Bab 09 Baptisan Roh Kudus

9.1 Pendahuluan

​Baptisan Roh Kudus adalah ketika seorang percaya menerima Roh Kudus, yaitu pada saat Roh Kudus datang kepadanya dan hidup di dalam dirinya (Yoh. 14:16-17). Ini dialami pertama kali oleh Petrus dan murid-murid Yesus lainnya di hari Pentakosta (Kis. 2:1-4), dan kemudian oleh umat percaya lainnya, seperti orang-orang Samaria (Kis. 8:14-17), Paulus (Kis. 9:17-18), Kornelius sekeluarga (Kis. 10:44-47) dan orang-orang Efesus (Kis. 19:1-7)

​Alkitab menggunakan berbagai deskripsi mengenai baptisan Roh Kudus:
• Turunnya Roh Kudus atas orang-orang percaya (Kis. 1:8; 8:16; 10:44; 11:15; 19:6)
• Orang-orang percaya dipenuhi oleh Roh Kudus (Kis. 2:4; 9:17)
• Orang-orang percaya menerima Roh Kudus (Kis. 2:38; 8:17, 19; 10:47)
• Roh Kudus dicurahkan atas orang-orang percaya (Kis. 10:45)
• Roh Kudus diberikan kepada orang-orang percaya (Kis. 8:18; 11:17)
• Sebuah karunia (Kis. 2:38; 10:45)
• Sebagai meterai (Ef. 1:13; 4:30)
• Sebuah janji (Gal. 3:14; Kis. 2:39)
• Pencurahan yang berlimpah (Tit. 3:6)

Beberapa penulis Kristian yang berpengaruh dari timur dan barat telah menulis panjang lebar mengenai hal ini. Namun sayangnya, banyak pandangan mereka yang keliru, tetapi kekeliruan ini telah tertanam dalam doktrin Kekristianan secara umum. Contohnya antara lain: Roh Kudus turun satu kali saja di hari Pentakosta, dan terus tinggal dengan umat Kristian sejal hari itu; semua orang percaya telah mempunyai Roh Kudus, buktinya, mereka dapat mengakui bahawa Yesus Kristus adalah Tuhan: berbahasa roh hanyalah salah satu karunia Roh Kudus, dan bukan bukti tunggal seseorang telah menerima Roh Kudus; bahasa yang diutarakan para murid yesus di hari Pentakosta adalah bahasa-bahasa asing; berbahasa roh adalah karunia rohani paling terakhir, yang hilang di masa para rasul.

Dengan Alkitab sebagai referensi, bab ini akan menyelidiki pendapat-pendapat yang diutarakan oleh beberapa penulis.

9.2 Kesalahfahaman umum mengenai baptisan Roh Kudus

Kesalahfahaman 1

Setiap orang yang sungguh-sungguh percaya mempunyai Roh (Rm. 8:9), tetapi itu bukan bererti ia telah menerima baptisan Roh.
​​​​​​​​J.Oswald Sanders (hal. 64)

​Sanders membedakan antara orang yang mempunyai atau menerima Roh Kudus, dengan menerima baptisan Roh Kudus. Ia berpendapat, bahawa mempunyai Roh Kudus adalah pengalaman umum dan otomatis, sementara menerima baptisan Roh Kudus adalah pengalaman yang khusus. Pola fikirnya mengindikasikan bahawa menerima baptisan Roh Kudus nampaknya merupakan keadaan rohani yang lebih tinggi daripada “sekadar” mempunyai Roh Kudus.

Apa kata Alkitab?

​Seperti yang telah disebutkan di awal bab ini, menerima Roh Kudus itu sama dengan dibaptis oleh Roh Kudus. Kita juga melihat, walaupun Alkitab menjelaskan pengalaman ini dengan menggunakan istilah-istilah yang berbeda, bukan bererti ini adalah pengalaman yang berbeda. Contohnya, Yesus berkata kepada murid-muridNya, “tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Ia melanjutkan, “kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (Kis. 1:8). PerkataanNya menunjukkan bahawa baptisan Roh Kudus dan menerima Roh Kudus adalah hal yang sama.

Kesalahfahaman 2

​Kata “baptisan” dan “dipenuhi” mempunyai erti yang berlawanan. Dalam baptisan, kita dimasukkan ke dalam sebuah elemen. Sementara dipenuhi, elemen itu yang dimasukkan ke dalam diri kita. Dipenuhi bererti Roh adala dalam diri kita. Kata “baptisam” itu sendiri meniadakan segala gagasan tentang penerimaan internal Roh yang dimaksud.
​​​​​​​​J. Oswald Sanders (hal. 66)

Apa kata Alkitab?

​Di sini, Sanders memberikan alasan yang nampaknya masuk akal adanya “baptisan” Roh Kudus secara eksternal yang berbeda dengan “pemenuhan” Roh yang internal. Namun kita harus mengerti bahawa Roh Kudus bukanlah sesuatu yang bersifat jasmani, kerana itu tidak dapat dijelaskan dengan konsep-konsep jasmani.

​Sebelum kenaikanNya, Yesus berkata kepada murid-muridNya,”Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Alkitab mencatat pemenuhan janji ini dengan kata-kata:”Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus” (Kis. 2:4). Kata-kata ini berlawanan dengan pendapat Sanders mengenai adanya “baptisan” Roh Kudus secara eksternal yang berbeda dengan “penerimaan Roh secara internal.”

Kesalahfahaman 3

Kita tidak mempunyai catatan mengenai seseorang secara pribadi dibaptis dengan Roh. Kita ulangi, kita tidak punya catatan apa pun di Kisah Para Rasul, atau di bagian mana pun dalam injil, mengenai seseorang dibaptis dengan Roh Kudus. Ambil sebagai contoh murid-murid yang Allah gunakan dalam masa para rasul setelah hari Pentakosta. Kepenuhan mereka akan Roh Kudus bukanlah pengalaman pembaptisan; namun pengalaman hari ke hari dalam kehidupan yang penuh pengabdian… Pemenuhan Roh Kudus tidak dapat dikaitkan dengan pengalaman krisis apa pun kerana kita tidak mempunyai sedikit pun bukti bahawa seseorang dipenuhi dengan Roh Kudus menyedari akan hal itu.
​​​​​​​John H. Pickford (hal. 21)

Di sini Pickford berpendapat, bahawa setelah hari Pentakosta: orang-orang tidak lagi perlu dibaptis dengan Roh Kudus, kerana mereka telah dipenuhi oleh Roh Kudus; hanya terdapat catatan alkitabiah mengenai beberapa kelompok orang yang dibaptis dalam Roh, tetapi bukan perorangan. Juga, pemenuhan Roh Kudus tidak berkaitan dengan apa yang ia sebut sebagai “pengalaman krisis” secara pribadi.

Apa kata Alkitab?

• Kisah Para Rasul. 9:17 memberikan contoh khusus mengenai seseorang yang menerima Roh Kudus: Saulus menerima Roh Kudus setelah Ananias diutus kepadanya dan menumpangkan tangan ke atasnya.
• Baptisan Roh Kudus adalah janji Tuhan Yesus (Kis. 1:5) yang dapat dialami semua orang secara pribadi. Ini tidak dapat dianggap sebagai “pengalaman krisis” yang berlebihan. Janji ini disebutkan dalam Alkitab berulangkali:

Dan akupun tidak mengenalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: jikalau engaku melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
​​​​​​​​​Yohanes. 1:33

Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 11:15-16

Dan ketika aku mulain berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 11:15-16

Ketika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita menyedari bagaimana baptisan Roh Kudus adalah bagian penting dalam perjalanan iman orang Kristian. Saat Petrus dan Yohanes mengetahui bahawa orang-orang Samaria telah menerima Tuhan, mereka segera mengunjungi orang-orang Samaria untuk menumpangkan tangan ke atas mereka agar mereka dapat menerima Roh Kudus (Kis. 8:14-17). Begitu juga ketika Paulus pergi kr Efesus, pertanyaan pertama yang ia utarakan kepada murid-murid adalah :”Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya” (Kis. 19:2). Ketika mereka menjawab bahawa mereka belum menerimanya, Paulus membaptis ulang mereka di dalam nama Yesus dan menumpangkan tangan kepada mereka (Kis. 19:6)

​Di dua kesempatan ini, para rasul memastikan agar umat percaya dapat menerima Roh Kudus, mereka menumpangkan tangan, bertanya, dan melakukan baptisan air yang benar.

9.3 Bukti menerima Roh Kudus

9.3.1 Dapat dilihat dan didengar

Ketika Paulus sampai ke Efesus, katanya kepada mereka:”Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia :”Belum, kami belum pernah mendengar, bahawa ada Roh Kudus.”
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 19:2

​Pertanyaan yang diutarakan Paulus kepada jemaat di Efesus dan jawaban yang mereka berikan, menunjukkan bahawa baptisan Roh Kudus selalu disertai dengan tanda tertentu, atau iman yang buta. Alkitab menjelaskan pengalaman itu sebagai pengalaman yang dapat dilihat dan didengar (Kis. 2:33). Namun fakta ini diperdebatkan dengan keras oleh banyak gereja pada hari ini. Dalam meneliti mengapa ini terjadi, kita diingatkan oleh kata-kata Yesus :”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidal melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yoh. 14:16-17)

​Kenyataannya, hanya Roh Kudus sendiri yang memungkinkan kita memahami perkara-perkara Roh. Apabila Ia tidak hadir untuk membimbing, sebuah komunitas iman sudah pasti terpaksa menduga-duga, yang mengakibatkan pengajaran-pengajaran yang keliru seperti pernyataan bahawa seseorang langsung menerima Roh Kudus begitu ia menjadi percaya.

​Di bawah ini adalah beberapa kesalahfahaman umum yag berhubungan dengan bukti baptisan Roh Kudus.

Kesalahfahaman 4

Alkitab memang memberitahukan kita bahawa kita harus bertobat dan percaya di dalam Tuhan, agar dosa-dosa kita diampuni (Yoh. 3:18; Kis. 10:43). Ini akan memungkinkan kita menerima Roh Kudus (Kis. 2:38). Kita [ercaya pada firman Tuhan apa adanya; ini bukan menipu diri sendiri, tetapi menghormati firman Allah. Entah kita dapat merasakan adanya Roh Kudus atau tidak, kita semua telah menerima Roh Kudus.
​​​​​​​​​Ende Hu (hal. 16)

Apa kata Alkitab?

• Mengenai pengampunan dosa, tidaklah cukup seseorang sekadar percaya dan bertobat. Bila kita membaca seluruh Kisah Para Rasul. 2:38, kita melihat bahawa pengampunan dosa didapatkan secara langsung melalui baptisan air. Petrus secara khusus memberitakan, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Ende Hu mengabaikan bagian terpenting dalam ayat ini, dan kerananya, meluputkan peran baptisan air dalam pengampunan dosa.
• Di masa para rasul, saat Roh Kudus hujan awal masih dicurahkan, pola yang terjadi adalah mereka yang percaya dalam Yesus, cepat atau lambat menerima Roh Kudus.
• Menerima Roh Kudus adalah sebuah pengalaman yang dapat diketahui baik si penerima mahupun orang-orang lain (Kis. 2:33)

9.3.2 Bukti dari Kisah Para Rasul

​Apakah bukti menerima Roh Kudus? Jawabannya tidak dapat ditemukan dalam keempat kitab injil, kerana mereka hanya mencatat janji mengenai Roh Kudus. Juga tidak ditemukan dalam surat-surat para rasul, kerana dari Kitab Roma hingga Yudas mencatat hal-hal mengenai kehidupan Kristian, apa yang perlu dilakukan umat percaya setelah mereka telah menerima Roh Kudus. Jawabannya juga tidak ditemukan di dalam Kitab Wahyu. Jawabannya ada di Kisah Para Rasul, yang mencatat keadaan-keadaan mengenai turunnya Roh Kudus di gereja para rasul. Kitab ini memberikan tanda-tanda yang membuktikan dengan pasti bahawa seseorang telah menerima Roh Kudus.

9.3.3 Berbicara dalam bahasa roh

​Dari Kisah Para Rasul, kita melihat jelas bahawa tanda menerima Roh Kudus adalah berbahasa roh. Kata Yunani glossa (lidah) atau glossai (lidah-lidah) digunakan dalam tulisan aslinya untuk menjelaskan fenomena ini:1

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 2:4

Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, kerana melihat, bahawa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, bahawa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus.
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 10:44-46

Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 19:6

​Dalam Kisah Para Rasul. 10 dituliskan kejadian yang penting: umat percaya yang disunat, menemani Petrus dalam kunjungannya ke rumah Kornelius. Dengan terkejut mereka menyaksikan keluarga tu menerima Roh Kudus:”sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kis. 10:46). Setelah itu, ketika Petrus kembali ke gereja Yerusalem, ia melaporkan bagaimana “ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka sama seperti dahulu ke atas kita” (Kis. 11:15), menyebutkan pengalaman para rasul sendiri di hari Pentakosta (Kis. 15:8)

​Dalam Kisah Para Rasul. 8, kita menemukan Simon, yang dahulu adalah seorang tukang sihir, tetapi kemudian menerima injil dan dibaptis. Alkitab mencatat bagaimana saat ia menyaksikan jemaat di Samaria menerima Roh Kudus melalui penumpangan tangan oleh para rasul, ia menawarkan wang untuk mendapatkan kuasa ini

Kemudian keduannya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. Ketika Simon melihat, bahawa pemberian Roh Kudus terjadi oleh kerana rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan wang kepada mereka ,serta berkata:”Barikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus”
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 8:17-19

​Jadi kita melihat bahawa baptisan Roh Kudus dapat didengar dan bukan sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat. Di hari Pentakosta, baptisan ini berkuasa menarik perhatian banyak orang (Kis. 2:6). Kitab Wahyu menyebutkan kuasa berbahasa roh dengan menyebutkannya sebagai “desau air bah” dan “deru guruh yang dahsyat” (Why. 14:2; 19:6)

9.3.4 Penulis-penulis Kristian yang mengetahui hubungan antara bahasa roh dan baptisan Roh
Kudus

​Sejumlah penulis Kristian mengemukakan pendapat tentang hubungan atara berbahasa roh dan baptisan Roh Kudus:

​Roh Kudus dianggap sebagai karunia istimewa yang tidak selalu menyertai baptisan dan iman. Orang-orang Samaria tidak dianggap sebagai orang-orang yang “menerima Roh Kudus” saat mereka “menerima firman Allah”. Mereka telah percaya dan dibaptis, tetapi ketika Petrus dan Yohanes pergi dan mendoakan mereka, barulah karunia Roh diturunkan (Kis. 8:14-17). Nampak jelas bahawa beberapa pengaruniaan atau pengalaman istimewa ini terlihat dengan kasat mata. Hal yang sama malah muncul dengan lebih jelas lagi dalam tulisan mengenai murid-murid Yohanes yang ditemukan Paulus di Efesus (Kis. 19:1-7). Tidak hanya mereka belum “menerima Roh Kudus” saat mereka percaya, tetapi setelah mereka dibaptis di dalam nama Kristus, ketika Paulus menumpangkan tangan kepada mereka, baru “turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat” (ayat 6). Di sini Nampak jelas bahawa karunia Roh dianggap sama seperti karunia penuh mujizat dalam berbahasa roh dan bernubuat.
​​​​​​​​G. B. Stevens (hal. 433)

​Iman gereja dalam Roh berasal dari pengalamannya yang nyata. Di titik awal karir gereja, kemungkinan di hari Pentakosta, para murid menyedari sebuah kuasa baru yang bekerja di dalam diri mereka. Perwujudannya yang paling kentara pertama-tama adalah glossolalia, “berbahasa roh”, dapat dimengerti; dan baik mereka yang dipenuhi kuasa ini mahupun mereka yang melihat dan mendengar manfestasi ini diyakinkan akan kuasa dari dunia yang lebih tinggi telah masuk ke dalam kehidupan mereka, memberikan mereka kemampuan untuk berbahasa roh dan karunia-karunia lain, yang nampaknya merupakan sesuatu yang berbeda dari karunia biasa yang telah mereka miliki sebelumnya. Orang-orang yang sebelumnya Nampak biasa-biasa saja tiba-tiba mampu berdoa dan berbicara dengan penuh kuasa, dan suasana hati yang tinggi yang mereka perlihatan saat berdoa kepada Ynag Tak Kelihatan.
​​​​​​​​A.B. MaDonald (hal. 40)

​Di awal studi saya mengenai Baptisan Roh Kudus, saya menyedari bahawa dalam banyak hal mereka yang dibaptis “berbahasa roh” dan pertanyaan yang sering kali menghinggapi fikiran saya : Bila seseorang dibaptis dalam Roh Kudus, apakah ia tidak akan berbahasa roh? Teapi saya tidak melihat ada yang berbahasa roh, dan saya seringkah bertanya-tanya, adakah oranf pada hari ini yang benar-benar dibaptis dengan Roh Kudus?
​​​​​​​​R.A. Torrey

​Di bukunya yang terkenal, Leviathan, Thomas Hobbes menulis tentang kejadian-kejadian dalam Kisah Para Rasul.8, ketika orang-orang Samaria yang telah dibaptis, mengalami “karunia-karunia itu, yang adalah tanda-tanda Roh Kudus, yang pada saat itu memang menyertai semua jemaat sejati”. Ia menguraikan sifat “tanda-tanda” itu dengan mengutip Markus. 16:17-18:”Mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh”

​Kita melihat bahawa beberapa penulis, dan sebagai tambahan, beberapa bapa gereja mula-mula, seperti Chrysostom, Constaninople, Irenaeus, Tertullian, Justin Martyr, dan Origen, melihat sebuah kaitan antara menerima Roh Kudus dengan berbahasa roh. Namun, kesan yang diungkapkan Hobbes dan Torrey adalah bahawa fenomena ini tidak lagi ada di gereja masa sekarang.

9.3.5 Para penulis Kristian yang menentang bukti barbahasa roh

​Tidak semua penulis Kristian menerima hubungan antara berbahasa roh dengan baptisan Roh Kudus, atau khususnya berbahasa roh sebagai tanda khusus menerima Roh Kudus. Di antara penentang-penentang yang paling keras adalah J. Oswald Sanders.

Kesalahfahaman 5

​Ketika tiga ribu orang dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta, kita tidak mempunyai catatan mengenai karunia seperti itu (yaitu berbahasa roh). Itu juga tidak disebutkan ketika lima ribu orang menjadi jemaat mula-mula, juga tidak disebutkan ketika Roh Kudus diturunkan ke orang-orang Samaria dalam Kisah Para Rasuh. 8. Sepanjang masa pelayanan Paulus seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasuh, tidak pernah disebutkan karunia yang menyertai kuasa Roh Kudus, kecuali pada kejadian dalam Gereja Korintus.
​​​​​​​​J. Oswald Sanders (hal. 73)

Apa kata Alkitab?

• Kitab Kisah Para Rasul tidak mencatat 3000 orang percaya yang dibaptis pada hari Pentakosta,”dipenuhi oleh Roh Kudus”. Kerana itu tidak ada alasan bagi Lukas, penulis Kisah Para Rasul, untuk menulis mereka berbahasa roh.

• Orang-orang percaya di Samaria menerima Roh Kudus ketika Petrus dan Yohanes pergi mengunjungi mereka, berdoa dan menumpangkan tangan kepada mereka. Walaupun Alkitab tidak secara hurufiah menyebutkan bahawa mereka berbahasa roh, kita dapat menyimpulkan ini terjadi ketika kita membaca:”Ketika Simon melihat, bahawa pemberian Roh Kudus terjadi oleh kerana rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan wang kepada mereka, serta berkata:’Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang , ia boleh menerima Roh Kudus’” (Kis. 8:18-19). Kata-kata Simon menunjukkan bahawa ia menyaksikan sesuatu yang kasat mata dan secara langsung.

• Petrus sendiri telah menerima Roh Kudus di hari Pentakosta, dan kemudian melihat pencurahan Roh Kudus pada Kornelius sekeluarga, dan berdasarkan pengalaman-pengalamannya ini, Petrus memastikan bahawa murid-murid di Samaria juga telah menerima Roh Kudus. Tidak masuk akal baginya untuk menggunakan kriteria lain, selain dari berbahasa roh, untuk mengambil kesimpulan itu.

• Ketika Kornelius dan keluarganya menerima Roh Kudus, orang-orang percaya yang bersunat yang mengikuti Petrus melihat mereka menerima Roh Kudus, “sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kis. 10:46)

• Ketika Petrus kembali ke Yerusalem untuk melaporkan tentang Kornelius dan keluarganya, ia bersaksi, “ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita” (Kis. 11:15)

• Kitab Kisah Para Rasul tidak mencatat seluruh kejadian mengenai penerimaan Roh Kudus oleh orang-orang percaya, namun menampilkan sebuah ikhtisar. Contohnya, ia tidak mencatat kapan dan di mana 3000 jemaat baru dalam Kisah Para Rasul 2 menerima Roh Kudus, atau 5000 jemaat di Kisah Para Rasul 5. Tetapi apakah itu bererti mereka tidak menerima Roh Kudus dan langsung berbahasa roh di sana, atau di kemudian hari? Contohnya pada Kisah Para Rasul. 9:17 yang mencatat bahawa Saulus menerima Roh Kudus, tetapi tidak secara khusus menyebutkan bahawa ia berbahasa roh. Namun saat kita membaca suratnya kepada gereja Korintus, Nampak jelas bahawa ia berbahasa roh:”Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa… Aku mengucap syukur kepada Allah, bahawa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua.” (I Kor. 14:14, 18)

Kesalahfahaman 6

​Penghilangan (untuk menyebutkan berbahasa roh) secara khusus menarik perhatian dalam surat kepada jemaat di Efesus, yang diberitakan daftar karunia dari Kristus yang telah naik ke Syurga untuk membangun GerejaNya. Walaupun Kitab Roma ditulis lebih dahulu dan memberikan referensi khusus untuk pelayanan, tetapi tidak ada referensi tentang “berbahasa roh”. Apakah tidak ada berbahasa roh pada hari ini? Kita tidak akan secara dogmatis menyatakan bahawa perwujudan karunia ini tidak mungkin terjadi pada hari ini, tetapi kita akan berkata bahawa pada kebanyakan kasus di mana dinyatakan demikian, akan melanggar keadaan yang diterapkan untuk melakukannya kerana memberikan banyak bukti bahawa itu adalah kepura-puraan dan tidak mumi.
​​​​​​​​J. Oswald Sanders (hal. 73)

Apa kata Alkitab?

• Gereja-gereja di Efesus dan Roma kemungkinan besar telah lama berdiri saat masa penginjilan Paulus yang ke-tiga dank e-empat (Kis. 19:1-10; Kis. 28:16-31). Kerana itu mereka tentu mengetahui pengajaran dasar bahawa berbahasa roh adalah bukti menerima Roh Kudus, maka Paulus tidak melihat perlunya mengajarkan hal itu dalam surat-suratnya kepada kedua gereka ini. Tujuan penulisan surat kepada jemaat Efesus, sesungguhnya adalah untuk menyorot pekerjaan Kristus dalam kehidupan umat percaya; dan tujuan penulisan surat kepada jemaat Roma adalah untuk mengemukakan masalah pembenaran oleh iman dan perlunya pepegang hukum setelah pembenaran (Rm. 3:31)

• Berbahasa roh yang menyertai baptisan Roh Kudus adalah untuk membangun diri sendiri (I Kor. 14:4), bukan untuk membangun gereja secara keseluruhan. Kerana itu berbahasa roh tidak disebutkan dalam daftar karunia rohani yang dapat membangun gereja-gereja di Efesus dan Roma, atau di gereja mana pun. Contohnya, ketika Paulus membicarakan sejumlah karunia-karunia tertentu dalam I Korintus. 12, karunia-karunia yang ia sebutkan adalah karunia yang membangun jemaar:”Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (I Kor. 12:7). Satu karunia yang secara khusus disebutkan adalah “karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh” kata dengan bahasa roh dan perlu diterjemahkan. Karunia ini tidak dapat disamakan dengan berbahasa roh , yang merupakan bukti menerima Roh Kudus dan membangun orang yang menerimanya (I Kor. 14:4). Bahasa roh yang diucapkan dalam doa pribadi kepada Allah tidak perlu diterjemahkan (I Kor. 14:2, 28) kerana Roh sendiri yang berdoa bagi orang percaya dengan “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm. 8:26-27)

• Karunia-karunia rohani yang disebutkan dalam Surat Efesus merujuk pada peran-peran pelayanan yang sekali lagi, membangun gereja secara umum:”Dan Ia lah yang memberikan baik rasul-rasul mahupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:11-12). Tidak ada alasan bagi Paulus untuk membahas bahasa roh yang fungsinya untuk membangun diri sendiri.

• Menurut Sanders, kejadian berbahasa roh hari ini adalah “kepura-puraan dan tidak murni”, tetapi ia tidak menyediakan penjelasan mengapa demikian, atau apa keuntungan yang mungkin didapat dari praktik demikian. Namun apabila memang ada kejadian-kejadian “bahasa roh yang pura-pura”, perhatian kita haruslah untuk menyingkapkan sumbernya. Ini adalah seturut dengan nasihat Penatua Yohanes:”Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (I Yoh. 4:1). Nabi-nabi palsu juga dapat melakukan tanda dan mujizat untuk menyesatkan orang-orang pilihan (Mat. 24:4; I Yoh. 4:1). Bila kita tidak dapat membedakan apa yang berasal dari Allah dan apa yang bukan berasal dari Allah, ujungnya kita mungkin tidak lagi percaya dengan kuasa Allah dan berhenti berdoa memohon Roh Kudus.

Kesalahfahaman 7

​Bagaimana dengan doktrin yang sekarang telah meluas, bahawa begitu banyak orang Kristian belum pernah menerima baptisan Roh Kudus, dan semuanya harus mencarinya sampai mereka mengalaminya? Yang saya dapat katakana, adalah pengajaran seperti itu tidak berasal dari Perjanjian Baru, dan penyebaran ajaran ini membawa banyak orang ke dalam belenggu dan kegelapan. Kesalahan ini mungkin disebabkan kerana mencampuradukkan kepenuhan Roh Kudus dengan baptisan Roh Kudus, tetapi terlebih lagi, saya rasa, kerana keinginan untuk menghubungkan yang satu dengan yang lain, yaitu berkat karunia Roh dengan karunia berbahasa roh.
​​​​​​​​W. Graham Scroggie (hal. 14)

Apa kata Alkitab?

• Pengajaran untuk mencari dan berdoa memohon Roh Kudus secara pribadi diajarkan oleh Tuhan Yesus (Luk. 11:9-13; Kis. 1:4-5) dan dilakukan oleh gereja masa awal (Kis. 1:14; 2:1; 8:14-17; 19:1-7). Jauh dari hidup dalam belenggu dan kegelapan seperti yang dinyatakan Scroggie, mereka yang mencari Roh Kudus dengan jalan ini akan mendapatkan upah kemerdekaan sejati (Rm. 8:1-2) dan jaminan untuk masuk ke dalam kerajaan Allah (Yoh. 3:5)

• Pernyataan Scroggie menunjukkan kesalahfahaman mendasar atas apa yang disebut sebagai baptisan Roh Kudus dan kepenuhan Roh Kudus, sifat dan tujuan berbahasa roh.

Kesalahfahaman 8

​Secara kebetulan, hal yang jelas-jelas menunjukkan bahawa manifestasi Roh merupakan hal yang tidak biasa atau pengalaman yang kadangkala terjadi adalah saat Petrus terkejut melihat pencurahan Roh Kudus pada bangsa-bangsa lain seperti yang terjadi pada orang-orang Yahudi. Mengapa Petrus terheran-heran apabila pengalaman berbahasa roh ini merupakan pengalaman umum orang Kristian? Ingatlah bahawa banyak orang dari bangsa lain telah menjadi percaya di antara masa Pentakosta dan kunjungan Petrus kepada keluarga Kornelius, seperti Nikolaus dari Anthiokia dan sida-sida Ethiopia (Kis. 6:5; 8:36-39). Bila “pengalaman baptisan Roh Kudus” ini adalah hal yang umum terjadi, Petrus tentu telah melihat banyak orang dari bangsa lain berbahasa roh seperti juga orang-orang Samaria dan Yahudi. Itu akan membuat keterkejutannya dengan apa yang terjadi di rumah Kornelius tidak bererti. Bagaimana ia dapat lupa bila Pentakosta telah menjadi pengalaman umum orang-orang percaya?
​​​​​​​​Jonn H. Pickford (hal. 18)

Apa kata alkitab?

• Berbahasa roh adalah perwujudan utama yang menyertai pencurahan Roh Kudus di masa para rasul, seperti yang telah dilustrasikan dalam catatan di Kisah Para Rasul. Ini adalah pengalaman mendasar orang-orang percaya (ref. Kis. 10:47; 11:15)

• Kornelius dan keluarganya adalah jemaat pertama dan kalangan bangsa-bangsa lain (Kis. 11:1, 18), dan bukan “orang-orang lain” seperti yang disebutkan Pickford.

• Nikolius dari Anthiokia adalah orang yang belum lama masuk ke dalam agama Yahudi (Kis. 6:5) dan termasuk di antara tujuh murid “yang penuh oleh Roh Kudus”, yang ditunjuk untuk melayani meja (Kis. 6:3-6). Sida-sida Ethiopia juga bukan dari bangsa lain kerana kita melihat bahawa ia pergi kr Yerusalem untuk beribadah (Kis. 8:27). Jadi ia kemungkinan besar merupakan orang yang baru masuk ke dalam agama Yahudi. Hal yang penting adalah, kita tidak melihat adanya keberatan atau ekspresi keterkejutan dari orang-orang Kristian Yahudi saat kedua jenis orang ini menerima injil.

• Pada Kisah Para Rasul. 8:1-25, kita melihat Filipus (dan kemudian juga Petrus dan Yohanes) mengabarkan injil kepada orang-orang Samaria, menggenapi nubuat Yesus (Kis. 1:8). Sekali lagi, kita melihat bahawa pertobatan mereka kepada Kristus tidak memicu keberatan dari orang-orang Kristian bangsa Yahudi, seperti dalam kasus Kornelius. Orang-orang Samaria juga merupakan bangsa Yahudi (ref Yoh. 4:9), bukan bangsa lain. Mereka berasal dari keturunan yang sama dengan bangsa Yahudi (lihat Yoh. 4:12), menyembah Allah yang sejati, membaca lima kita pertama dalam Perjanjian Lama, dan memegang tradisi-tradisi keagamaan yang sama, misalnya persunatan.

• Petrus dan jemaat-jemaat dari kalangan bersunat yang menyertai dia terkejut dan terheran-heran, bukan kerana Roh Kudus turun, tetapi kerana itu terjadi pada keluarga bukan Yahudi:”Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, kerana melihat, bahawa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga” (Kis. 10:45). Petrus dapat melihat bahawa penebusan Allah sekarang telah diberikan juga kepada bangsa-bangsa lain dan segera membaptis mereka (Kis. 10:47-48). Saat Petrus kembali ke Yerusalem dan bertemu dengan tentangan-tentangan dari kalangan bersunat- yaitu bangsa Yahudi (Kis. 11:2), ia membela tindakannya itu dengan menjelaskan tentang apa yang telah terjadi. Merasa puas dengan laporan Petrus, mereka “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”(Kis. 11:18)

Kesalahfahaman 9

​Berbahasa roh dikaruniakan sebagai sebuah tanda (Kis. 2:7-8; I Kor. 14:22). Perjanjian Baru menunjukkan tanda-tanda yang menyertai pengaruniaan Roh Kudus itu bersifat sementara… Tidak ada yang setara dengan pengalaman berbahasa roh modern di Alkitab… Paulus memberikan penjelasan mengenai pengalaman-pengalaman ini seperti yang kita lihat dalam gerakan berbahasa roh. Ia menyiratkan adanya kehilangan kendali emosional.
​​​​​​​​John H. Pickford (hal. 40-41)

Apa kata Alkitab?

• Ayat-ayat Alkitab yang disebutkan Pickford tidak memberikan bukti yang menunjukkan bahawa berbahasa roh adalah tanda yang bersifat sementara.

• Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, kita melihat bahawa Paulus bersyukur kepada Allah kerana dia “berkata-kata dalam bahasa roh” lebih daripada mereka. Selanjutnya, dia memberitahu mereka untuk tidak melarangnya (I Kor. 14:18, 39).

• Tidak ada bukti di dalam Alkitab yang menunjukkan bahawa Paulus pernah menjelaskan bahawa berbahasa roh berhubungkan dengan kehilangan kendali emosional. Selain itu, alasan Pickford tidak sesuai dengan penjelasan Paulus mengenai kebiasaannya sendiri (I Kor. 14:18) dan pesannya untuk tidak melarang berbahasa roh (I Kor. 14:39). Hal ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah pengalaman Pentakostta hanyalah sekadar pengalaman emosional?

Kesalahfahaman 10

​Teriakan-teriakan dan jingkat-jingkatan kegilaan nabi-nabi Baal dalam usaha mereka yang gila-gilaan saat memohon lidah-lidah api mengingatkan salah satu penderitaan yang menantikan mereka yang menerima pengalaman baptisan ini (I Raj. 18:22-28). Orang yang tergerak untuk mengomentari fanatisme seperti itu dengan kata-kata Elia, “Panggilan lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.”
​​​​​​​John H. Pickford (Hal. 26)

Apa kata Alkitab?

• Pickford melontarkan sebuah analogi yang sangat disesalkan. Kita tidak mungkin memperbandingkan nabi-nabi Baal yang berterial-teriak kepada allah-allah palsu mereka dengan orang-orang Kristian yang memohon Roh Kudus kepada Allah yang sejati.

• Saat kita membaca pendapat Pickford, kita diingatkan pada peringatan keras Yesus:”Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak” (Mat. 12:31-32)

Kesalahfahaman 11

​Untuk memenuhi janji Allah, Roh Kudus diberikan kepada mereka yang percaya, sehingga mereka berbahasa roh. Hari ini, ada banyak hal yang dapat membuktikan kebenaran injil. Kerana itu mujizat, berbahasa roh, dan sebagainya tidak lagi diperlukan seperti di masa para rasul… Berbahasa roh seperti yang dicatat dalam Alkitab dalam pengalaman orang-orang kudus di masa awal. Hari ini kita tidak lagi perlu mencari pengalaman seperti itu.
​​​​​​​Wang Mingdao

Apa kata Alkitab?

• Di masa hujan awal, Allah memberikan Roh Kudus kepada mereka yang percaya. Dengan jalan ini, ia menggenapi janji yang pernah Ia ucapkan melalui Nabi Yoel. (Yoel. 2:28-32) dan Yesus (Mrk. 16:16-17). Umat Percaya di masa sekarang, yaitu masa hujan akhir ini, masih dapat memperoleh penggenapan janji ini.

• Berbahasa Roh adalah bukti menerima Roh Kudus (Kis. 10:44-46). Barkata bahawa berbahasa roh tidak lagi diperlukan, sama saja dengan berkata bahawa orang tidak perlu menerima Roh Kudus.

9.3.6 Tanda-tanda yang dapat dilihat dan didengar

​Walaupun berbahasa roh adalah bukti utama menerima Roh Kudus. Alkitab juga menandakan bahawa seringkali ada tanda-tanda yang dapat dilihat yang menyertai berbahasa roh. Ini digambarkan dengan baik oleh kejadian-kejadian yang dicatat pada Kisah Para Rasul 2. Di hari Pentakosta, beberapa orang Yahudi yang menyaksikan murid-murid yesus menerima Roh Kudus, mengolok-olok mereka dengan berkata,”Mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (Kis. 2:13). Mereka mendengar murid-murid berdoa dalam bahasa roh dan menyaksikan sesuatu yang dapat mereka lihat sehingga mereka segera menyimpulkan bahawa murid-murid itu sedang mabuk. Maka Petrus menyangkal hal ini, dengan berkata,”Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, kerana hari baru pukul 9” (Kis. 2:15). Ia melanjutkannya dengan menyampaikan khotbah untuk membuktikan bahawa apa yang mereka lihat adalah penggenapan membuktikan bahawa apa yang mereka lihat adalah penggenapan nubuat Nabi Yoel (Yoel. 2:28-32) dan perwujudan kemuliaan Yesus Kristus. Saat menyampaikan pencurahan Roh Kudus oleh Yesus, Petrus memberitahukan mereka, “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkanNya apa yang kamu lihat dan dengar di sini” (Kis. 2:33)

​Di masa hujan akhir sekarang ini, kita sungguh patut bersyukur bahawa kita dapat mengalami kuasa dan pencurahan Roh Kudus yang sama. Menerima Roh Kudus dapat diihat dan didengar, sama seperti pada hari Pentakosta. Namun sayangnya banyak orang menyangkai dan bahkan mengolok-olok karunia Allah.

​Yesus pernah memberitahukan Nikodemus bahawa ia harus dilahirkan kembali. Nikodemus tidak mengerti pengajaran ini, merasa bingung, dan bertanya,”Bagaimana mungkin seorang dilahirkan kalauia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh. 3:4)

​Yesus lalu menjelaskan,”Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh.” (Yoh. 3:6)

​Nikodemus masih belum dapat mengerti dan bertanya-tanya kelahiran seperti apa yang dimaksud Yesus. Maka Tuhan menjelaskan lebih lanjut, dengan menggunakan analogi angin untuk menjelaskan seperti apakah dilahirkan dari Roh melalui baptisan Roh Kudus:”Janganlah engkau heran, kerana Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mahu, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh. 3:7-8). Di ayat-ayat ini, kata berbahasa Yunani pneuma digunakan untuk menyebutkan “angin” dan “Roh”3.

​Perkataan Yunani ini mengungkapkan bahawa:

• Roh Kudus seperti angin yang bertiup ke mana ia kehendaki. Tidak ada orang yang dapat mengendalikan atau mencegah pekerjaan Roh.
• Sama seperti mata manusia yang tidak dapat melihat angin, mata manusia juga tidak dapat melihat Roh Kudus: dari mana Ia datang, atau di mana Ia pergi.
• Saat angin bertiup, kita dapat mendengar suaranya, dan kita dapat melihat gerakan benda-benda yang ditiupnya. Begitu juga, saat Roh Kudus memenuhi seseorang , kita mendengar ia berbahasa roh dan melihat gerakan tubuh yang diilhamkan oleh Roh Kudus.

Singkatnya, kata-kata Yesus menunjukkan bahawa baptisan Roh Kudus disertai oleh tanda-tanda yang kelihatan dan juga dapat didengar:

9.4 Fungsi berbahasa roh

​Berbahasa Roh mempunyai 4 fungsi penting: sebagai perantaraan, sebagai tanda bagi orang-orang yang belum percaya, untuk membangun diri sendiri, dan untuk membangun jemaat.

9.4.1 Perantaraan

​Sebagai orang Kristian, kita semua mempunyai kelemahan. Di antaranya: ketidakmampuan untuk memahami atau memenuhi kehendak Allah (Rm. 11:33), merasa lenah rohani, dibelenggu oleh keinginan-keinginan daging, dan meninggalkan Allah. Di saat-saat seperti itu, kita seringkali tidak tahu bagaimana berdoa, atau apa yang mahu didoakan. Bahasa akal manusia juga mempunyai batasan-batasan: kita dapat berdoa dengan akal budi manusia, tetapi kita semua pernah mengalamai saat ketika kata-kata tidak lagi cukup untuk menyampaikan fikiran dan perasaan kita yang paling dalam kepada Allah. Untungnya, kerana kemurahanNya, Allah memberikan kita Roh Kudus untuk membantu kita berdoa.

​Begitu juga, Roh menolong kita dalam kelemahan. Kita tidak tahu apakah yang sepatutnya kita doakan, tetapi Roh Kudus sendirilah yang menjadi perantara bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan. Ia yang menyelidikan hati manusia, mengetahui maksud Roh itu, kerana Roh itu berdoa bagi orang-orang percaya sesuai dengan kehendak Allah (Rm. 8:26-27).

​Di sini Paulus menggunakan kata Yunani sunantilambano untuk “membantu”. Kata ini bererti “berdiri di sisi untuk membantu mengangkat”, “bantu memikul”, dan “membantu secara umum”4. Roh menolong kita untuk berdoa dengan mendoakan kita, sesuai dengan kehendak Allah, dengan bahasa yang melampaui kata-kata manusia. Allah mengetahui fikiran Roh dan menerima perantaraanNya. Kerana itu apabila kita berdoa dalam bahasa roh, kita yakin Allah mendengar doa-doa kita (Yoh. 5:14-15)

​Mereka yang telah menerima Roh Kudus dan mengalami berbahasa roh akan mengerti nilai dorongan Alkitab untuk “berdoalah dalam Roh Kudus” (Yudas 20) dan “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh” (Ef. 6:18). Doa dalam Roh mempunyai kuasa untuk mendekatkan kita kepada Allah.

​Namun doa dalam bahasa roh tidak menghilangkan perlunya berdoa dalam pengertian manusia. Paulus berkata,”Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku, aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku” (I Kor. 14:14-15). Kedua jenis doa ini mempunyai fungsinya masing-masing dalam ibadah.

9.4.2 Tanda bagi orang-orang yang belum percaya

Kerana itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman.
​​​​​​​​​I Korintus. 14:22

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka.
​​​​​​​​​Markus. 16:17

​Kata Yunani “tanda”, semeion, seringkali digunakan dalam konteks mujizat dan tanda keajaiban5. INi kata yang sangat cocok digunakan berhubungan dengan berbahasa roh, kerana berbahasa roh dimaksudkan untuk bersaksi kepada orang-orang tidak percaya bahawa seseorang telah menerima Roh Kudus, dan Allah menyertai orang itu (I Yoh. 3:24)

​Kita melihat kuasa atas tanda ini dalam menyedarkan prang-orang Yahudi yang ada di Yerusalem untuk menantikan hari Pentakosta. Tanda ini menarik perhatian banyak orang kepada murid-murid yang sedang berdoa berbahasa roh. Pada awalnya mereka merasa takjub dan keheranan, tetapi segera kemudian mereka mengerti bahawa murid-murid itu telah menerima baptisan Roh Kudus. Akibatnya, mereka bertobat, percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, dan dibaptis untuk mendapatkan pengampunan dosa (Kis. 2:5-7, 37-41). Berbahasa Roh membuktikan kepada orang-orang Yahudi bahawa nubuat-nubuat mengenai Roh Kudus telah digenapi. Berbahasa roh juga memberikan kesaksian bahawa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian dan naik ke syurga. Kerana itu, dengan berani Petrus menyatakan:”Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami smeua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, aka dicurajlanNya yang kamu lihat dan dengar di sini” (Kis. 2:32-33). Paulus juga menambahkan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (I Kor. 15:14)

9.4.3 Membangun Diri sendiri

​Bahasa roh yang diutarakan melalui pengilhamkan Roh Kudus bukanlah bahasa duniawi; bahasa ini adalah bahasa syurgawi atau bahasa rohani, dan membangun orang yang menggunakannya:”Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun jemaat” (I Kor. 14:4). Berbahasa roh mempunyai kuasa untuk mengankat dan mengubahnya.

​Ada orang-orang Kristian yang menganggap bahawa membangun diri sendiri itu egois dan berpendapat bahawa lebih mulia mencari karunia-karunia yang dapat membangun gereja. Namun Yesus mengajarkan kita sebaliknya, seperti yang dapat kita lihat dalam kejadian yang melibatkan Marta dan Maria (Luk. 10:38-42). Sementara Marta sibuk melayani Yesus, Maria duduk dengan tenang di kaki Yesus untuk mendengarkan ajaran-ajaranNya. Saat Marta mengeluhkan hal ini kepada Tuhan, ia berkata kepadanya bahawa Maria telah mengambil pilihan yang lebih baik (Luk. 10:38-42). Di sini, pelajaran yang dapat dipetik bagi umat percaya adalah, walaupun tentu saja melayani Allah itu penting, namun membangun diri sendiri juga tidak kalah pentingnya.

​Kita melihat pelajaran ini diterapkan oleh Rasul Paulus, yang menulis:”Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (I Kor. 9:27) Prinsipnya, bila seseorang ingin membangun gereja, pertama-tama ia harus membangun dirinya sendiri terlebih dahulu (Rm. 2:29). Paulus menghabiskan seluruh hidupnya melayani orang lain untuk “menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat” (Kol. 1:24), namun ia berhati-hati agar ia sendiri tidak mengabaikan pembangunan rohaninya sendiri.

Kesalahfahaman 12

​Seseorang penulis berkebangsaan jepun, Kurosaki Koukichi,berpendapat bahawa beberapa orang Kristian memegang pandangan seperti ini mengenai berbahasa roh:”Ia yang dipimpin oleh Roh Kudus mengucapkan misteri-misteri di dalam Roh, kerana itu tidak ada orang yang dapat memahaminya. Kerana itu, orang yang berbahasa roh berbicara hanya kepada Allah.”

​Si penulis menyatakan bahawa mereka yang memegang pandangan seperti itu tidak mungkin: mengetahui fikiran dan motivasi seseorang yang berbahasa roh; mengerti apakah baptisan Roh Kudus; mengalami sendiri berbahasa roh.

Apa kata Alkitab?

• Berbahasa roh adalah bukti utama baptisan Roh Kudus. Bahasa Roh diucapkan kerana Roh Kudus yang menggerakkannya; bukan sebuah anting atau tipuan.

• Orang yang berbahasa roh, berbicara kepada Allah, dan memperlihatkan kepedulian apa pun kepada yang lain, dan pernyataan demikian tidak konsisten dengan harapan Paulus agar semua umat percaya berbahasa roh (ref. I Koe. 14:5)

• Penulis kemungkinan besar mengelirukan berbahasa roh dengan ucapan bahasa roh untuk berkata-kata (lihat bagian 9.5 “Karunia Roh Kudus yang membangun gereja”)

• Walaupun orang yang berbahasa roh tidak dapat dimengerti oleh orang lain atau dirinya sendiri, doa berbahasa roh tetap mempunyai erti.

Kesalahfahaman 13

​(Mengacu pada I Kor. 14:4) Barangsiapa berbahasa roh membangun dirinya sendiri, tetapi barangsiapa bernubuat membangun jemaat… Orang-orang yang mempunyai kasih akan melakukan yang terakhir.
​​​​​​​​Kurosaki Koukichi

Apa kata Alkitab?

• Baptisan Roh Kudus yang dibuktikan dengan berbahasa roh, adalah syarat mendasar untuk mendapatkan keselamatan. Berbahasa roh mengutungkan orang percaya melalui pembangunan diri sendiri. Barulah apabila kita mendapatkan karunia ini, kita dapat mulai mencari karunia-karunia lain yang membangun jemaat, seperti karunia bernubuat.

• Pendapat penulis benar, apabila secara khusus ditujukan pada keadaan gereja Koritus, namun kata-kata Paulus tidak cocok untuk diterapkan pada umat Kristian secara umum.

• Jemaat Korintus telah menerima baptisan Roh Kudus dan berbahasa roh; sebagian jemaatnya juga mempunyai karunia-karunia khusus dalam berkata-kata dalam bahasa roh. Namun, masalahnya adalah mereka kurang mengasihi dan menggunakan karunia-karunia berbahasa roh mereka dengan cara-cara yang menonjolkan karunia mereka, sehingga membuat kekacauan di dalam gereja. Kerana itu Paulus menulis I Korintus. 12 hingga 14 untuk mengingatkan mereka mengenai kasih sebagai dasar atas segala karunia yang membangun jemaat.

• Dalam I Korintus. 14, Paulus memberikan sebuah tata aturan kepada gereja mengenai penggunaan bahasa roh di saat beribadah: mereka yang berkata-kata dalam bahasa roh hanya melakukannya apabila ada yang mengertikannya. Lebih lanjut, mereka harus melakukannya dengan tertib. Apabila tidak ada yang mengertikan, mereka sebaiknya menggunakan karunia berbahasa roh dalam doa untuk membangun diri.

• Di fasal 14, Paulus juga mendesak gereja Korintus untuk mengambil langkah yang lebih jauh dalam mengejar karunia bernubuat. Karunia ini memampukan seseorang untuk menyampaikan pesan Allah dalam kata-kata yang dimengerti manusia melalui pengilhaman Roh Kudus. Ini membangun jemaat, dan kerana itu “lebih berharga” daripada karunia berbahasa roh.

• Membaca fasal 14, kita mengerti bahawa ada peran untuk semuanya: doa berbahasa roh yang digunakan dalam doa untuk membangun diri sendiri, karunia khusus dalam bahasa roh untuk berkata-kata, dan karunia bernubuat.

9.4.4 Membangun gereja

Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bila mana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu yang seorang mezmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahawa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkanya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.
​​​​​​​​​I Korintus. 14:26-28

​Saat kita berdoa dalam bahasa roh, kita berbicara kepada Allah, bukan manusia. Tidak ada orang yang mengerti bahasa roh, termasuk orang yang berdoa menggunakannya (I Kor. 14:2). Namun apabila dibutuhkan, Allah mengaruniakan karunia kepada orang percaya untuk mengertikan bahasa roh (I Kor. 12:10) sehingga orang-orang dapat mengerti dan dibangun. I Korintus. 12 dan 14 membicarakan mengenai karunia Roh Kudus yang membangun jemaat. Termasuk di dalamnya adalah “berkata-kata dengan bahasa roh” dan “menafsirkan bahasa roh” (I Kor. 12:10)

​Sayangnya, di Gereja Korintus, jemaat tidak menggunakan karunia rohani mereka dengan sepatutnya: mereka menggunakan karunia rohani berbahasa roh untuk berbicara kepada jemaat, walaupun tidak ada yang menafsirkannya. Kerana itu Paulus menegur mereka, dengan berkata,”Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong… dan tidak mencari keuntungan diri sendiri” (I Kor. 13:4-5), dan menambahkan bahawa kasih mengejar “kepentingan orang banyak” (I Kor. 10:33). Paulus mengajarkan kepada mereka, walaupun mereka berkumpul untuk beribadah, mereka harus melakukan segala hal untuk kebaikan bersama:

Bila mana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.
​​​​​​​​​I Korintus. 14:26

Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga daripada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.
​​​​​​​​​I Korintus. 14:5

Kerana itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.
​​​​​​​​​I Korintus. 14:13

​Kerana itu kita perlu memperhatikan, walaupun karunia bernubuat dapat membangun jemaat, berkata-kata dalam bahasa roh, apabila ditafsirkan, juga dapat membangun jemaat. Paulus memberikan tata aturan yang jelas kepada Gereja Korintus mengenai penggunaan bahasa roh saat ibadah gereja, untuk memastikan ibadah berjalan dengan tertib dan sopan.

9.5 Karunia Roh Kudus yang membangun gereja

​Di masa sekarang, banyak gereja percaya bahawa berdoa dalam bahasa roh hanyalah satu dari serangkaian karunia rohani, bukan sebagai bukti menerima baptisan Roh Kudus. Kerana itu mereka menderung berpendapat bahawa mereka telah mempunyai Roh Kudus, walaupun tidak berdoa dalam bahasa roh.

​Berdoa dalam bahasa roh tentunya adalah sebuah karunia rohani, kerana seseorang tidak dilahirkan dengan kemampuan itu, dan ia juga tidak memperlajarinya. Namun banyak orang tidak menyedari bahawa Alkitab membicarakan dua jenis bahasa roh: 1) bahasa roh yang diberikan kepada semua orang saat menerima baptisan Roh Kudus; 2) “berkata-kata dalam bahasa roh” untuk berkhotbah, yang merupakan karunia khusus yang diberikan Allah sesuai dengan kehendakNya (I Kor. 12:11). Karunia kedua ini adalah “untuk kepentingan bersama” (I Kor. 12:7), dan itu bererti untuk membangun jemaat secara keseluruhan. Sejumlah besar penulis dan gereja Kristian telah lama salah menafsirkan Alkitab, mengira bahawa kedua jenis bahasa roh ini sama.

​Kita akan menyelidikan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh penulis-penulis Kristian, untuk menghilangkan kesalahfahaman seputar kedua jenis bahasa roh ini.

Kesalahfahaman 14

​Penelitian atas I Korintus fasal 12 dab 14 menunjukkan bahawa berbahasa roh adalah karunia terakhir, terendah dan tidak perlu secara khusus dikejar, kerana kegunaannya sangat sedikit. Berbahasa roh tidak akan dijelaskan seperti demikian apabila tanda ini merupakan tanda khusus menerima baptisan Roh Kudus. Nubuat menempati urutan yang lebih tinggi dan paling patut dikejar kerana karunia ini dimaksudkan untuk membangun jemaat. “Aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” kata Paulus. Karunia berbahasa roh tidak diturunkan kepada semua orang-orang kudus, dan ini nampak jelas dari pertanyaan, Adakah mereka semua berkata-kata dalam bahasa roh?” yang jawabnya adalah “Tidak”
​​​​​​​​J.Oswald Sanders (hal. 73)

Apa kata Alkitab?

• Sanders dengan keliru menyamakan karunia berbahasa roh yang diberikan kepada setiap orang percaya yang telah menerima Roh Kudus dengan karunia “berkata-kata dengan bahasa roh” untuk menyampaian khotbah. Karunia yang pertama adalah tanda khusus baptisan Roh Kudus (Kis. 10:44-46), sementara karunia yang terakhir adalah salah satu dari sekian banyak karunia rohani yang diberikan Allah untuk membangun gereja dan jemaat, dan diberikan seturut dengan kehendakNya (I Kor. 12:8-10). Maka semua yang telah menerima baptisan Roh Kudus akan dapat berbahasa roh, tetapi tidak semuanya mempunyai karunia khusus untuk berkata-kata, yaitu berkhotbah, dalam bahasa roh.

• Di fasal 12 dan 14 dalam I Korintus, kita melihat bahawa bahasa roh yang disebut Sanders sebagai “karunia terakhir, terendah” dan dituliskan bersama dengan “karunia untuk menafsirkan bahasa roh” (I Kor. 12:10, 30; I Kor. 14:26-28), sebenarnya adalah bahasa roh untuk berkhotbah. Karunia ini berjalan bersamaan dengan karunia menafsirkan bahasa roh untuk membangun gereja.

• Ketika Paulus melontarkan pertanyaan-pertanyaan retorik: “Adakah mereka semua berkata-kata dalam bahasa roh?” dan “untuk menafsirkan bahasa roh?” (I Kor. 12:30), ia sedang menjelaskan bahawa tidak semua orang akan mempunyai karunia khusus untuk berkhotbah dalam bahasa roh.

• Paulus mendorong kita untuk secara khusus mengejar karunia bernubuat (I Kor. 14:1, 39): untuk menyampaikan pesan Allah dalam kata-kata pengertian manusia melalui pengilhaman Roh Kudus. Karunia ini adalah untuk membangun jemaat. Namun ia juga mengingatkan bahawa ada peran di dalam gereja untuk berkata-kata dalam bahasa roh, yang apabila disertai dengan penafsiran, juga dapat membangun jemaat (I Kor. 14:5, 12-13)

• Dalam I Korintus 14, Paulus menunjukkan bahaawa ada sebuah pesan baik untuk bahasa roh dan kata-kata pengertian manusia:”Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan akal budiku” (I Kor. 14:15). Ia menambahkan, bahawa walaupun ia dapat memilih di antara keduanya, ia lebih suka berkata-kata dalam pengertian manusia saat mengajar di depan jemaat, kerana ia merasa bahawa ini memberikan lebih banyak manfaat kepada jemaat. Maka ia berkata,”Aku mengucap syukur kepada Allah, bahawa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua ” (I Kor. 14:18-19)

Kesalahfahaman 15

​Tanda ini [merujuk pada karunia berbahasa roh] bersifat sementara. Di dalam pengajaran tentang karunia-karunia di I Korintus 12, Paulus menyebutkan karunia berbahasa roh dan kemudian menegaskan bahawa “bahasa roh akan berhenti” (I Kor. 13:8). Ia menutup fasal itu dengan menunjukkan bahawa berbahasa roh akan berlalu pada masa ia hidup, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (I Kor. 13:13)
​​​​​​​​​John H. Picford (hal. 22)

Apa kata Alkitab?

• Berbahasa roh, jauh dari sifat sementara, adalah pengalaman yang terus berlanjut. Karunia ini diwujudkan terus menerus oleh setiap orang percaya yang telah menerima Roh Kudus. Paulus sendiri menyatakan bahawa ia berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada jemaat Korintus (I Korintus. 14:8) Dan mengajarkan jemaat agar tidak melarangnya (I Kor. 14:39)

• Kata-kata Paulus :”bahasa roh akan berhenti” (I Kor. 13:8), tidak mengacu pada berhentinya bahasa roh pada masa Ia hidup, tetapi pada saat Yesus datang kembali. Ini adalah saat orang-orang percaya akan bertemu dengan Allah muka dengan muka, dan kerana itu, tidak lagi perlu berbahasa roh.

• Hingga kelak Yesus datang kembali, kerunia-karunia rohani, termasuk berbahasa roh, aka terus mempunyai peranan yang penting. Alkitab mengajarkan kita bahawa saat Ia datang kembali, bahasa roh akan berhenti, seperti juga karunia bernubuat dan pengetahuan, memberikan jalan kepada “yang sempurna” (I Kor. 13:8-12)

• Paulus menjelaskan mengenai kasih kerana ini adalah masalah karunia-karunia rohani yang dihadapi Gereja Korintus. Jemaat mempunyai karunia-karunia rohani yang berbeda-beda, termasuk karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi sayangnya tidak dilakukan dengan kasih. Kepada mereka, Paulus mengingatkan bahawa kasih lebih besar daripada bahasa roh, dan kasih itu tidak berkesudahan. Saat mengatakan hal ini, ia tidak bermaksud bahawa hanya kasih yang dibutuhkan, atau berbahasa roh sama sekali tidak diperlukan, tetapi yang ia maksudkan, keduanya harus berjalan beriringan.

Kesalahfahaman 16

​Menghadapi pertanyaan mengenai bahasa roh, Paulus menunjukkan bahawa karunia ini adalah karunia yang kecil dan terbatas (I Kor. 14:1, 4, 19, 22; 12:29-30)
​​​​​​​​​John H. Picford (hal. 40)

Apa kata Alkitab?

• Tidak seperti Pickford, Alkitab tidak memberikan referensi apa-apa mengenai karunia-karunia “kecil”: semuanya dibutuhkan untuk membangun jemaat (I Kor. 12:7-11, 29-30). Paulus memberikan analogi tubuh manusia dan gereja yang seluruh jemaatnya mempunyai peran masing-masing dan perlu bekerja sama untuk mencapai kebaikan bersama (I Kor. 12:14-22; Ef. 4:16)

• Walaupun Paulus mendorong jemaat Gereja Korintus untuk mengejar karunia bernubuat, ia juga membicarakan tentang perlunya berbahasa roh (I Kor. 14:18, 39). Ia tidak meninggikan satu karunia dan merendahkan yang lain. Malah ia mendorong mereka untuk berbahasa roh, tetapi menambahkan bahawa mereka harus mengejar karunia-karunia lainnya, seperti bernubuat, yang dapat membangun jemaat (I Kor. 14:4-5)

9.6 Penafsiran Alkitad dari I Korintus. 14

​Orang-orang Kristian yang menyakini bahawa berbahasa roh adalah salah satu karunia yang kurang penting dari sekian banyak karunia rohani, seringkali mengutip I Korintus fasal 12 dan 14. Namun apabila kita membaca fasal-fasal ini dengan hati-hati, kita melihat bahawa Paulus membedakan dengan jelas antara berbahasa roh yang menandakan baptisan Roh Kudus dengan karunia khusus untuk berkata-kata dalam bahasa roh.

​Jadi apabila kita ulangi, ada karunia berbahasa roh yang menyertai baptisan Roh Kudus, dan merupakan tanda baptisan Roh Kudus (Kis. 2:4; 10:44-46; 19:6). Bila tanda ini tidak ada, kita dapat menyimpulkan bahawa seseorang belum menerima Roh Kudus. Paulus merujuk pada karunia ini saat ia membicarakan dirinya sendiri “berdoa dengan bahasa roh” (I Kor. 14:14) atau “berdoa dengan rohku” (I Kor. 14:15). Bahasa roh diucapkan kepada Allah, dan bukan kepada manusia, dan kerana itu tidak membutuhkan penafsiran. Tidak ada orang yang dapat mengerti bahasa roh, yang berdoa dalam roh pun tidak (I Kor. 14:2). Seperti yang disebutkansebelumnya, bahasa ini: mengucapkan hal-hal yang rahasia (I Kor. 14:2), membangun orang yang berdoa menggunakannya (I Kor. 14:4), dan tanda bagi orang-orang yang belum percaya (I Kor. 14:22)

​Kedua, ada jenis berbahasa roh yang berbeda untuk berkhotbah. Bahasa Roh ini diucapkan kepada jemaat dan merupakan karunia khusus yang bertujuan untuk mengajar dan membangun kemaat. Bahasa Roh ini harus ditafsirkan untuk mengetahui ertinya (I Kor. 14:27)

​Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jemaat Gereja Korintus menggunakan karunia berbahasa roh mereka dengan tidak sepatutnya. Contohnya, mereka berkata-kata dalam bahasa roh kepada jemaat, walaupun tidak ada yang menafsirkannya. Kerana itu Paulus menulis I Korintus fasal 14 untuk menegur praktik mereka yang tidak tertib. DI fasal ini, ia menyebutkan hal-hal ini:

• Orang yang bernubuat, yaitu yang menyampaikan pesan Allah dengan kata-kata manusia melalui pengilhaman Roh Kudus untuk membangun jemaat, lebih besar daripada orang yang berkata-kata dalam bahasa roh tetapi tidak ada yang menafsirkannya (I Kor. 14:4-5)

• Bahasa roh yang disampaikan kepada jemaat tidak dapat membangun siapapun apabila tidak ditafsirkan (I Kor. 14:6)

• Alat-alat musik saja menghasilkan bunyi-bunyi yang berbeda, sehingga yang mendengar dapat mengetahui sebuah lagu (I Kor. 14:7)

• Bila sebuah nafiri tidak menghasilkan bunyi yang terang, tidak ada orang yang bersiap-siap berperang (I Kor. 14:8)

• Bila seseorang berkata-kata dalam bahasa roh kepada jemaat tanpa ada yang menafsirkan, tidak ada orang yang dapat mengerti apa yang ia sampaikan; itu akan menjadi seperti orang yang berkata-kata ke udara (I Kor. 14:9)

• Ada banyak macam bahasa di dunia, semuanya mempunyai ertinya sendiri-sendiri. Mereka yang tidak mengerti bahasa itu menjadi seperti orang-orang asing di hadapan orang yang berbicara, begitu juga sebaliknya (I Kor. 14:10-11)

• Di dalam gereja, lebih baik mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti ketimbang beribu-ribu kata dalam bahasa roh (I Kor. 14:19)

• Bila orang tidak percaya melihat jemaat berkumpul di gereja dan berkata-kata dalam bahasa roh satu sama lain, mereka akan melihatnya sebagai kegilaan (I Kor. 14:23)

• Di gereja, segala hal harus dilakukan untuk membangun, dan berbahasa roh tidak terkecuali (I Kor. 14:12, 26)

• Karunia nabi takluk kepada nabi. Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera (I Kor. 14:32-33)

Berkata-kata dalam bahasa roh untuk berkhotbah adalah salah satu dari antara banyak karunia rohani, yang bertujuan untuk membangun jemaat. Roh Kudus mencurahkan karunia ini kepada siapa yang Ia kehendaki (I Kor. 12:8-11); tidak semua orang yang mempunyai Roh Kudus akan mendapatkannya. Kerana itu, ketika Paulus menyebutkan karunia ini, ia membicarakannya berhubungan dengan karunia-karunia lain, khususnya karunia untuk menafsirkan bahasa roh (I Kor. 14:26-27; I Kor. 12:10, 28, 30). Ini secara jelas memisahkannya dari bahasa roh yang menandai baptisan Roh Kudus.

Jemaat Gereja Korintus menyalahgunakan karunia-karunia rohani mereka, dengan menggunakannya untuk menonjolkan diri mereka di hadapan orang-orang. Kerana itu di fasal yang sama, Paulus menyampaikan tata aturan berikut ini dalam hal penggunaan bahasa roh saat beribadah:

• Hanya dua, atau paling banyak, tiga orang berkata-kata dalam bahasa roh (ayat 27)
• Jemaat bergiliran ketika berkata-kata dalam bahasa roh (ayat 27)
• Bahasa roh harus ditafsirkan (ayat 27)
• Bila tidak ada yang menafsirkan, orang harus tetap diam di gereja, menahan diri berkata-kata dalam bahasa roh kepada jemaat. Ia hanya boleh “berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah” (ayat 28)

Karunia “berkata-kata dalam bahasa roh” memungkinkan seseorang berbicara kepada jemaat ketika ada yang menafsirkan (I Kor. 14:27-28). Namun pada beberapa kesempatan mungkin seseorang tiba-tiba didorong oleh Roh Kudus untuk menyampaikan pesan dari Allah (ref. Ayb. 32:17-22; Yer. 20:9). Pada saat demikian, Allah akan menunjuk seseorang untuk menafsirkannya, mungkin orang itu sendiri,mungkin orang lain. Paulus menasihati, di kesampatan sepert itu, pembicara pertama yang berbahasa roh harus diam untuk memungkinkan orang yang menafsirkannya berbicara. Dengan demikian, jemaat dapat bernubuat secara bergiliran sehingga semua orang dapat belajar dan terbangun (I Kor. 14:30-31)

Paulus menulis kepada jamaat Korintus, menasihati mereka untuk menjaga ketertiban ketika jemaat berkumpul sehingga segala sesuatu dapat dilakukan untuk membangun (I Kor. 14:26). Ia berkata, “Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera… Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (I Kor. 14:32-33, 40). Namun Paulus tidak menginginkan mereka salah faham dan tidak menyukai, atau bahkan melarang berkata-kata dalam bahasa roh. Kerana itu ia menambahkan, “Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh” (I Kor. 14:39). I juga membagikan pengalamannya sendiri kepada mereka, “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa… Aku akan berdoa dengan rohku… Aku mengucap syukur kepada Allah, bahawa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dan pada kamu semua” (I Kor. 14:14-15, 18)

Kesalahfahaman 17

​Ada banyak perkumpulan kharismatik yang katanya jemaatnya dipenuhi Roh Kudus, tetapi semuanya nampak tidak tertib. Kalau mereka tidak berteriak-teriak dengan keras, mereka menyanyi-nyanyi dengan keras, menyebutkan nyanyian roh. Lalu ada di antara mereka yang memperlihatkan ketidaktertiban yang lebih kecil, dengan secara bersamaan berbahasa roh saat beribadah atau berbahasa roh dalam kelompok kecil. Dapatkah keadaan seperti ini ditemukan dalam Alkitab? Bahkan di fasal 14 dalam I Korintus, yang banyak mendiskusikan masalah berbahasa roh, berbahasa roh saat beribadah tidak dianjurkan. Hanya dua, atau paling tiga orang yang boleh berbicara, dan mereka harus melakukannya bergiliran dengan diikuti oleh orang yang menafsirkan. Begitu juga kita membaca di ayat 33, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi dalami sejahtera”. Kekacauan bukan berasal dari Allah, dan kita harus mengingati bahawa Allah kita adalah Allah damai sejahtera
​​​​​​​​Ende Hu (hal 7-8)

Apa kata Alkitab?

• Tentu ada masalah dalam ketertiban apabila jemaat berteriak-teriak histeris secara emosional di gereja. Namun kita perlu mengakui bahawa ada beberapa tindakan yang murni diilhamkan oleh Roh Kudus.

• Fenomena menyanyi dalam roh dicatat dalam Alkitab: Paulus berkata, “Aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku” (I Kor. 14:15). Ia juga mengajarkan kita untuk ”berkata-kata” [lah] seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani” (Ef. 5:19; ref. Kol. 3:16). Menyanyi dalam roh dimungkinkan oleh Roh Kudus dan bukan tanda kekacauan.

• Ketika Paulus menasihati gereja untuk hanya mengizinkan dua atau toga orang berbicara dalam bahasa roh (I Kor. 14:27), ia sedang membicarakan penggunaan bahasa roh untuk berkhotbah, bukan bahasa roh dalam doa pribadi. Kita tidak akan berfikir untuk membatasi jumlah orang percaya yang berdoa bersama di gereja dengan bahasa pengertian manusia, begitu juga kita tidak membatasi jumlah orang yang berdoa dalam bahasa roh.

• Tulisan “Sabab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi dalami sejahtera” oleh Paulus, ditujukan kepada Gereja Korintus yang tidak tertib dalam beribadah, yang terjadi kerana mereka menggunakan bahasa roh untuk berkhotbah kepada jemaat tanpa ada yang menafsirkannya, dan mereka tidak bergiliran.

• Paulus tidak pernah melarang berbahasa roh. Apa yang ia lakukan adalah memberikan sebuah tata aturan kepada gereja untuk menggunakan karunia ini dengan sepatutnya. Dengan hati-hati ia berkata, “Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh” (I Kor. 14:39)

9.7 Pengalaman Pentakosta

​Pentakosta, yang juga disebut sebagai hari raya “Tujug Minggu” (ref. Kel. 34:22; Ul. 16:10), menandai berakhirnya panen. Pada bahasa Yunani, Pentakosta bererti “ke-50”, kerana Pentakosta jatuh pada hari ke-50 setelah Paskah, dihitung dari hari ke-2 perayaan itu (Im. 23:15-17)6. Di masa itu, perayaan ini adalah perayaan yang paling semarak dan membawa orang-orang Yahudi dari segala penjuru dunia bersama-sama berkumpul di Yerusalem. Allah memilih Pentakosta pertama setelah kebangkitan dan kenaikan Kristus untuk mencurahkan Roh KudusNya yang kudus kepada orang-orang perjanjian baru. Dengan demikian, Pentakosta mendapatkan makna dan kepentingan yang baru.

​Berbahasa roh adalah sebuah tanda yang dramatis, membuat orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia terheran-heran dan ingin melihat apa yang sedang terjadi. Ini menyediakan kesempatan yang baik bagi Petrus untuk bersaksi bahawa pencurahan Roh Kudus yang baru saja mereka saksikan, terjadi kerana Yesus Kristus yang telah mereka salibkan telah bangkit dan dimuliakan (Kis. 2:22-23, 30-33). Dengan demikian, injil keselamatan sampai pada pendengar pertama yang dimaksud [yaitu Yerusalem], sesuai dengan rencana Allah (Kis. 1:8).

Kesalahfahaman 18

​Banyak gereja melihat ayat-ayat pada Kisah Para Rasul. 2:1-13 sebagai sebuah kejadian ketika murid-murid Yesus tidak berbicara dalam bahasa roh, tetapi dalam bahasa-bahasa asing, menyatakan bahawa inilah yang didengar orang-orang Yahudi yang datang ke Yerusalem. Mereka juga menyimpulkan bahawa orang-orang Kristian yang pada hari ini mengaku berbicara dalam bahasa roh, mengucapkan bahasa yang tidak dapat dimengerti, jadi pengalaman ini berbeda dengan pengalaman Pentakosta di masa para rasul.

Apa kata Alkitab?

​Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, walaupun bahasa yang diucapkan para rasul dapat dimengerti, kita dapat menyimpulkan itu bukan bahasa-bahasa asing kerana beberapa alasan ini:

• Kita melihat Roh Kudus memenuhi murid-murid Yesus dan menggerakkan mereka untuk “berkata-kata dalam bahasa lain” (Kis. 2:4). Kemudian Paulus menjelaskan bahasa roh sebagai mengucapkan hal-hal yang rahasia kepada Allah (I Kor. 14:2). Namun bahasa roh membawa pesan yang mempunyai erti yang dapat diungkapkan apabila ditafsirkan (I Kor. 14:27-28). Apa yang terjadi di hari Pentakosta adalah, Allah memberikan kemampuan untuk menafsirkan bahasa roh kepada orang-orang Yahudi yang mendengarnya. Ini membuat mereka mendengarkan para murid Yesus “berkata-kata dalam bahasa [kita] sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11). Ini adalah pekerjaan yang dilakukan Roh Kudus dalam memberikan tanda kepada orang-orang Yahudi (I Kor. 14:22). Pekerjaan ini menghasilkan pertobatan mereka: hati nurani mereka tersentuh, mereka bertobat, dan dibaptis di dalam nama Yesus Kristus (Kis. 2:37-41).

• Kemampuan untuk menafsirkan bahasa roh adalah sebuah karunia yang diberikan oleh Allah sesuai dengan kehendakNya (I Kor. 12:10-11, 30; 14:26-28). Kadang-kadang karunia ini diberikan sebagai karunia yang bersifat sementara apabila diperlukan agar orang dapat mendengar dan mengerti isi pesan khusus dari Allah. Ini adalah apa yang dialami oleh orang-orang Yahudi di hari Pentakosta. Kita juga melihat bagaimana orang-orang percaya dari bangsa Yahudi yang datang ke rumah Kornelius menerima karunia yang sama: Roh Kudus membuat mereka mendengar Kornelius dan keluarganya “berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kis. 10:44-46).

• Dari pengalaman kita mengetahu bahawa ketika sekelompok orang, walaupun hanya kelompok kecil, berbicara sekaligus, orang-orang lain mengalami kesulitan untuk mendengar dan mengerti apa yang sedang diucapkan. Kesulitan ini menjadi sangat besar ketika ini terjadi pada kelompok yang berjumlah besar. Di hari Pentakosta, ada 120 orang murid yang dipenuhi oleh Roh Kudus, semuanya berbahasa roh di saat yang sama. Campuran suara-suara dan tingkat kebisingan yang terjadi mungkin sangat besar. Namun yang mengejutkan, di tengah-tengah keadaan seperti itu orang-orang Yahudi yang datang ke Yerusalem dari sekitar 15 negara, mendengar murid-murid berbicara dengan bahasa negara mereka masing-masing (Kis. 2:8). Tidak hanya itu, mereka dapat memahami isi pesan itu, yaitu “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis. 2:11)

• Terdapat hal yang menarik pada catatan “orang-orang Yahudi yang saleh” (Kis. 2:5). Ini adalah orang-orang saleh yang telinganya dibuka oleh Allah sehingga dapat mengerti bahasa roh dalam bentuk bahasa mereka sendiri (Kis. 2:5-12). Sebaliknya, ada “orang lain” (Kis. 2:13) yang tidak mengerti apa yang sedang diucapkan murid-murid, dan mengejek mereka sebagai orang-orang yang sedang mabuk. Kerana itu kita dapat menyimpulkan bahawa bila bahasa roh yang diucapkan murid-murid adalah bahasa-bahasa asing, maka baik orang-orang Yahudi yang saleh mahupun orang-orang ini tentu dapat mengerti apa yang sedang diucapkan murid-murid Yesus.

Kesalahfahaman 19

​Di hari Pentakosta, perlu dicatat bahawa bahasa itu bukanlah bahasa yang tidak dikenali, tetapi dalam beberapa bahasa dari berbagai negara yang berkumpul pada saat itu. Sejauh yang dituliskan dalam Alkitab, ini tidak pernah terjadi lagi.
​​​​​​​​J. Oswald Sanders (hal. 72)

Kesalahfahaman 20

​Karunia berbahasa roh pada hari Pentakosta adalah bahasa tertentu dari orang-orang tertentu untuk menyampaikan injil kepada mereka (Kis. 2:6-11). Pentakosta berdiri sendiri. Baptisan Roh Kudus tidak pernah dimaksudkan sebagai pengalaman yang berulang.
​​​​​​​​John H. Pickford (hal. 12 dan 14)

Kesalahfahaman 21

​[Mengacu pada Kisah Para Rasul. 2:1-4] Ketika orang-orang percaya dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka berbicara dengan bahasa lain. Dalam keadaan kesurupan, mereka mengucapkan bahasa-bahasa dari negara-negara lain yang mereka sendiri tidak mengerti, tetapi dimengerti oleh orang-orang dari bangsa mereka masing-masing… Setelah hari Pentakosta, fenomina bahasa roh terjadi di Gereja Korintus dan tempat-tempat lain. Walaupun mereka juga “berkata-kata dalam bahasa roh”, ini bukan lagi fenomena Pentakosta, kerana fenomena ini bukan tanda yang selalu menyertai pencurahan Roh Kudus, tetapi sebuah fenomena yang telah berakhir. Kerana itu, mereka yang berharap membangkitkan kembali mujizat khusus ini di masa sekarang, telah keliru menganggap bahawa ketiadaan mujizat ini menandakan tidak adanya Roh Kudus. Mereka telah keliru memahami erti sesungguhnya dari pencurahan Roh Kudus. Roh Kudus yang telah turun pada hari Pentakosta masih terus bersama kita hingga hari ini.
​​​​​​​​Kurosaki Koukichi

​Pendapat para penulis di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
• Di hari Pentakosta, murid-murid mengucapkan bahasa-bahasa yang berbeda dari negara-negara asal orang-orang Yahudi yang datang ke Yerusalem.
• Ketika murid-murid berbicara dengan bahasa-bahasa asing, mereka ada dalam keadaan kesurupan.
• Fenomena pada hari Pentakosta adalah perwujudan khusus pencurahan Roh Kudus
• Roh Kudus yang dicurahkan pada hari Pentakosta terus tinggal bersama orang-orang Kristian hingga hari ini.
• Kita tidak biasa menyamakan ketiadaan tanda berbahasa roh dengan ketiadaan Roh Kudus.
• Pengalaman berbahasa roh di masa sekarang berbeda sama sekali dengan fenomena di hari Pentakosta.

Apa kata Alkitab?

• Murid-murid Yesus berkata-kata dalam bahasa roh, bukan bahasa-bahasa asing. Orang-orang Yahudi dari negara-negara lain mengerti apa yang mereka ucapkan kerana Allah memberikan mereka karunia sementara untuk menafsirkannya. Kejadian serupa terjadi ketika rumah tangga Kornelius menerima Roh Kudus, dan orang-orang percaya dari bangsa Yahudi mendengar mereka “berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kis. 10:46)

• Ketika murid-murid Yesus berkata-kata dalam bahasa roh, mereka tidak sedang berada dalam keadaan “kesurupan”. Sebaliknya, fikiran mereka segar dan jernih, kerana mereka menyedari bahawa orang-orang di sekeliling mereka merasa takjub dan sebagian ada yang mengejek-ejek mereka (Kis. 2:5-8; 13-15)

• Berbahasa roh adalah tanda pasti bahawa seseorang telah menerima Roh Kudus (Kis. 10:46). Bahasa roh tidak selalu harus dapat dimengerti (I Kor. 14:2). Ketika jemaat Efesus berbahasa roh, tidak ada tanda-tanda bahawa ada orang yang mengerti bahasa itu, tetapi mereka dipastikan telah menerima Roh Kudus (Kis. 19:1-6)

• Pencurahan Roh Kudus menjadi fenomena yang umum terjadi, setiap kali disertai dengan berbahasa roh. Ini menjadi tema utama injil seperti yang diberitakan para rasul. Contohnya, Petrus mendesak orang-orang Yahudi untuk bertobat dan dibaptis agar mereka juga dapat menerima karunia ini (Kis. 2:38)

• Ada lima kejadian baptisan Roh Kudus dicatat dalam Kisah Para Rasul (Kis. 2:4; 8:17; 9:17; 10:44; 19:6), menunjukkan bahawa pengalaman Pentakosta terulang, membuktikan bahawa ini bukanlah kejadian khusus.

9.8 Karunia menafsirkan bahasa roh

​Karunia menafsirkan bahasa roh dapat ditemukan di antara umat percaya di gereja benar hari ini. Apabila kita melihat di dalam Alkitab dan pada pengalaman-pengalaman jemaat Gereja Yesus Benar, kita melihat bahawa ada beberapa cara Roh Kudus membuat seseorang mengerti bahasa roh:

• Seperti pada kejadian yang dialami orang-orang Yahudi yang saleh di hari Pentakosta, Allah membuat orang yang mendengar dapat mendengar bahasa roh dengan bahasa mereka sendiri.

• Allah menyingkapkan erti bahasa roh kepada pendengar setelah ia yang bebicara selesai mengutarakannya.

• Orang yang berkata-kata dalam bahasa roh tidak mengerti ertinya pada saat ia mengucapkannya, tetapi kemudian Allah membuatnya mampu menafsirkan pesan itu.

• Orang menafsirkan setelah ia berbicara dalam bahasa roh, kalimat per kalimat.

• Orang yang berkata-kata dalam bahasa roh mengerti apa yang sedang ia katakana, tetapi mengetahui bahawa Roh Kudus akan menggerakkan orang lain untuk menafsirkannya. Dalam kejadian seperti ini, orang yang menafsirkannya akan datang ke muka untuk mengertikan pesan berbahasa roh. Pesan yang disampaikan akan sama persis dengan apa yang difahami oleh orang yang berbicara dalam bahasa roh.

• Orang yang berbicara dalam bahasa roh tidak mengerti ertinya, tetapi Allah menggerakkan orang kedua untuk menafsirkannya.

9.9 Kesaksian jemaat Gereja Yesus Benar

9.9.1 Kesaksian 1

​Kesaksian ini mengenai Saudara Chen Ah Gui dari Desa Boai, Propinsi Heping di Taichung, Taiwan. Saudara Chen jatuh sakit kerana tetanus pada tanggal 26 July 1959 dan tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Walaupun dia dirawat oleh tiga doctor berbeda, mereka tidak berhasil mengubatinya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan pengubatan medis, dan berdoa kepada Allah memohon belas kasihan dan kesembuhan. Di saat yang sama, gereja mendoakannya.

​Pada saat sebuah sesi doa, seorang saudari bernama Lin Qiu Ju menafsirkan bahasa roh sendiri dalam dialek asli suku Taiwan pengunungan. Pesannya adalah :”Ada dosa dalam kelompok ini.” Mendengar ini, jemaat bertobat. Namun doa-doa untuk Saudara Chen tetap tak terjawab.

​Pada sesi doa lain, Saudari Lin sekali lagi menafsirkan bahasa rohnya, berkata, “Di antara uang berdoa ada orang yang telah melakukan dosa mematikan. Orang ini harus diusir. Ia tidak boleh turut berdoa.” Ketika hal ini diselidiki, pesan ini terbukti benar; mereka mendapati seseorang diantara mereka telah melakukan dosa. Gereja menuruti Roh Kudus dan memberhentikan keanggotaan orang ini.

​Ketika mereka berdoa kembali untuk Saudara Chen, dia mulai membaik: pernapasan, air muka dan keadaannya secara umum mulai pulih. Lalu pada saat sesi doa pagi, Saudari Kin menafsirkan bahasa roh untuk menyampaikan pesan kepada Saudara Chen:”Sekarang kamu akan disembuhkan dari sakitmu” Sejak hari itu, Saudara Chen mengalami pemulihan yang cepat: dia dapat makan, duduk, berdiri dan akhirnya dapat berjalan. Tidak lama kemudian dia sembuh total.

9.9.2 Kesaksian 2

​Di tahun 1927, ketika Gereja Yesus Benar baru didirikan di Taiwan, jemaat Taichung mengadakan kebaktian mereka di lantai atas sebuah tempat usaha milik Penatua Filemon Kuo. Pada saat itu, hanya ada sedikit pendeta, sehingga gereja menugaskan jemaat untuk bergiliran menyampaikan khotbah. Setelah kebaktian, pendeta-pendeta akan memberikan komentar kepada jemaat yang berkhotbah.

​Pada hari Sabat siang, seorang saudara bernama Yang Gui Chuan baru saja selesai menyampaikan khotbah dan sedang turun dari mimbar, dan tiba-tiba ia didorong oleh Roh Kudus untuk berkata-kata dalam bahasa roh kepada Diaken Qian. Saudara Yang berbicara dengan tegas dan penting, menunjukkan jarinya ke arah Diaken Qian dengan sikap seperti orang menegur. Namun Saudara yang tidak mengerti apa yang sedang ia katakan, dan ia juga tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan.

​Setelah Saudara Yang selesai berbicara, Diaken Qian berdiri dan berkata kepada jemaat,”Apa yang baru saja saya dengar adalah sebuah pesan dalam dialek Fujian. Saudara Yang berkata kepada saya, ‘walaupun kamu ada di Taiwan, hatimu ada di Fujian. Kamu harus menginjil di Taiwan dengan sepenuh hati’”.

​Saudara Yang adalah orang asli Taiwan, dan tidak dapat berbicara dialek Fujian. Tambah lagi, saat ia berbicara kepada Diaken Qian, jemaat mendengarnya berbicara dalam bahasa roh. Namun Roh Kudus menggerakkan Diaken Qian mendengar bahasa roh itu sebagai bahasa dialeknya sendiri. Jemaat kemudian mengerti bahawa Diaken Qian, yang berasal dari Fujian, China, merasa rindu dengan kampung halaman, sehingga tidak dapat memusatkan perhatian pada pelayanan di gereja. Roh Kudus menegurnya, mengingatkannya untuk tetap waspada dan menyelesaikan tugas dari Tuhan. Mendengar pesan ini, Diaken Qian dengan rendah hati bertobat dan menjadi lebih giat dalam melakukan pekerjaan Allah.

9.9.3 Kesaksian 3

​Pada suatu sore di tahun 1927, Taichung, Taiwan, Penatua Gideon Hunag sedang memimpin kebaktian. Di penghujung kebaktian, jemaat berlutut unutk berdoa memohon Roh Kudus. Saudara Yang Gui Chuan dipenuhi oleh Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa roh. Ia dipenuhi oleh Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa roh. Ia mengerti makna bahasa roh ini, tetapi mengetahui bahawa Allah akan menetapkan makna bahasa roh ini, tetapi mengetahui bahawa Allah akan menetapkan orang lain untuk menafsirkannya. Setelah doa selesai, orang yang mendengar dan mengerti bahawa roh itu merasa Roh Kudus mendesaknya untuk menafsirkan, tetapi tidak merasa cukup berani untuk berdiri.

​Saudara Yang lalu berkata kepada jemaat, “Ada seorang saudara di antara kita yang dapat mengerti bahasa roh yang saya ucapkan saat berdoa. Mohon untuk tidak merasa takut untuk berdiri dan menafsirkannya.”

​Terdorong oleh kata-kata itu, Saudara Yang Quan (ayah Yang Gui Chuan) berdiri dan menyampaikan pesan ini:”Kerana iman Henokh terangkat, supaya ia mengalami kematian” (ref. Ibr. 11:5)

​Allah mengetahui sejak dahulu bahawa Saudara Yang Quan merasa ragu mengenai berbahasa roh, dan memberikan pesan khusus kepadanya melalui Roh Kudus untuk menguatkan imannya.

9.9.4 Kesaksian 4

​Pada saat kebaktian sore beberapa bulan kemudian, saat jemaat sedang berlutut berdoa memohon Roh Kudus,Saudara Tsai Mou Huang dari Taiwan masuk ke dalam aula. Roh Kudus menggerakkan Saudara Yang Gui Chuan untuk menafsirkan bahasa rohnya sendiri kepada jemaat, “Ada seseorang di antara jemaat yang telah melakukan dosa mematikan.”

​Ketika gereja menyelidiki hal ini, gereja mendapati bahawa Saudara Tsai telah melakukan perzinahan. Dia lalu diberhentikan keanggotaannya.

9.9.5 Kesaksian 5

​Di tahun 1947, Gereja Yesus Benar baru saja berdiri di Korea. Jemaatnya sangat sedikit, dan tidak ada pendeta. Jemaat tidak mengenal Alkitab dengan baik dan kelaparan akan Firman Allah. Tantangan khusus yang dihadapi gereja adalah membeda-bedakan ajaran sesat. Untungnya, Roh Kudus memberikan karunia menafsirkan bahasa roh kepada Saudari Bai Ren De di Kimchun.

​Sejak September tahun itu dan beberapa tahun kemudian, Roh Kudus menggerakkan Saudari Bai untuk menafsirkan bahasa rohnya sendiri untuk membangun jemaat. Di tiap kesempatan,hal-hal berikut ini terjadi:
• Dia pertama-tama berdoa dalam bahasa roh, setelah itu bahasa rohnya berubah untuk menungkinkannya berkhotbah.
• Setelah berkhotbah dalam bahasa roh, dia sendiri menafsirkannya dalam bahasa Korea. Dia tidak mengerti bahasa roh yang dia ucapkan saat dia mengucapkannya. Dia baru mengerti ertinya saat Roh Kudus menggerakkannya untuk menafsirkannya.
• Roh Kudus mengilhaminya untuk menafsirkan bahasa roh dengan pelan-pelan dan jelas, sehingga jemaat dapat mengerti pesan yang disampaikan.
• Dia pertama-tama menafsirkan pesan Alkitab dan kemudian memberikan referensi-referensi Alkitab yang berkaitan dengan pesan itu. Ketika pendengar menyelidiki apa yang telah dia tafsirkan, mereka mendapati kata-katanya sesuai dengan Alkitab.

Yang mengherankan, Saudari Bai sendiri tidak mengenal Alkitab dengan baik. Lebih lagi, pesan-pesan yang dia sampaikan melalui pengilhaman Roh Kudus dapat memenuhi kebutuhan gereja dan jemaat di tiap kesempatan.

9.9.6 Kesaksian 6

​Di bulan September 1947, Saudara Pei Xiang Long dan Pu Chang Huan sedang membicarakan masalah baptisan air dan baptisan Roh Kudus dengan seorang penatua dari Gereja Presbiterian. Di waktu yang sama, Saudari Bai Ren De sedang mengasingkan diri ke pegunungan untuk berdoa dengan ditemani beberapa jemaat. Bersama-sama mereka memohon kepada Allah untuk memimpin pekerjaan penginjilan yang sedang dilakukan oleh kedua saudara ini.

​Setelah selesai berdoa, Saudari Bai menafsirkan bahasa rohnya sendiri untuk menyingkapkan pesan berikut: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya. Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya” (ref. Yoh. 1:9-12)

​Mendengar ini, Saudara Hong Chong Pei segera meninggalkan pegunungan untuk mencari Saudara Pei dan Saudara Pu. Dia membagikan pesan dari Roh Kudus ini kepada mereka, dan berpesan bahawa Gereja Yesus Benar adalah tubuh Kristus; dunia akan menolak gereja ini seperti mereka menolak Allah. Namun mereka yang menerima injil benar yang diberitakan oleh gereja akan mendapatkan berkat, kerana Allah akan menjadikan mereka anak-anakNya.

9.9.7 Kesaksian 7

​Pada bulan Februari 1949, baptisan air dilakukan di sebuah sungai di dekat Gereja Kimchuan, Korea. Setelah baptisan, jemaat kembali ke gereja untuk berdoa.

​Saat berdoa, Roh Kudus menggerakkan Saudari Bai Ren De untuk menafsirkan bahasa rohnya sendiri. Pesannya: “Dalam Dia kamu telah disunat, sunat Kritus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, kerana dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggarannmu dan oleh kerana tidak disunat secara lahirlah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesuadah Dia mengampuni segala pelanggaran kita” (ref. Kol. 2:11-13)

​Roh Kudus berbicara melalui bahasa roh untuk mengajar orang-orang percaya di Kimchun secara pribadi tentang kebenaran baptisan air: bahawa baptisan air mempunyai kuasa untuk menghapus dosa, dan menandai kematian, penguburan dan kebangkitan seseorang bersama Kristus.

9.9.8 Kesaksian 8

​Saudara Pei Xiang Long adalah benih pertama penginjilan di Korea. Dia menjadi Kristian di Osaka, Jepun pada tahun 1941. Di bulan Januari 1945, dia kembali ke Korea, dan dengan gigih mengabarkan kebenaran. Dia juga berdoa dengan tekun agar Gereja Yesus Benar dapat berdiri di sana. Namun di tahun 1951 dia melepaskan pelayanan untuk berbisnes. Dua tahun kemudian, bisnesnya bangkrup dan ia menghadapi hutang yang bertimbun-timbun. Pada suatu malam, saat dia sedang membaca Alkitab, ia membaca Mazmur. 94:12. Saat membacanya, dia menangis penuh pertobatan.

​Enam bulan kemudian, Saudari Bai memberinya sebuah pesan dari Roh Kudus:”Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus bersukacita oleh berbagai-bagai pencubaan, Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu- yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fanam yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihatNya. Kamu bergembira kerana sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, kerana kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (ref. I Ptr. 1:6-9)

​Saudara Pei sangat terhibur oleh pesan-pesan ini, dan kembali melanjutkan pelayanan dengan semangat yang lebih besar untuk Tuhan.

9.9.9 Kesaksian 9

​Kemudian muncul masalah yang berkembang di Gereja Korea. Saudara Pu Chang Huan didapati bersikap tidak sopan dengan jemaat perempuan.

​Di hari yang sama pada tahun 1953, saat Saudara Pei Xiang Long menerima pesan penghiburan dari Roh Kudus, Saudari Bai menafsirkan pesan berbeda untuk Saudara Pu:”Hal ini harus kamu lakukan, kerana kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahawa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapilah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (ref. Rm. 13:11-14)

​Namun, sayang sekali, bahkan setelah mendengarkan pesan Roh Kudus ini pun, Saudara Pu tidak mahu bertobat. Dua atau tiga tahun kemudian ia melakukan dosa perzinahan dan dikeluarkan dari gereja.

Pertanyaan Ulasan

1. Apakah baptisan Roh Kudus?
2. Jelaskan bukti menerima Roh Kudus.
3. Jelaskan kegunaan berbahasa roh yang berbeda.
4. Apakah perbedahan antara berdoa dalam bahasa roh dengan berkata-kata dalam bahasa roh?
5. Mengapa Allah memilih hari Pentakosta untuk mencurahkan Roh Kudus yang dijanjikanNya?
6. Apa yang salah dalam pandangan-pandangan berikut ini?
a) Setiap orang percaya menerima Roh Kudus, tetapi belum tentu dibaptis dengan Roh Kudus.
b) Orang percaya dapat dipenuhi Roh Kudus, tanpa perlu dibaptis oleh Roh Kudus.
c) Tidak ada catatan Alkitab mengenai orang menerima Roh Kudus.
d) Orang tidak perlu merasakan apa-apa saat ia menerima Roh Kudus.
e) Pengalaman jemaat Samaria membuktikan bahawa orang dapat menerima Roh Kudus tanpa perlu berbahasa roh.
f) Berbahasa roh bukanlah pengalaman umum di masa para rasul, seperti dibukitkan oleh keterheranan jemaat Yahudi saat Kornelius dan keluarganya berbahasa roh.
g) Berbahasa roh adalah tanda yang sementara di masa para rasul, dan tidak lagi dialami oleh orang-orang Kristian.
h) Paul berkata bahawa berbahasa roh adalah tanda ketiadaannya pengendalian diri.
i) Pertanyaan Paulus “Apakah semuanya berbahasa roh” menunjukkan bahawa berbahasa roh hanyalah salah satu dari banyak karunia rohani.
j) Paulus berkata bahawa berbahasa roh adalah karunia yang lebih rendah dan terbatas.
k) Gereja-gereja yang jemaatnya berteriak dalam doa dan menyanyikan nyanyian-nyanyian rohani, sedang menunjukkan perilaku yang menunjukkan kekacauan dan ketidaktertiban (ref. I Kor. 14:33)
l) Paulus mengajarkan bahawa seluruh jemaat tidak boleh berbahasa roh di waktu yang sama: hanya dua atau toga yang boleh melakukannya, saat ada yang menafsirkan, dan mereka harus bergiliran (I Kor. 14:27-28)
m) Bahasa roh yang diucapkan di hari Pentakosta bukanlah bahasa rohani, tetapi bahasa-bahasa asing.

_________________________________________________________________________

1. the Complete Word Study Ductionary: New Testament, ed. Zodhiates, S. (Tennessee: AMG International, 1992). G1100.
2. Whcliffe Bible Encycloprdia, eds. Pfeiffer, Charles F., Vos, Howard, F. and Rea, John (Chicago: Moody Press, 1975)
3. Vine, W. E., Unger, Merrill F. and White Jr., William, Vine’s Complete Expository Dixtionary of Old and New Testament Words (Nashville, Atlanta, London and Vancouver: Thomas Nelson Publishers, 1985).G4151.
4. Ibid. G4878
5. Ibid. G4592
6. Wycliffe Bible Encyclopedia, eds. Pfeiffer, Charles F., Vos, Howard, F. and Rea, John (Chicago: Moody Press, 1975)

(Dibaca : 544 kali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *