Huraian Singkat Dari Kitab Pengkhotbah:Pasal 1 – 3

#    Keterangan Singkat

1) Kata Pengantar (1:1-11)

1:1 Pengarang memperkenalkan diri.

1:2 Kehidupan manusia sebenarnya, yang dihubungkan dengan pemikiran dalam kitab ini.

1:3 Segala jerih payah manusia tidaklah berguna. Namun kini dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahnya tidak sia-sia (I Kor 15:58; Why 14:13).

1:4-11 Perputaran alamiah dengan perputaran insani, adalah sedemikian rupa dan tidak bererti.

2) Kehidupan manusia ialah keluh kesah dan kehampaan

1:13 Kehidupan manusia merupakan penderitaan yang sangat berat.

1:14 Kehidupan manusia adalah hampa dan usaha menjaring angin.

1:15 Kehidupan manusia yang tidak memuaskan, lagi pula tidak sempurna.

1:16-18 Hikmat pun sia-sia adanya.

3) Kemuliaan serta kekayaan/kehormatan juga sia-sia belaka (2:1-11)

2:4 “Mendirikan bagiku rumah-rumah”: Dalam tujuh tahun Salomo mendirikan Bait Suci (I Raj 6:38), lagi pula mencapai tiga belas tahun lamanya mendirikan istana raja (I Raj 7:1), maka seluruhnya telah memakan waktu selama dua puluh tahun (I Raj 9:10).

2:8 “Banyak gundik”: Di samping putri Firaun, masih mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik (I Raj 11:1-3).

4) Sekalipun lebih berhikmat juga sia-sia belaka (2:12-17)

2:12 “Raja”: Menunjukkan diri Salomo. Mengenai hikmat tidak ada seorangpun yang dapat dibandingkan dengan dia (I Raj 3:7-14; 4:29-34).

2:14 “Mata berhikmat”: Pada kitab Amsal “mata ada di kepalanya”; yakni ada mata berhikmat, yang bererti dapat memnadang sesuatu lebih jauh ke depan.

“Berjalan dalam kegelapan”: Yang bererti tidak pengetahuan (Ruj Yoh 1:11).

“Mereka semua”: Yakni dilupakan dan akan mati pula (16).

5) Kehampaan mengenai entah diwariskan kepada siapa atas hasil usaha yang dilakukan dengan jerih payah (2:18-23)

2:22-23 Suatu kemalangan besar atas diberikannya sesuatuh hasil yang dilakukan dengan jerih payah kepada orang yang tanpa melakukan suatu apapun dan menjadi miliknya.

6) Tak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan dan minum (2;24-26).

2:26 Di sinilah alasannya bahwa kita harus takut akan Tuhan, dan berpegang kepada perintah/hukumNya.

Akan tetapi sukacita rohani melebihi kenikmatan dalam materi (Mat 4:3, 4; Dan 1:8-20; I kor 6:13a; 8:8; Flp 4:11-13; Hab 3:17, 18; Ams 15:17; 17:1).

7) Untuk segala sesuatu ada waktunya (3:1-15)

3:1 “Masanya”: Mempunyai arti yang sama dengan waktunya yang diatur oleh Allah.

3:7  “Merobek”: Yakni mengoyak pakaian, ialah sedang berduka.

“Menjahit”: Yakni menjahit pakaian, tatkala kembalinya sesuatu pada semula.

3:9 Karena ketidak mampuan manusia untuk mengatasi tentang “masanya” bagi sesuatu.

3:11 Allah menciptakan segala sesuatu indah pada waktunya (Kej 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31). “Kekekalan”: Yakni hari kemudian yang masih jauh. Manusia memiliki suatu pemikiran untuk yang kekal, namun tidak ketahui hal kekekalan itu; yang mengungkapkan keterbatasannya akal manusia.

3:12-13 Apabila manusia tidak tahu perbuatan Allah sejak semula sampai pada kesudahan, tidak ada yang lebih baik daripada melakukan kebajikan semasa hidupnya, dan menikmati hasil dari apa yang ia lakukan dengan jerih payahnya.

3:14 Segala sesuatu yang dilakukan Allah tetap akan ada untuk selamanya dan sempurna adanya. Oleh sebab itu manusia harus percaya serta mentaati Dia.

3:15 “Allah mencari yang sudah lalu”: Atau diterjemahkan menjadi “Allah akan mencari kembali bangi yang sudah terusir”. Walaupun tidak ada sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia (1:9-11), namun Allah akan mencari kembali sesuatu yang sudah lalu dan menghakiminya (12:14).

8) Tidak ada keadilan di atas bumi (3:16-22)

3:16 Ketidakadilan di atas bumi.

3:17 Bagi pengarang menyakini keadilah Allah.

3:18-20 Tidak ada perbezaan dari apa yang dialami manusia dengan binatang, sesudah mati kedua-duanya kembali kepada debu.

3:21 Nas ini merupakan suatu pertanyaan, yang bererti tiada seorangpun yang tahu. Sekalipun orang-orang waktu itu mengetahui tentang Henokh (Kej 5:24) naik ke Sorga, akan tetapi mereka tidaklah tahu bahawa pada umumnya roh manusia ke tempat manakah ia pergi. Namun akhirnya sang pengarangpun mengungkapkan kerahsiaannya bahawa “roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (12:7).

Lihat keterangan 12:7.

“Nafas”: Dalam kitab asal “roh”.

3:22 Suatu sikap periang bagi penulis (2:24; 3:12-13).

(Dibaca : 1359 kali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *