Bab 12 Menerima Roh Kudus

12.1 Pendahuluan

​Kitab Kisah Para Rasul memberikan catatan dramatis tentang pencurahan Roh Kudus yang pertama pada gereja mula-mula:

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan nampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung kerana mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran… Tetapi orang lain menyindir:”Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 2:1-7, 13

​Kemudian Petrus dengan berani berdiri di hadapan kerumuman orang yang terheran-heran untuk menjelaskan kepada mereka bahawa apa yang sedang mereka lihat adalah penggenapan nubuat Nabi Yoel:

Akan terjadi pada hari-hari terakhir- demikianlah firman Allah- bahawa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hambaKu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan RohKu pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.
​​​​​​Kisah Para Rasul. 2:17-18; ref Yoel. 2:28-29

​Selanjutnya Petrus menyatakan, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kis. 2:39)

​Catatan Alkitab ini menjelaskan bahawa kedatangan Roh Kudus telah lama dinubuatkan, dan penggenapannya dimulai pada hari Pentakosta. Hari ini, janji ini berlaku untuk semua orang kerana Paulus berkata,”Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, mahupun orang Yunani, baik budak, mahupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (I Kor. 12:13)

​Pada bab ini, kita akan melihat apa yang diajarkan Alkitab untuk memperoleh janji ini.

12.2 Menemukan Roh Kudus di Gereja Benar

​Dari catatan berbeda dalam Alkitab, kita mengetahui perlunya mendapatkan baptisan Roh Kudus, khususnya di gereja benar Allah.

12.2.1 Menanti di Yerusalem

​Sebelum ia naik ke Syurga, Yesus memerintahkan murid-muridNya, “Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan BapaKu. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49). “Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang- demikian kataNya-” telah kamu dengar daripadaKu. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:4-5). Yesus memerintahkan dengan sangat rinci agar mereka menunggu di Yerusalem, bukan di tempat lain. Murid-murid memegang perintahNya dengan menantikan dan berdoa di sana. Ketika hari Pentakosta tiba, janji itu digenapi (Kis. 1:12-15; 2:1-4)

​Yerusalem adalah sebuah kiasan gereja benar, yang didirikan oleh Roh Kudus. Setelah hari Pentakosta, orang-orang percaya di gereja benar menerima Roh Kudus di mana pun para rasul mengabarkan injil (Kis. 8: 14-17; 10:44-46; 19:1-7). Ini menjadi penggenapan kata-kata Nabi Zakharia:”Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, Tuhan semesta alam, maka kepada mereka tidak akan turun hujan” (Zak. 14:17). Kerana hujan melambangkan Roh Kudus, kita mengetahui bahawa nubuat ini membicarakan tentang orang-orang berdatangan ke Yerusalem-yaitu gereja benar- untuk menerima Roh Kudus.

​Gereja para rasul adalah sungguh-sungguh milik Yesus Kristus kerana gereja ini secara peribadi didirikan oleh Roh Kudus hujan awal dan disertai oleh Roh. Kerana itu Alkitab menyebutnya sebagai bait Allah (I Kor. 3:16); tubuh Kristus (Ef. 1:23); jemaat Allah, tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim. 3:15); mempelai perempuan Anak Domba (Why. 21:2; 9-10). Gereja memegang kebenaran, jadi imannya didirikan di atas dasar para rasul, nabi dan Yesus Kristus (Ef. 2:19-20). Injil yang diberitakan para rasul disertai oleh kesaksian Roh Kudus melalui tanda dan mujizat, untuk memenangkan ketaatan bangsa-bangsa bukan Yahudi (Mrk. 16:20; Rm. 15:18; Kis. 3:12-16; Ibr. 2:4)

12.2.2 Anugerah yang diberikan melalui para rasul

​Apabila kita membaca Kisah Para Rasul, kita melihat sebuah pola, yaitu ketika orang-orang yang menerima Roh Kudus, pertama-tama bertemu dengan para rasul dari gereja benar. Pertama, kita melihat orang-orang Samaria menerima injil melalui Filipus dan kemudian menerima Roh Kudus ketika Petrus dan Yohanes datang untuk menumpangkan tangan ke atas mereka (Kis. 8:14-17). Kedua, kita melihat Saulus dipanggil oleh Yesus dalam perjalanannya ke Damaskus, tetapi tidak segera menerima Roh Kudus. Setelah Tuhan mengutus Ananias untuk menumpangkan tangan, barulah Saulus menerima karunia ini (Kis. 9:3-17). Ketiga, Kornelius. Seseorang yang saleh dan takut akan Allah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan senantiasa berdoa. Ia tidak menerima Roh Kudus sampai ketika Tuhan mengutus Petrus untuk memberitakan injil kepadanya dan keluarganya (Kis. 10:1-5, 44-46). Keempat, murid-murid di Efesus tidak menerima Roh Kudus saat mereka percaya (kerana mereka baru mendapatkan baptisan Yohanes); setelah Paulus pergi kepada mereka dan membaptis ulang mereka dalam nama Yesus dan menumpangkan tangan, barulah mereka mendapatkan Roh Kudus (Kis. 19:1-7)

​Contoh-contoh ini memperlihatkan bahawa pada masa hujan awal, orang-orang percaya menerima baptisan Roh Kudus ketika mereka berhubungan langsung dengan gereja melalui para rasul. Di masa hujan akhir sekarang, prinsip ini masih tetap berlaku. Mereka yang mencari baptisan Roh Kudus pertama-tama harus datang ke gereja benar yang meneruskan pelayanan gereja mula-mula dan para rasul.

12.2.3 Mengenali gereja benar di masa sekarang

​Gereja benar di masa sekarang, adalah gereja yang dirancang sesuai dengan gereja di masa para rasul. Alkitab mengacu gereja ini sebagai “gunung temapt rumah Tuhan [yang] akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana” (Yes. 2:2). Gereja ini adalah Gereja Yesus Benar, yang didirikan oleh Roh Kudus dan mempunyai penyertaanNya. Ia mengabarkan kebenaran dan mempunyai kesaksian dari tanda dan mujizat. Sejak pendiriannya di awal abad ke-20, kita melihat orang-orang percaya mengalami pencurahan Roh Kudus yang sama seperti 2000 tahun yang lalu. Kerana itu, siapa saja yang menginginkan baptisan Roh Kudus dapat datang dan mencari Dia di gereja ini.

​Gereja Yesus Benar telah bertahun-tahun melihat orang-orang yang berbeda datang melalui pintu gerbangnya kerana penginjilan pribadi dan melalui penginjilan tertulis. Mendengar dan menerima injil yang sempurna, orang-orang telah menerima Roh Kudus yang dijanjikan. Sebaliknya, ada orang-orang Kristian dari denominasi-denominasi lain yang telah mendengar kehadiran dan pekerjaan Roh Kudus di Gereja Yesus Benar, tetapi belum menerima Roh Kudus kerana keraguan mereka untuk datang ke gereja ini. Ada juga beberapa kejadian mengenai beberapa hamba Tuhan dari denominasi-denominasi berbeda yang awalnya menerima injil benar yang dikabarkan gereja dan juga menerima Roh Kudus, tetapi pada akhirnya gereja dan anugerah ini kerana keraguan mereka untuk meninggalkan iman mereka yang lama dan kedudukan mereka sebelumnya agar dapat masuk ke dalam gereja.

12.3 Taat pada kebenaran

​Sama seperti negara yang diperintah oleh seorang pemimpin, begitu juga kerajaan Allah- yaitu gerejaNya- dipimpin oleh Allah. Ia adalah Raja kita, dan kita adalah umatNya (Ef. 2:19; Fil. 3:20) Kerana itu kita mempunyai tanggungjawab untuk menaati kehendak dan perintahNya. Alkitab menyatakan imbalan atas ketaatan kepada Allah:”Besarlah ketenteraan pada orang-orang yang mencintai TauratNya, tidak ada batu sandungan bagi mereka” (Mzm. 119:165). “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagianmu akan terus berlimpha seperti golombong-golombong laut yang tidak pernah berhenti” (Yes. 48:18)

12.3.1 Contoh-contoh ketaatan dan ketidaktaatan

​Alkitab memperlihatkan banyak contoh orang-orang yang taat mahupun tidak taat dengan kehendak Allah. Mereka menunjukkan kepada kita bahawa ketaatan dan ketidaktaatan memberi akibat yang berbeda kepada mereka yang terlibat, dan bahkan sampai kepada keturunan mereka.

​Di antara mereka yang tidak taat adalah Adam, nenek moyang kita. Allah memberikan kepadanya hanya satu perintah:”Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kamu makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:17). Sayangnya Adam melanggar perintah ini kerana ia tidak berhasil mengalahkan godaan. Akibatnya adalah kutukan yang harus ia tanggung dan diusir dari Taman Eden (Kej. 3:4-6; 16-19, 24). Lebih parah lagi, sejak saat itu dosa masuk ke dunia, dan umat manusia terbelenggu oleh dosa dan maut (Rm. 5:12). Maka kini menjadi perlu untuk menetralkan ketidaktaatan seseorang dengan ketaatan orang lain. Maka, Yesus Kristus, Adam yang terakhir, datang ke dunia untuk menyerahkan diriNya kepada kehendak Allah, hingga pada titik kematian di salib. Namun Allah membangkitkanNya, memuliakanNya, dan memberikanNya nama di atas segala nama. Melalui kematianNya, Yesus menghancurkan pekerjaan Iblis dengan mengalahkan maut dan memperlihatkan kehidupan kekal. (I Kor. 15:45; Fil. 2:8-9; Ibr. 2:14; II Tim. 1:10)

​Alkitab juga mencatat tentang Raja Saul, yang walaupun diperintahkan Allah untuk menghancurkan seluruh bangsa Amalek dan haiwan ternak mereka, memutuskan untuk meluputkan hidup Raja Amalek dan merampas haiwan ternak yang terbaik. Ketika Samuel kemudian menunjukkan kesalahannya, Saul bukan saja tidak bertobat, tetapi berdebat bahawa ia merampas haiwan ternak itu untuk dipersembahkan kepada Allah. Lalu Sameul menegurnya, “Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnnya, mendengarkan lebih baik pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan… Kerana engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja” (I Sam. 15:22-23)

​Contoh orang yang belajar untuk taat adalah Naaman, pemimpin balatentera Aram dan orang yang terhormat yang menderita kusta. Setelah mendengar tentang seorang nabi di negeri Isreal, ia pergi mencari nabi itu. Elisa menyambutnya dengan menyampaikan pesan: “Pergilah mandi 7 kali dalam Sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir”.

​Awalnya Naaman marah mendengar ini:”Bukankah Abana dan Parpas, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Isreal? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?”

​Namun hambanya membujuk dia dengan berkata,”Seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapa akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir”

​Maka Naaman menurut dan membenam dirinya 7 kali di Sungai Yordan, seperti yang diperintahkan oleh Elisa. Ketaatannya menghasilkan berkat (II Raj. 5:1-14)

​Contoh-contoh di atas menunjukkan bahawa taat kepada Firman Allah adalah sebuah syarat dasar untuk menerima karunia Allah. Dan baptisan Roh Kudus tidak terkecuali.

12.3.2 Taat pada injil agar menerima Roh Kudus

​Untuk menerima Roh Kudus, kita harus percaya kepada Yesus dan taat pada injil. Alkitab mencatat:”Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh. 1:1). Ayat ini mengatakan bahawa Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara umat manusia. Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat pergi kepada Bapa selain melalui Dia (Yoh. 1:14; 14:6)

​Dari sejarah, kita mengetahui adanya beberapa orang yang seharusnya dapat menuruti Yesus, tetapi tidak melakukannya. Di antaranya adalah sebagian besar orang-orang Yahudi, yang menolak Yesus dan menyalibkan Dia untuk menggenapi pengertian mereka akan Hukum Taurat (Yoh. 19:7). Juga Saulus, yang menganiayai gereja kerana kesalehan yang keliru. Bahkan saat Yesus dibangkitkan, Roh Kudus dicurahkan, dan tanda mujizat diwujudkan untuk bersaksi tentang injil yang diberitakan para rasul (Mrk. 16:19-20; Kis. 2:1-5, 23-33; 5:12-16) banyak orang Yahudi, termasuk Saulus, tetap berkeras hati menolak kebenaran.

​Namun walaupun mendapatkan perlawanan, para rasul terus mengabarkan injil. Mereka menyatakan dengan berani, “Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kananNya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Isreal dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Mereka juga menambahkan, “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua oranf yang mentaati Dia” (Kis. 5:32). Penting untuk diperhatikan, para rasul menggunakan kata “taat” untuk menunjukkan sebuah syarat untuk menerima Roh Kudus.

​Sayangnya sejarah seringkali terulang. Kitab Pengkhotbah berkata:”Apa yang pernah ada aka nada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; taka da sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh. 1:9). Walaupun hari ini telah nyala bahawa Roh Kudus telah turun dari Syurga dan dibuktikan dengan berbahasa roh (Kis. 10:44-46), banyak denominasi membantah kebenaran alkitabiah ini. Kerana ini nampaknya sama seperti Iblis menipu Adam di Taman Eden, sekali lagi ia menipu orang-orang mengenai kebenaran Roh Kudus.

​Maka kita harus kembali ke kata-kata kunci yang diucapkan para rasul: “Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (Kis. 5:32). Ini menunjukkan bahawa ketika kita menerima dan taat kepada injil yang sepenuhnya, seperti yang diberitakan gereja benar, Allah akan mencurahkan Roh Kudus kepada kita.

12.4 Memuji dengan “Haleluya”

​Tuhan Yesus berjanji kepada murid-muridNya, “Dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannnya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya” (Yoh. 14:13-14). Kata-kata ini mengajarkan kita bahawa kita harus memanggil nama Yesus ketika kita berdoa. Kerana itu jalan terbaik untuk memulai doa kita memohon Roh Kudus adalah dengan berkata, “Dalam nama Tuhan Yesus, berdoa”

​Doa kita untuk memohon Roh Kudus harus dipenuhi dengan pujian kepada Allah yang menganugerahkan karunia ini. Alkitab mengajarkan kita sebuah kata pujian yang dapat kita gunakan- “Haleluya”. Kata ini berasal dari bahawa Ibrani allelouia, yang bererti “Terpujilah Tuhan” (ref. Mzm. 104:35; Why. 19:1). Jadi sebuah doa yang sederhana dapat berisi: ”Haleluya, terpujilah Tuhan Yesus. Kiranya Engkau memenuhiku dengan RohMu” atau sekadar, “Haleluya, terpujilah Tuhan Yesus”

12.4.1 Penggunaan “Haleluya” dalam Alkitab

​Kita banyak menjumpai kata “Haleluya” di Kitab Mazmur, dan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: 1) Yang dimulai dengan “Haleluya” (Mzm. 111-112); 2) yang diakhiri dengan “Haleluya” (Mzm. 104, 105, 115, 116 dan 117); 3) yang dimulai dan diakhiri dengan “Haleluya” (Mzm. 106, 113, 135, 146-150). Mazmur. 113-118 disebut “Haleluya” (Mzm. 106, 113, 135, 146-150). Mazmur. 113-118 disebut “Kelompok Mazmur Hallel”, yang bererti “Mazmur Pujian”. Mazmur 146-150 dimulai dan diakhiri dengan “Haleluya” dan disebut “Mazmur Haleluya” oleh gereja masa awal.

​Di dalam Perjanjian Baru, “Haleluya” muncul empat kali di kitab Wahyu: fasal 19, ayat 1, 3, 4, dan 6. Di tiga ayat pertama, “Haleluya” digunakan untuk memberikan pujian atas kemahakuasaan Allah atas kehancuran Babel dan dibalskannya darah para martir. Di ayat keempat, “Haleluya” digunakan untuk memuji Tuhan sebagai Raja yang berkuasa: ”Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Kerana Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja”(Why. 19:6). Ayat ini memberikan sebuah penggambaran yang tepat akan suara-suara doa yang dipanjarkan dalam bahasa roh di dalam gereja benar.

12.4.2 Menggunakan “Haleluya” untuk doa yang efektif

​Yesus mengajarkan kepada kita: “Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenai Allah. Mereka menyangka bahawa kerana banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan” (Mat. 6:7). Kata “bertele-tele” berasal dari kata bahasa Yunani battologeon, yang bererti “mengulang-ulang dengan malas”1. Kata ini kemungkinan besar berasal dari ungkapan bahasa Aram, yang menunjukkan kesia-siaan dan kata-kata yang diulangi secara mekanis yang diucapkan dalam cara-cara doa penyembah berhala (bukan Yahudi)

​Inti dalam masalah ini adalah, doa yang efektif tidak didasarkan pada panjang doanya atau penggunaan pengulangan. Sebaliknya, doa yang efektif bergantung pada apakah kita berdoa dengan ketulusan dan kesungguhan. Mengetahui hal ini akan membantu kita untuk menyamakan dengan contoh dan pengajaran Alkitab mengenai cara berbeda dalam berdoa: memohon berulang kali, doa yang mendalam dan memuji Allah dengan “Haleluya”. Contohnya kita melihat Tuhan Yesus sendiri berdoa tiga kali di Taman Getsemani, mengatakan kata yang sama berulang-ulang (Mat. 26:44), dan Ia menghabiskan semalaman untuk berdoa di gunung (Luk. 6:12). Kerana itu dalam hal doa, hati kitalah kuncinya.

12.4.3 Menjawab kesalahfahaman

​Ende Hu berbicara secara kritik mengenai gereja-gereja yang menganjurkan penggunaan “Haleluya” secara berulang-ulang dalam doa. Ia mengacu pada praktik yang dilakukan beberapa pendeta yang mengajarkan orang untuk menyebutkan kata ini berulang-ulang dengan cepat dan terus-menerus dalam waktu yang lama, yang membuat diri mereka memasuki keadaan seperti kesurupan dan berbicara tidak menentu, atau bahkan menjadi kerasukan oleh roh jahat. Ia menyebutkan Matius. 6:7 untuk mendukung pendapatnya, dan berkesimpulan: “Kita dapat melihat bahawa ini adalah sebuah kekeliruan, kerana Tuhan Yesus telah memperingatkan murid-muridNya, bahawa apabila mereka berdoa, mereka tidak boleh mengucapkan doa berulang-ulang seperti yang dilakukan orang-orang tidak bertuhan. Kerana itu gaya kharismatik dalam berbahasa roh tidak berasal dari Alkitab.”

​Sayangnya Ende Hu memandang keliru mengenai berdoa meohon Roh Kudus. Ada beberapa hal yang perlu diluruskan.

​Pertana, ia menyalahertikan maksud dari Matius. 6:7 kerana alasan-alasan yang telah kita sebutkan di awal bagian ini. Memuji Allah dengan kata “Haleluya” berulang-ulang adalah hal yang baik, terutama ketika kita memohon Roh Kudus- selama kita melakukannya dengan hati yang tulus, dan bukan dengan jalan yang sia-sia seperti yang diungkapkan Hu.

​Kedua, seseorang yang sungguh-sungguh menerima Roh Kudus, sadar sepenuhnya dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya. Pengalaman ini juga dapat dilihat dan didengar (Kis. 2:33; 8:17-19; 10:44-46; 19:1-7). Kebalikan dari pendapat Hu, orang yang menerima Roh Kudus tidak memasuki keadaan seperti kesurupan.

​Ketiga, kita perlu memahami bahawa berbahasa roh secara alami memang tidak dapat dimengerti, kecuali apabila Tuhan membukakan telinga kita. Alkitab menjelaskan: “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia” (I Kor. 14:2)

12.5 Baptisan air

​Baptisan air mempunyai khasiat mengampuni dosa (Kis. 3:8; 12:16) dan memungkinkan seseorang mempunyai nurani yang baik kepada Allah (I Ptr. 3:21). Baptisan air juga merupakan bagian dari proses yang perlu kita lalui apabila kita mahu menerima Roh Kudus.

12.5.1 Jalan keselamatan

​Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah di hadapan orang-orang Yahudi yang melihat kejadian itu. Ia bersaksi bahawa murid-murid telah menerima Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus, yang telah mereka bunuh dan sekarang telah bangkit. Setelah mendengar kata-katanya, hati mereka terasa pedih dan mereka bertanya kepada Petrus dan para rasul, “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” (Kis. 2:37). Petrus menjawab, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis. 2:38)

​Jawaban Petrus menjelaskan jalan keselamatan- sebuah jalan yang diterangkan berulangkali dalam Kisah Para Rasul. Agar diselamatkan, kita harus melalui: pertobatan, baptisan air untuk menghapus dosa, dan baptisan Roh Kudus- biasanya berurutan, walaupun ada beberapa kasus khusus (seperti Saulus dan Kornelius, yang menerima baptisan Roh Kudus sebelum baptisan air). Maka baptisan air adalah syarat kunci bagi setiap orang yang ingin menerima baptisan Roh Kudus.

12.5.2 Hubungan antasa baptisan air dan baptisan Roh Kudus

​Baptisan air harus mempunyai kesaksian Roh Kudus agar darah Tuhan dapat hadir dalam air (Yoh. 19:34; I Yoh. 5:6-8). Paulus menulis, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, mahupun orang Yunani, baik budak, mahupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (I Kor. 12:13). Di ayat ini, Paulus menjelaskan dua hal yang terjadi berurutan. Pertama,ia membicarakan baptisan air: “Sebab dalam satu Roh kita semua… telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Sakremen ini harus dilakukan oleh pembaptis yang telah menerima Roh Kudus, kerana Roh Kuduslah yang mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa (Yoh. 20:22-23). Kedua, Paulus menjelaskan mengenai baptisan Roh Kudus: “diberi minum dari satu Roh”. Roh Kudus adalah “air hidup” yang diberikan Tuhan Yesus kepada orang-orang percaya, sehingga mereka tidak lagi merasa haus. Air ini akan menjadi mata air di dalam hati mereka, mengalir kepada kehidupan kekal (Yoh. 4:14; 7:37-39)

​Urutan ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Petrus dalam khotbahnya di hari Pentakosta. Selanjutnya kita melihat hal ini digambarkan pada apa yang dialami orang-orang percaya di gereja para rasul. Namun ada beberapa pengecualian. Termasuk di antaranya adalah Saulus yang dibaptis dengan Roh Kudus sebelum ia menerima baptisan air (Kis. 9:17). Di sini Yesus memperlihatkan bahawa Ia telah memilik Saulus untuk menyatakan namaNya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, raja-raja dan bangsa Isreal (Kis. 9:10-19). Kasus pengecualian lain adalah Kornelius dan keluarganya, yang juga menerima baptisan Roh Kudus sebelum menerima baptisan air. Sekali lagi ini terjadi untuk menunjukkan hikmat Allah, dan menunjukkan kepada orang-orang Kristian dari bangsa Yahudi bahawa karunia keselamatanNya sekarang juga diberikan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (Kis. 10:28, 44-48; 11:1-4, 15-18).

​Hari ini, di Gereja Yesus Benar, kita juga melihat banyak contoh orang-orang yang menerima Roh Kudus sebelum mereka menerima baptisan air. Mereka adalah tanda karunia Allah kepada mereka yang mencari Dia dan gereja benarNya. Pencurahan Roh Kudus menjadi saksi atas injil yang telah mereka terima dan menolong membangun iman mereka.

12.5.3 Cara baptisan air yang benar

​Ketika Paulus bertemu dengan beberapa murid di Efesus, ia bertanya: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” (Kis. 19:2)

​Mereka menjawab: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahawa ada Roh Kudus.”

​Paulus heran dan bertanya-tanya apakah baptisan yang telah mereka terima, entah bagaimana, baptisan yang saleh. Ini kerana di masa hujan awal, orang yang telah menerima baptisan air juga akan menerima baptisan Roh Kudus. Tentu ada alasan yang masuk akal mengapa murid-murid di Efesus belum menerima Roh Kudus (ref. Kis. 8:18-24). Jadi Paulus bertanya kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?”

​Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes”

​Sekarang Paulus mengerti. Ia berkata kepada mereka, “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahawa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.”

​Paulus kemudian membaptis mereka di dalam nama Yesus. Dan setelah menumpangkan tangan ke atas mereka, Roh Kudus turun kepada mereka, dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat (Kis. 19:1-7)

​Catatan bersejarah ini memberitahukan kepada kita bahawa cara baptisan sangat penting: baptisan ait harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Tuhan Yesus dan para rasul. Bila tidak, dosa tidak dapat diampuni, dan Roh Kudus tidak akan diberikan.

​Alkitab mengajarkan cara baptisan air yang benar kepada kita:

i. Dalam nama Yesus
Baptisan air harus dilakukan di dalam nama Yesus (Kis. 2:38; 8:16;10:48; 19:5), kerana selain dengan namaNya, tidak ada nama lain yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12). Baptisan air di dalam nama Yesus mempunyai kuasa untuk menghapus dosa (Kis. 10:43; 22:16; I Yoh. 2:12)

ii. Kepala tertunduk
Saat baptisan, tubuh kita harus sepenuhnya diselamkan ke dalam air, untuk menandakan penguburan kita dengan Kristus (Rm. 6:3-4). Cara baptisan ini dicatat di dalam Alkitab, antara lain: baptisan Tuhan Yesus (Mat. 3:16); baptisan yang dilakukan Filipus kepada sida-sida Etiopia (Kis. 8:36-39); baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis di Ainon, di tempat yang “banyak air” (Yoh. 3:23)

iii. Diselam seluruhnya
Saat baptisan, tubuh kita harus sepenuhnya diselamatkan ke dalam air, untuk menandakan penguburan kita dengan Kristus (Rm. 6:3-4). Cara baptisan ini dicatat di dalam Alkitab, antara lain: baptisan Tuhan Yesus (Mat. 3:16); baptisan yang dilakukan Filipus kepada sida-sida Etiopia (Kis. 8:36-39); baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis di Ainon, di tempat yang “banyak air” (Yoh. 3:23)

iv. Pembaptis yang memenuhi syarat
Selain cara yang benar, baptisan air juga harus dilakukan oleh seseorang pembaptis yang memenuhi syarat. Ia haruslah: (a) telah menerima baptisan air yang benar, sesuai dengan Alkitab. Akan menjadi hal yang bertentangan apabila seseorang yang dosa-dosanya sendiri belum diampuni- dan ia sendiri belum ada di dalam Kristus- membaptis untuk penghapusan dosa orang lain; (b) telah menerima baptisan Roh Kudus, untuk menunjukkan bahawa ia diutus oleh Allah (Rm. 10:15; Yoh. 3:34; 20:21-22; Luk. 4:18). Ini kerana kuasa untuk mengampuni dosa terdapat dalam baptisan Roh Kudus (Yoh. 20:22-23)

12.5.4 Banyak gereja tidak membaptis dengan benar

​Hari ini, sebagian besar gereja Kristian mengabaikan cara membaptis yang benar dan sesuai dengan Alkitab. Praktik-praktik umum di antaranya membaptis “di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus; dengan kepala menengadah; dengan percikan air; dan lain-lain.” Semua cara baptisan ini tidak sesuai dengan Alkitab. Hal lainnya adalah orang yang melakukan baptisan air tidak sepenuhnya memenuhi syarat seperti yang telah digariskan oleh Alkitab. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara baptisan-baptisan ini dengan baptisan Yohanes Pembaptis, yang hanya dimaksudkan untuk membimbing orang ke dalam ketobatan. Kerana alasan-alasan ini, baptisan-baptisan seperti itu tidak efektif dalam menghapus dosa, dan kerana itu tidak memungkinkan orang menerima Roh Kudus.

12.6 Penumpangan tangan

​Praktik “menumpangkan tangan” mempunyai makna penting di dalam Alkitab, baik di Perjanjian Lama mahupun Perjanjian Baru. Ada saat-saat tertentu praktik ini selalu dilakukan:

12.6.1 Mempersembahkan korban

​Hukum Perjanjian Lama menyatakan bahawa apabila bangsa Isreal mempersembahkan korban bakaran, orang yang memberikan korban harus menumpangkan tangannya ke atas kepala binatang yang dikorbankan (Kel. 29:10-14; Im. 1:3-4). Tindakan ini adalah sebuah ungkapan kesatuan antara orang yang mempersembahkan korban dengan binatang yang dipersembahkan. Ini menandakan: a) dosa-dosa orang yang mempersembahkan korban akan ditanggung oleh binatang persembahan; b) Binatang itu akan mati menggantikan dirinya.

12.6.2 pemberian berkat

​Di dalam Alkitab, catatan pertama penumpangan tangan untuk tujuan memberkati berkaitan dengan Yakub. Ia menumpangkan tangannya untuk memberkati dua anak Yusuf, Efraim dan Manasye (Kej. 48:8-20). Di dalam Perjanjian Baru, kita melihat Yesus memberkati anak-anak (Mat. 19:13-15; Mrk. 10:13-16)

12.6.3 Menyembuhkan orang sakit

​Sebelum Ia naik ke Syurga, Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Mrk. 16:18). Penumpangan tangan dapat menyembuhkan orang sakit, kerana menyampaikan dua hal: kesatuan dan pemberkatan. Penumpangan tangan membuat seorang hamba Tuhan menyampaikan kuasa kesembuhan kepada orang yang sakit, dan sekaligus memberkatinya. Catatan pelayanan Yesus di Perjanjian Bari memperlihatkan kepada kita bahawa Ia menyembuhkan banyak orang sakit dengan cara ini (Mrk. 6:5; 8:22-25; Luk. 4:40; 13:10-13). Ketika Paulus terdampar di Pulau Malta, ia juga menyembuhkan ayah Publius, gubernur Pulau Malta yang sakit demam dan disertri, dengan penumpangan tangan (Kis. 28:7-8)

12.6.4 Membagikan karunia-karunia rohani

​Penumpangan tangan juga mempunyai kuasa untuk membagikan karunia rohani. Musa menumpangkan tangan kepada penerusnya, Yosua, yang kemudian dipenuhi dengan hikmat dan karunia memimpin, sehingga ia dapat memimpin bangsa Isareal (Ul. 34:9). Melalui pengilhaman nubuat, Paulus dan para penatua menumpangkan tangan mereka ke atas Timotius, sehingga ia menerima karunia-karunia rohani untuk tugas penginjilan (I Tim. 4:14; II Tim. 1:6-7)

12.6.5 Sakreman

​Penumpangan tangan juga dilihat sebagai sakremen (Ibr. 6:2). Alkitab mengajarkan kita untuk melakukannya dengan hikmat dan tidak sembarangan (I Tim. 5:22). Contoh-contoh dalam Alkitab antara lain:

. Menahbiskan hamba Tuhan
Dalam Perjanjian Lama, Musa meminta agar Allah menunjuk seseorang untuk mengepalai bangsa Isreal agar mereka “jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala” (Bil. 27:17). Maka Allah berkata kepada Musa, “Ambillah Yosua Bin Nun, seorang yang penuh roh, letaklah tanganmu atasnya… dan berilah dia sebagian dari kewibawaanmu, supaya segenap umat Isreal mendengarkan dia” (Bil. 27:18, 20). Musa melakukan seperti yang diperintahkan Allah dan menahbiskan Yosua di hadapan bangsa Isreal melalui penumpangan tangan (Bil. 27:15-23)

Di dalam Perjanjian Baru, ketika orang-orang Yahudi warganegara Yunani (Helenis) mengeluh kerana orang-orang Yahudi kerana para janda mereka diabaikan pada pelayanan sehari-hari, para rasul mengatakan kepada murid-murid untuk memilih tujuh orang yang terkenal baik, penuh roh dan hikmat. Murid-murid melakukannya dan memilih mereka melalui penumpangan tangan (Kis. 6:1-6)

. Mengutus pekerja
Di dalam gereja para rasul, pertama-tama pekerja harus menerima penumpangan tangan sebelum diutus untuk mengabarkan injil. Kisah Para Rasul mencatat: “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususnya Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Maka berpuasa dan bertobah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi” (Kis. 13:2-3)

12.6.6 Berdoa memohon Roh Kudus

​Di dalam baptisan Roh Kudus, penumpangan tangan juga merupakan hal yang penting. Alkitab mengatakan, pada saat masa hujan awal, orang-orang percaya seringkali menerima Roh Kudus melalui doa dan penumpangan tangan. Kita melihat contoh-contoh dari:

. Orang-orang percaya di Samaria
Setelah Stefanus mati sebagai martir, gereja Yerusalem mengalami penganiayaan besar. Murid-murid terpencar di seluruh daerah Yudea dan Samaria. Pada masa inilah Filipus pergi ke Samaria untuk mengabarkan injil dengan berani, melakukan banyak tanda dan mujizat. Ketika para rasul di Yerusalem mendengar bahawa orang-orang Samaria telah menerima injil Allah melalui Filipus, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke sana. Ketika para rasul berdoa bagi mereka dan menumpangkan tangan ke atas orang-orang percaya di Samaria, dengan segera mereka menerima Roh Kudus (Kis. 8:1-17)

. Saulus
Pada awalnya, Saulus menentang injil dan menganiayai gereja (Fil. 3:6; ref Yoh. 16:2-3). Ia mendapatkan surat dan imam besar yang memberinya wewenang untuk menangkap orang-orang Kristian di Damsyik dan membawa mereka ke Yerusalem. Di tengah jalan, Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya dan memilihnya untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Di saat yang sama Yesus menampakkan diri kepada Ananias untuk pergi kepada Saulus. Ketika Ananias menemukannya, ia menumpangkan tangan ke atas kepada Saulus dan berkata, “Saulus, saudaraku, jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus” (Kis. 9:17). Pada saat itulah Saulus menerima Roh Kudus dan kemudian bangkit untuk dibaptis dengan air

. Murid-murid di Efesus
Ketika Paulus pergi ke Efesus, ia bertemu dengan murid-murid yang hanya menerima baptisan Yohanes, dan belum menerima Roh Kudus. Segera Paulus membaptis mereka di dalam nama Yesus dan menumpangkan tangan ke atas mereka. Roh Kudus dengan segera turun kepada mereka dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat (Kis. 19:1-6)

​Semua kejadian di atas memberitahukan kita bahawa orang-orang Kristian di masa awal seringkali menerima Roh Kudus melalui doa dan penumpangan tangan. Hari ini kita dapat melihat karunia yang sama di Gereja Yesus Benar.

12.7 Miskin di hadapan Allah

​Menerima Roh Kudus adalah syarat yang tak dapat dilewatkan untuk dapat masuk ke dalam kerajaan Syurga (Yoh. 3:5; Ef. 1:14). Tuhan Yesus mengajarkan kita mengenai sikap yang benar untuk mencari kerajaan ini: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, kerana merekalah yang empunya Kerajaan Syurga” (Mat. 5:3)

​Miskin di hadapan Allah adalah bersikap rendah hati dan sepenuhnya mengosongkan diri kita, untuk memberikan ruang bagi Roh Kudus untuk memenuhi diri kita dan menuntun kehidupan kita. Patut kita perhatikan, seringkali anak-anaklah yang menerima Roh Kudus lebih mudah dan cepat. Ini sungguh mengingatkan kita akan pesan Tuhan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Syurga” (Mat. 18:3)

12.7.1 Gereja-gereja di Laodikia dan Smirna

​Di dalam Kitab Wahyu, kita melihat bahawa jemaat gereja di Laodika menganggap diri mereka kaya dan tidak kekurangan apa-apa, tidak menyedari bahawa mereka sebenarnya, “melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang” (Why. 3:17). Kata-kata ini menjelaskan keadaan beberapa gereja pada hari ini, yang: tidak mempunyai kebenaran, tetapi mengira mereka mempunyainya- kerana itu mereka miskin; tidak mempunyai Roh Kudus, tetapi menyatakan bahawa mereka mempunyainya- buta; mengira diri mereka kudus, tetapi sebenarnya miskin. Maka Tuhan berkata kepada mereka: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengelok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan Ia bersama-sama dengan Aku” (Why. 3:20)

​Berbeda dengan Gereja Laodikia, kita mengetahui keadaan gereja di Smirna ketika Tuhan berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu- namun engkau kaya” (Why. 2:9). Kita harus meneladani contoh gereja ini, miskin di hadapan Allah sehingga kita kaya di mata Allah.

12.7.2 Meninggalkan ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran

​Hari ini banyak orang Kristian mempermasalahkan bahasa roh, menyatakan bahawa baptisan Roh Kudus tidak harus disertai dengan bahasa roh. Ada juga orang-orang yang bersikeras bahawa orang menerima Roh Kudus saat ia menjadi percaya kepada Kristus. Yang lain menyatakan bahawa Roh Kudus telah masuk ke dalam hati setiap otang percaya sejak hari Pentakosta. Keyakinan-keyakinan ini menghalangi orang menerima Roh Kudus. Seperti sebuah perabot yang harus dikosongkan terlebih dahulu dari isinya yang lama sebelum diisi dengan yang baru, kita harus mengosongkan ajaran-ajaran Alkitab yang keliru sebelum Roh Kudus dapat memenuhi hati kita.

​Dari catatan mengenai murid-murid di Efesus dalam Kisah Para Rasul. 19, kita melihat contoh orang-orang yang merendahkan diri dengan mengesampingkan pengertian injil mereka yang tidak sempurna. Paulus bertanya kepada mereka tanpa basa-basi: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?”

​Mereka menjawab dengan terus terang, “Belum, bahkan kita belum pernah mendengar, bahawa ada Roh Kudus” (Kis. 19:2)

​Maka Paulus menyedari mengapa mereka belum menerima Roh Kudus, adalah kerana mereka hanya menerima baptisan pertobatan Yohanes. Kerana itu, dia membaptis mereka lagi di dalam nama Yesus (Kis. 19:3-5)

​Sebagian orang Kristian menentang bentuk baptisan ulang apa pun, kerana berasalan bahawa kerana baptisan air menandakan kematian, penguburan dan kebangkitan kita dengan Tuhan, kita harus dapat dibaptis satu kali seumur hidup. Mereka tidak menyedari itu tidak dapat menghapus dosa-dosa kita, dan sama saja dengan tidak dibaptis sama sekali. Pentingnya baptisan air yang benar nampak jelas dari tindakan Paulus menbaptis ulang orang-orang percaya di Efesus: ketika kemudian ia menumpangkan tangan ke atas mereka, mereka menerima Roh Kudus dan berbahasa roh (Kis. 19:6)

12.8 Kekudusan

​Kekudusan adalah syarat penting lain untuk menerima Roh Kudus. Tuhan Yesus mengajarkan kita, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, kerana mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8). Allah itu kudus, dan tanpa kekudusam, orang tidak dapat melihatNya (I Ptr. 1:15-16; Ibr. 12:14) atau menerima karuniaNya (Mzm. 73:1). Ia telah memilih kita dari antara bangsa-bangsa dan memisahkan kita untuk menjadi umat yang kudus. Kerana itu Ia mengharapkan kita dikuduskan dan suci (I Tes. 3:3-7)

​Kita melihat Allah senantiasa menuntut kekudusan dari umatNya, kerana di masa Perjanjian Lama, Ia telah menetapkan agar bangsa Isreal harus menjaga diri mereka tetap kudus dengan memegang ketetapan dan perintahNya (Im. 1:3-4; 11:44-47; Yer. 4:4; 9:25)

​Alkitab mengajarkan kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, kerana dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23). Allah memerintahkan umat pilihanNya di Perjanjian Lama untuk melakukan ini melalui tindakan sunat, memperingatkan bahawa mereka akan dihukum apabila tidak disunat (Yer. 4:4; 9:25). Di dalam Perjanjian Baru, sunat yang sejati tidak lagi berupa tindakan fisik yang ada di luar, tetapi menjadi keadaan rohani yang berhubungan dengan hati kita (Rm. 2:27-29). Sayangnya orang-orang Farisi di masa Yesus mengabaikan hal ini dan menekankan kekudusan yang nampak dari luar saja, dan menelantarkan kekudusan hati mereka. Mereka lebih mementingkan upacara-upacara agama, seperti membasuh tangan sebelum makan, dan mengecam Yesus dan murid-muridNya yang makan tanpa mencuci tangannya. Yesus menegur sikap mereka yang salah dengan berkata, “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan” (Luk. 11:39). Jadi kekudusan berasal dari hati yang murni; dan ini adalah tujuan sesungguhnya di balik segala hukum Allah.

​Patut disebutkan bahawa mempunyai hati yang murni tidak selalu bererti kita harus mencapai tingkat kekudusan yang sempurna, atau benar-benar kudus. Namun ini adalah cara hidup, yang di dalamnya kita senantiasa berusaha untuk hidup kudus. Tersirat sebuah tuntutan di dalamnya agar kita bertobat dengan sepenuh hati apabila kita melakukan dosa. Kita semua manusia, dan tidak ada orang yang sempurna kecuali Allah (Mat. 19:17; Rm. 3:9-12). Jadi yang penting adalah mengejar kekudusan, dan segera bertobat ketika melakukan pelanggaran.

​Kita dapat belajar dari banyak contoh di Alkitab. Ayub duduk dalam debu dan abu untuk bertobat dan akhirnya dapat melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri, dan mendapat kesembuhan (Ayb. 42:5-6, 10). Zahkeus, seorang pemungut cukai, bertobat di hadapan Yesus, sehingga diampuni dan diselamatkan (Luk. 19:1-10)

​Allah murah hati dan baik. Ia mahu menyertai mereka yang remuk dan rendah hati, dan yang memegang firmanNya (Mzm. 103: 8-9; Yes. 57:15; 66:2). Alkitab memberitahukan kepada kita bahawa pengorbanan yang Ia kehendaki adalah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk (Mzm. 51:17). Kerana itu kita perlu terus-menerus memeriksa diri kita, meminta kepada Allah untuk menyelidiki hati kita, dan bertobat dari setiap kesalahan (Rat. 3:40; Mzm. 139:23-24)

​Di masa Raja Salomo, Allah berjanji kepada bangsa Isreal: “Berpalinglah kamu kpeada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu” (Ams. 1:23). Hari ini, di masa hujan akhir, siapa saja yang mendengar teguran Allah dan berbalik kepadaNya, akan menerima karunia Roh Kudus. Kita haris terilhamkan oleh roh Daud: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku… Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mzm. 51:1, 10)

12.9 Iman dan Ketekunan

12.9.1 Iman

​Allah menyukai orang yang beriman dan memberkati mereka dengan menjawab doa-doa mereka: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahawa Allah ada, dan bahawa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6). Penulis Kitab Ibrani menjelaskan bahawa iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Yesus juga mengajarkan, “apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahawa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mrk. 11:24)

12.9.2 Allah yang tidak kelihatan

​Hari ini ada banyak orang sulit percaya kepada Allah, kerana mereka tidak dapat melihatNya. Alkitab memang mengajarkan: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah” (Yoh. 1:18; ref. Yoh. 4:24). Namun manusia tidak dapat menyangkal keberadaanNya, seperti yang ditunjukkan Paulus: “Sebab apa yang tidak nampak daripadaNya, iaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak kepada fikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20). Percaya akan adanya Allah adalah langkah pertama dalam perjalanan iman kita, dan dengan iman, jarak antara Allah dengan kita akan berkurang seiring berjalannya waktu.

​Iman kita juga tumbuh apabila kita memegang erat pengajara-pengajaran Alkitab tentang kasih Allah yang tidak berkesudahan, lemahakuasaanNya, dan kesetiaanNya. Alkitab mengajarkan:
• Allah itu kasih (I Yoh. 4:8). Bukti kasihNya adalah kedatanganNya sebagai manusia untuk menyerahkan nyawaNya demi kita, dan menyelamatkan kita dari maut dan masuk ke dalam kehidupan (Yoh. 3:16; Rm. 5:7-8). Dengan menyedari hal ini, kita dapat merasa yakin bahawa Ia tidak menahan hal apa pun juga untuk kita (Rm. 8:32)
• Allah itu mahakuasa (Kej. 17:1) dan segala hal menjadi mungkin melalui Dia (Mat. 19:26). Alkitab berkata: “Oleh firman Tuhan labgit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaranya” (Mzm. 33:6). Jadi tidak ada hal yang mustahil Dia lakukan demu kita (Kej. 18:14)

• Allah itu setia (Ul. 7:9). Bahkan saat kita tidak setia, Ia tetap setia, kerana Ia tidak dapat menyangkal diriNya sendiri (II Tim. 2:13). Allah berjanji melalui Yesus bahawa apa pun yang kita minta dengan iman, kita akan menerimanya (Mat. 21:22). Jadi kita harus percaya bahawa Ia akan menjawab doa-doa kita.

12.9.3 Orang-orang beriman

​Dari Alkitab, kita mengetahui ada dua orang yang memperlihatkan iman yang luar biasa kepada Yesus. Pertama, ada seorang perempuan yang menderita pendarahan selama dua belas tahun. Ia mendekati Yesus dan menjamah jubahNya, percaya bahawa ia dapat sembuh dengan melakukannya. Perempuan itu tidak pergi dengan tangan hampa, kerana pemdarahannya langsung berhenti. Yesus berkata kepadanya, “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” (Mrk. 5:34). Kedua, kita membaca tentang seorang pengawai istana yang anaknya sakit dan sekarat. Ia memohon kepada Yesus untuk pergi bersamanya. Pada saat yang penting itu, Yesus memutuskan untuk tidak menyertai dia, tetapi hanya berkata, “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh. 4:50). Pegawai istana itu percaya dengan perkataan Yesus dan kembali ke rumahnya dengan iman. Berkat dicurahkan kepadanya, kerana hambanya menemui dia di tengah jalan dan mengatakan bahawa anaknya telah sembuh.

12.9.4 Ajaran-ajaran palsu

​Di masa para rasul, ada guru-guru palsu yang menyatakan bahawa kebangkitan adalah hal di masa lampau. Pengajaran mereka menyebar seperti virus yang menghancurkan iman banyak orang (II Tim. 2:17-18; I Kor. 15:12-22). Keadaan serupa dapat ditemukan dalam Kekristianan pada hari ini. Banyak pemimpin gereja menyatakan bahawa Pentakosta telah berlalu. Yang lain berpendapat bahawa Roh Kudus turun satu kali untuk selamanya di hari Pentakosta, dan sejak hari itu Ia terus menyertai orang-orang Kristian. Seperti ajaran-ajaran palsu di masa para rasul, ajaran-ajaran ini telah meresap ke dalam Kekristianan, mengacaukan iman banyak orang dan menghalangi mereka mengalami baptisan Roh Kudus.

​Kita perlu memahami bahawa hari Pentakosta yang asli memang telah menjadi bagian dalam sejarah, tetapi Pentakosta-Pentakosta serupa bermunculan sejak hati itu kerana Roh Kudus terus dicurahkan dengan penuh kuasa kepada umat percaya. Paulus berkata, “Di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (Gal. 3:14). Perkataannya memberitahukan bahawa Roh Kudus yang Allah janjikan pasti akan dicurahkan kepada semua orang yang mencari Dia dengan iman, ini terlihat di masa hujan awal, dan terus terjadi di masa hujan akhir. Kita tidak boleh meragukan firman Allah.

12.9.5 Di mana kita harus berdoa?

​Yesus mengajarkan: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:6). Bila kita melihat ayat ini secara hurufiah, ini bererti kita harus mencari tempat yang tenang untuk berdoa- tempat kita dapat memusatkan perhatian dan tidak terganggu. Namun ini juga menandakan perlunya memasuki ruangan di dalam hati kita, tempat kita dapat berkomunikasi dengan Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh.

​Pergi ke tempat yang tenang untuk berdoa adalah kebiasaan yang baik. Namun keadaan hati kita juga penting. Apabila seseorang tidak dapat memusatkan perhatian dan membiarkan fikirannya mengembara, ruangan paling sunyi sekalipun tidak akan berhasil membantu kita memanjatkan doa yang efektif. Sebaliknya, seseorang yang berdoa di tempat umum tetapi melakukannya dengan sepenuh hati, dapat melakukan doa yang menyenangkan hati Allah. Yesus juga tidak mencontoh orang-orang munafik yang senang berdoa dengan berdiri di dalam rumah ibadah dan di sudut jalan, agar mereka dapat dilihat orang lain (Mat. 6:5)

​Yesus seringkali menyingkir dari kota dan kerumunan untuk berdoa di tempat-tempat yang tenang dan damai- kadang-kadang di gunung yang tinggi (Mat. 14:23; Luk. 6:12; 9:28) atau di padang belantara (Mat. 4:1-2; Mrk. 1:35; Luk. 5:16). Pada saat Ia berada di Taman Getsemani, Ia memisahkan DiriNya dari murid-muridNya untuk berdoa di kejauhan dan seorang diri (Mat. 26:36-40; Luk. 22:39-41). Tetapi ini bukan satu-satunya caraNya berdoa-kita juga melihat dalam beberapa kesempatan, Yesus berdoa di hadapan banyak orang (Luk. 3:21; 11:1; Yoh. 11:41-43; 12:27-29). Ia juga memperlihatkan khasiat doa syafaat (Mat. 18:19-20) dan mengajarkan agar rumahNya harus menjadi “rumah doa bagi segala bangsa” (Mrk. 11:17)

​Di masa gereja mula-mula, ada tempat-tempat yang biasa digunakan untuk berdoa (Kis. 10:9; 16:13) dan tempat-tempat lain yang dipilih oleh orang-orang percaya secara spontan (Kis. 21:5; 27:35). Tidak mengherankan, Paulus mengajarkan kita untuk berdoa “di mana-mana” (I Tim. 2:8), menunjukkan bahawa tempat kita berdoa bukanlah hal yang penting, tetapi yang penting adalah berdoa di dalam roh dan di dalam kebenaran (Yoh. 4:24)

12.9.6 Mencari Roh Kudus dengan segenap hati

​Dalam Perjanjian Lama, Allah berbicara kepada umatNya yang ada dalam pembuangan di Babel melalui Nabi Yeremia: “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepadaKu, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yer. 29:12-13). Kata-kata ini mengingatkan agar kita mencari Allah dengan sungguh-sungguh dan giat. Tanpa Roh Kudus, kita menjadi seperti orang-orang dalam pembuangan yang tidak mampu mengalahkan dosa, kerana walaupun roh kita penurut, tetapi tubuh kita lemah (Rm. 7:14-24; Mat. 26:41). Kita memberikan kuasa kepada kita yang melaluiNya kita dibebaskan dari kuasa dosa dan maut (Rm. 8:1-2, 13; Gal. 5:16). Kita dapat menemukanNya apabila kita berusaha keras memanggilNya dengan sepenuh hati.

12.10 Ketekunan dalam doa

​Ketekunan adalah kunci keberhasilan doa. Di Kitab Roma, Paulus mendorong gereja untuk “bertekun [lah] dalam doa” (Rm. 12:12). Di dalam Alkitab bahasa Inggeris, Paulus menggunakan kata kerja “continue- terus”, yang diterjemahkan dari bahasa Yunani proskartereo dan mempunyai beberapa erti, seperti “menantikan”, “menunggu di suatu tempat”, “meneruskan dengan setia bersama seseorang”, dan “dengan setia bergantung pada seseorang”2.

12.10.1 Contoh-contoh ketekunan

​Ada banyak orang dari berbagai periode dalam sejarah yang menunjukkan sikap ketekunan di dalam doa dan kerananya mendapatkan berkat. Mereka menjadi teladan-teladan yang baik untuk kita. Di antaranya adalah:

i. Abraham
Ketika Abraham mendekati usia 100 tahun, ia menganggap dirinya sedah terlalu tua untuk menjadi ayah atas banyak bangsa, dan begitu juga isterinya telah terlalu tua untuk dapat melahirkan anak (Kej. 17:17). Namun ia percaya dengan janji Allah, menunggu dengan sabar dan tanpa ragu, hingga akhirnya ia menerimanya (Rm. 4:19-21; Ibr. 6:15)

ii. Yakub
Saat ia kembali dari Haran, Yakub bergumul dengan Allah di Pniel sepanjang malam. Yakub tidak bersedia melepaskanNya sampai Ia memberkatinya. Pada saat itu bukannya Allah tidak dapat menang- Allah sangat tersentuh dengan keteguhan Yakub sehingga Ia memilih untuk tidak menang dan mengabulkan permintaan Yakub (Kej. 32:24-30)

iii. Elia
Di masa pemerintahan Raja Ahab, terjafi kekeringan dan kelaparan di negeri Isreal yang berlangsung selama tiga setengah tahun (Luk. 4:25). Elia pergi ke Gunung Karmel untuk berdoa memohon hujan, berlutut dan berdoa tujuh kali. Allah menjawab doanya: angin mulai berhembus, dan langit penuh dengan awan hujan yang kemudian mencurahkan hujan ke atas bumi yang kering (I Raj. 18:41-45; Yak. 5:17-18)

iv. Perempuan Kanaan
Seorang perempuan Kanaan yang anaknya dirasuki setan datang ke hadapan Yesus untuk memohon pertolongan. Awalnya Yesus tidak berkata apa-apa. Ketika Ia menjawab, Ia berkata, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Isreal” (Mat. 15:24) dan juga menambahkan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mat. 15:26). Yesus menolak permohonannya sebanyak tiga kali, tetapi perempuan Kanaan ini tidak menyerah. Dengan rendah hati ia menjawab, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (Mat. 15:27). Yesus kagum dan memuji imannya, dan memulihkan anaknya.

v. Teman-teman orang lumpuh
Ketika Yesus sedang mengajar di sebuah rumah di Kapernaum, empat orang membawa orang lumpuh dan mencari Dia. Mereka tidak dapat mendekati Yesus kerana terhalang oleh kerumunan orang banyak, tetapi mereka tidak menyerah. Kegigihan mereka terlihat saat mereka memanjat atap rumah untuk membuka jalan agar dapat menurunkan si orang lumpuh. Saat Yesus melihat iman mereka, Ia tergerak untuk mengampuni dosa-dosa si orang lumpuh dan menyembuhkannya (Mrk. 2:1-12)

vi. Gereja mula-mula
Pada saat Raja Herodes menganiayai gereja mula-mula dengan sangat keras, ia memenjarakan Petrus dengan cara yang paling ketat, memerintahkan agar Petrus dibelenggu dengan rantai, dijaga oleh dua penjaga, dan empat pasukan di sisi lain pintu penjara. Gereja bersatu dalam doa memohon keselamatan Petrus. Allah menjawabnya dengan mengutus seorang malaikat untuk menyelamatkan Petrus (Kis. 12:4-19)

12.10.2 Janda yang tidak menyerah

​Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan yang mendorong kita untuk berdoa dengan tekun dan tidak jemu-jemu, dan tidak pernah menyerah. Ia berkata, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun kerana janda itu menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” (Luk. 18:1-5). Di sini Yesus menunjukkan bahawa hakim yang tidak adil dan lalim itu membenarkannya kerana si janda tidak jemu-jemu terus meminta. Ia mengingatkan kepada kita bahawa Bapa kita Syurgawi yang baik dan berbelas kasihan, tentu akan menjawab doa anak-anak yang Ia kasihi, apabila mereka berdoa dengan tekun dan dengan iman.

12.10.3 Kehidupan doa Yesus

​Selain mengajarkan kita berdoa, melalui teladan peribadi Yesus juga menunjukkan bagaimana hidup dengan penuh doa:

• Ia berpusa dan berdoa selama 40 hari dan 40 malam untuk memohon kuasa dari atas, agar Ia dapat memenuhi tugas yang dipercayakan kepadaNya oeh Allah Bapa. Ia dipenuhi dengan Roh Kudus dan mendapatkan kuasa untuk menghadapi cobaan Iblis, dan memulai pelayananNya (Luk. 4:1-15)

• Ia sering berdoa semalaman untuk memohon kepada Bapa untuk terus menolongnya dalam pelayananNya (Mrk. 1:35; Mat. 14:23, 25; Luk. 6:12-13). Kerana itu Ia senantiasa dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir setan (Mrk. 5:30; Luk. 5:17; 6:19; Kis. 10:38)

• Di malam Ia akan ditangkap, Yesus berdoa tiga kali di Taman Getsemani. Di saat penting itu, Ia sangat membutuhkan kekuatan dan kuasa dari Bapa Syurgawi untuk menjalankan rencana keselamatan di kayu salib. Walaupun malaikat-malaikat datang untuk menguatkanNya, Ia terus berdoa, memohon kepada Allah dengan air mata. Alkitab menjelaskan bahawa keringatNya yang jatuh ke tanah adalah seperti tetesan darah. Kerana doaNya yang sangat tekun, Yesus dapat menghadapi maut di kayu salib dan akhirnya bangkit dalam kemuliaan (Mat. 26:36-44; Luk. 22:41-44; Ibr. 5:7; Kis. 2:24)

12.10.4 Senantiasa berdoa memohon Roh Kudus

​Ketekunan dalam doa sangat penting ketika kita memohon Roh Kudus, yang kita butuhkan untuk mendapatkan keselamatan. Yesus menceritakan dua perumpamaan mengenai hal ini, dan keduanya dicatat di Kitab Lukas fasal 11. Perumpamaan pertama menceritakan tentang seseorang yang mempunyai permintaan mendesak kepada seorang teman di tengah malam (ayat 5-8). Perumpamaan kedua menceritakan seorang ayah yang penuh kasih, yang memberikan yang terbaik untuk menjawab permintaan anaknya (ayat 11-12). Di ayat 13, Yesus menyimpulkannya dengan mengajarkan bahawa sama seperti permintaan orang-orang yang dijawab itu, begitu juga Allah akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang berdoa kepadaNya dengan hati yang sama.

​Kepada murid-muridNya, Yesus, “melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang –demikian kataNya-“telah kamu dengar daripadaKu. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”” (Kis. 1:4-5). Yesus juga berkata, “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan BapaKu. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Luk. 24:49). Yesus meminta kepada mereka untuk menunggu waktu yang telah ditentukan Allah dengan kesabaran dan pengharapan. Dan benar, setelah Yesus naik ke Syurga, murid-murid diam bersama-sama di Yerusalem dan “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kis. 1:14). Pada akhirnya, di hari Pentakosta, penantian mereka usai: mereka mendengar suara dari Syurga seperti angin yang berhembus, dan mereka dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis. 2:1-4)

​Setelah Saulus dipilih oleh Tuhan di tengah perjalanannya menuju Damsyik, ia berpuasa tiga hari dan tiga malam, dan selama itu ia berdoa kepada Allah. Ketika waktunya tiba, Tuhan mengutus Ananias untuk menumpangkan tangan ke atas dirinya, sehingga ia dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis. 9:8-19)

12.10.5 Haus akan Roh Kudus

​Penatua Yohanes mengajarkan bahawa ketika kita berdoa memohon baptisan Roh Kudus, kita harus melakukannya dengan rasa haus rohani yang murni (Yoh. 4:10, 13-14)

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum! Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum datang, kerana Yesus belum dimuliakan.
​​​​​​​​Yohanes. 7:37-39

Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mahu, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan Cuma-Cuma!
​​​​​​​​Wahyu. 22:17

​Kita perlu belajar dari peringatan Allah kepada jemaat di Laodikia, dan tidak merasa puas hati (Why. 3:14-17). Doa-doa kita harus mencerminkan kerinduan kepada Allah yang sungguh-sungguh. Hati kita haruslah seperti pemazmur yang menginginkan Allah seperti seekor rusa merindukan sungai (Mzm. 42:1). Bila kita berdoa dengan sikap ini, Roh Kudus akan mengalir melalui hati kita.

12.11 Memegang perintah Allah

​Sebagai orang Kristian, kita menunjukkan kasih kita kepada Tuhan kepada memegang perintah-perintahNya. Kita tidak dapat berkata kita mengasihi Allah bila kita melawan perintahNya. Begitu juga, memegang perintah Allah adalah syarat untuk menerima Roh Kudus. Yesus mengajarkan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh. 14:15-16). Yesus juga berkata, “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadanya… Jika seorang mengasihi Aku, Ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh. 14:21, 23)

12.11.1 Beribadah saja tidak cukup

​Dalam Perjanjian Lama, Allah menegur bangsa Isreal melalui Nabi Yesaya dan berkata, walaupun mereka mempersembahkan banyak korban bakaran, Ia tidak berkenan kepada mereka. Malah, Allah tidak sudi melihat ibadah mereka dan tidak mahu mendengar doa-doa mereka yang dipanjatkan dengan tangan terbuka. Masalahnya ada pada tangan-tangan mereka yang penuh dengan kekerasan dan perbuatan yang jahat. Allah menegur bahawa mereka hanya menghormatiNya dengan mulut saja, sementara hati mereka jauh dari Dia. Ia memperingatkan mereka, apabila mereka tidak berhenti melakukan kejahatan dan mulai belajar melakukan hal yang baik, mengejar keadilan dan membebaskan orang-orang yang tertindas, Ia tidak akan diam dekat dengan mereka (Yes. 1:10-17; 29:13). Dari sini kita mendapatkan pengajaran, apabila kita memohon Roh Kudus tetapi kita hidup di dalam dosa, tidak peduli betapa seriusnya kita berdoa, Ia tidak akan menjawabnya.

12.11.2 Perintah untuk saling mengasihi

​Salah satu perintah paling penting yang Yesus ajarkan adalah saling mengasihi, seperti Ia mengasihi kita (Yoh. 13:34; 15:12-14). Sama seperti Yesus yang menyerahkan nyawaNya demi kita, sepatutnya kita juga bersedia menyerahkan nyawa kita demi saudara-saudari seiman di dalam Kristus (I Yoh. 3:16). Contohnya, apabila kita mengasihi dan memperhatikan mereka di masa suka mahupun duka, kita telah menunjukkan kasih kita kepada Tuhan Yesus (Kol. 1:24; 12:25-27)

​Kita melihat kebenaran ini dari perkataan Yesus kepada Saulus, yang sedang menganiayai orang Kristian. Dia berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiayai Aku?”

​Saulus menjawab, “Siapakah Engkau, Tuhan?”

​Tuhan menjawab, “Akulah Yesus, yang kau aniaya itu” (Kis. 9:1-5)

​Perkataan ini menunjukkan bahawa apa pun yang kita perbuat untuk saudara-saudara seiman kita, maka kita melakukannya untuk Tuhan.

​Mengasihi satu sama lain adalah gaya hidup orang Kristian (Yoh. 13:34-35): dengan melakukannya, kita menunjukkan kepada dunia bahawa kita adalah murid-murid Yesus. Kasih adalah penggenapan segala Hukum Taurat dan pengajaran para nabi (Mat. 22:39-40; Gal. 5:14). Jadi Ia yang mengasihi tetangganya, telah memenuhi hukum Taurat. Kita harus senantiasa hidup dengan sedemikian rupa sehingga kita merasa berhutang kasih kepada orang lain, dan mencari kesempatan untuk melunasi hutang itu (Rm. 13:8)

​Penatua Yohanes mengajarkan bahawa orang yang tidak dapat mengasihi saudara-saudari seimannya, tidak dapat menyatakan dirinya mengasihi Allah. Ia berkata, “Jikalau seorang berkata:”Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, kerana barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kiya terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (I Yoh. 4:20-21)

​Kasih mencakup semuanya. Maka Yesus mengajarkan kita bahawa tidak hanya mengasihi Allah dan saudara-saudari seiman, kita juga harus mengasihi musuh kita: ”Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiayai kamu. Kerana dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di Syurga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:44-45)

12.11.3 Melakukan kasih

​Kasih tidak ditunjukkan hanya melalui kata-kata; tetapi kasih harus dilakukan. Penatua Yohanes berkata:

Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi tutup hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Demikianlah kita ketahui, bahawa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah.
​​​​​​​​I Yohanes. 3:17-21

​Dia juga memberitahukan kita bahawa tersedia berkat bagi mereka yang mengasihi orang lain:

Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya daripadaNya, kerana kita menuruti segala perintahNya dan berbuat apa yang berkenan kepadaNya. Dan inilah perintahNya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, AnakNya dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahawa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.
​​​​​​​​I Yohanes. 3:22-24

​Berkatnya adalah, Allah akan menjawab doa-doa kita dan kita akan menerima apa pun yang kita minta (ref. Yoh. 15:7-10). Ini adalah kebenaran yang penting bagi mereka yang mencari baptisan Roh Kudus.

12.12 Kesimpulan

​Hari ini, Roh Kudus dicurahkan ke semua orang percaya, sama seperti masa gereja para rasul. Namun kita melihat banyak gereja dan denominasi menolak kebenaran ini. Contohnya, mereka menolak berbahasa roh sebagai bukti baptisan Roh Kudus, atau bersikeras bahawa baptisan itu telah terjadi bagi semua orang. Kita perlu meminta Allah untuk membuka hati kita kepada pesan firman Tuhan (ref. Luk. 24:45) sehingga kita dapat memahami kebenaran mengenai Roh Kudus, dan lebih penting lagi, mengalami sendiri baptisan Roh yang indah ini.

Pertanyaan ulasan

1. Mengapa orang harus datang ke gereja benar untuk menerima baptisan Roh Kudus?
2. Mengapa menuruti firman Tuhan itu penting?
3. Apakah yang dikatakan Alkitab mengenai pujian yang berulang-ulang, seperti “Haleluya” saat kita berdoa?
4. Apakah hubungan antara baptisan air dengan baptisan Roh Kudus?
5. Di dalam Alkitab, contoh-contoh apa saja yang terdapat mengenai orang percaya menerima Roh Kudus melalui penumpangan tangan?
6. Mengapa kita harus miskin di hadapan Allah?
7. Mengapa hati kita harus murni?
8. Mengapa kita harus beriman?
9. Mengapa kita harus brdoa dengan sungguh-sungguh?
10. Mengapa tekun berdoa itu penting?
11. Apakah hubungan memegang perintah-perintah Allah dengan berdoa memohon Roh Kudus?

_______________________________________________________________________________________________________

1. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr., William, Vine’s Complete Expository Dictionary of Old And New Testament Words (Nashville, Atlanta, London and Vancouver: Thomas Nelson Publishers, 1985). G945.
2. Ibid. G4342.

​​

(Dibaca : 504 kali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *