Bab 1 Siapakah Roh Kudus

1.1 Pendahuluan

​Alkitab nampaknya memberikan pesan yang bertentangan mengenai sifat Roh Kudus. Di satu sisi, Alkitab mengajarkan kita untuk menyembahkan Allah dalam roh dan kebenaran, kerana Dia adalah Roh( Yoh. 4: 24). Di sisi lain, Alkitab berkata bahawa manusia biasa tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah( II Kor. 2: 14). Berusaha memahami perkara-perkara dunia roh sama seperti melihat ke dalam cermin di ruangan temaram- beberapa hal sudah pasti akan terlewatkan oleh kita.

​Tetapi Tuhan telah memberikan pengertian kepada orang-orang yang mengasihi Dia, dan yang telah menerima Roh Kudus( Rm. 8: 5; I Kor. 2: 12). Dan kita dapat merasa yakin kerana mengetahui bahawa pada suatu hari, kita akan melihat gambaran yang lengkap dan sempurna ketika kita bertemu dengan Allah sendiri( I Kor. 13: 12)

1.2 Kepribadian Roh Kudus

​Sebagian orang Kristian percaya bahawa Roh Kudus adalah kekuatan yang bukan berasal dari diri manusia, namun lebih serupa dengan kuasa Tuhan yang memotivasi atau kekuatan kehidupan. Dalam Alkitab asal berbahasa Yunani, kata “Roh”,pneuma1, mempunyai erti yang sama dengan “nafas” atau “angin”. Jadi, secara hurufiah kita dapat menerjemahkan “Roh Kudus” sebagai “Nafas Kudus” atau “Angin Kudus”, tetapi itu tidak akan sesuai dengan seluruh kepribadian Roh Kudus . Tuhan Yesus pernah berkata bahawa menghujat Roh Kudus adalah dosa yang jauh lebih serius daripada menghujat Anak Allah(Mat. 12: 31-32). Kerasnya peringatan ini membuat kita sulit menerima bahawa Roh Kudus hanya sekadar kekuatan dari luar diri manusia yang dikendalikan Allah sebagai alat ilahi. Mengenai hal ini, dalam kitab Yohanes. 4: 24 Yesus menyamakan Allah dengan Roh, dan kerana itu Roh Kudus pastilah merupakan peribadi yang sama dengan Allah sendiri.

​Dalam Yohanes 14-16, Yesus menggunakan kata ganti orang “Dia”(“He” dalam Alkitab Bahasa Inggeris New King James Versioned) sebanyak lima kali untuk menyebutkan Roh Kudus(Yoh. 14: 26; 15: 26; 16: 8; 13-14). Dengan demikian Yesus menjelaskan keperibadian Roh Kudus. Paulus juga menjelaskan keperibadian Roh Kudus . Paulus juga menjelaskan keperibadian Roh Kudus dengan berkata,”Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, sama seperti yang dikehendakiNya”(I Kor. 12: 11)

Dari Alkitab, kita melihat bahawa Roh Kudus secara peribadi mewujudkan diriNya melalui tiga hal: hikmat, perasaan dan kehendak. Melalui hikmatNya, Roh Kudus: menciptakan seluruh alam semesta dan semua mahluk hidup(Kej. 1: 1-2; Mzm. 104: 30); membedakan yang baik dan jahat(Ef. 4: 30); memberi kesaksian tentang kebenaran dan Yesus Kristus(Yoh. 14: 6; 15: 26); menyelidiki hal-hal terdalam dari Allah(I Kor. 2: 10); mengajar dan melatih umat Allah(Neh. 9: 20; Yoh. 14: 26); Memimpin orang percaya kepada seluruh kebenaran(Yoh. 16: 13); dan menyatakan rahasia-rahasia Kristus(Ef. 3: 5). Dalam hal perasaan, Roh Kudus mengasihi(Rm. 15: 30), memberikan anugerah(Ibr. 10: 29),berduka(Yes. 63: 10; Ef. 4: 30), menghibur(Kis. 9: 31) dan menjadi perantara bagi orang-orang percaya (Rm. 8: 27). Dalam hal kehendakNya, Roh Kudus mempunyai “maksud”(Rm. 8: 27), membuat keputusan (Kis. 15: 28), memberi perintah (Kis.8: 29),menugaskan pekerja kudus(Kis. 13: 1-4), mengarahkan pekerjaan gereja(Kis. 16: 6), mengurapi pekerja kudus(Kis. 20: 28), membagi-bagikan karunia kepada jemaat(I Kor. 12: 11), menginjil dan mengembalakan(Why. 2: 7; 11, 17, 29; 3: 6, 13, 22; 22: 17).

1.3 Siapakah Roh Kudus?

​Kerana Roh Kudus merupakan sebuah keperibadian, jadi siapakah Dia? Rahasia tentang ke- Allah- an tidak dapat sepenuhnya dijelaskan, kerana sebagai manusia, kita mempunyai pengertian yang terbatas tentang alam roh. Allah adalah roh, tetapi kita adalah daging. Dia melampaui kemampuan kita untuk mengetahui dan menggambarkanNya secara memadai. Jadi jangan terkejut jika kita melihat banyak orang Kristian telah lama dibuat bingung oleh sifat ke- Allah-an. Tetapi beberapa orang masih saja berusaha memahami Dia melalui doktrin-doktrin buatan manusia, seperti Tritunggal dan modalisme. Seringkali doktrin-doktrin ini bertentangan satu sama lain. Contohnya, Dekrit Nicea, yang ditetapkan dalam Sidang Nicea pada tahun 325, menggambarkan bagaimana doktrin Tritunggal ditetapkan untuk menengahi perdebatan mengenai kelahiran Kristus dan sifat Ke- Allah-an.

​Sejak abad ke- 4 Masehi, baik Gereja Katolik Roma mahupun Protesran, telah berpegang pada konsep Allah Tritunggal sebagai dasar iman Kristian. Memang tak dapat disangkal, mencoba memahami Ke- Allah- an sepenuhnya berkaitan dengan misteri yang sangat dalam. Namun menggunakan doktrin dari hikmat manusia seperti itu tidaklah bijaksana, mengingat apa yang telah dinyatakan dalam kanon Perjanjian Baru kepada kita. Doktrin Tritunggal adalah pengajaran hikmat dan filsafat manusia berusaha merasionalisasikan misteri ke- Allah- an, dan akhirnya menyebabkan penyimpangan dari iman para rasul mula-mula yang sangat disayangkan.

​Mengenai usaha memahami perkara-perkara rohani, Rasul Paulus berkata,”Siapa gerangan di antara manusia yang tahu apa yang terdapat dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah sebagai Roh Allah”(I Kor. 2: 11). Jadi, untuk memahami sifat Ke- Allah- an membutuhkan hikmat dan wahyu rohani melalui Roh Kudus Allah. Kerana itu, kita harus bersandar pada Roh Kudus, dan bukan pada hikmat duniawi, untuk mendapat pengetahuan yang benar tentang Dia(Yoh. 14: 26; 16: 13; Ef. 1: 17)
​Alkitab seringkali memakai istilah “Roh Kudus” dan “Roh Allah” secara bergantian, untuk menjelaskan bahawa Roh Kudus adalah Roh Allah. Dari petunjuk ini, kita mengetahui bahawa Roh Kudus tidak terpisahkan dari Allah; kerana Roh Kudus adalah Allah sendiri. Dekrit Nicea menyatakan bahawa Kristus adalah “Allah atas Allah”, maksudnya adalah bahawa Kristus adalah Allah sendiri. Tetapi ketika membahas mengenai Roh Kudus, penulis-penulis Dekrit Nicene sepertinya ragu-ragu mengenai hubungan Roh Kudus dengan Allah, dan tidak sampai pada keputusan bahawa Roh Kudus adalah “ Allah dari Allah”.

​Dalam Alkitab, kita dapat melihat bahawa Roh Kudus mempunyai berbagai macam sebutan:
• “Roh Tuhan” (Hak. 3: 10; Luk. 4: 18)
• “Roh Allah”(Mat. 3: 16)
• “Roh Bapa”(Mat. 10: 20)
• “Roh Kristus”(Rm.8: 9)
• “Roh AnakNya( Anak Allah)” (Gal. 4: 6)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahawa Roh Kudus adalah Roh Bapa Syurgawi dan Roh Yesus.

1.3.1 Roh Kudus adalah Roh Bapa Syurgawi

​Dalam Kejadian. 1: 1 tertulis bahawa “ Allah menciptakan langit dan bumi”, sementara pada Kejadian. 1: 2 tertulis, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air“ sebelum segala sesuatu diciptakan. Jadi Allah dan Roh Allah(Roh Kudus) adalah satu Roh yang sama.

​Di Perjanjian Lama, Allah berjanji untuk mencurahkan Roh Kudus kepada umatNya. Dengan demikian Allah menyatakan lagi bahawa Roh Kudus adalah RohNya(Yeh. 36: 27; 37: 14; Yoel. 2: 28-29). Ketika kita merenungkan pesan-pesan dalam nubuat Perjanjian Lama, kita hanya dapat merasa takjub kerana Allah sampai berfikir untuk tinggal di dalam diri manusia. Tetapi dengan membaca Alkitab kita tahu itu benar: Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, yang menyebabkan Rasul Petrus mengumumkan bahawa janji Allah ini masih terus digenapi(Kis. 2: 16-18). Sekarang kita tahu bahawa janji Allah ini masih terus digenapi, kerana I Yohanes. 3: 24 memberitahukan kita:”Dan demikianlah kita ketahui, bahawa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” Di Yohanes. 4: 13 juga tertulis,” demikianlah kita ketahui, bahawa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam RohNya”.

​Yesus pernah berkata,”Bapa ada di dalam Aku”(Yoh. 10: 38). Allah adalah Roh(Yoh. 4: 24); jadi kerana Bapa ada di dalam Yesus, Roh Bapa tentu harus ada di dalam Yesus. Dengan demikian, Roh yang diterima Yesus setelah Dia dibaptis adalah Roh Bapa.(Mat. 3: 16; Luk. 4: 18)​

​Tulisan-tulisan Rasul Petrus juga menunjukkan bahawa Roh Kudus adalah Roh Allah. Petrus menulis:
a) “Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang”(I Kor. 12: 6).
b) “Kerana Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan mahupun pekerjaan menurut kerelaanNya”(Flp. 2: 13)
c) “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang… dan di dalam semua”(Ef. 4: 6)
d) “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu”(I Kor. 6: 19)

Paulus juga berbicara tentang karunia-karunia rohani dari Roh Kudus dengan cara ini:” Tetapi semua ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya”(I Kor. 12: 11). Penatua Yakobus menambahkan,”Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang”(Yak. 1: 17)

Seluruh ayat Alkitab di atas menunjukkan satu hal mendasar: Roh Kudus adalah Roh Bapa Syurgawi sendiri. Di samping itu kita harus menambahkan bahawa Roh Kudus bukan pribadi ketiga, yang berbeda dan terpisah dari Allah Tritunggal, seperti yang dipercaya oleh orang-orang yang menganut doktrin Tritunggal.

1.3.2 Roh Kudus adalah Roh Yesus

​Dalam Kisah Para Rasul. 8: 26-39, kita membaca tentang Filipus yang diutus untuk memberitakan injil kepada seorang sida-sida dari Etiopia dan kemudian membaptisnya. Penulis kitab Lukas menggambarkan cara “Roh itu berbicara kepada Filipus,’Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!’”(ayat 29), dan kemudian “Roh Tuhan melarikan Filipus”(ayat 39). Tentang ke-Allah-an, Lukas menganggap bahawa Roh Kudus sama dengan Roh Tuhan Yesus. Pernyataan yang sama dapat dikumpulkan dari Kisah Para Rasul. 16: 6-7 yang berbunyi, “Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.”(ayat 6), dan “setibanya mereka di Misia mereka mencuba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus2 tidak mengizinkan mereka.”(ayat 7)

​Pada Galatia. 4: 6, Rasul Paulus juga menyamakan Roh Kudus dengan Roh Yesus, yang berbicara tentang bagaimana Allah mengutus Roh AnakNya masik ke dalam hati kita. Untuk mengilustrasikan hal itu lebih lanjut, II Korintus. 3: 17 berkata bahawa “Roh Tuhan” memberikan kita kemerdekaan, sementara Roma. 8: 2 berkata bahawa “Roh yang memberi hidup dalam Kristus Yesus” telah memerdekakan kita.

​Mengenai penciptaan, Kejadian. 1: 2 berkata,”Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” sebelum segala sesuatu diciptakan. Para Rasul juga memberi kesaksian bahawa segala sesuatu diciptakan melalui Tuhan Yesus(Yoh. 1: 3, 14; I Kor. 8: 6; Kol. 1: 16-17; Ibr. 1: 2). Ini menunjukkan bahawa Roh Allah, yaitu Roh Kudus, juga adalah Roh Yesus.

​Dalam suratnya yang pertama , Yohanes menulis,”Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima daripadaNya. Kerana itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi bagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu”(I Yoh. 2: 27). Di sini, “pengurapan”, yang ada di dalam hati kita dan mengajarkan kita segala sesuatu, adalah Roh Kudus. Ini mengingatkan kita tentang janji yang diucapkan Yesus,”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain… yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu”(Yoh. 14:16-18). Yesus menunjukkan bahawa Dia akan segera datang kepada murid-muridNya – sebagai Roh Kebenaran- untuk tinggal bersama mereka selamanya.

​ Dari referensi Alkitab di atas, sudah jelas bahawa Roh Kudus adalah Roh Tuhan Yesus. Dan harus dikatakan bahawa Roh Kudus tidak seharusnya dipandang sebagai peribadi ketiga dan terpisah dari ke- Allah- an.

1.4 Menyelidiki konsep tentang ke-Allah-an

​Setelah Sidang Nicea, Uskup Aleksandria, Athanasius, meletakkan dasar doktrin Tritunggal modern, yang sekarang diterima oleh mayoritas gereja dan denominasi Kristian sebagai doktrin dasar. Di samping itu, Gereja Katolik mengumumkan barangsiapa yang tidak menerima Dekrit Nicea yang dihasilkan dalam sidang itu dianggap sebagai bidat.

​Dektrit ini merupakan jawaban dari penyesatan yang dilakukan oleh Arius, yang bersikeras bahawa kemahakuasaan mutlak dan kesatuan Allah Nampak bertentangan dengan sifat ke- Tuhan- an Yesus. Arius berpendapat bahawa Yesus diciptakan oleh Allah Bapa, sehingga tidak mungkin setara dengan Bapa. Tak pelak lagi terdapat masalah besar pada pemikiran Arius tentang ke- Allah- an, namun kita dapat bersimpati pada keinginannya untuk memegang teguh ke- satuan- an Allah. Kenyataannya, masalah yang muncul dalam masa pasca para rasul dalam hal ke- Allah- an umumnya adalah hasik dari ketegangan antara ke- satu-an Yesus dengan Allah(ke- Tuhan-an Yesus) dan perbedaanNya dengan Allah(sebagai Anak manusia). Pada akhirnya perbedatan itu melebar ke masalah-masalah mengenai Roh Kudus.

​Jadi doktrin Tritunggal adalah iman pada satu Allah yang terdiri dari tiga peribadi yang merupakan satu hekekat3. Orang Kristian yang menganut konsep ini tidak percaya pada tiga Allah(Triteisme), sebagaimana yang dimengerti secara keliru oleh sebagian orang. Sebaliknya, mereka percaya pada ke- Allah-an yang terdiri dari Bapa, Anak dan Roh Kudus: tiga pribadi berbeda pada satu peribadi. Mereka berpendapat bahawa tiap”pribadi”, merupakan keperibadian yang kemuliaan dan dapat hadir secara terpisah; mempunyai kedudukan, kemuliaan dan otoritas yang sama; sama-sama bersifat kekal, yaitu mereka hadir secara terpisah sejak permulaan zaman dan akan terus hadir secara terpisah sampai pada kekekalan.

Penganut Tritunggal sering mengutip Matius. 28: 19 sebagai bukti kepercayaan mereka. Mereka berpendapat bahawa satu “nama” yang disebutkan dalam ayat ini menunjukkan keesaan Allah, sementara referensi tentang Bapa, Anak dan Roh Kudus menunjukkan adanya tiga pribadi yang berbeda.

​Penganut Tritunggal juga menggunkan sejumlah ayat Alkitab lain untuk mendukung pandangan mereka:
• Ketika Yesus dibaptis, Roh Kudus ke atasNya, dan suara Bapa Syurgawi berkata,”Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan”(Mat. 3: 17). Mereka berpendapat bahawa peristiwa ini menunjukkan adanya tiga pribadi dalam ke- Allah-an.
• Yesus sering berdoa kepada Bapa di Syurga selama pelayanaNya di bumi(Mat. 11: 25-26; 14: 23; 26: 39, 42, 44) dan menjadi perantara bagi murid-muridNya (Luk. 22: 32; Yoh. 17: 9-11, 20-23). Mereka berpendapat, bahawa jika Yesus sama dengan Allah, lalu Dia berdoa kepada siapa?
• Yesus berkata,”BapaKu lebih besar daripadaKu”(Yoh. 14: 28). Mereka berpendapat bahawa jika Yesus membuktikan perbedaanNya dengan Allah.
• Alkitab menggambarkan Yesus sebagai Perantara antara Allah dan manusia, yang hidup selama-lamanya dan duduk di sebelah kanan Allah, menjadi perantara bagi orang-orang percaya(Rm. 8: 34; Ibr. 7: 22-25; I Yoh. 2: 1). Mereka berpendapat bahawa gambaran ini menunjukkan bahawa Yesus berbeda dengan Allah Bapa.
• Sebelum dilempari batu, Stefanus memandang ke langit dan melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah(Kis. 7: 55-56). Mereka berpendapat bahawa peristiwa ini sekali lagi menunjukkan bahawa Yesus adalah peribadi yang terpisah dari Allah Bapa.

Para pencetus doktrin Tritunggal dengan cukup bijaksana menghindari perangkap triteisme dan memegang teguh ke-satu-an dan keesaan Allah. Tetapi mereka mengabaikan pendekatan yang lebih baik, yaitu pendekatan para rasul yang tidak berusaha merasionalisasikan misteri ke- Allah-an dengan hikmat dan pemikiran manusia. Doktrin Trintunggal, yang menyatakan bahawa ke-Allah-an sebagai tiga pribadi dalam satu Tuhan, tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan juga bahasa yang digunakannya.

Tetapi apakah ini bererti bahawa kita tidak akan pernah tahu apa pun tentang sifat Allah? Sama sekali tidak. Jika kita menyelidikan Alkitab dengan seksama, kita menemukan bahawa Alkitab memberikan kita pengertian yang kaya dan berlimpah. Terutama ada tiga temapenting, yang ketika kita pelajari. Dapat memberikan kita pengertian yang lebih jelas tentang ke- Allah-an. Yaitu: 1) keesaan Roh Allah; 2) tema Alkitab tentang keselamatan; 3) Roh Kudus yang melampaui ruang dan waktu.

1.4.1 Keesaan Roh Allah

​Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, pesan Alkitab yang menggema adalah bahawa Allah itu esa:
​Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Allah itu esa!
​​​​​​​​Ulangan. 6: 4

​Jawab Yesus:”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”
​​​​​​​​Markus. 12: 29

​Tetapi kerana Allah senantiasa melakukan pekerjaan yang berbeda, terutama yang berhubungan dengan keselamatan, maka Ia mewujubkan diriNya kepada manusia sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Memandang perwujudan-perwujudan ini sebagai “tiga pribadi” tidak benar-benar membantu, kerana Alkitab tidak menggunakan istilah ini. Oleh kerana itu kita tidak dapat menerima pandangan orang-orang yang menganut doktrin Tritunggal, yang berpendapat bahawa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu Tuhan yang ada dalam tiga peribadi yang berpisah. Alkitab hanya memberitahukan kita bahawa Allah itu esa: Dia esa sejak permulaan zaman dan esa sampai akhir zaman. Yang terpenting dalam hal ini adalah: Allah itu Roh(Yoh. 4: 24), dan kita tidak dapat menggunakan konsep-konsep fisik dan logika, atau konsep yang kita putuskan sendiri untuk menjelaskan tentang Allah, jika kita melakukannya, kita hanya akan membuat diri kita menjadi semakin tidak mengerti.

​Tentang diriNya sendiri, Yesus pernah berkata,” Tidak seorang pun yang telah naik ke Syurga, selain daripada Dia yang telah turun dari Syurga, yaitu Anak Manusia”4(Yoh. 3: 13). Beberapa tulisan Alkitab memuat bahawa Anak Manusia turun dari Syurga, namun tetap ada di Syurga. Untuk memahami perkataan ini kita memerlukan hikmat rohani. Khususnya, kita harus menyedari bahawa Yesus tidak dibatasi oleh ruang dan waktu: Dia dapat berada di bumi dan di Syurga pada saat yang sama. Selain itu Alkitab mencatat bahawa Yesus memberitahukan Filipus secara langsung dan terus terang:”Barangsiapa telah melihat Aku, telah melihat Bapa” dan “Tidakkah engkau percaya bahawa Aku di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku?”(Yoh. 14: 9-10). Perkataan Yesus memberitahukan kita bahawa Dia dan Bapa adalah satu dan Roh yang sama.

​Mengenai perwujudan Allah sebagai manusia, hal yang ajaib adalah Yesus sungguh-sungguh manusia, tetapi juga sungguh-sungguh Allah. Kerana itu kita melihat perbedaan dalam hal sifat-sifat mereka:
• Kedudukan Bapa lebih tinggi daripada kedudukan Anak. Yesus berkata,”BapaKu lebih besar daripadaKu.”(Yoh. 14: 28). Sebagai Anak, Yesus tunduk kepada Bapa. Ia juga mempunyai kelemahan dan keterbatasan kerana kemanusiaanNya. Kerana diutus ole Bapa, apapun yang Ia perbuat, termasuk segala yang Ia ucapkan, harus sesuai dengan kehendak Bapa.(Yoh. 7: 6-8; Yoh. 12: 49-50; Mat. 26: 39)
• Kekuatan Bapa lebih besar daripada kekuatan Anak. Sebagai Anak, Yesus harus mempersiapkan pelayananNya di dunia dengan berdoa dan berpuasa selama empat puluh hari. Setelah itu barulah Ia dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus untuk mengatasi pencobaan Iblis(Luk. 4: 1-15). Sepanjang pelayananNya, Yesus berdoa memohon kekuatann untuk menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepadaNya oleh Bapa(Mrk. 1: 35; Luk. 5: 15-16; Yoh. 17: 4). Setelah Yesus terangkat ke Syurga, Petrus bersaksi bahawa sumber kekuatan Yesus adalah Roh Kudus:”Allah mengurapi Yesus dari Nazaret dengan Roh Kudus dan dengan kuasa”(Kis. 10: 38). Jadi, kita melihat bahawa doa-doa Yesus bukan hanya teladan untuk kepentingan kita; tetapi Ia benar-benar membutuhkannya untuk mengatasi kelemahan kedaginganNya.
• Kekuasaan Bapa lebih besar daripada kekuasaan Anak. Dalam doa perpisahanNya, Yesus berkata bahawa Bapa telah memberikan seluruh kuasa kepadaNya(Yoh. 17: 2). Itu mencakup kuasa untuk menopang seluruh jagat raya (Ibr. 1: 3) dan mengendalikan alam(Mrk. 4: 37- 41). Dari catatan Alkitab tentang penglihatan Daniel(Dan. 7: 13-14), doa Yesus(Yoh. 17: 2), dan tugas yang diberikan Tuhan kepada murid-muridNya(Mat. 28: 18-19), kita mengetahui bahawa kekuasaan Yesus menunjukkan kepada kekuasaan penuhNya atas seluruh jagat raya. Apabila injil telah diberitakan sampai ujung bumi, dan kerajaan-kerajaan dunia menjadi kerajaanTuhan(Mat. 24: 14; Why. 11: 15), yaitu ketika rencana keselamatan Allah telah digenapi seluruhnya, Yesus akan mempunyai seluruh kekuasaan yang sesuai dengan statusNya sebagai Raja atas segala raja(Why. 17: 14; 19: 16). Pada saat itu, seluruh penglihatan Daniel yang berhubungan dengan kerajaan Allah yang kekal akan digenapi.
• Kemuliaan Bapa lebih besar daripada kemuliaan Anak. Dalam dpa perpisahanNya, Yesus berdoa kepada Bapa,”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya”(Yoh. 17: 4). Perbuatan Anak mencerminkan kemuliaan Bapa(Ibr. 1: 3). Jadi, dalam segala yang Yesus perbuat, seperti menyembuhkan penyakit, mengusir Setan, membangkitkan orang mati, disalibkan di kayu salib dan bangkit dari kematian, Yesus melakukannya untuk memuliakan Bapa(Luk. 17: 15-18; Yoh. 9: 1-3; 11: 3-4, 40; 13: 31-32; 17: 1; Ef. 1: 20). Sesuai dengan kehendak Bapa, mula-mula Yesus harus memakai mahkota duri, mengalami kematian, bangkit dan naik ke Syurga, sebelum dimahkota dengan kemulian dan hormat(Mat. 27: 29; Luk. 24: 26; Yoh. 7: 39; Ibr. 2: 9; Flp. 2: 8-11). Ini menyiratkan bahawa kemuliaan Yesus tidak melampaui kemuliaan Bapa.
• Pengetahuan Bapa lebih besar daripada pengetahuan Anak. Semua yang diucapkan Yesus sesuai dengan perintah(Yoh. 12: 49-50) dan ajaran Bapa(Yoh. 8: 28). Ketika berbicara tentang “zaman akhir”, Yesus berkata,”Jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah bahawa waktunya sudah dekat, sudah diambang pintu!”(Mat. 24: 33). Tetapi tentang hari dan waktu kedatanganNya yang kedua kali, Yesus menambahkan,”tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, hanya Bapa sendiri”(Mat. 24: 36). Dari ayat ini, kita melihat bahawa tidak ada yang tahu waktu kedatangan Yesus yang kedua, diriNya sendiri pun tidak, selain Bapa. Demikian juga, selama pelayananNya, Yesus seringkali hars menunggu Bapa Syurgawi mengarahkan ke mana Ia harus pergi(Yoh. 7: 3-10). Dari ayat-ayat Alkitab ini, kita mengerahui bahawa pengetahuan Bapa tidak terbatas, namun pengetahuan Anak terbatas: semua yang diketahui Anak dinyatakan kepadaNya melalui Bapa.
Ayat-ayat yang telah kita baca nampaknya menempatkan Yesus pada kedudukan yang lebih rendah tetapi kita harus ingat bahawa ayat-ayat ini menggambarkan kedudukanNya sebagai Anak manusia. Secara rohani, Dia sungguh-sungguh adalah Allah, Baik saat Ia di bumi, mahupun sekarang di Syurga.

Kesimpulannya, ketika Yesus berkata,”BapaKu lebih besar daripadaKu”(Yoh. 14: 28), Dia sedang menunjukkan bahawa Bapa Syurgawi lebih besar daripada Dia dalam hal kedudukan, kekuatan, kekuasaan, kemuliaan dan pengetahuan. Namun perbedaan ini hanya berlaku sepanjang masa pekerjaan penyelamatanNya. Kerana itu, kita tidak boleh jatuh pada perangkap yang sama seperti yang terjadi pada masa setelah gereja rasul-rasul berlalu, yang menyatakan bahawa Yesus nampaknya lebih rendah daripada Allah(contohnya, kontroversi Arian; Ref. Kol. 2: 9) Bapa, Anak dan Roh Kudus selamanya adalah satu Roh.

1.4.2 Keselamatan sebagai tema Alkitab​

​Tema utama Alkitab adalah keselamatan dari Allah. Perjanjiaan Lama menabur benih tentang rencana Allah dan menunjukkan kedatangan Yesus Kristus, sementara Perjanjiaan Baru menggambarkan penggenapan rencana Allah melalui Yesus Kristus. Perjanjiaan Baru memberitahukan Yesus sebagai Juruselamat, yang diutus untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa(Mat. 1: 18-25; Luk. 2: 8-11).
​Kerana Roh Kudus adalah Roh Allah(I Yoh. 3: 24), dan Yesus dikandung melalui Roh Kudus, maka Yesus adalah Allah Yang Maha Kuasa dan Bapa Yang Kekal itu sendiri(Yes. 9: 6; Rm. 9: 5). Di dalam Yesus”berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan”(Kol. 2: 9). Dia adalah perwujudan Allah dalam rupa Allah(I Tim. 3: 16; Yoh. 1: 14)
​Untuk menggenapi rencana keselamatan, Allah datang dalam rupa manusia dan mati di kayu salib untuk umat manusia(Mzm. 129: 3; 22: 13-18; Mat. 16: 21; 27: 26-50). Tetapi Yesus bukan hanya mati, tetapi Dia juga bangkit- Dia mati kerana pelanggaran kita, dan bangkit untuk pembenaran kita.(Rm. 4: 25; II Kor. 5: 21). Melalui kematian dan kebangkitanNya, Yesus secara bersamaan memenuhi tuntutan keadilan Allah, namun tetap memelihara kasihNya. Kerana Dia telah membenarkan kita, maka sekarang tidak ada seorang pun yang dapat menghukum kita.(Rm. 5: 6-10; 8: 33-34)
​Tetapi rencana keselamatan Allah belum sepenuhnya digenapi (Rm. 8: 23; Ef. 1: 14; 4: 30). Menurut Alkitab, keselamatan umatNya baru sepenuhnya digenapi pada saat Yesus Kristus datang kedua kali. Pada saat itu, orang mati akan bangkit- beberapa di antaranya bangkit untuk memperoleh hidup kekal, dan yang lain menerima hukuman kekal(Yoh. 5: 28-29; I Tes. 4: 14-17), dan Yesus akan berdiri di sebelah kanan Allah, bertindak sebagai Perantara antara Allah dan manusia. Dia melanjutkan pekerjaan keselamatan, menjadi perantara untuk suatu perjanjian yang lebih baik dan menjadi perantara untuk suatu perjanjian yang lebih baik dan menjadi perantara bagi umat pilihan Allah(Rm. 8: 34; Ibr. 7: 22-24; I Yoh. 2: 1).
​Roh Kudus juga mempunyai peranan penting dalam rencana keselamatan Allah. Kisah Para Rasul memberitahukan kita, bahawa pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus dan mereka dipenuhi oleh Roh Kudus. Segera setelah itu, 3000 orang dibaptis, dan gereja para rasul berdiri(Kis. 2: 1-4; 41)
​Sejak saat itu, pencurahan Roh Kudus menggenapi pekerjaan keselamatan dengan: memungkinkan orang-orang percaya mengerti kebenaran(Yoh. 16: 13); mendorong orang-orang untuk mengenal Yesus sebagai Tuhan(Mat.16: 15-17; I Kor. 12: 3); menjadi saksi selama baptisan air sehingga baptisan tersebut berkhasiat untuk menghapus dosa(I Yoh. 5: 6-7; Kis. 22: 16); membenarkan dan memperbaharui orang-orang percaya(I Kor. 6: 11; Tit. 3: 5); dan memeteraikan orang-orang yang diselamatkan Tuhan(II Tes. 2: 13)

​Kita melihat secara garis besar tema keselamatan dalam Alkitab yang mencakup kelahiran, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus, dan kita juga telah melihat bagaimana semua peristiwa itu harus terjadi untuk menggenapi rencana keselamatan Allah. Kita juga telah melihat pekerjaan Roh Kudus di dalam gereja. Sebagai rangkuman, Alkitab memberitahukan kita bahawa selama-lamanya hanya akan ada, dan terus ada, satu Allah. Contohnya, Perjanjiaan Lama tidak pernah menyebutkan ada lebih dari satu Allah; namun Perjanjiaan Lama penuh dengan nubuat-nubuat tentang kedatangan Yesus Kristus dan penurunan Roh Kudus- sampai waktunya tiba, saat pekerjaan keselamatanNya selesai. Setelah itu, Kristus tidak lagi perlu menengahi dan menjadi perantara umat percaya, dan Roh Kudus tidak lagi perlu bekerja d bumi untuk menyertai gereja. Peran Mereka berakhir(I Kor. 15: 28), dan langit dan bumi akan diperdamaikan(II Kor. 5: 17; Why. 11: 15)

1.4.3 Roh Kudus tidak dibatasi oleh ruang dan waktu

​Hal penting ketiga yang perlu dimengerti tentang ke- Allah-an adalah bahawa Roh Kudus tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sebagai manusia, kita tahu bahawa benda-benda materi dibatasi oleh kedua hal ini. Contohnya, suatu benda tidak dapat berada di dua tempat pada saat yang sama. Sebaliknya, Roh Kudus dapat melampaui rintangan fisik seperti ini, kerana Dia memenuhi seluruh alam semesta(Mzm. 139: 7-10; Yer. 23: 23-24).

​Ketika Yesus datang ke dunia dalam rupa manusia, Ia dibatasi oleh ruang dan waktu sebagai akibat dari kemanusiaannya. Oleh kerana dalam injil kita melihat bahawa Yesus tidak pernah muncul di dua tempat secara bersamaan, paling tidak sebelum Ia mati di kayu salib. Tetapi setelah Yesus bangkit, Ia mengenakan tubuh rohani dan tidak lagi tunduk pada keterbatasan ini. Kerana itu Yesus dapat menampakkan diri dan hilang dari hadapan murid-muridNya(Luk. 24: 36, 31) dan tiba-tiba masuk ke dalam rumah tempat mereka berkumpul(Yoh. 20: 19-26). Catatan dalam Alkitab ini menunjukkan perbedaan antara keberadaanNya dalam rupa manusia dan keberadaanNya dalam tubuh rohani.

​Dari Alkitab, kita melihat bukti lebih lanjut bahawa Allah adalah Roh yang melampaui ruang dan waktu:
• Roh Kudus turun kepada Maria sehinnga ia mengandung, menungkinkan perwujudan Allah dalam rupa manusia(Mat. 1: 18; Luk. 1: 35; Yoh. 1: 14; I Tim. 3: 16)
• Ketika Yesus dibaptis, Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati, dan Bapa berbicara dari Syurga(Mat. 3: 16-17). Jadi Yesus yang turun dari Syurga sebagai Anak Manusia, secara bersamaan dapat berada di bumi dan di Syurga(Yoh. 3: 13)

Kita hanya dapat memahami ayat-ayat ini dalam erti rohaniah, yang bertentangan dengan erti fisik. Hanya dengna menyetarakan Bapa, Anak dan Roh Kudus sebagai satu pribadi yang sama; yang melampaui ruang dan waktu, barulah kita dapat mengerti sedikit dari sifat Allah. Jadi bila penganut Tritunggal lebih suka menggunakan istilah tidak alkitabiah untuk keesaan Allah, seperti istilah metafisika “unsur”(substance, dalam bahasa Yunani homoousios), kita lebih suka menyebut keesaan Allah dengan istilah “ke-satu-an Roh”.

Mari kita ambil contoh praktis dari pengalaman kita untuk menunjukkan bagaimana Roh melampaui ruang dan masa. Jika 100 orang percaya berdoa pada saat yang sama dari tempat yang berbeda, mereka semua dapat menerima dan dipenuhi Roh Kudus kerana Dia tidak dibatasi oleh ruang atau tempat. Kita tidak dapat menyimpulkan bahawa ada 100 Roh Kudus yang bekerja, kerana hanya ada satu Roh. Selain itu, kita tidak dapat berkata bahawa setiap orang percaya hanya menerima seperseratus bagian dari Roh Kudus; sekali lagi, hanya ada satu Roh(I Kor. 12: 13; Ef. 4: 4). Alkitab memberitahukan kita bahawa oleh “satu Roh”, kita semua dibaptis ke dalam satu tubuh dan minum dari “satu Roh”(I Kor. 12: 13). Oleh kerana itu bila kita ingin mengerti sifat Allah, kita harus memegang konsep tentang ke-satu-an Roh Kudus, dan juga memahami kemampuanNya yang melampaui ruang dan waktu. Allah tidak dapat dibatasi secara fisik- satu Roh dapat secara bersamaan tinggal di dalam Anda, saya dan orang lain.

Kelemahan mendasar dalam doktrin Tritunggal terletak pada penggunaan istilah-istilah abstrak. Contohnya, para pendukung yang sederajat, padahal kenyataannya, Alkitab memberitahukan kita bahawa hanya ada satu Allah yang adalah Roh(Yoh. 4: 24). Alkitab tidak menyebutkan”pribadi-pribadi”, atau”Allah Tritunggal”. Pemegang doktrin Tritunggal juga berpendapat bahawa Allah adalah satu hakikat yang kedengarannya cukup logis, tetapi ini masih menempatkan Allah yang tidak terbatas, ke dalam kotak buatan manusia yang terbatas.

Kita tahu bahawa Allah mengaruniakan Roh tanpa batas(Yoh. 3: 34), kerana Dia tidak terbatas. Oleh kerana itu, orang-orang yang mengaku menganut Allah yang esa, tetapi berusaha menjelaskan pekerjaan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam istilah-istilah yang terbatas, contohnya seperti dengan berkata bahawa Yesus hanyalah “sebagian” dari Roh Kudus yang berwujud manusia, atau berkata bahawa orang-orang percaya hanya menerima “sebagian” dari Roh Kudus, mereka belum meninggalkan asumsi fisik mereka tentang Alah. Jika kita belum dapat menerima kenyataan bahawa “Allah adalah Roh”, kita tidak akan pernah memahami keesaan Allah

1.5 Beberapa pertanyaan sulit

​Pendekatan terbaik untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang berhubung dengan ke-Allah-an adalah dengan melihat apa yang dikatakan Alkitab. Orang Kristian tidak perlu memperdebatkan masalah-masalah yang tidak jelas, yakni masalah-masalah yang menurut para rasul tidak perlu dijelaskan lebih dari beberapa dasar pemahaman. Tetapi kerana sekarang begitu banyak orang Kristian yang menganut doktrin Tritunggal sebagai iman kepercayaan yang benar, kita akan menyelidikan apa yang Alkitab katakan mengenai hal ini.

1.5.1 Bapa, Anak dan Roh Kudus

​Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah sebutan untuk Allah-pembedaan ini hanya berlaku pada rencana keselamatan Allah. Sebutan”Bapa” menjelaskan hubungan bapa-anak antara Allah dan manusia(Luk. 3: 38; Ef. 4: 6). Tetapi hubungan ini berbeda dengan hubungan dengan ayah kita di dunia, kerana Allah adalah “Bapa dari roh”(Ibr. 12: 9). Alkitab juga memberitahukan kita bahawa Tuhan Yesus, Anak Allah, berasal dari Bapa(Yoh. 1: 18; 3: 2, 17; 7: 29); oleh kerana itu, Allah layak disebut Bapa(Yoh. 3: 16; Mat. 11: 25-27; Yoh. 17: 1).

​Walaupun kita biasanya melihat Yesus sebagai Anak, namun secara rohani Yesus dan Bapa adalah satu. Ini disebabkan kerana Yesus adalah Allah yang menyatakan diriNya dalam rupa manusia(Yoh. 1: 14; Mat. 1: 18-21; I Tim. 3: 16). Oleh kerana itu, Yesus berkata,”Aku dan Bapa adalah satu”(Yoh. 10: 30). Dia juga menambahkan,”Melihat Aku sama dengan melihat Bapa”, kerana tidak ada Bapa lain di alam semesta ini(Yoh. 1: 18; 12: 45; 14: 9-11).

​Walaupun Yesus Kristus lahir sebagai Anak, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi Dia mengosongkan diriNya, mengambil rupa sebagai hamba. Yesus merendahkan diri dan taat kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib. Setelah kebangkitan dan kenaikanNya ke Syurga, Allah meninggalkan Yesus dan memberikan Dia nama di atas segala nama, sehingga dalam nama Yesus, setiap lutut akan bertelut, baik di bumi mahupun di Syurga, atau di bawah bumi(Flp. 2: 6-10).

​Roh Kudus adalah Roh Allah. Roh Kudus sama dengan Bapa dan Anak, bukan pribadi ketiga dari tritunggal Allah. Walaupun sebutan,”Roh Allah”(Mat. 3: 16),”Roh Bapa”(Mat. 10: 20) dan “Roh Anak”(Gal. 4: 6), semua terdapat di dalam Alkitab, tetapi mereka semua menunjukkan satu Allah yang sama.

1.5.2 Allah menyebut diriNya sebagai “Kita”

​Kejadian mencatat:”Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di utara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi’”(Kej. 1: 26). Umat Kristian yang percaya pada Allah Tritunggal berpendapat bahawa ayat Alkitab ini membuktikan bahawa Allah adalah tritunggal, setidaknya ayat ini menyebutkan sifat kejamakanNya. Tetapi terdapat sejumlah alasan mengapa pandangan ini keliru.

​Pertama, kata ganti orang pertama”Kita” atau”kami” biasa digunakan oleh penguasa-penguasa di masa kuno. Bentuk jamak orang pertama digunakan untuk menyatakan kekuasaan muttlak seorang raja atas kerajaannya, dan kekuasaan dan perwakilan kerajaan itu. Zaman dulu, perintah raja adalah hukum yang harus ditaati oleh segala sesuatu di bawah kekuasaannya. Dan kehendak raja dianggap sebagai kehendak rakyat kerana tidak seorang pun boleh menentangnya.

​Mengambil contoh dari sejarah, paus-paus Roma Katolik biasa menggunakan “kami” sebagai ganti orang pertama, untuk menunjukkan otoritas mutlak mereka dan melambangkan gereja Mereka berbuat demikian kerana mereka dipandang sebagai perwakilan Tuhan di dunia, yaitu “Kristus di dunia”. Tetapi, setelah Yohanes XXIII menjadi paus, terjadi reformasidalam konsep dan undang-undang tradisional Gereja Katolik Roma. Di antaranya adalah bentuk sebutan diri sendiri untuk kepuasan. Para paus tidak lagi menggunakan “Kita” untuk menyebut diri mereka, tetapi menggunakan “saya”, yang menandakan bahawa mereka tidak dapat menganggap diri mereka sebagai “Kristus di dunia”, dan tidak memegang otoritas tertinggi. Dengan mendorong reformasi ini, Paus Yohanes XXIII yang masa tugasnya berlangsung dari 28 Oktober 1958 sampai 3 Juni 1963, memperlihatkan dirinya sebagai salah seorang paus yang paling demoktratis dan paling bijaksana sepanjang sejarah Gereja Katolis Roma.

​Dari Alkitab, kita mengetahui bahawa Allah adalah Tuhan atas alam semesta, Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan(Kis. 17: 24; I Tim. 6: 15; Why. 19: 16). Keagungan dan kemuliaanNya melampaui semua orang di dunia(Ef. 4: 6). Dengan mencatat sebutan Allah sebagai “Kita” atau “kami”, Alkitab tidak menunjukkan bahawa Dia ada atau hadir sebagai beberapa pribadi dalam DiriNya; sebaliknya, ini menjelaskan kuasa dan pemerintahNya yang mutlak atas kerajaanNya, termasuk ciptaanNya. Hal ini mengingatkan kita bahawa setiap ciptaan harus tunduk pada kekuasaan Allah(Mzm. 103: 19-22)

​Kedua, Alkitab menggunakan orang ketiga tunggal menggantikan kata ganti orang “Dia”(sebagai lawan untuk bentuk jamak”Mereka”) dalam Kejadian. 1: 27, untuk meneruskan penggunaannya yang semua “Kami” dan “Kami punya” dalam Kejadian. 1: 26. Oleh kerana itu, aya terakhir ini, tidak menunjukkan sifat jamak dalam Allah yang esa; sebaliknya, ayat ini mengilustrasikan bentuk sebutan Allah, seperti yang digunakan oleh penguasa zaman dulu.

​Ketiga, konsep orang Yahudi tentang Allah sangat bersifat monoteis(percaya pada Allah esa). Tidak mungkin Musa, penulis kitab Kejadian, mendapatkan pengertian bahawa Allah terdiri dari tiga pribadi dalam satu hakikat. Jika “Kami” dalam Kejadian. 1: 26 menunjukkan Allah tritunggal, mengapa orang-orang Yahudi, yang telah mempelajari Torah(lima kitab pertama dari Perjanjian Lama) sejak berabad-abad lalu, selalu memegang teguh iman kepercayaan bahawa Allah hanya satu?

1.5.3 Perwujudan Bapa, Anak dan Roh Kudus secara bersamaan

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya, lalu terdengarlah suara dari Syurga yang mengatakan:”inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.”
​​​​​​​​​Matius. 3: 16-17

​Ayat Alkitab ini memperlihatkan perwujudan Bapa, Anak dan Roh Kudus secara bersamaan, dan bagi beberapa orang Kristian, ini memberikan kesan adanya tiga pribadi berbeda dalam diri Allah. Sesungguhnya Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu dalam Roh. Kita harus ingat bahawa untuk dapat mengerti tentang ke-Allahan, kita harus mengubah konsep kita tentang Allah yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Allah bersifat kekal dan mutlak, dan Dia mempunyai kuasa untuk menyatakan diriNya dalam rupa manusia sebagai Anak, dalam bentuk burung merpati sebagai Roh Kudus, dan dalam suara dari Bapa Syurgawi- pada waktu yang sama.

​Yesus pernah berkata,”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya”(Yoh. 14: 16). PerkataanNya menunjukkan bahawa Roh Kudus mempunyai kemampuan untuk mewujudkan diriNya di dunia: di tempat dan waktu yang berbeda.

1.5.4 Ucapan syukur Paulus

Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekitaran Roh Kudus menyertai kamu sekalian.
​​​​​​​​​II Korintus. 13:14

​Ucapan syukur Paulus tidak membenarkan konsep Tritunggal; namun ia menggambarkan pekerjaan Allah bagi manusia dengan tepat. Alkitab memberitahukan kita bahawa Allah adalah kasih(I Yoh. 4: 8). KasihNya dinyatakan dengan cara mengutus AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia(Yoh. 3: 16; Rm. 5: 8). Dia adalah Firman yang menjadi manusia, yang penuh kasih karunia dan kebenaran, yang menberikan berkat yang berlimpah dari Allah kepada umat manusia(I Ptr. 2: 24) dan menyelamatkan kita dengan Cuma-Cuma(Tit. 3: 5). Roh Kudus bekerja dengan menggerakkan hati manusia untuk mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan(I Kor. 12: 3) dan menguduskan orang-orang percaya untuk diselamatkan(II Tes. 2: 13). Kerana pekerjaan Roh Kudus tinggal di hati kita inilah yang membuat kita dapat bersekutu lebih dalam dengan Tuhan. Jadi ucapan syukur Paulus lebih cocok digambarkan sebagai pencirian pekerjaan keselamatan Allah melalui Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal itu tidak berkaitan dengan konsep teologis tentang Allah yang hadir dalam tiga pribadi berbeda dalam satu hakikat.

1.5.5 Yesus ada di sebelah kanan Allah

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke Syurga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
​​​​​​​​​Markus. 16: 19

Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya,”Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah”
​​​​​​​​Kisah Para Rasul. 7: 55-56

Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi, yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?
​​​​​​​​​Roma. 8: 34

​Semua ayat Alkitab di atas berkata bahawa Yesus duduk, berdiri atau secara sederhana dikatakan, ada di sebelah kanan Allah. Terdapat referensi yang sama pada bagian lain dari Alkitab(Ef. 1: 20; Kol. 3: 1; Ibr. 10: 12; I Ptr. 3: 22)

​Pemegang ajaran Tritunggal berpendapat bahawa ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan adanya dua pribadi yang berbeda dan terpisah pada Tritunggal Allah(Bapa dan Anak) di Syurga, dan satu pribadi yaitu Roh Kudus yang memerintah gereja di dunia. Tetapi, seperti yang telah kita tunjukkan pada bagian tema keselamatan dalam Alkitab, rencana keselamatan Allah belum digenapi; dan kerana itu, Yesus Kristus masih melanjutkan pekerjaanNya sebagai Iman Besar dan Perantara Perjanjian Baru(Ibr. 8: 1; 7: 22-25). Demikian juga, Roh Kudus akan terus melanjutkan pekerjaanNya di dalam gereja sampai umat pilihan Tuhan diselamatkan (Rm. 8: 23; Ef. 1: 14; 4: 20).

1.6 Referensi tentang ke-Allah-an di dalam Alkitab

​Setelah turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, rasul-rasul dipimpin oleh hikmat dan wahyu dari Roh Kudus. Pengertian mereka tentang Roh Kudus memadai dan jelas. Sayangnya, beberapa orang Kristian setelah zaman para rasul merasa perlu melangkah lebih jauh dari apa yang telah dimengerti dan diajarkan oleh para rasul, dengan berusaha untuk menjelaskan ke-Allah-an dengan menggunakan hikmat mereka sendiri. Masalah bertumpuk dalam sebuah kontroversi besar yang dicetuskan oleh Arius dari Aleksandria, hingga gereja merasa perlu untuk menciptakan doktrin ke-Allah-an di Sidang Nicea, sehingga dengan demikian meresmikan doktrin Tritunggal. Sekarang, kita harus menghapus semua anggapan tentang ke-Allah-an dan, sebaliknya melihat ke dalam Alkitab untuk memperoleh pengetahuan dan pengajaran. Sebab Alkitab berbicara lebih keras daripada dekrit sidang gereja mana pun.

1.6.1 Baptisan dalam nama Yesus

​Sebelum naik ke Syurga, Yesus memerintahkan murid-muridNya,”Kerana itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”(Mat. 28: 19). Tetapi, ketika kemudian murid-murid membaptis orang-orang yang bertobat, mereka melakukannya dalam “nama Yesus Kristus”(Kis. 2: 38; 10: 48) atau dalam “nama Tuhan Yesus”(Kis. 8: 16; 19: 5). Penting untuk disebutkan, menurut catatan dalam Kisah Para Rasul, mereka tidak pernah membaptis orang “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”. Oleh kerana itu, kita dapat menyimpulkan bahawa murid-murid mengerti bahawa”Bapa”,”Anak”, dan “Roh Kudus” bukan sebuah nama atau nama-nama Allah; Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah sebutan untuk Dia. Secara logica, Bapa, Anak dan Roh Kudus tentu mempunyai nama, iaitu nama yang difahami oleh mereka:”Yesus”.

​Kerana “nama” yang terdapat pada Matius. 28: 19 berbentuk tunggal, kita tidak boleh membaptis dengan menggunakan rumusan “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”(ref. Didache. 7:106). Seperti yang telah kita katakan, rumusan baptisan ini tidak sungguh-sungguh menyebutkan nama yang dapat menyelamatkan kita, yakni Yesus(Kis. 4: 12). Beberapa hal mendasar, yang harus kita pegang tentang ke-Allah-an, adalah bahawa Allah itu esa, dan namaNya hanya satu(Za. 14: 9) dan namaNya adalah “Yesus”.

​Berkaitan dengan nama Bapa, Di Yohanes. 17: 12, Yohanes menulis:”Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu”(ref. 5: 43). Dari tulisan ini, kita dapat menyimpulkan bahawa nama Bapa adalah “Yesus”.

​Berkaitan dengan nama Anak, Matius berkata,”Ia (Maria) akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus”(Mat. 1: 21). Yohanes juga menulis,”Aku(Yesus) datang dalam nama BapaKu”(Yoh. 5: 43). Kerana itu, nama Anak adalah “Yesus”

​Berkaitan dengan nama Roh Kudus, Matius menulis bahawa Roh Kudus adalah: Roh Bapa(Mat. 10: 20) dan Roh Allah(Mat. 3: 16). Roh Kudus juga adalah Roh Anak Allah(Gal. 4: 6), Roh Kristus(Rm. 8: 9) dan Roh Yesus(Kis. 16: 7). Kerana itu, nama Roh Kudus adalah “Yesus”.

​Para rasul melaksanakan perintah Yesus untuk membaptis orang –orang”dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus” dengan sepantasnya melakukan baptisan “dalam nama Yesus Kristus” atau “dalam nama Tuhan Yesus”. Mereka tidak melanggar petunjukNya mengenai baptisan seperti yang telah tercantum dalam Matius. 28: 19; sebaliknya, mereka mengerti maksud petunjukNya dan menaatinya.

1.6.2 Tipu daya Ananias dan Safira

​Pada zaman gereja rasul mula-mula, orang-orang saling berbagi dalam segala yang mereka miliki dengan satu sama lain. Mereka menjual harta benda mereka dan meletakkan hasilnya di depan para rasul untuk dibagi-bagikan. Gereja menjadi seperti satu keluarga besar, dan tidak seorang pun menyatakan suatu sebagai miliknya sendiri(Kis. 4: 32-35). Mengikuti kebiasaan ini, seorang percaya bernama Ananias, menjual sebidang tanahnya, tetapi menahan sebagian hasilnya. Lalu dia membawa sebagian itu ke hadapan para rasul, berkata bahawa itu adalah seluruhnya. Melalui wahyu dari Roh Kudus, Petrus melihat tipu daya Ananias dan menegurnya dengan berkata,”Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah ini?… Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, datang ke hadapan Petrus, mengucapkan dusta yang sama. Lalu Petrus menegurnya,”Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?” Dengan segera Safira menyusul suaminya, rebah dan putus nyawa(Kis. 5: 1-10).

​Jika kita membaca ayat-ayat pada Kisah Para Rasul. 5: 1-10 dengan hati-hati, kita akan menemukan, Petrus menyatakan Ananias dan Safira telah: a) mendustai Roh Kuds(ayat 3); b) mendustai Allah(ayat 4); c) mencobai Roh Tuhan(ayat 9). Petrus mengerti dengan jelas persamaan mendasar antara Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan menggunakan sebutan yang berbeda untuk menunjukkan Allah yang satu dan sama.

​Dari contoh ini, kita mengetahui bahawa Alkitabb tidk membedakan Bapa, Anak dan Roh Kudus sebagai tiga pribadi yang ada dalam satu ke-Allah-an. Sebaliknya, Alkitab menyatakan bahawa Allah adalah esa dengan tiga sebutan: Bapa, Anak dan Roh Kudus.

1.6.3 Pencurahan Roh Kudus

Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalamRoh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memilik Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
​​​​​​​​​Roma. 8: 9

​Pada ayat ini, Paulus menggunakan tiga sebutan berbeda secara bergantian untuk menjelaskan berdiamnya Roh Kudus dalam diri seseorang: 1) “Roh”; 2) “Roh Allah”; 3) “Roh Kristus”. Kerana tidak mungkin ada tiga roh berpisah tinggal di dalam hati kita, maka pesannya jelas: Roh itu satu.

​Di ayat 10, Paulus tidak lagi menggunakan sebutan yang berbeda untuk menggambarkan berdiamnya Roh Allah; dia cukup mengatakan bahawa Kristus tinggal di dalam hati kita. Dengan kata lain, Paulus menyamakan Roh Kudus dengan Roh Kristus dan Roh Allah.

​Meskipun ada peebedaan dalam konteks dan penggunaannya, ketika kita membandingkan perkataan Paulus dalam Roma. 8: 9 dengan perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul. 5: 1-10, kita menemukan satu pengertian tenang ke-Allah-an. Kedua rasul ini mengerti bahawa Allah itu esa. Walaupun para penganut Tritunggal juga mengerti bahawa Allah itu esa, konsep mereka lebih berpusat pada perbedahan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus daripada menyetarakan mereka.

1.6.4 Penolong yang penuh kuasa

​Tuhan Yesus memberitahukan murid-muridNya bahawa suatu hari mereka akan berhadapan dengan para penguasa. Pada saat yang sama, Dia menyuruh mereka agar tidak perlu cemas dengan apa yang harus mereka ucapkan pada saat itu. Yesus berkata bahawa mereka tidak perlu kuatir,”Kerana bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu”(Mat. 10: 20)

​Selain ayat ini, ada tiga ayat lain yang mencatat pengajaran yang sama, tetapi dengan bentuk yang berbeda: 1) “Sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus”(Mrk. 13:11); 2) “Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan”(Mrk. 12: 12); 3) “ Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu”(Luk. 21: 15). Mereka semua menunjukkan persamaan antara Roh Bapa, Roh Kudus dan Yesus Kristus. Ketiganya disebutkan secara bergantian untuk menunjukkan satu Penolong yang mahakuasa. Oleh kerana itu kita dapat melihat bahawa Roh Kudus adalah Roh Bapa, dan juga adalah Roh Yesus Kristus.

1.6.5 Tuhan atas langit dan bumi

​Kejadian 1: 1 barkata bahawa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Kejadian. 1: 2 berkata bahawa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air pada saat penciptaan. Dalam Perjanjian Baru, sejumlah ayat mengatakan bahawa Yesus Kristus adalah Tuhan atas ciptaan, melalui Dia segala sesuatu telah diciptakan dan dibenarkan(Yoh. 1: 1, 3, 14; I Kor. 1: 15-17; Ibr. 1: 2).

​Sebagai tambahan, banyak ahli-ahli Alkitab yakin bahawa Amsal. 8: 22-30 berbicara tentang Yesus Kristus, sebagai perwujudan hikmat, yang terlibat dalam pekerjaan penciptaan:

Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaanNya, sebagai perbuatanNya yang pertama-tama dahulu kala.
Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk. Pada mula pertama, sebelum bumi ada.
Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir…
Aku ada sertaNya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenanganNya, dan senantiasa bermain-main di hadapanNya;
​​​​​​​​Amsal. 8: 22-24, 30

​Jadi dari Alkitab kita menemukan sebuah persamaan mendasar antara pekerjaan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam penciptaan. Hanya ada satu Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan hanya ada satu Allah. Alkitab tidak pernah mencoba membedakan Tuhan menjadi tiga pribadi berbeda.

1.7 Kesimpulan

​Sifat ilahi Allah sungguh misterius. Sebagai manusia yang terbatas, kita tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk sepenuhnya mengerti dan menjelaskan tentang Allah yang tidak terbatas. Tetapi dengan petunjuk Roh Kudus, setidaknya kita dapat memperoleh sebagian pengertian tentang sifat ke-Allah-an. Hal penting yang muncul dari Alkitab adalah, Allah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus untuk menggenapi rencana keselamatanNya. Namun akan tiba saatnya keselamatan digenapi sepenuhnya, dan Allah tidak perlu lagi menyatakan diriNya kepada kita dengan cara seperti ini.

​Allah itu esa(Ul. 6: 4; Mrk. 12: 29) dan Dia adalah Roh(Yoh. 4: 24). Oleh kerana itu, kita dapat menolak setiap doktrin yang melebihi apa yang dinyatakan dalam Alkitab dan didasarkan pada hikmat manusia. Kita juga dapat meyakini kerana kita tahu, walaupun saat ini kita hanya dapat mengerti sebagian kecil dari sifat Allah, aka nada waktunya saat segalanya tentang Dia akan diungkapkan:

Akan tetapi kita tahu, bahawa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya.
​​​​​​​​​I Yohanes. 3: 2

Pertanyaan Tinjauan

1. Bagaimana kita membuktikan kepribadian Roh Kudus?
2. Bagaimana asal mula doktrin Tritunggal?
3. Apa kekeliruan utama dalam doktrin Tritunggal?
4. Mengapa Allah menyebut diriNya sebagai “Kami”?
5. Bagaimana kita menjelaskan manifestasi Bapa, Anak dan Roh Kudus secara bersamaan pada saat Yesus dibaptis?
6. Menurut anda, mengapa Stefanus melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah sebelum Ia mati sebagai martir?
7. Bagaimana kita membuktikan bahawa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu Allah yang sama?

_________________________________________________________________________

1. Vine,W. E., Unger; Merrill F. and White Jr. William, Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Tesrament Words(Nashville, Atlanta, London and Vancouver: Thomas Nelson Publishers, 1985). G4151.
2. Teks Yunani pilihan pada edisi 26 dari the Nestle-Aland Greek New Testament(N) dan edisi ke-3 dari the United Bible Societies’ Greek New Testament(U), yaitu NU-Text yang melambangkan teks orang Mesir/ Aleksandria, menambahkan “dari Yesus”.
3. International Standard Bible Encyclopaedia(Database elektonik)(Biblesoft, 1996).
4. Brusher; Joseph, Popes Trough The Ages(S. J. edisi Elektronik, tahun 1996).
5. Knight, Kevin, Ensiklopedi Katolik edisi IV. Edisi Online(Robert Appleton Co. 1999).

(Dibaca : 472 kali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *