar modal ataupun hukum manusiu. Jika saya bukan milik Tuhan, saya adalah budak dosa dunia ini. Dan hanya melalui Yesus Kristuslah dosa-dosa saya dapat diampuni dan dibersihkan.

Pada saat yang sama, Tuhan mengizinkan saya untuk memahmi satu pelajaran yang jauh lebih besar daripada dosa- kasihNya kepada saya.

Saya menjadi milikNya

Ketika saya menyedari bahawa Tuhan telah mengubah hati saya, air mata saya mulai mengalir tak terbendung, tetapi sukacita dalam hati saya tidaklah serupa dengan apa pun yang pernah saya alami sebelumnya.
Saya merasa seperti domba sesat yang telah menemukan jalan pulang. Ketika lonceng untuk mengakhiri doa berbunyi, saya baru sedar bahawa saya sudah berdoa selama 30 minit. Setelah pengalaman yang ajaib ini, akhirnya saya percaya bahawa inilah gerejaNya, kerana Tuhan tinggal di dalamnya. Puji Tuhan!

Saya pun menjadi milikNya ketika menerima baptisan pada bulan Oktober 2000.
Roh Kudus menguatkan saya sehingga saya mahu menyelidiki Alkitab dengan rela dan aktif. Saya tahu bahawa hanya dengan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatlah saya dapat menerima sukacita dan damai yang benar.

Sebelum percaya kepada Tuhan, saya merasa diri bahagia dan diberkati. Tetapi setelah bertobat, saya benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan kebahagiaan benar. Beriman kepada Tuhan ternyata begitu mencerahkan.

Dia hampir seperti pengawal yang siaga setiap saat dan psikiater yang memperhatikan masalah-masalah sayan tanpa meminta bayaran. Yang lebih ajaib lagi adalah saya tidak perlu mengatakan apa pun. Tuhan sudah mengetahui apa yang saya butuhkan melalui doa-doa saya dan Dia menghibur saya dengan Roh Kudus.

Sering, saya mendapati bahawa apa yang Tuhan berikan jauh melampaui dan jauh lebih banyak dari apa yang saya doakan.
Seberapa mampukah manusia? Dapatkah kita benar-benar mengendalikan hidup kita? Saya tidak pernah membayangkan bahawa suatu hari saya akan bersaksi bagi Tuhan. Kita tidak boleh menarik kesimpulan mentah tentang hal-hal yang tidak kita fahami.

Tuhan ada di dalam dunia ini. Melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam hati, kita dapat merasakan kehadiranNya, asalkan kita memberi diri kita kesempatan untuk menerima dan percaya kepadaNya.
Kiranya segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Bapa Syurgawi kita. Amin.

Iris Chiang- Garden Grove, California, USA

16.11 Tuhan membukan jalan bagiku

Masa kecilku

Kedua orang tua saya berasal dari Kurahashi, sebuah pulau kecil di daratan Seto, perairan Laut Hiroshima.
Selama perang Dunia ke-2, ayah saya ditugaskan ke Singapura, dan kembali ke Jepun dengan beberapa luka. Ibu saya berkata ia mendengar dan menyaksikan sendiri ledakan bom atom di Hiroshima. Paman saya meninggal dunia kerana pemboman tersebut. Semua ini terjadi sebelum saya dilahirkan.

Kerana hidupa di Hiroshima begitu sulit, ayah saya mengikuti program pengelolaan pertanian dan kami pun pindah ke Jumonji, sebuah tempat di Kyushu. Di sinilah saya dan saudara laki-laki saya dilahirkan, yaitu pada tahun 1951 dan 1953
Kehidupan penduduk di sana sangat sederhanam bahkan tanpa fasilitas seperti listrik. Ketika saya berumur 3 tahun, Jumonji menjadi pangkalan latihan tentera Amerika, maka kami pindah kembali ke Hiroshima, tempat saya tumbuh dan menetap hingga tamat sekolah menengah atas. Setelah saya lulus dari Institut di Osaka, saya bekerja selama 5 tahun, dan pada tahun 1980 saya bergabung dengan Tim sukarelawan Jepun.

Salama pelatihan,saya pergi ke Kuil Zen, namun saya tidak mengerti pengertian Zen tentang penyengkalan diri dan rasanya dengan mengendalkan kekuatan saya sendiri saya tak akan pernah mengerti konsep tersebut.

Mengenal agama-agama lain

Dalam suatu penugasan, saya dikirim ke Filipina, di mana agama yang dominan di sana adalah Katolik. Kerana ingin tahu, saya beberapa kali pergi ke gereja, namun tidak pernah terpanggil untuk percaya. Saya merasa kepercayaan gereja-gereja di sana lebih menekankan tradisi gereja daripada Alkitab.

Setelah saya meninggalkan Filipina, saya pergi ke Indonesia. Saya pergi ke tempat ibadah agama mayoritas di sana dan menyenmbah Allah. Saat itu, saya merasa saya tidak cocok mempunyai hubungan dengan agama.

Saya pernah mengirim surat elektronik tentang Alkitab ke seorang teman yang telah saya kenal lebih dari 20 tahun. Dia berkata, “Tidak perlu berbicara tentang Alkitab. Saya adalah seorang Kristian, dan juga seorang penganut Budha.” Saya berpendapat sama seperti dia: Saya fikir dunia di hadapan saya adalah segalanya. Namun bersyukur pada Tuhan, Ia memelihara saya terlepas dari ketidakpedulian saya.

Ketika saya tinggal di Taiwan, beberapa kali saya mengunjungi Gereja Yesus Benar. Saya merasa, gereja ini berbeda dengan gereja-gereja Katolik, Islam dan gereja Kristian lainnya yang pernah saya kunjungi. Perasaan yang ada sulit dilukiskan dengan kata-kata bahkan sampai sekarang perasaan itu masih sama.

Saya berkata pada diri saya, “Bila saya ingin masuk ke suatu gereja, biarlah saya masuk ke Gereja Yesus Benar” Sulit untuk menerangkannya, tapi ada suatu perasaan dekat dengan Tuhan di gereja ini. Namun, tidak lama kemudian saya kembali ke kehidupan duniawi saya dan lupa akan kehadiran Tuhan.
Saya punya kebiasaan minum-minum dan seringkali sulit menghentikan kebiasaan itu. Walaupun saya akan menyesalinya besok, namun saya tidak dapat menghentikannya. Rasanya seperti jatuh ke dalam kubangan dan tidak boleh keluar lagi.
Hidup seperti tenggelam dalam lingkaran setan, sampai saya menghadapi bencana di kemudian hari.

Tuhan adalah tempat perlindungan

Pada hari yang sama saat perusahaan saya bangkrut, putra saya mengalami kecelakaan. Segalanya terjadi begitu mendadak sehingga saya menjadi takut. Saya tidak tahu harus bagaimana. Saat itulah saya meninggalkan konsep dunia dan dengan tegas kembali ke Gereja Yesus Benar.

Sejujurnya saat itu saya tidak mempunyai pilihan lain selain pergi ke gereja. Saya mulai mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya sungguh-sungguh merasakan bahawa Tuhan adalah tempat perlindungan kita. Ketika saya di Taiwan, saya merasakan kasih dan kehangatan Tuhan melalui rangkulan kasih saudara-saudari seiman. Air mata kerap membasihi wajah saya setiap kali saya menyanyikan lagu pujian atau saat berdoa kepada Tuhan. Saya tidak tahu seseorang dapat mengeluarkan begitu banyak air mata. Sepertinya air mata ini mencuci semua kekejian saya di masa lalu sehingga saya dapat merasakan kedamaian yang dalam di hati saya.

Kerana saya tidak memiliki wang untuk memberikan anak-anak saya buku pelajaran, seragam sekolah, atau kebutuhan hidup lainnya, maka kami tinggal dengan adik ipar saya. Meskipun keadaannya demikian, hati saya damai kerana saya hidup dengan bersandar pada Firman Tuhan (Mat. 6:25). Beberapa orang memiliki segalanya di dunia ini, seperti status dan kekayaan, tapi ingin mengakhiri hidupnya sendiri kerana mereka tidak memiliki harapan ataupun kekuatan untuk terus hidup. Bagi mereka, segala sesuatunya adalah sia-sia, kerana mereka tidak mengenal firmanNya.
Seperti Raja Salomo berkata di kitab Pengkhotbah, dunia adalah kesia-siaan tanpa pengenalan akan Firman Allah. Yang patut disyukuri adalah bahawa firmanNya adalah roti hidup bagi kita. Berjalan denganNya, kita tidak pernah perlu mengetahui bahawa bagaimana rasanya tidak dapat menjalani hidup. Saya bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati untuk segala anugerahNya.

Mengalami Dia

Mungkin sulit sekali untuk seseorang yang tidak beragama dapat mengerti bahawa iman dikuatkan oleh pengalaman hidup. Namun saya sungguh percaya adanya dunia spiritual kerana pengalaman saya dengan Roh Kudus.

Saya ingat pertama kali saya datang ke Gereja Yesus Benar, saya berfikir cara mereka berdoa sungguh lucu dan aneh. Kerana saat itu saya belum menerima Roh Kudus, saya berdoa dengan bahasa akal, “Halleluya, puji Tuhan.”
Suatu kali ketika saya sedang tidur, saya bermimpi melihat suatu cahaya yang sangat terang muncul dan mengelilingi seluruh tubuh saya. Saya merasa seperti melayang di udara, dan penuh sukacita dalam hati. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan perasaan saat itu.

Setelah saya menerima Roh Kudus, saya menyedari bahawa saya tidak lagi sama dengan diri saya yang dulu, dan saya mengambil keputusan untuk dibaptis di Gereja di Osaka. Saya ingin darah Tuhan membasuh dosa saya dan saya dapat meninggalkan diri saya yang lama dan lahir baru secepatnya.

Dalam penerpangan ke Osaka, saya mendapati diri saya menatap keluar jendela kea rah laut di mana saya akan dibaptis. Saya sangat mengerti, di bawah matahari tidak ada tempat di mana saya dapat bersandar selain pada Yesus sendiri.
Perlindungan Tuhan

Pada awalnya ketika saya dan keluarga pindah dari Taiwan ke Okinawa, saya tidak mempunyai pekerjaan. Tapi bersyukur pada Tuhan, kemudian saya medapatkan pekerjaan. Sayasepenuhnya mempercayakan hidup saya pada Tuhan dan menaikkan ucapan syukur bersama keluarga setiap hari.

Di Okinawa, saya bertemu seorang jemaat gereja yang baru datang dari China untuk belajar di sekolah bahasa Jepun. Kami mengadakan kebaktian Sabat bersama dan saling membantu satu sama lain.

Segalanya adalah perencanaan Tuhan yang cermat, kerana Dia telah menyiapkan jalan bagi kita (Mzm. 139:3). Pada suatu masa ketika anak-anak kami masih kecil, kami tidak mampu memberi makan mereka, namun sungguh ajaib, Allah mengatur orang lain untuk menolong kami.

WaktuNya sungguh tepat. Selain Tuhan, siapa yang dapat membantu kami seperti itu? Pada waktu lain, ketika saya sedang dalam perjalanan ke tempat kerja, saya mengendarai motor dan sampai pada suatu tikungan yang tajam. Penglihatan sangat buruk kerana saat itu hujan deras, dan saya saat menundukkan kepala untuk menghindari hujan, sebuah mobil tiba-tiba muncul.

Saya tidak cukup cepat bereaksi dan kami bertabrakan langsung. Saya mrasa sungguh tak berdaya dan berteriak, “Haleluya!” Saya mendapati diri saya terbaring di tengah jalan dengan motor saya terlempar di tepi jalan. Mengherankan, saya luput dari kecelakaan itu tanpa cedera yang bererti.

Pengemudi mobil juga sangat terkejut dan bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja?” Kemudian dia pun pergi. Walaupun sayalah yang melanggar garis pembatas jalan dan menabrak mobilnya, dia tidak pernah mempermasalahkannya ataupun meminta ganti rugi kerosakan kenderaannya.

Ketika saya memeriksa diri saya lebih teliti, ternyata kaos kaki saya sobek da nada beberapa goresan ringan. Bahkan sampai hari ini, saya masih sungguh bersyukur kepada Tuhan. Memamng perlindungan Tuhan jauh di luar pengertiaan manusia.

PimpinanNya

Saya mempunyai satu pengalaman lain yang mengherankan ketika Tuhan memimpin seorang pemuda dari China kepada saya. Saya bertemu denganya pada hari minggu di sebuah kantor pos. Dia ingin membeli kartu telepom. Tapi di kantor pos tersebut tidak menjual karta tekepom itu. Dia berbicara kepada saya dalam bahasa Inggris dan saya memjawabnya dengan bahasa mandarin.

Saya melihat dia membawa Alkitab dan saya merasa dia akan mahu ikut bersama dengan kami percaya dalam Tuhan. Segera saja saya mengajaknya ke Ghokusen-do, tempat isteri saya bekerja. Sulit dipercaya waktu itu saya sungguh berani. Saya tidak begitu ingat apa yang hendak saya lakukan waktu itu, namun saya hanya memikirkan satu hal: “Saya harus membawanya menemui isteri saya.”

Isteri saya dengan hangat memperkenalkan kebenaran firman Tuhan kepada pemuda itu. Dalam waktu kemudian dia dibaptis dan menjadi saudaraz seiman dalam Tuhan.

Kerana hanya ada sedikit jemaat di Okinawa, kunjungan saudara-saudari seiman dari gereja lain sungguh menguatkan kami. Juga kunjungan penginjilan mengingatkan kami untuk berinisatid dalam mengejar kebenaran dalam Alkitab.
Bagi saya, kunjungan-kunjungan ini seperti mengisi kembali baterai iman. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan atas pimpinan dan mengizinkan saya mengalami penyertaan dan perlindungan Nya. Amin.

Takehana Reiji- Tokyo, Jepun

16.12 Yesus menjaga milikNya hingga akhir

Pertama kalinya

Perjalanan saya kepada Kristus dimulai ketika saya masih berumur 10 tahun. Seorang teman mengajak ibu, kakak dan saya sendiri ke gerejanya. Si pengkhotbah mengabarkan pesan sederhana: “Terimalah Yesus ke dalam hati anda, dan anda akan masuk ke Syurga; kalau tidak, anda akan masuk ke neraka” Dan kita melakukan apa yang diberitahukan penkhotbah itu- menerima Yesus dan mengucapkan dao sederhana.

Sifat saya dalam pengalaman itu sedikit nakal, tetapi beberapa tahun kemudian saya berusaha untuk memahami Tuhan dan berdoa kepadaNya, dan saya mencoba untuk menjadi orang yang baik. Saya tidak dapat berkata saya sungguh-sungguh merasakan kasih Tuhan pada saat itu. Yang saya ketahui, tugas saya adalah menjadi orang yang baik dan Allah ada di suatu tempat menjadi Allah.

Lalu kenyamanan hidup mulai meninggalkan kami. Saya berkuruk. umur 17 tahun ketika ayah dan saya menghidap infeksi sinus kompleks. Infeksi ini sangat tersembunyi sehingga kami berdua tidak menyedari bahawa perlahan-lahan tingkat gula dalam darah kami naik hingga tingkat yang berbahaya. Saya menjadi tertekan dan nilai-nilai pelajaran saya ambruk. Saya meninggalkan teman-teman baik saya, dan dengan segera terlibat dalam ubat-ubatan terlarang di tempat bermain seberang gereja.
Infeksi ini menjangkiti saya selama beberapa tahun dan kehidupan saya terus semakin terpuruk. Saya telah kehilangan apa pun yang saya ketahui tentang Tuhan. Saya terpisah dari keluarga dan mempunyai anak luar nikah. Pada akhirnya ubat untuk infeksi sinus saya ditemukan, dan walaupun saya masih menderita dari kerusakan permanen yang diakibatkan infeksi, tingkat gula darah saya kembali normal dan saya kembali lagi sihat.

Tidak lama berselang, pendeta saya yang dahulu mengajak saya kembali ke gerejanya. Saya pergi, dan ajaibnya, saya bertobat dengan penuh penyesalan kerana telah meninggalkan iman.

Saya mulai mengejar Tuhan dengan tekad yang tinggi. Saya sekarang telah diberikan kesempatan hidup keduakalinya, dan sungguh-sungguh bersyukur. Saya menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari membaca Alkitab, dan Roh Allah menjadikan

FirmanNya hidup di dalam hati saya.
Hati dan jiwa saya nampaknya memusatkan perhatian pada ajaran Yesus untuk memberi. Lebih lagi, teman baik saya yang menjadi orang tua asuh beberapa puluh anak-anak di beberapa negara asing, senantiasa mengajarkan saya untuk terus memberi. Jadi saya menyakini bahawa beramal kepada orang-orang miskin akan menjadi cara saya untuk membalas kasih Tuhan, dan saya rindu membagikan harta kekayaan saya bagi mereka.

Dengan cara saya sendiri

Saya tidak pernah mendengar karunia rohani sebelumnya, tetapi pada suatu hari saya mengikuti sebuah kelompok Kristian yang semuanya berdoa dalam bahasa roh. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi saya mengingat pendeta berkata bahawa ia mempunyai Sembilan karunia rohani.

Saya didorong ke depan oleh beberapa orang. Dengan segera, si pendeta mendekati saya dan menaruh tangannya ke perut sayam dan berdoa bagi saya. “Apa yang dia lakukan?” Fikir saya. Pada saat itu, perut saya nampak menonjol kerana efek samping penyakit saya. Namun yang penting, banyak orang maju ke depan dan mendoakan saya. Saya merasakan kekuatan hebat ini datang meliputi saya.

Saya dipenuhi dengan kasih yang berkelimpahan, sehingga sulit dijelaskan selain berkata bahawa saya tenggelam dalam kasih Tuhan. Selama 3 hari saya berjalan-jalan dengan berkata, “Tuhan memberkatimu” kepada setiap orang. Saya belum pernah merasakan kasih Tuhan seperti ini sebelumnya, dan saya ingin membagikannya dengan semua orang. Yang saya fikirkan hanyalah betapa Tuhan mengasihi saya. Perut saya sepenuhnya sembuh dalam waktu beberapa hari- hampir-hampir sebagai bonus saja.

Saya menyedari bahawa Allah sungguh nyata dan melakukan mujizat, dan saya telah banyak melihatnya, dan saya mulai menyakini bahawa tujuan saya sebagai Kristian adalah untuk percaya kepada firman Yesus dengan iman, dan melihat mujizat-mujizatNya terjadi.

Lalu iman saya mengalami tentangan. Infeksi sinus telah mengalami kerosakan permanen, dan saya sering mengalami sensasi remuk yang mengerikan. Saya sedang jatuh cinta dan ingin menikah, tetapi saya tidak mahu menikah dengan keadaan kesihatan yang buruk. Jadi saya mulai berdoa kepada Tuhan dan mengucapkan ayat-ayat Alkitab berulang-ulang. Saya berpuasa selama beberapa bulan- 2 atau 3 hari seminggu. Saya melanjutkan tahun berikutnya,dan tahun berikutnya. Tetapi tidak ada yang terjadi.
Hubungan saya dengan Tuhan menjadi kering, walaupun saya terus beribadah. Saya mengangkat tangan di gereja walaupun orang lain tidak melakukannya, tetapi saya sendiri mempertanyakan keadaan rohani saya.
Doa-doa saya menjadi tambah pasrah kerana saya merasa Tuhan tidak mendengarkan saya. Dan akhirnya, di satu malam, di tengah kesakitan yang luas biasa, saya menyerah dan tidak pernah lagi meminta apa pun juga kepada Tuhan.

Melalui RohNya

Lalu saya bertemu dengan seorang gadis yang saya ketahui beribadah di gereja bernama Gereja Yesus Benar. Awalnya saya melihat nama gereja itu keren. Gadis itu tidak pernah datang ke acara PA, jadi saya dengan berani mengadakanya di kantor kami, untuk Tuhan yang nampaknya tidak saya kenal. Tetapi ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Ia mempunyai rasa sukacita, damai dan keyakinan yang tidak saya miliki. Nampaknya ia mempunyai kepastian dalam iman yang ada dengan sendirinya.

Jadi saya berkaya kepadanya, saya ingin pergi ke gerejanya. Kunjungan saya ke Gereja Yesus Benar pada saat itu bertepatan dengan kebaktian khusus.

Saya sungguh menyukai gereja ini, dan semua orang berdoa dalam bahasa roh. Saya menyukai berdoa dalam bahasa roh di gereja saya yang dahulu, tetapi bahasa roh saya berbeda.

Sebelum saya datang ke GYB, saya mengira saya telah mengenal Tuhan. Ya, memberi kepada orang miskin, fikir saya, dan berbahasa roh. Dan pada saat yang sama, saya telah memberi kepada orang-orang miskin dari apa yang saya miliki, tetapi saya tidak merasakan apa-apa. Apa yang terjadi? Bukankah ini mestinya menjadi sebuah tingkat tertinggi dalam pengalaman Kristiani saya?

“Dan sekalipun saya membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku” (I Kor. 13:3)
Lalu hal-hal mulai berubah. Di minggu yang sama, di Gereja Yesus Benar diadakan KKR. Pada saat berdoa, saya bertanya-tanya kenapa mereka berhenti berdoa, kerana mulut saya mulai terasa letih. Saya berhenti berdoa dan ingin meninggalkan barisan depan, tetapi saya malah didorong untuk terus berdoa dalam bahasa roh! Saya ingin melakukannya, tetapi saya sudah lelah.

“Berdoa dalam bahasa roh”

Di depan aula itu lalu saya mengucapkan doa singkat di dalam hati. “Roh Kudus, tolonglah saya” Belum selesai saya mengucapkannya, sebuah tekanan melalui tubuh saya. Lidah saya mulai berputar-putar secepat kipas angin, dan tubuh saya bergoncang dan bergetar. Bahasa roh yang saya ucapkan sungguh berbeda dengan yang biasa saya lakukan, dan bukan saya yang mengucapkannya!

Saya pulang ke rumah dan mencoba berdoa sendirian. Apa yang terjadi, fikir saya. Bukankah saya sudah mempunyai Roh Kudus? Tetapi saya tidak dapat berhenti berdoa dalam Roh. Sukacita dan rasa damai dalam doa itu sungguh menyejukkan hati saya. Tidak lama, saya menangis dalam doa saya, dan menyanyikan nyanyian roh. Saya merasakan kasih Allah yang sungguh dalam.

Jaminan Allah

Saya merasakan hubungan yang dalam dengan Tuhan saat menemukan gerejaNya, dan menyesal telah bersumpah tidak mahu lagi memohon pertolongan Tuhan. Kata-kata sembrono yang telah saya ucapkan di masa lalu menyusahkan nurani saya.
Tetapi suatu hari, saat saya gelisah dengan masalah ini, saya mendengar suara Tuhan berkata, “Aku tidak akan meninggalkanmu” Saya menangis. Juruselamat tetap mengasihi saya. Tentu saja, bukanlah Ia telah memberikan Roh Kudus?

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”” (Rm. 8:15)
Tiba-tiba saya menyedari apa ertinya menjadi orang Kristian. Bukan soal memberi kepada orang-oranf miskin, atau menginjil, atau mengangkat tangan saat beribadah. Tetapi semata-mata mengenai Tuhan, mengenai saya menjadi milikNya. Saya harus menjadi milikNya seperti seorang anak adalah milik BapaNya dan untuk tunduk kepada Nya. Apabila Ia hendal melakukan sesuatu yang baik di dalam hidup saya, saya akan membiarkanNya melakukannya dan menyerahkan segala kemuliaan kepadaNya.

Puji Tuhan, saya dibaptis di Gereja Yesus Benar setahun kemudian. Walaupun sungguh baptisan air merupakan pengalaman paling indah dalam hidup saya, kesaksianNya mencuci bersih dosa-dosa saya, tetapi saya juga merasakan kepastian besar dalam suaraNya, “Aku tidak akan meninggalkanmu” Sekarang saya sungguh-sungguh mengetahui bahawa Yesus akan memelihara milikNya hingga akhir, tidak peduli di manakah mereka, atau dari gereja mana mereka memulai iman mereka, atau bagaimana mereka tersesat mencoba mencari Dia.

“Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganNya. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar daripada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yoh. 10:28-29)

Paulus berkata, “Sebab aku yakin, bahawa baik maut, mahupun hidup, baik malaikat-malaikat, mahupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, mahupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, mahupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:38-39)

Sekarang saya dapat berkata bahawa injil yang sepenuhnya sangat penting untuk mendapatkan keselamatan. Ketika saya berjalan menyeberangi jalan dari gereja pertama yang saya kunjungi, dan saat remaja terlibat dalam ubat-ubatan terlarang, tidak ada orang yang berusaha menghentikan saya. Tidak ada kuasa Allah yang menolong saya untuk mengalahkannya. Dan begitu juga, ketika iman saya meninggalkan kebenaran, tidak ada yang dapat menyelamatkan saya. Saya hanya sekadar mengikuti isi khotbah.

Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memelihara Gereja Yesus Benar dalam iman yang sejati, Sehingga jemaatnya dapat terus memperlajari FirmanNya dan tetap setia hidup di dalam ROh. Gereja ini tidak melangkah menjauhi kebenaran, atau mencoba menyenangkan Tuhan dengan cara-cara manusia. Tuhan telah menjaganya dalam kebenaranNya oleh RohNya dan kasihNya.
Saya berdoa agar kita semua dapat terus di dalam Dia hingga akhir. Amin

Robert Cass- Edmonton, Canada

16.13 Dari belenggu setan kepada Kristus

Merasakan campur tangan Tuhan

Saya dilahirkan sebagai orang Katolik, tetapi keluarga saya mulai mengikuti gereja Kharismatik di tahun 1980-an. Pada saat itu, saya hanyalah seorang bocah, tetapi hati saya haus akan tujuan ilahi dalam hidup yang lebih tinggi.

Ibu saya tidak memperbolehkan saya untuk pergi ke gereja, kerana saya harus menjaga rumah. Tetapi puji Tuhan, oleh kerana keinginan saya yang tulus, walaupun tidak rutin, saya diperbolehkan untuk mengikuti kebaktian di gereja Khrismatik.

Tahun 1992, saya meninggalkan rumah dan tinggal bersama tante saya kerana keluarga saya sangat miskin dan tidak mampu membiayai wang sekolah saya. Sebaliknya, tante saya menjalankan pengelolaan bir di rumahnya. Pada waktu itu, saya tidak boleh terus-menerus pergi ke gereja kerana saya harus membantu usaha tante.

Tanpa dukungan dalam iman saya, saya merasa putus asa dan mulai mengembangkan kebiasaan minum-minuman keras. Kebiasaan ini mengakibatkan radang lambung, dan membuat saya sangat sulit untuk makan dan minum, kerana radang itu terasa sangat sakit setiap kali saya makan.

Semasa itu, saya berkelahi dengan seorang laki-laki yang telah mencuri beberapa barang saya, sehingga dia harus dirawati di rumah sakit. Kerana perbuatan ini, saya menghadapi tuntutan pengadilan kerana penganiayaan, dan diharuskan hadir dalam pengadilan begitu orang itu keluar dari rumah sakit. Keluarga orang itu mengumpulkan wang untuk menggugat saya.
2 kejadian ini mengingatkan saya tentang apa yang say abaca dalam injil Lukas. Tahun 1990. Saudara laki-laki saya memberikan sebagian dari Alkitab yang berisi ijil Lukas, tetapi saya tidak membacanya secara teliti sampai 2 tahun kemudian.

Melalui injil Lukas ini, saya mulai mengenal Yesus secara lebih pribadi. Saya percaya, bahawa seperti halnya Yesus telah menyembuhkan orang-orang sakit dan melepaskan mereka dari belenggu Iblis (orang-orang berdosa), saya pun dapat dilepaskan. Di rumah, taka da orang yang boleh menyelamatkan saya.

Iman perempuan yang menderita pendarahan (Mrk. 5:25-34) sangat mendorong semangat saya dan saya mulai mencari Tuhan di rumah dan mengakui segala dosa saya dalam doa.

Suatu hari, saya menghadiri kebaktian gereja di kampung saya. Sebelum kebaktian di mulai, setiap orang berlutut dan berdoa dan saya menceritakan masalah saya kepada Tuhan.

Puji Tuhan, setelah kembali dari gereja, sakit radang lambung saya hilang. Sejak hari itu dan seterusnya, oleh kerana kuasa Tuhan, sya boleh berhenti minum alcohol. Walaupun teman-teman dan keluarga minum-minum di hadapan saya, saya tidak merasa sulit untuk berhenti minum, kerana saya boleh merasakan kuasa Tuhan bekerja di dalam diri saya. Saya juga bersaksi kepada mereka tentang bagaimana Yesus telah menolong saya.

Saya tetap berdoa kepada Tuhan mengenai kasus pengadilan dengan lelaki yang telah saya lukai itu. Ajaibnya, Tuhan campur tangan . Keluarga lelaki itu berselisih pendapat di antara mereka mempermasalahkan pengumpulan dana untuk membiayai kasus pengadilan. Kasus pun ditutup persidangan. Hal ini menguatkan iman saya dan mendorong saya untuk lebih mencintai Tuhan.

Mencari kebenaran yang sepenuhnya

Tahun 1995, saya mulai membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Saya mencari-cari kebenaran dengan tekun. Pada waktu itu, saya hanya dapat mengikuti kebaktian di suatu gereja pada hari Sabtu atau hari Minggu.
Dengan mempelajari Alkitab, saya belajar tentang Roh Kudus, basuh kaki, baptisan air, hari Sabat, Perjamuan Kudus, dan bagaimana semua ini berhubungan dengan keselamatan. Saya tidak boleh menemukan ajaran yang lengkap mengenai sakremen-sakremen ini di gereja-gereja mana pun yang telah saya kunjungi. Tetapi saya merasa bahawa ini adalah doktrin yang penting dalam Firman Tuhan.

Saya berpuasa dan berdoa supaya Tuhan memimpin saya kepada gereja yang memberitakan seluruh kebenaran menurut Alkitab. Saya yakin bahawa hanya dengan mengenai kebenaran yang lengkap barulah seseorang boleh masuk ke dalam kerajaan Tuhan. Seperti yang Tuhan Yesus sendiri firmankan, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan! Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Syurga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Syurga” (Mat. 7:21)

Saya juga berjanji kepada Tuhan, seperti Dia telah membawa seseorang untuk membagi kebenaran kepada saya, dengan cara yang sama saya pun akan membagi kebenaranNya kepada orang lain.

Selama berdoa dan berpuasa itu, Tuhan menunjukkan tiga penglihatan kepada saya.
Dalam penglihatan pertama, saya memegang Alkitab dan saya berada di studio penyiaran radio di atas gunung yang sangat tinggi dan saya sedang berkhotbah. Pesan saya disalurkan seperti siaran radio ke seluruh wilayah Kenya.
Dalam penglihatan kedua, saya melihat dareah pegunungan di mana saya berdiri di atas gunung tertinggi. Saya memegang mikrofon dan saya sedang berkhotbah kepada semua orang yang ada di Kenya.
Dalam penglihatan yang terakhir, saya sedang memancing ikan bersama dengan orang lain di danau yang sangat besar. Kami semua berada diperahu yang sama dan ketika kami menebar jala kami menangkap banyak ikan yang ukurannya berbeda-beda.

Setelah menangkap ikan, kami perlu menjualnya.
Saya baru menyedari erti dari 3 penglihatan ini setelah saya mengikuti Gereja Yesus Benar. Di bawah bimbingan Roh Kudus, saya mengerti bahawa menurut kitab Yesaya Fasal 2, Tuhan akan mendirikan BaitNya di gunung yang tertinggi dan kebenaran pun akan diberitakan dari bait tersebut kepada segala bangsa. Menebarkan jala itu seperti sedang berkhotbah kepada orang-orang. Satu kapal di dalam penglihatan saya itu mengacu pada satu gereja benar dan satu jalan itu mengacu pada satu iman.

Datang ke Gereja Benar

Pada bulan Oktober 1997 pada hari Sabtu, saya mengunjungi salah satu gereja Pentakosta di Kamwala. Dari kunjungan itu saya mendapatkan kepastian bahawa mereka memegang hari Sabat dan juga memberitakan tentang Roh Kudus. Maka saya mengunjungi gereja itu lagi hari Sabat berikutnya untuk melihat apakah mereka juga memberitakan tentang Perjamuan Kudus, basuh kaki dan baptisan air.

Akan tetapi, jemaat yang menjawab pertanyaan saya pada hari Sabat sebelumnya tidak hadir. Saya memutuskan untuk kembali untuk ketigakalinya pada hari Sabat berikutnya. Kerana biasanya saya tidak kembali ke gereja yang sama lebih dari 2 kali, jadi kali ini saya berdoa secara khusus kepada Tuhan.

Di dalam doa, saya memutuskan untuk bertanya kepada jemaat gereja itu walaupun jemaat yang saya kenal tadi tidak hadir. Saya juga memutuskan untuk tidak kembali ke gereja itu jikalau mereka tidak memberitakan kebenaran yang lengkap.
Sungguh ajaib, di saat kebaktian baru akan dimulai, Pendeta Ko dan 2 saudara bernama Cornell dan Selvanus dari Gereja Yesus Benar datang untuk pertama kalinyanya ke Kamwala. Ketika Pendeta Ko berdiri untuk berkhotbah, dia mulai dengan menanyakan jemaat mengenai ilmu dasar kepercayaan Gereja Yesus Benar.

Ketika Pendeta Ko mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada jemaat, sepertinya seakan-akan yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Setelah selesai bertanya, Pendeta Ko mulai mengajarkan tentang hari Sabat dan juga 4 doktrin yang lain, yaitu Roh Kudus, Perjamuan Kudus, baptisan air dan basuh kaki.

Kerana anugerah Tuhan, ketika kami berlutut berdoa, saya menerima Roh Kudus. Setelah saya kembali untuk mempelajari lebih banyak lagi pada Sabat siang itu dan pada Minggu paginya, barulah saya menyedari bahawa saya hanya menerima sebagian kecil dari kebenaran sebelum saya datang ke gereja ini.

Pada Sabat berikutnya, kebaktian Sabat ke-4 yang saya hadiri, saya melihat bahawa seluruh jemaat pun telah sungguh-sungguh menerima kebenaran yang lengkap, maka saya memutuskan untuk bergabung dengan mereka untuk mengikuti kebaktian secara rutin. Pada tanggal 19 Jun 1998, saya menerima baptisan air.

Memberitakan injil

Saya tetap berdoa dengan bahasa roh dan bersukacita dalam Roh, membagikan kebenaran yang telah saya terima kepada orang lain. Tetapi pada waktu bersamaan, saya mengalami siksaan dalam keluarga Katolik tante saya.
Sebagai contoh, oleh kerana saya teguh dengan ajaran untuk tidak bekerja di hari Sabat, tidak aka nada makanan bagi saya di hari Sabtu. Walaupun saya tidak diperbolehkan makan, tetapi saya tidak merasa lapar. Sebaliknya saya merasa kenyang sepertinya saya telah makan.

Pada masa itu, ayat dalam injil Matius mendorong semangat saya, “Berbahagialah orang yang dianiayai oleh sebab kebenaran kerana merekalah yang mempunyai Kerajaan Syurga” (Mt. 5:10). Ayat iti menyakinkan saya lebih lanjut tentang pentingnya menjalin hubungan dengan Tuhan lebih dari hubungan saya dengan sesama manusia.

Saya juga ingat akan janji saya kepada Tuhan untuk membagikan kebenaran kepada orang lain, jadi saya bertekad untuk membantu memberitakan injil.

Pada bulan November 1998, saya pergi menginjil ke Awendo bersama dengan saudara yang lain. Orang yang dahulu mencuri dan saya lukai, kebetulan ada di sana. Jadi kami membagikan kebenaran kepadanya. Dia dan isterinya pun datang menghadiri kebaktian gereja kita.

Tetapi dia tidak melanjutkan imannya- dia mencuri sepeda orang lain. Dia lalu ditangkap dan akhirnya meninggal di penjara. Walaupun dia memilih untuk meninggalkan kebenaran, saya bersyukut telah diberika kesempatan untuk menjalankan tugas saya kepada Tuhan dengan membagikan kebenaran kepadanya, dan mengamalkan ajaran pengampunan.

Pada tahun 2000, saya pulang ke kampung halaman utnuk memberitakan kebenaran. Pada tanggal 25 Mac 2000. 4 orang menerima kebenaran dan kami memulai persekutuan bersama. Salah satunya adalah ibu saya, orang yang sebelumnya telah bertekad untuk tidak meninggalkan kepercayaannya pada Gereja Kharismatik.

Pada tanggal 13 Jun 2000, ibu saya menjadi orang pertama yang dibaptis di Ogondo. Tahun berikutnya, pada tanggal 19 Mei, tempat kebaktian baru didirikan di Kibanga. Di kedua tempat ini, 62 jemaat menerima baptisan air.
Alkitab mengatakan bahawa Yesus memberikan nyawaNya domba-dombaNya (Yoh. 10:15). Saya merasakan bahawa Yesus telah menyelamatkan jiwa saya dan melepaskan saya dari segala pergumulan dan penyakit saya. Dia juga telah menuntun saya untuk mengetahui apa yang harus saya perbuat bagiNya. Barangsiapa tinggal di dalam Kristus, harus melangkah seperti Kristus yaitu mencari kebaikan dan keadilan (I Yoh. 2:6)

Saya harus terus bersyukut kepada Tuhan, dan selama saya masih hidup di dunia ini, saya harus bertekad untuk memberitakan kebenarannyaNya kepada semua orang kerana ada begitu banyak domba yang belum menjadi satu kawanan denganNya (Yoh. 10:16). Sejak sekarang, saya mengarahkan fikiran kepada Kristus dan menantikan kedatanganNya pada akhir zaman.
Biarlah segala kemuliaan dan kuasa bagi Tuhan dan semoga segala bangsa dapat mengenal namaNya. Amin.

Clement Titus Adede- Ongongo, Kenya

16.14 Tidak ada tenungan yang Membran

Saya berasal dari keluarga non- Kristian, dan sejak kecil diajar untuk rajin beribadah. Tetapi, walaupun rajin beribadah, saya tidak merasa kalau Than itu ada dalam kehidupan saya.

Pada tahun 2001, saya bekerja sebagai babby-siter di salah satu keluarga jemaat Gereja Yesus Benar. Kemudian saya dibawa ke gereja dan diperkenalkan pada agama Kristian oleh keluarga itu. Setelah beberapa bulan mendengarkan firman Tuhan, saya mulai mengenal kebenaran dan jalan keselamatan. Setiap malam saya selalu berdoa memohon Roh Kudus di rumah, kerana saya tahu bahawa Roh Kudus itu Roh Allah yang dapat menyelamatkan kita dan membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Syurga.
Kurang lebih 6 bulan mendengarkan firman Tuhan, saya menjadi percaya dan yakin kalau Tuhan Yesus itu benar-benar ada. Pada suatu kebaktian Jumaat malam, saya ikut maju ke depan untuk berdoa memohon Roh Kudus. Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala saya yang terus berdoa mengucapkan “Haleluya, Haleluya.” Tak lama kemudian lidah saya bergetar dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa lain yang saya sendiri tidak tahu apa ertinya. Lalu tangan saya bergerak-gerak sendiri, dan hati saya terasa tenang dan damai; begitu sukacitanya samapi tidak boleh diutarakan dengan kata-kata.

Ketika bel tanda doa selesai berbunyi, seketika itu juga bahasa asing itu berhenti dengan sendirinya. Pendeta memberitahukan bahawa saya telah menerima Roh Kudus. Sejak saat itu, setiap kali berdoa saya selalu memakaia bahasa roh, dan saya merasa hidup saya semakin tenang dan damai. Saya merasakan bahawa Tuhan Yesus hidup dalam diri saya dan selalu menyertai seriap langkah saya.

Beberapa bulan kemudian, saya minta dibaptis, yang dilaksanakan pada tanggal 14 September 2002. Kurang lebih delapan bulan setelah dibaptis dan ikut Tuhan Yesus, saya mengalami cobaan yang berat, kerana ibu saya meninggalkan dunia. Saya pulang ke kampung halaman saya di Kediri, dan selama satu bulan di sana, saya berdoa dengan cara sembunyi-sembunyi kerana belum berani berterus terang kepada keluarga. Pada suatu hari, sewaktu saya sedang berdoa di dalam kamar, tiba-tiba ayah saya masuk. Memergoki saya pun berterus-terang kepada keluarga bahawa saya sekarang beragama Kristian. Mendengar hal itu, seisi keluarga sangat marah dan memusuhi saya, terutama ayah, yang begitu marahnya sampai tidak mahu bicara dengan saya.

Kira-kira 2 minggu kemudian, saya diberi air putih yang sudah diberi mantera oleh paranormal. Saya tidak boleh minum air putih lain kecuali air yang sudah disediakan itu. Jadi setiap kali mahu minum, saya selalu berdoa dalam hati agar Tuhan Yesus menyertai saya. Selama di kampung saya hanya minum air putih itu, bahkan sampai sekarang pun kalau saya pulang, pasti disediakan air yang sudah dimanteral itu.

Setelah saya beberapa hari minum air itu, si paranormal datang ke rumah. Saya disuruh duduk didepannya, lalu didoakan. Saya tetap tenang, dan di dalam hati saya terus berdoa. Saya percaya bahawa Tuhan Yesus yang ada di dalam diri saya akan selalu melindungi saya. Setelah beberapa minit berdoa, si paranormal berkata kepada ayah: “Anak bapak sudah tidak boleh lagi berbalik pada agama yang lama. Dia sudah percaya pada Tuhan yang lain.”

Setelah satu bulan di kampung, saya kembali ke Jakarta, tapi tidak langsung ke tempat kerja, melainkan mampir dulu ke rumah Bibi. Sampai di rumah Bibi, Bibi mengajak saya pergi, katanya mahu diajak ke rumah saudara. Tapi ternyata saya dibawa ke rumah seorang paranormal. Setibanya di sana, paranormal itu bertanya kepada saya, “Kamu agama apa?”
“Saya agama Kristian”, Jawab saya

Mendengar itu si paranormal berkata, “Pantas saja dari tadi saya merasa panas, semakin kamu dekat ke rumah saya, saya merasa semakin panas.”

Saya pun disuruh menatap mata paranormal itu dan mengikuti kata-kata yang diucapkannya. Tetapi saya tidak mengikuti perintahnya kerana dalam hati saya ada yang berkata, “Jangan ikuti, jangan ikuti.” Sampai memandang mata paranormal itu, saya terus berdoa di dalam hati. Akhirnya si paranormal tidak kuat memandang mata saya, lalu mengatakan kepada Bibi bahawa saya sudah tidak boleh berbalik ke agama yang lama dan lebih percaya pada agama yang baru. Paranormal itu juga mengatakan bahawa di dalam diri saya ada hawa sejuk dan sinar teramat terang yang melindungi saya.

Sampai saat ini pun, ayah masih belum merelakan saya memeluk agama Kristian. Berbagai macam cara beliau lakukan agar saya boleh kembali ke agama lama. Setiap malam Jumaat, ayah dan paranormal di kampung terus berdoa dan membaca-baca mantera. Bahkan baju saya pun dibawa ke rumah paranormal itu untuk diberi mantra. Puji Tuhan, kerana Roh Kudus bekerja, saya di sini tidak merasakan apa-apa dan tidak ada sesuatu pun terjadi pada diri saya. Memang ayah tidak mengusir secara langsung ataupun tidak mengakui saya sebagai anaknya, tapi secara halus ayah menentang agama saya.

Kerana segala yang saya alami ini, saya makin bersyukur pada Tuhan Yesus kerana Tuhanlah yang melindungi dan bekerja dalam diri saya, sehingga segala macam roh jahat tidak dapat mengganggu saya seperti kata Firman Tuhan: tidak ada mantera ataupun tenungan yang mempan terhadap Yakub (Bil. 23:23)

Dengan bersandar pada Tuhan dan menjalankan firman Tuhan, kita yakin dan percaya bahawa Roh Allah sendiri yang akan bekerja dalam hidup kita. Oleh kerana itu kita harus rajin berdoa, jangan sampai kita berputus asa dalam memohon Roh Kudus. Biarpun sudah bertahun-tahun lamanya memohon dan sampai sekarang Tuhan belum juga mencurahkan Roh KudusNya, kita yakin bahawa sesuatu janji Firman Tuhan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk. 11:9). Kiranya firman ini dapat menguatkan iman kita dan mendorong kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, Juruselamat kita.

Selain itu, Tuhan Yesus pun berkenan memberikan penglihatan yang membuat saya semakin percaya bahawa Dia benar-benar ada dan sungguh merupakan Juruselamat kita umat Kristian, dan ROh KudusNya selalu menjaga kita walaupun kita tidak menyedarinya, asalkan kita senantiasa bersandar pada Tuhan Yesus.

Pengihatan pertama terjadi pada suatu malam di hari Khamis tahun 2003, saat saya sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba saja saya berdiri di suatu tempat yang amat gelap dan sempit. Sewaktu saya berjalan dan terus berjalan, jalan yang saya lalui semakin melebar dan menjadi terang sekali. Di hujung jalan, saya melihat seseorang yang sedang duduk di atas kerusi dari emas yang indah sekali. Di kanan dan kiriNya, nampak banyak orang berpakaian putih yang sedang menyanyikan puji-pujian. Saya tahu bahawa Dia adalah Tuhan Yesus yang duduk di atas tahta Kerajaan Syurga. Saya berusaha untuk memandang wajah Tuhan tetapi tidak dapat, kerana wajahNya tertutup oleh sinar yang sangat terang. Kemudian tangan Tuhan Yesus ditulurkan kea rah saya. Saya berusaha untuk memegang tanganNya, tetapi untuk menyentuh pun tidak dapat.

Yang kedua terjadi beberapa bulan kemudian pada tahun yang sama, melalui sebuah mimpi. Saya melihat banyak orang sedang berkumpul membentuk lingkaran. Di antara orang-orang itu ada saya dan Nyonya, majikan saya. Tiba-tiba dari bawah kami keluarlah api yang sangat besar membakar kami semua. Dari arah depan, Nyonya mengajak saya untuk mengatakan “Haleluya! Haleluya!” Heran sekali, semua orang yang berkumpul di tempat itu terbakar sampai hangus, bahkan sampai tidak kelihatan seperti manusia lagi, tetapi kuasa Tuhan sungguh aneh dan ajaib. Tuhan Yesus melindungi saya dan Nyonya sehingga sedikit pun kita tidak terbakar, tidak terluka, dan tidak merasa panas. Puji dan syukur hanya bagi Tuhan Yesus.

“Kita tahu sekarang, bahawa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28). Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia, bagi Dialah kemuliaan samapi selama-lamanya.
Haleluya, amin!

Any Mulyani- Sunter, Jakarta

16.15 RohNya menuntunku

Saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut agama leluhur. Kemudian saya merantau ke Kalimantan Timur dan pada tahun 1984 dibaptis di salah satu gereja di sana. Tahun 1985 saya kembali ke Makasar kerana bapa sakit diabetes yang berkomplikasi dengan kerosakan ginjil. Penyakitnya makin lama makin parah, sampai memutuskan untuk berubat ke Belanda, tetapi tidak sembuh juga.

Kerana merasa penyakitnya sudah tidak tertolong lagi, Bapa minta dicarikan pendeta untuk didoakan. Seorang pendeta datang mendoakan, dan tak lama kemudian bapa dibaptis dengan baptisan percik. Kira-kira seminggu kemudian bapa meninggal, pemakamannya dilayani oleh gereja itu, kerana pendetanya adalah suami sepupu saya. Sejak itu saya sering beribadah di gereja itu.

Tetapi sejak sering beribadah, saya merasa kehidupan saya bertambah berat, anak-anak saya yang 5 orang sakit bergantian. Sampai akhirnya untuk membeli beras pun harus dibantu oleh kakak ipar. Saya jadi jarang kebaktian. Mula-mula sebulan 2-3 kali saja, lalu menjadi sebulan sekali, akhirnya tidak kebaktian sama sekali.
Setelah tidak kebaktian, ekonomi mulai membail. Saat itulah saya memutuskan tidak akan beribadah lagi, bahkan isteri pun, yang sejak kecil aktif di gereja lainnya, saya larang beribadah. Tetapi secara sembunyi-sembunyi dia masih suka pergi beribadah, sehingga saya memarahinya dengan kata-kata yang cukup kasar. Tetapi isteri saya tetap saja rajin beribadah dan selalu mendoakan saya.

Sepuluh tahun tidak beribadah, keadaan ekonomi terus membaik. Tetapi pada tahun 1995, saya mendapat penyakit; perut saya terasa sakit sekali, kalau buang air besar keluar darah segar. Setahun lebih berubah ke mana-mana- Doctor, sinshe, bahkan dukun- tidak ada perubahan. Akhirnya pergi ke doctor spesialis penyakit dalam. Setelah menunggu selama hampir 2jam, tibalah giliran saya diperiksa.

Setelah memeriksa cukup lama, doctor (masih termasuk family) berkata, “Kamu gila, tidak sakit apa-apa mahu ke doctor” Saya tersinggung dan menjawab, “Doctor yang gila, kalau tidak sakit, buat apa menunggu sampai hampir 2 jam! Saya ke sini tidak gratis, tahu!”

Tapi doktor tetap menyatakan tidak ada kelainan atau tanda-tanda adanya penyakit pada diri saya, sementara keluhan yang saya rasakan masih terus berlanjut. Saya jadi sering berandai-andai: cuba kalau punya wang, tentu boleh pergi ke Singapura atau PRC untuk berubat, pasti boleh sembuh. Tengah malam, kalau memperhatikan anak-anak yang sedang tidur, hati saya merasa sedih sekali; kalau saya mati, hidup mereka pasti sengsara.

Lalu seorang ahli keluarga menganjurkan untuk berdoa kepada Tuhan setiap tengah malam. Dia memberi ayat referensi dari Kitab Yohanes. 1:5; 7. Walaupun tidak pernah membaca Alkitab, saya menuruti sarannya. Setiap tengah malam, saya bangun utnuk berdoa. Minggu ketiga berdoa, ada gangguan: ada raksasa yang ingin mencekik saya, tetapi saya mengelak ke belakang. Malam berikutnya, ada suara orang mengedor-gedor pintu, tetapi begitu pintu dibuka, tidak ada siapa-siapa.

Suatu malam saya bermimpi: saya sedang berdoa, lalu ada seseorang yang menghampiri dan berkata, “Berdoa jangan seperti itu; lihat saya!” Orang itu lalu berlutut dengan kedua tangan tertangkap rapat (selama ini saya berdoa dengan posisi bersila atau duduk di atau pembaringan dengan kedua telapak tangan terbuka) Setelah terbangun, saya mencuba berdoa berlutut dengan kedua tangan tertangkup. Ternyata rasanya lebih nyaman (Belakangan, ketika pertama kali datang ke Gereja Yesus Benar, saya melihat jemaat berdoa dengan cara yang sama seperti yang diajarkan kepada saya dalam mimpi itu.)

Setelah berdoa 40 hari, sekali lagi saya mendapat mimpi: tiba-tiba seorang yang berpakaian putih datang menghampiri. Saya tidak dapat membedakan apakah dia perempuan atau laki-laki. Dia memegang perut bahagian kanan saya yang sakit. Mula-mula tangannya terasa dingin, lalu berubah jadi hangat. Lalu dia menusuk dan membedah perut saya; isi perut saya diambil lalu diperasnya. Rasanya sakit sekali sampai saya terbangun dari tidur. Begitu terbangun, saya langsung bersorak, “Aku sembuh! Aku sembuh!” Dan semua ubat-ubatan dari doctor, sinshe, mahupun dukun, saya buang. Sejak itu penyakit saya memang tidak pernah kembuh lagi, tapi saya tetap tidak pergi beribadah ke gereja.

Sekian lama tidak ke gereja, saya tidak pernah berfikir boleh beribadah lagi. Bahkan pernah, selama satu bulan lamanya saya sering mendengar suara panggilan sembahyang pada jam-jam yang aneh; bukan pada jam sembahyang, malah pernah pada pukul 3 pagi. Suaranya merdu sekali, sungguh menggetarkan hati. Salah satu saudara mama sampai berkata, “Saya sendiri belum pernah mendengarnya. Tuhan memanggilmu masuk agama saya” Saya memang sempat mempertimbangkannya.

Lalu suatu hari seorang tetangga memperkenalkan saya pada seorang jemaat Gereja Yesus Benar. Saudara itu kemudian sering datang menginjili saya dan bercerita tentang Roh Kudus. Bersama seorang saudara lain, dia sering datang untuk bincang-bincang dan mengajarkan tentang Alkitab dan cara berdoa. Katanya, berdoa itu harus dalam nama Tuhan Yesus, dengan sepenuh hati memohon Roh Kudus. Cukup mengulang-ulang kata “Haleluya”. Saat menerima Roh Kudus, badan akan bergetar dan kidah akan terus berputar. Saya bertanya, “Apa seperti kesurupan?” Mereka bilang, “Tidak, kita tetap sedar sepenuhnya.”

Kerana itu saya penasaran juga. Suatu malam saya mencobanya. Setelah 20 minit mengucapkan “Haleluya”, tiba-tiba lidah saya seperti hidup sendiri, bergetar tanpa henti, bibir seperti kena sengat listrik, persis seperti cerita mereka.

Setelah itu terjadi perubahan pada diri saya. Saya jadi senang membaca Alkitab, sehari biasa 3-4 kali, walau saya melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, takut kalau dipergoki oleh isteri yang selama ini saya larang ke gereja. Kemudian saya pergi menemui pendeta ke Gereja Yesus Benar untuk memastikan apakah saya memang sudah menerima Roh Kudus. Ternyata memang sudah, tetapi kerana saya berdoa dengan mulut tertutup sesuai dengan kebiasaan di rumah (sebab takut terdengar oleh isteri), beliau mengajari saya berdoa dengan suara keras.

Puji Tuhan, akhirnya pada tanggal 20 Jun 2000 saya bersama mama an 3 oran anak saya menerima sakreman baptisam. Lalu pada tanggal 30 September 2000, sepupu saya juga menerima baptisan, dan 2 orang anak saya yang lain menerima baptisan pada tanggal 24 Februari 2001, sementara isteri saya dibaptis pada tanggal 25 Jun 2005.

Haleluya! Saya bersyukur atas kemurahan Tuhan yang telah memilih saya menjadi umatNya. Saya berusaha menjadi anak Tuhan yang baik dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Kiranya kesaksian ini boleh memuliakan namaNya. Amin!

Hengki Lisal- Makasar

(Dibaca : 2742 kali)


Gereja Yesus Benar Sabah

1 Comment

  1. lovevianah says:

    Hleluya . Smua ksaksian yg sy bca ini dpt mmbntu sy bnyk hal tuk mmprbaiki dri sya .. Syukur haleluy

Leave a Comment

 

— required *

— required *